
Myla terisak menuju parkiran mobil, perasaannya kacau balau dengan apa yang baru saja diketahuinya itu. Masa lalu mamanya sungguh mengejutkan dirinya, andai saja mamanya bisa berterus terang lebih awal Myla merasa tidak akan meradang seperti ini. Gadis itu tak berhenti merutuki dirinya yang tidak beruntung dalam percintaan. Cinta pertamanya yang membuatnya gelisah dan kasmaran harus berakhir kandas dengan kenyataan yang pahit.
Satu rangkulan lembut di bahunya membuatnya sedikit terkejut, papanya sudah mensejajarkan langkah dengannya.
“Ayo kita ke suatu tempat karena Papa juga ingin membicarakan hal penting denganmu,” ajak Om Rudy mengarahkan langkah Myla menuju mobilnya. Kali ini mereka tidak memakai sopir, Om Rudy sendiri yang menyetir mobil.
Myla masih terdiam setelah berhenti menangis, wajahnya masih tertekuk dan matanya merah dan bengkak.
“Kita mau kemana, Pa?” tanya Myla yang melihat jalanan yang tidak biasanya mereka lewati.
“Papa mau ke suatu tempat, Papa dan Mama sudah lama tidak ke sana.”
Jalanan pun semakin sepi karena mengarah ke pinggiran kota, lalu mobil mereka masuk ke pemakaman umum. Sebelum tiba tepat di areal pemakaman Om Rudy mampir di sebuah toko bunga untuk membeli seikat bunga lily. Myla hanya melihat saja dan enggan untuk turun saat Om Rudy masuk ke toko bunga, tak lama mereka pun tiba di areal pemakaman yang luas dan tertata rapi.
Sesaat Om Rudy menarik napas panjang lalu meminta Myla untuk turun dan berjalan di sisinya. Setelah berjalan cukup jauh mereka akhirnya tiba di depan sebuah nisan. Tertulis di sana nama seorang perempuan, Lily.
“Ini makam ibunya Liany, pasti kamu masih ingat dia kan?” tanya Om Rudy sambil meletakkan bunga yang dibelinya itu di atas makam Lily.
“Lily, aku datang bersama Myla, maaf aku tidak bisa membawa Katrin turut serta karena saat ini dia sedang sakit dan cukup parah,” ujar Om Rudy dengan suaranya yang parau.
“Maafkan aku Lily karena hampir mencelakai putrimu. Kehadirannya di rumah kami membuat semua kenangan tentangmu hidup pada Liany yang semakin sangat mirip denganmu. Aku melihat dirimu dalam dirinya dan aku terperangkap dalam ilusi cinta kita yang dahulu. Maafkan kebodohanku, Lily.” Om Rudy mengusap kepala nisan Lily dengan lembut.
“Ada apa sebenarnya, Pa?” tanya Myla tak mengerti, mungkin ketidaktahuannya sama dengan Liany yang tidak mengerti mengapa Om Rudy memanggilnya Lily.
“Mama kamu bilang kamu melihat mobil Papa di depan klinik psikiatri dan iya, itu benar. Papa menjalani terapi dan pengobatan lagi. Dulu Lily adalah kekasih hati Papa, jauh sebelum Papa bertemu Mamamu. Kami tidak berjodoh karena Lily dinikahkan dengan laki-laki lain, kami terpisah dengan cara yang menyakitkan. Namun, Papa cukup lega karena Papa tahu Lily menikahi pria baik. Bertahun berlalu Papa mulai merintis karir dan sudah terbilang sukses, Papa bertemu dengan Lily lagi. Jelas bagi kami jika sisa cinta itu masih ada, Papa masih saling menyimpan rindu yang terlarang.” Om Rudy menghela napas, matanya mengerjap menahan air mata yang mulai membasahi bola matanya.
“Papa pun mencoba untuk mencari tahu semua tentang Lily dan keluarga kecilnya. Membantu apapun yang Papa bisa bantu tanpa diketahui oleh Lily dan suaminya. Papa benar-benar tidak bisa berpaling hati. Lalu Papa mulai menemuinya pelan-pelan, menjalin komunikasi langsung dengannya. Kemudian Lily mengenalkan Papa dengan Katrin, mamamu. Perempuan yang bernasib malang yang memilih melepaskan diri dari kekejaman suaminya. Namun, mamamu ternyata tidak jujur tentang Satria, entah mengapa mamamu menyembunyikan hal itu padahal andai Papa tahu, Papa tidak keberatan.” Om Rudy lagi-lagi menghela napas panjang. Myla masih menunggu cerita Om Rudy selanjutnya.
