Di Atas Ranjang Om Rudy

Di Atas Ranjang Om Rudy
Perebut perhatian


__ADS_3

“Dengar, Yelena, jika kamu menyayangi calon bayimu itu hindari rokok, jaga asupan makananmu dan kamu harus benar-benar memperhatikan kondisimu. Aku lupa membelikanmu susu hamil, biar nanti Satria yang akan mampir untuk membelinya.” Liany memperbaiki selimut Yelena.


“Baik, Kak, lihat aku sudah makan banyak dari bekalmu dan aku juga menghabiskan makanan yang diantar suster tadi, rasanya membuat perutku mual. Rasa mual itu yang membuatku ingin merokok,” terang Yelena.


“Jangan Yelena, kalau kamu merasa mual, carilah makanan atau permen yang bisa menghilangkan rasa mual kamu.” Liany membelai kepala Yelena dengan lembut.


“Kak Lia, apa Myla itu cantik dan bersikap baik kepada kakakku?”


“Heh? Myla … dia cantik, juga bersikap baik, ayoolah … setiap wanita yang melihat kakakkmu itu, pasti akan bersikap baik,” ujar Liany dengan senyum lebarnya.


“Kecuali aku, malah aku pernah memukulnya karena sikapnya yang menjengkelkan,” kenang Liany sambil tertawa kecil.


“Astaaaga … itu tidak mungkin! Kakakku dipukul olehmu, Kak Lia? Waah berarti kau adalah perempuan pertama yang memukulinya, mungkin.” Ekspresi Yelena begitu terkejut lalu ikut tertawa.


“Dan aku juga baru tahu jika kakakmu itu petarung handal, malam itu Mike melawan Satria dengan sebilah pisau tetapi kakakmu dengan mudah melumpuhkannya.”


“Apa Kak Lia baru tahu kalau kakakku itu memang mahir beladiri? Di SMU dulu dia selalu menyabet kejuaraan beladiri, baik yang legal maupun ilegal. Kak Satria juga bisa menembak, dia punya ijin untuk memiliki senjata api. Aahhh aku pikir dia akan jadi The King Of Mafia tapi ayah selalu memintanya untuk jadi pengusaha yang sukses, yaa seperti sekarang ini.”


Liany tercenung mendengar penuturan Yelena, suaminya sama sekali tidak pernah menyinggung atau membahas keahliannya yang lain. Dia hanya tahu jika tangan dan otak suaminya kreatif dan cerdas di bidang advertising sehingga mudah bagi Sparkling untuk terus maju.


“Waaah… sepertinya Kak Lia tidak itu yaa sampai-sampai Kak Lia kaget seperti itu?” tunjuk Yelena dengan dagunya. Liany hanya tersenyum kecil, suaminya memang penuh dengan kejutan, belum cukup waktu untuknya mengupas satu demi satu lapisan rahasia Satria.


“Istirahatlah, agar kau lekas pulih,” ujar Liany sambil membantu Yelena untuk berbaring.


“Aku merasa pusing, rasanya perutku tidak enak,” keluh Yelena sambil mencoba memejamkan matanya.


“Itu karena kau sedang hamil muda, sudah menjadi lazim perempuan hamil merasakan hal itu. Apa kau masih ingin mengobrol denganku saja?” tawar Liany yang menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur Yelena. Gadis itu mengangguk dan mengubah posisi tidurnya menyamping agar dia bisa melihat wajah Liany yang cantik dan keibuan itu. Sosok yang mengingatkannya kepada mendiang ibunya.


“Kau tahu Kak, meskipun Kakakku itu seperti jagoan atau pahlawan super dia juga punya kelemahan, dia tidak berada di ruang sempit dan gelap. Aku ingat sekali saat ayah memintanya membantu membersihkan ruang kerjanya yang luas di kedutaan, aku menguncinya di dalam sebuah lemari besar. Aku kira dia hanya bercanda saat dia bilang kalau dia susah bernapas, aku meninggalkannya di sana. Lalu ayah menemukannya dalam keadaan pingsan.” Yelena melanjutkan ceritanya tentang Satria dan Liany menyimak dengan penuh perhatian.


