
Myla memijat keningnya, masalah Demian benar-benar membuatnya pusing, entah sampai kapan dia akan terjebak bersama bawahan Satria itu. Kini kakinya melangkah dengan berat menuju kantor Om Rudy, dia ingin mengobrol sejenak dengan papanya itu. Namun, langkahnya terhenti ketika dia mendengar papa dan mamanya sedang berbicara serius di dalam sana. rasanya dia tidak ingin percaya pada telinganya yang telah mendengar ayahnya menjalin hubungan dengan Liany, perempuan yang ditolongnya itu.
“Papa? Gak mungkin….”desis Myla dengan tubuhnya yang gemetar.
“Papa tidak mungkin selingkuh, Papa tidak mungkin berkhianat pada Mama,” bisik Myla lagi. Dia baru saja hendak mendorong pintu itu dengan keras ketika satu pertanyaan papanya yang membuat mamanya terdiam lama.
“Mengapa kau diam, Kat? Kamu gak bisa jawab bukan pertanyaanku ini?” Om Rudy menatap Tante Katrin yang sudah mematung di depannya.
“Kamu salah paham tentang laki-laki muda itu, Rud, aku tidak selingkuh!” sergah Tante Katrin cepat. Tangannya terkepal, menahan getar yang menjalari sekujur tubuhnya.
“Bertahun-tahun, Kat! Bertahun-bertahun… aku menyimpan tanda tanyaku, tetapi aku gak mau ribut sama kamu dan membiarkan kau selalu pergi dan berharap kau akan selalu kembali ke rumah dan melupakan laki-laki itu. Aku diam karena ingin menjaga ketenangan rumah kita.” Om Rudy memandang tajam ke arah Tante Katrin yang mengelak dengan apa yang dikatakan Om Rudy.
“Rud! Itu gak benar, aku gak selingkuh, justru kamu yang selingkuh dan ingin menikahi Liany!” tukas Tante Katrin tidak terima.
“Aku laki-laki, Kat, aku bisa menikah lagi dan poligami, aku bisa menghalalkan hubunganku dengan perempuan mana saja tetapi kamu tidak bisa poliandri!” Om Rudy semakin sengit dengan percakapan ini.
“Apa-apaan kalian ini hah?!” bentak Myla yang tiba-tiba masuk dan membuat kedua orang tuanya terperanjat kaget.
“Ini kantor, Ma… Pa… kalian tidak malu saling membongkar aib seperti itu hah?!” Myla meradang, hatinya hancur sehancur-hancurnya. Dia mengira selama ini jika orang tuanya adalah yang paling sempurna di dunia.
“Myla malu dengan kalian!” bentaknya lagi lalu berlari meninggalkan kantor Om Rudy. Myla benar-benar merasa langit sedang runtuh menimpanya. Papanya yang selalu dipujanya bahkan ingin menikah dengan laki-laki yang memiliki sifat ayahnya ternyata telah berkhianat dengan orang yang telah dibantunya selama ini.
“Myla, tunggu, biar kami jelaskan!” seru Om Rudy mengejar putrinya itu. Myla melihat papanya itu mengejar, dia mempercepat langkahnya tetapi kepalanya mendadak pusing. Lobi kantor ayahnya dilihatnya berputar-putar. Myla limbung dan ditangkap segera oleh Om Rudy.
__ADS_1
“Mylaaa!” pekik Tante Katrin yang melihat putrinya pingsan dan tengah dibopong oleh Om Rudy.
“Kita bawa dia ke rumah sakit sekarang!” perintah Om Rudy yang diiyakan Tante Katrin. Adegan itu menarik perhatian beberapa karyawan hotel dan saling berbisik.
Tante Katrin lebih dulu masuk duduk di dalam mobil dan dia menerima putrinya yang terkulai lemas dengan wajah yang sangat pucat dan tubuh yang dingin.
“Myla Sayang, kamu kenapa, Nak?” Tante Katrin menangis lirih sambil memeluk putrinya. Om Rudy dengan mobilnya yang melaju cepat segera menyasar rumah sakit terdekat. Myla memang cukup lemah fisik dan psikisnya, itulah sebabnya dia selalu mendapat perhatian dan limpahan kasih sayang yang sangat besar dari Om Rudy dan Tante Katrin.
Dalam beberapa menit mereka tiba di depan unit gawat darurat sebuah rumah sakit kecil, Myla diletakkan di brankar sementara Tante Katrin sibuk meladeni pertanyaan dokter jaga. Om Rudy menunggu dengan resah di depan ruang tindakan. Kedua orang tua gadis itu menyesali dengan apa yang seharusnya tidak didengar oleh putrinya itu.