__ADS_1
“Lily pun berhasil membujuk Papa untuk menerima Katrin sebagai istri, dia membuat Papa berjanji untuk menjaga Katrin dan menyayanginya sepenuh hati. Papa pun menyanggupinya. Hingga akhirnya Lily meninggal dia berpesan agar selalu menjaga Katrin. Kepergian Lily membuat Papa merasa sangat kehilangan, Papa tahu Mamamu adalah perempuan paling pengertian, dia mau memahami papa yang masih menyimpan Lily dalam hati Papa. Lily tak pernah tergantikan hingga Papa harus menjalani perawatan psikiater karena Papa benar-benar terpukul dengan kepergiannya.”
Myla menunduk, mencoba mencerna cinta sebesar apa yang dimiliki papanya untuk perempuan bernama Lily itu juga bagaimana lapangnya hati mamanya untuk menerima keadaan hati dan jiwa papanya.
“Mamamu dengan sabar membuat luka kehilangan itu tertutup di hati Papa, hingga akhirnya kau membawa Liany ke rumah kita. Papa yang salah … Papa lupa dan menolak kenyataan jika yang ada bersama kita itu adalah Liany bukan Lily. Papa khilaf dan Papa benar-benar lupa diri dan hanyut dengan ingatan Papa di masa lalu. Maafkan Papa, Myla. Papa yang menyebabkan semua kekacauan ini.”
Air mata Myla kembali mengalir lalu memeluk papanya, biar bagaimanapun juga papanya adalah laki-laki sempurna di mata Myla.
“Maafkan Myla juga, Pa karena sudah bersikap tidak baik. Myla kekanak-kanakan, Satria benar, Myla hanya anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Myla hanya bisa menyalahkan orang lain saja yang sebenarnya tidak salah apapun. Papa jangan begini lagi yaa… Mama butuh Papa … Mama butuh Papaaa… Mama memang sudah bersalah karena menyembunyikan putranya tetapi sekarang Mama butuh kita semua….” Myla terisak dalam pelukan Papanya, kini rasa takut kehilangan mamanya menyelinap meremas hatinya.
“Ayo kita pulang sekarang untuk menemui mamamu, kita akan menjaganya sebaik mungkin.” Om Rudy mengecup pucuk kepala putrinya. Kemudian mereka bergandengan tangan meninggalkan area pemakaman yang sunyi itu.
Satria menyetir mobil dengan tenang, di sampingnya Liany duduk sambil memangku Rangga yang terlelap tidur. Sesekali Liany melirik calon suaminya itu untuk melihat apa laki-laki itu baik-baik saja.
“Berhenti melirikku seperti itu Liany, justru lirikanmu itu yang akan membuatku hilang fokus,” tegur Satria setengah bercanda. Liany segera mengalihkan pandangannya ke luar jendela sambil menahan senyum.
“Aku sudah lega, sesak yang menghimpitku bertahun ini sudah hilang. Hanya saja, aku juga sedih karena tidak menyangka jika mamaku akan mengidap penyakit mematikan seperti itu.”
“Dunia kedokteran sekarang sudah canggih, semoga saja Tante Katrin bisa disembuhkan,” ujar Liany mencoba menghibur Satria.
“Iya, semoga saja, aku sudah menghukumnya dengan berat selama bertahun ini, aku merasa berdosa, Lia.” Satria menghembuskan napasnya berat. Liany hanya mengelus ujung bahu Satria dengan lembut. Mereka berdua menatap lampu lalu lintas yang berwarna merah dengan hitungan angka. Satria meraih tangan Liany dan mengecup punggung tangan Liany dengan lembut.
“Terima kasih untuk selalu ada bersamaku, Sayang.”
Ruang perawatan Tante Katrin disulap sedemikian rupa menjadi ruangan akad nikah yang sederhana tetapi menawan. Satria dan Liany akhirnya memutuskan menikah di rumah sakit tempat Tante Katrin dirawat ketimbang kantor KUA. Liany duduk di sudut bersama Myla dan Dora untuk menunggu Satria dan pak penghulu datang. Di ruangan itu ada dokter Wilma dan dua orang perawat, Om Rudy, Demian, Chico dan Bimo yang sudah berjanji untuk menjadi saksi pernikahan Satria dan Liany. Seorang babysitter menjaga Rangga di sudut ruangan.
Liany tampak sangat cantik dan anggun dengan balutan kebaya berwarna putih tulang. Riasannya yang sederhana semakin membuat kecantikannya terpancar. Tante Katrin juga memakai baju yang senada dan menggunakan riasan tetapi dia tetap duduk di kursi roda dengan tiang infusnya. Sebuah ketukan di pintu membuat jantung Liany seakan ingin melompat berpindah tempat. Calon mempelai laki-laki sudah tiba bersama perangkat KUA yang akan mengesahkan pernikahan mereka.