“Jangan bayangkan bagaimana ayah memarahiku habis-habisan sehingga aku dihukum, Kak Satria sampai demam tiga hari aku jahili. Semenjak itu aku tidak bergurau berlebihan lagi dengannya. Aku hanya punya kakak satu dan aku takut dia tewas karenaku,” lanjut Yelena sambil tersenyum jahil.


“Lalu, Kak Lia sendiri, bagaimana kau bisa bertemu dengan kakakku?” tanya Yelena.


Sejenak Liany terlihat seperti sedang berpikir, matanya menerawang jauh ke luar jendela dengan sudut bibirnya yang berkedut ingin tersenyum lebar.


“Aayoolah … aku juga ingin mendengar ceritamu,” bujuk Yelena lagi.


“Aku bertemu dengan kakakmu di parkiran supermarket, dia menabrakku dengan mobilnya saat usia kehamilanku tujuh bulan,” kata Liany memulai ceritanya.


“Astaga … apa kau baik-baik saja saat itu?” tanya Yelena serius.

__ADS_1


“Yaa, syukurnya aku dan bayiku baik-baik saja, dia bertanggung jawab atas perbuatannya, mengantarku ke rumah sakit, menungguiku dan ingin mengantarku pulang tetapi aku menolak. Saat itu aku masih marah pada perbuatan ceroboh kakakmu yang menabrakku.”


“Apa yang terjadi padamu sehingga kau menjadi janda?”


“Suamiku meninggal karena kecelakaan di tempat kerjanya, ibu mertua dan iparku tak menginginkanku berada bersama mereka lagi dan memintaku pergi. Saat itu aku baru hamil masuk enam bulan. Lalu aku ditolong kerabatku, Myla, adiknya Satria.”


“Woow … kebetulan sekali…,”


“Yaa, kurasa Tuhan memang sudah mengaturnya, saat aku belum mengenal Satria dan Myla belum mengetahui jika dia punya kakak laki-laki. Keluarga mereka menyambutku dengan sangat baik. Myla, Om Rudy dan mendiang Tante Katrin.” Hati Liany bergetar ketika menyebut nama Tante Katrin, rasa rindu dan haru berbaur mengaduk perasaannya.


“Lalu satu kebetulan lagi terjadi, di tengah perjalananku menuju rumah sakit bersalin, taksi onlineku mogok dan yaa sesosok pahlawan muncul dia tengah hujan badai. Dia mengangkatku di tepi jalan dan membawaku ke rumah sakit tepat waktu. Orang-orang mengira jika dia adalah suamiku dan ayah dari bayi yang kulahirkan. Aku belum lupa bagaimana raut wajah Satria ketika pertama kali menggendong bayiku, Rangga.”


Liany melanjutkan ceritanya ketika Yelena masih memintanya untuk bercerita, hingga dokter melakukan kunjungan dan memeriksa keadaan Yelena.


Satria melirik ke arah Demian yang sibuk mengatur buket bunga mawar merah yang dibelinya dalam perjalanan menuju bandara. Dia memutuskan untuk ikut dengan Demian menjemput Myla dan Om Rudy di bandara. Kliennya membatalkan pertemuan dan mengundurnya sampai besok, di rumah sakit Liany pun mengabarkan jika keadaan Yelena semakin membaik.


“Tegang amat … kayak mau ngelamar aja,” gumam Satria yang melihat Demian berkali-kali merapikan penampilannya. Satria membelokkan setir dan mengikuti arah jalanan yang berbelok. Suasana lalu lintas masih padat ramai.


