
Sepanjang perjalanan pulang Demian lebih banyak diam, dengan sabar dia mendengarkan Myla berceloteh tentang kelucuan Rangga dan Yelena si gadis urakan di mata Myla. Adik Satria yang ini benar-benar tidak menyukai adik Satria yang satunya lagi meskipun mereka menyayangi kakak yang sama.
“Dem, dari tadi kok kamu diam saja, ada apa?” tanya Myla yang akhirnya menyadari kesenyapan Demian.
“Tidak ada apa-apa,” jawab Demian pelan yang tatapannya fokus pada jalan raya.
“Ooh ayolah, kamu jangan kayak cewek yang ditanya kenapa cuma jawab tidak apa-apa,” sindir Myla pada lelaki di sampingnya itu. Demian menarik seulas senyum di bibirnya, setelah bertemu dengan Yelena berbagai perasaan berkecamuk di dalam dirinya.
“Sungguh, aku tidak ada apa-apa, aku masih sama terkejutnya melihat Yelena di tengah-tengah mereka.” Demian mencengkram erat setir mobilnya hingga buku-buku jarinya memutih rasa kesal dan sesal itu menyerbu begitu saja yang membuat dadanya sesak.
“Iya, aku hampir dibuatnya malu, aku sungguh mengira jika Mas Satria sedang selingkuh dan tengah memeluk selingkuhannya itu. Sulit dipercaya gadis seperti itu adalah seorang anak eks diplomat yang terhormat!” seru Myla terlihat kesal.
“Hey … Nona, kita tidak boleh menilai orang dari penampilannya, kita belum kenal Yelena lebih jauh bukan?” cetus Demian sebelum Myla terlalu jauh berpikir tentang Yelena.
“Hmmm … yaa baiklah, tapi jika dia macam-macam dengan keluarga Mas Satria dan Liany, aku tidak akan tinggal diam saja.” Myla melipat tangannya dan memasang wajah serius.
“Ayolaaah … kau terlihat menggemaskan dengan ekspresi seperti itu, rasanya ingin membawamu kabur ke KUA segera!”
Myla menoleh dan mendaratkan cubitannya ke pinggang Demian yang membuat lelaki itu mengaduh kesakitan.
“Astagaaa Myla, cubitanmu itu sangat kuat seperti tang yang memelintir pinggangku!” keluh Demian dengan wajah memelas.
“Itu karena kau menggombalku di tengah aku sedang serius membahas keluarga kakakku,” elak Myla. Senyumnya terkulum, gadis itu menahan tawanya agar tidak meledak di dekat Demian.
“Aku tidak sedang menggombal, Myla. Aku benar-benar ingin membawamu ke depan penghulu segera, tentunya setelah kau bersedia menerima lamaranku,” ujar Demian. Akhirnya dia menepikan mobilnya di pinggir jalan. Lalu mengeluarkan sesuatu dari dashboard mobilnya. Kotak kecil berwarna merah muda.
“Aku sudah lama mempersiapkan ini tetapi aku baru bisa menanyakannya secara formal kepadamu. Tadinya aku ingin menyiapkan makan malam istimewa atau membawamu ke tempat romantis seperti yang Pak Bos usulkan. Tapi, aku tidak ingin kehilangan momen, Myla bersediakah kau menjadi pendamping hidupku hingga mau memisahkan?” Demian berbalik menghadap ke gadis itu lalu membuka kotak kecil itu.
Myla menatap Demian dan cincin permata yang terselip di dalam kotak kecil merah muda di tangan lelaki itu. Jantungnya sesaat seakan terhenti lalu berdegup kencang seakan berlomba dengan aliran darah yang berdesir halus.
“Myla, tolong katakan sesuatu aku sedari tadi menahan napas,” ujar Demian penuh harap.
__ADS_1
Myla tertawa kecil tetapi matanya berair di sana, gadis itu mengangguk beberapa kali mengiyakan lamaran Demian. Lelaki itu menarik napas lega lalu menghelanya, cincin itu pun dilepaskan dari pengamannya lalu disematkan ke jari manis Myla.