__ADS_1
Satria tampak semakin gagah rupawan dengan balutan jas yang senada dengan kebaya pengantin Liany. Sesaat tatapan Satria dan Liany bertemu, lelaki itu memandang takjub pada mempelai perempuannya, baru kali ini Satria melihat Liany menggunakan riasan wajah yang membuatnya pangling dengan penampilan Liany yang elegan dan berkelas.
Satria pun memandang Tante Katrin yang juga tampak cantik juga adik perempuannya Myla. Jantung Satria seakan sedang bermarathon menunggu pak penghulu memintanya mengucap ijab kabul. Demian sang fotografer andalan Sparkling sudah berkali-kali mengambil gambar momen yang istimewa pernikahan yang sederhana ini. tak lupa dia menjepret diam-diam gadis yang disukainya itu, Myla.
Suasana pun tampak hening ketika mereka mendengarkan Satria mengucapkan ijab kabul dengan lancar. Lalu seruan kata sah yang meriah penuh suka cita serempak terdengar ketika pak penghulu menanyakan sahnya ijab yang diucapkan Satria. Keharuan tak dapat dibendung lagi di dalam ruangan itu, Tante Katrin berkali-kali menghapus air matanya dan menahan sedu sedannya ketika Satria dan Liany melakukan sungkem kepadanya. Juga ketika Satria memeluk adiknya penuh kasih sayang, dan berpelukan dengan Om Rudy, papa tirinya.
Om Rudy berkali-kali meminta maaf pada Liany dan Satria, mendoakan yang terbaik untuk kedua pasangan pengantin baru itu. Liany dan Satria penuh haru menyambut ketulusan dari Om Rudy. Bergantian para tim Sparkling menyalami kedua orang itu yang sedang berbahagia. Kemudian Demian menjalankan lagi tugasnya untuk mengambil banyak gambar kebersamaan keluarga itu.
“Ambilah gambar yang banyak, Nak Demian, Tante ingin momen ini diabadikan dengan ratusan lembar foto,” ujar Tante Katrin dengan gembira. Walaupun dirinya sudah mulai merasa lelah tetapi kegembiraannya hari ini sungguh memberikannya kekuatan tambahan. Demian mengiyakan dengan santun, dia paham jika Tante Katrin ingin mengabadikan kebahagiaannya bersama keluarganya karena kondisinya yang semakin memburuk.
“Setelah ini, aku yang akan melamar dan menikahimu,” bisik Demian di telinga Myla saat mereka tengah berdiri untuk berpose bersama yang membuat Mylal menoleh ke arah Demian tepat ketika timer kamera mengambil gambar. Demian tertawa karena hasilnya seperti yang Demian inginkan.
Myla hanya tertawa kecil dan menganggap itu hanya guyonan Demian belaka. Setelah dirasa cukup para tamu pun meninggalkan ruangan satu persatu. Kini tinggal Om Rudy, Myla, pasangan pengantin baru itu dan baby sitter Rangga serta Rangga yang turut menjadi bintang utamanya siang ini.
“Jika Mama harus pergi sekarang, Mama ikhlas, Mama sudah sangat bahagia dan lega melihatmu telah menikah, Satria, dan Myla, Mama melihat fotografer itu sangat mengagumimu, jika dia baik untukmu terima dia Myla.” Tante Katrin sudah kembali dibaringkan di tempat tidurnya, Om Rudy membantunya untuk tidur dengan posisi yang nyaman.
“Tidak, Ma. Mama jangan bicara seperti itu, Mama harus melihat cucu-cucu Mama lahir,” ujar Myla dengan sendu. Satria pun mengambil tangan Tante Katrin dan menggenggamnya erat.
“Mama harus bertahan, Mama tidak boleh pergi secepat itu, Mama harus panjang umur, Satria belum bisa memberikan yang terbaik buat Mama, Satria selama ini hanya bisa memberikan kemarahan dan dendam,” ucap Satria lembut.
“Kalian pulanglah, istirahat dan nikmati waktu kalian, jangan pikirkan Mama, pikirkanlah kemana kalian akan berbulan madu dan cara untuk memberi Mama cucu segera,” jawab Tante Katrin yang disambut dengan senyum semua orang.
“Kamu juga Myla, pulanglah dengan Papa, di sini ada suster yang bisa jaga mama dan Tante Wilma. Kalian pulang dan istirahatlah. Mama juga sudah mau istirahat sekarang.”
Myla tak membantah, Om Rudy pun mengecup dahi istrinya sebelum pamit pulang. Liany pamit dengan memeluk Tante Katrin, perempuan paruh baya itu berbisik dengan lembut di telinga menantunya,
“Kuserahkan putraku kepadamu, penuhi dia dengan cinta dan kasih sayang, jadilah perempuan tempatnya untuk kembali pulang. Terima kasih untuk semua kebesaran hatimu, Nak. Mama sayang kepadamu,” bisik Tante Katrin dengan lembut.
__ADS_1