“Keliatan banget yaa aku mau ngelamar dia?” tanya Demian dengan nada gugup. Satria menjadi terkejut dan tiba-tiba mengerem mendadak mobilnya yang membuat Demian nyaris terjungkal bersama buket mawar itu. Beberapa klakson kendaraan berbunyi bersahutan tanda keberatan atas perbuatan Satria yang tiba-tiba itu.


“Apa harus sekarang, Dem? Myla itu baru sampai dan kau ingin melamarnya di tengah keramaian bandara? Apa tidak ada cara romantis yang bisa kau pikirkan untuk melamar adikku, hah?” Satria memelototi Demian yang membuat sahabat Satria itu bertambah gugup.


“Wa-waktunya tidak tepat ya?” tanya Demian dengan polosnya, Satria menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Apa kau tidak memikirkan makan malam romantis? Atau tempat-tempat di mana hati wanita meleleh dan akan berkata ‘iya’?” lanjut Satria lagi yang memang jago meluluhkan hati wanita.


“Yaa … aku memang harus berguru kepadamu, kau memang suhu dalam percintaan, bahkan memilih bunga apa yang bagus pun aku kesulitan,” nada suara Demian terdengar murung.


Satria menepuk-nepuk bahu Demian dengan tersenyum lucu, dia tahu jika Demian selalu merasa gugup jika menghadapi wanita di momen serius.


“Aku akan mengajarimu, kau tenang saja,” ujar Satria tertawa, dia berharap Myla tidak akan mempersulit kawan baiknya itu. Satria merasa jika Demian adalah pilihan yang tepat untuk adiknya itu.


Suara hiruk pikuk di bandara terdengar, kedua lelaki muda itu menunggu sampai sosok Myla dan Om Rudy terlihat dari gerbang kedatangan. Demian melambaikan tangannya ketika gadis muda itu berjalan mendekat ke arah mereka.


“Selamat datang kembali, Myla, aku merindukanmu,” ucap Demian perlahan sambil memberikan buket bunga itu. Senyum Myla merekah lebar kepada Demian lalu dia berpindah kepada kakaknya dan memeluk Satria dengan hangat.


“Apa kabar, Mas?”


“Baik, bagaimana denganmu? Kau terlihat pucat selama tinggal di sana, musim dingin tak cocok buatmu,” canda Satria sambil melepaskan pelukannya.


“Selamat datang kembali, Om, bagaimana perjalanannya?” tanya Demian sambil menjabat tangan Om Rudy.

__ADS_1


“Yaah begitulah, sedikit melelahkan, bagaimana kabarmu, Nak Demian, Satria?” balas Om Rudy sambil bergantian memandangi kedua pria muda yang tampan itu.


“Baik, Pa, ayo kita ke mobil sekarang, Bi Inah sudah menunggu di rumah, semua pesanan makanan yang Myla inginkan sudah dimasak Bi Inah.” Satria mengambil gagang koper di tangan Om Rudy sementara Demian mengambil punya Myla. Keempatnya berjalan beriringan sambil bertukar cerita. Kali ini Demian mengambil alih mengemudi mobil hingga ke rumah. Kotak cincin yang hendak dia berikan kepada Myla disimpannya baik-baik di dalam kantong jasnya dan tentunya dia akan mengikuti saran Satria mencari waktu yang tepat untuk melamar Myla. Kali ini dia tidak mengharapkan penolakan.


“Mas, apa Liany ada bersama Bi Inah sekarang ini di rumah?” tanya Myla yang tak melihat sepupunya sekaligus iparnya itu datang menjemputnya.


“Engh … dia harus di rumah sakit hari ini, dia—“


“Liany sakit?!” potong Myla cepat.


“Ooh … tidak, bukan Rangga juga, dia sedang menjaga seseorang, nanti aku ceritakan ya,” ujar Satria. Myla masih terlalu lelah untuk mendengar hal-hal berat saat ini.