“Ukurannya sangat pas, bagaimana kau bisa mengukurnya?” tanya Myla penasaran.
“Anggaplah aku beruntung karena perkiraanku tepat. Tetapi sebenarnya, itu cincin mendiang ibuku, diberikan beberapa hari sebelum beliau mengalami kecelakaan.”
Myla menatapnya semakin dalam lalu mendekatkan dirinya kepada pria yang baru saja melamarnya, dilingkarkan lengannya lalu berbisik dengan mesra di telinga Demian,
“Terima kasih karena kau telah memilihku sebagai wanita yang beruntung untuk berada di sisimu.”
“Tidak, justru aku yang harusnya berterima kasih karena mau menerima diriku untuk menjadi pelindungmu dan wanita yang akan selalu kutuju untuk pulang.”
Demian menjauhkan kepalanya lalu memiringkannya sedikit, bibirnya mendarat di bibir Myla dan dibenamkannya dengan mesra. Sekian detik mereka merasakan cinta yang saling terpaut, mengunci hati satu dengan yang lainnya.
“Bisa kita lanjutkan ini lain kali? Aku takut kita ditilang atau dicurigai sebagai pasangan selingkuh kalau mobil ini tidak bergerak juga,” bisik Demian yang membuat Myla tertawa kecil.
“Iya, ayo kita jalan,” sahutnya dengan pelan sambil melepas lenganya yang melingkari leher Demian.
Yelena berbalik ke sana ke mari seperti ikan yang ditinggalkan air. Dirinya benar-benar gelisah, dia tidak ingin kakak angkatnya tahu akan masalahnya dengan Demian lalu terlibat jauh di dalamnya. Hidup kakaknya sudah sempurna, Yelena tidak ingin mengacaukannya lagi. Gadis itu duduk termenung, meraba perutnya yang masih rata. Ingin rasanya dia pergi jauh lari dari semua ini dan membawa janin yang dikandungnya ke tempat yang aman.
“Tidak ada tempat yang aman selain kembali kepada Papa, membesarkan anakku di tempat seharusnya. Tapi bagaimana aku pergi dari sini? Cepat atau lambat Demian akan membongkar masa laluku bersama Mike.” Yelena membuang napas putus asa. Meskipun kelakuan Mike seperti setan jika sedang marah tetapi gadis itu sangat mencintai benih yang ditanam Mike di dalam rahimnya.
“Ooohhh tidaaak … Papa pasti akan membunuhku kalau tahu aku hamil di luar nikah, Papa sudah malu dengan kelakuanku selama ini lalu aku menambahnya dengan kehamilanku.” Yelena bangkit dari tempat tidurnya. Dia merasa tenggorokannya kering dan perutnya sedikit lapar. Gadis itu memutuskan untuk mencari sesuatu pengganjal perutnya.
Yelena melihat ada mie instan di dalam lemari dan mencoba untuk memasaknya, ditambahkan telur serta potongan sayur sawi. Satria yang baru keluar dari ruang kerjanya melihat Yelena tengah mondar mandir di dapur.
“Kau sedang apa?” Satria mengambil air minum dari kulkas dan meneguknya beberapa kali.
“Aku lapar dan ingin makan sesuatu yang berkuah, panas dan pedas. Di lemari ada beberapa bungkus mie instan, jadi … apa kau mau juga?” tawar gadis itu. Satria mengiyakan dan menunggu Yelena kembali beraksi di dapur.
“Apa rencanamu ke depan, Yelena?” tanya Satria sambil menikmati mie instan buatan Yelena.
__ADS_1
“Entahlah, Kak. Aku belum memikirkannya, aku masih pusing karena janin ini sepertinya membuatku sedikit morning sicknes.” Terdengar Yelena menyeruput kuah mie-nya dengan begitu nikmat.
“Apa kau tidak ingin pulang dan tinggal bersama Papa?” lanjut Satria lagi, rasa pedas kuah mie itu cukup membuat dahi mereka berkeringat.