Myla mengerutkan dahinya, udara hangat tanah air begitu jauh berbeda dengan musim dingin yang ditinggalkannya, dahinya sedikit berkeringat. Gadis itu sedikit penasaran dengan sosok yang disebut kakaknya yang katanya sedang dijaga oleh Liany.


Liany pulang dari rumah sakit menjelang sore, dokter mengatakan jika besok Yelena bisa pulang dan dia berpikir akan meminta gadis itu tinggal bersama mereka. Di luar sana keselamatannya masih terancam karena Mike yang tetap ingin membawa Yelena pergi.


“Myla titip salam untukmu, Sayang,” bisik Satria sambil memeluk Liany dari belakang ketika Liany sedang mencarikan baju untuk suaminya.


“Aku akan pergi menemuinya nanti. Sat, Yelena akan keluar dari rumah sakit besok, dia tinggal sama kita di sini ya? Kasihan dia tidak punya siapa-siapa di sini,” ujar Liany, aroma sabun yang wangi dan segar memenuhi penciuman Liany.


“Ini rumahmu, kau bisa menerima siapa saja untuk tinggal di sini, Sayang.” Satria meletakkan dagunya di bahu Liany.


“Iya, tetapi kau tetap kepala keluarganya, aku harus mendapatkan izinmu untuk siapa saja yang akan tinggal bersama kita.” Liany menaikkan telapak tangannya dan menempelkan di pipi Satria, lelaki itu menoleh dan mencium telapak tangan Liany.


“Kau memang istri yang baik, aku bangga padamu, Sayang.” Kecupannya pun beralih ke pipi Liany, dan Liany tersenyum kecil menerima kecupan mesra suaminya.


Yelena memandang penuh takjub ketika kakinya baru turun dari mobil, rumah mewah dan megah itu memiliki pekarangan dan taman yang asri. Dia tak menyangka jika Satria benar-benar menjadi pengusaha sukses dan kaya raya seperti harapan tuan Clark ayah angkatnya.


“Hwwooh … rumahmu keren sekali, Kak!” seru Yelena, meskipun dia seorang putri diplomat yang sering tinggal di rumah besar dan bagus tetapi pilihan rumah Satria yang menjadi huniannya benar-benar membuatnya takjub.


“Ayo masuk, kau punya kamarmu sendiri dan kuharap kau menyukainya,” ajak Liany sambil menuntun Yelena pelan-pelan.


“Aku memilih kamar tamu di bagian bawah agar kau tidak kelelahan jika kamarmu di lantai atas,” terang Liany lagi. Sementara Satria membawa koper pakaian milik Yelena, mereka baru saja mampir di toko pakaian untuk membelikan gadis itu beberapa pakaian dan kebutuhan Yelena lainnya.


“Heey … apa ini putramu?” tanya Yelena yang melihat Rangga di gendongan Lilis. Mata Lilis membulat melihat tamu yang dibawa majikannya itu, rambut merah Yelena yang mencolok serta tattoo di lengan dan betis sangat menarik perhatian Lilis.


“Iya, namanya Rangga,” jawab Liany.


“Aku akan menyiapkan kue dan cemilan dulu di dapur yaa, kau di sini dulu bersama kakakmu.” Liany meninggalkan Yelena dan Satria di depan pintu kamar gadis itu. Lilis pun undur diri untuk membawa Rangga bermain di ruang tengah. Satria membukakan pintu kamar untuk Yelena, lagi-lagi gadis itu merasa takjub dengan kamar yang mewah baginya.


“Ouuh terima kasih, kak … ini surga buatku!” Yelena menerjang Satria dan memeluknya dengan sangat erat, dia benar-benar senang bertemu dengan satria lagi dan tinggal bersama keluarganya. Satria tertawa kecil, pelukan Yelena terlalu erat hingga membuatnya kesulitan bernapas.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan dengan kakakku?! Lepaskan dia!” seru suara perempuan lainnya di ambang pintu yang membuat keduanya tersentak kaget dan saling melepaskan diri.


__ADS_2