“Hey … Kak, apa kau sedang mengusirku?” Yelena sedikit bercanda kepada Satria.
“Jangan salah paham begitu, Adikku, aku tidak mungkin mengusirmu, kau diterima dengan sangat baik di sini tidak ada yang mengusirmu.” Satria memandang lurus ke arah Yelena.
Lilis terbangun ketika waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Dari arah kamarnya terdengar samar orang yang sedang bercakap-cakap. Pengasuh Rangga itu pun bangun dan meraih teko air minumnya yang ternyata sudah kosong. Terdengar decakan kesal Lilis karena dia harus ke dapur untuk mengambil air minum. Kaki Lilis berhenti melangkah, dia sungkan untuk melanjutkan tujuannya ke dapur ketika dia melihat Yelena dan Satria tengah mengobrol dengan sangat akrab. Mata Lilis membulat ketika Satria mengambil tisu dan mengelap sudut bibir Yelena yang sedikit kotor.
“Lhooo Tuan kok mesra banget sama Non Yelena ya? Masa sih mereka itu kakak adik? Tapi Tuan memang keliatan sayang banget sama Non Yelena sampai segitunya dia ngelapin mulut adiknya.” Jiwa kepo Lilis meronta-ronta, dia pun memberanikan diri untuk mendekat dan mencari tahu apa yang sedang mereka perbincangkan sambil mengisi teko air minumnya.
“Papa akan membunuhku jika tahu aku hamil tanpa menikah, Kak. Terlebih apa yang bisa kuharapkan pada laki-laki seperti Mike. Jangan kira bagaimana penyesalanku sekarang karena mengindahkan kata-kata papa.” Yelena sudah selesai menyantap makanannya, Satria juga sudah menandaskannya sebelum Yelena.
“Aku juga tidak mau kau hidup bersama monster seperti Mike. Aku tidak akan rela, Yelena.” Satria memutar-mutar gelas minumnya. Embun drai gelas itu membasahi jarinya.
“Mungkin aku memang tidak beruntung soal laki-laki, dari dulu rasanya aku terus tertipu. Mantan pacarku yang pertama selingkuh, yang kedua hanya ingin memanfaatkanku karena papa punya banyak relasi dan Mike, sungguh aku tertipu dengan kesan pertama yang diberikannya.”
“Apa kau masih ingin mencari lelaki lain yang mau menjadi ayah untuk bayimu?” tanya Satria serius.
Sejenak Yelena tidak menjawab, dia tampak sedang memikirkan sesuatu.
“Iya, tentu saja aku ingin bersama laki-laki yang bisa menerimaku dengan baik juga anakku kelak. Atau begini saja Kak, karena kita bukan saudara kandung bagaimana kalau kau saja yang menikahiku? Aku tidak perlu cintamu, aku hanya butuh perlindungan hukum darimu juga bayiku nanti.”
Gelas yang dipegang Satria terlepas juga teko air yang dipegang Lilis jatuh ke lantai. Lilis dan Satria sama terkejutnya karena perkataan Yelena yang didengarnya dengan baik barusan sementara Yelena terkejut karena teko air minum Lilis yang jatuh.
“Lilis?! Apa yang jatuh itu? Kamu membuat kami kaget!” seru Yelena sambil menatap Lilis. Gadis pengasuh itu terkesiap dan baru sadar jika lantai sudah basah oleh air.
“Maaf Nona, maaf … Lilis kaget, Lilis gak sengaja dengar kalau Nona minta dikawinin sama Tuan, eeeh!” Lilis segera membekap mulutnya yang kelepasan. Detik itu juga Satria merasa jantungnya sedang tidak berada lagi di tempatnya ketika Liany sudah berdiri di belakangnya dan menjatuhkan botol susu Rangga karena terkejut mendengar ucapan Lilis.
*sorry yaa gaes habis ganti hape lupa email sama password masuk akun ini.
__ADS_1