“Kita tunggu Myla membaik dan aku akan membuka sebuah rahasia kepada kalian berdua, tetapi percaya sama aku Rudy, aku tidak seperti yang kau pikirkan.” Tante Katrin menunduk sambil menghapus air matanya.
“Aku sudah lama merasa telah kehilanganmu, kat. Kesibukanmu membuatku kesepian, merasa jika aku tak lagi dibutuhkan sebagai pendamping hidupmu, kau sudah punya segalanya yang kau inginkan tetapi aku sudah tidak berada di sisi kamu lagi, Katrin.” Om Rudy duduk di samping Tante Katrin, kedua lengannya bertumpu di atas kedua lututnya. Matanya nanar melihat jendela besar ruangan tindakan yang tertutup gorden berwarna biru tua.
“Terlambat, Kat, aku ingin kita berpisah saja,” gumam Om Rudy yang terdengar pelan di telinga Tante Katrin yang membuat perempuan itu menegakkan bahunya.
“Rudy! Tolong jangan lakukan ini, kamu lihat keadaan Myla, tolong pertimbangkan dia, putri kita,” ujar Tante Katrin di sela tangisnya.
Om Rudy masih ingin berbicara tetapi dokter yang menangani Myla keluar dan menjelaskan keadaan Myla.
“Kita pantau dulu keadaannya beberapa jam ke depan ya, silakan Bapak dan Ibu mengurus kamar perawatan serta administrasinya dulu.”
“Aku akan mengurus kamar Myla, kamu temani dia di sini.” Om Rudy pun meninggalkan Tante Katrin yang masuk melihat Myla yang masih terpejam tak sadarkan diri.
__ADS_1
Liany melihat cincin emas yang melingkar manis di jarinya. Besok dia dan satria akan memulai mengurus berkas-berkas yang dibutuhkan untuk mereka bisa menikah. Rangga yang berada dalam box nya mengeluarkan celoteh-celoteh yang riang dan lucu.
“Rangga senang yaa, kalau Om Satria jadi papanya Rangga?” tanya Liany pada bayinya itu, Rangga hanya mengeluarkan bunyi-bunyi dari mulutnya, tampak senyum dari bibir Rangga serta tawa kecil terdengar darinya.
“Rangga sayang yaa sama Om Satria?” tanya Liany lagi, kali ini terdengar pekikan kecil dari Rangga yang diikuti tawanya yang riang. Liany ikut tertawa melihat tingkah pola bayinya yang sudah belajar merangkak itu.
Liany mengingat kembali cerita masa lalu Satria, tentang perempuan-perempuan yang dikencaninya itu juga sosok ibu yang telah meninggalkan luka sangat dalam di hati Satria. Isabel, perempuan cantik dengan rambut tergerai berwarna kemerahan sungguh jauh bandingannya jika diukur dari cara Liany berdandan. Isabel memang cantik apalagi dia seorang model tetapi sayang sekali, sifatnya sangat bar-bar. Liany menggeleng, dihapusnya semua pikiran yang tidak-tidak di dalam hatinya, dirinya hanya ingin fokus pada rencana pernikahannya dengan Satria.
“Apaaa?! Kamu mau nikah?!” seru Bimo di seberang sana, dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Satria barusan.
“Iya, gak usah teriak gitu, aku gak budeg, kamu yang butuh pendengaran lebih jelas ketimbang aku,” jawab Satria di balik meja kerjanya. Biar bagaimana Bimo adalah partnernya dalam bekerja, setelah anak buahnya orang yang paling penting untuk diberitahu adalah Bimo sekaligus sahabat yang dianggapnya seperti saudaranya sendiri.
“Demi Tuhan, Satria, apa yang terjadi selama kamu di sana hah? Rasanya aku gak percaya kalau kamu gak ucapin akad nikah dulu. Gadis yang mana?”
“Bukan seorang gadis, tetapi janda, janda satu anak,” jawab Satria yang melepas kacamatanya dan memijat kedua kelopak matanya yang perlahan.
“Hah? Janda satu anak, kok bisa?!” seru Bimo semakin tak percaya. Lingkup pergaulan Satria dikenal baik oleh Bimo. Dari dulu Satria dikelilingi oleh para gadis dan wanita muda, gadis cantik yang menggairahkan. Bimo tak dapat mengira-ngira apa yang telah terjadi dengan sahabatnya itu tetapi apapun itu dia bersyukur jika Satria sudah memulai mengubah gaya hidupnya yang bebas itu. Pilihan janda dengan satu anak itu pun tak buruk karena bisa jadi hal itu akan mendewasakan sahabatnya.
“Bisa kan nanti kamu jadi saksi pernikahan aku?” tanya Satria sambil mengamati layar komputernya.
“Bisa … bisa … malah aku akan senang hati jadi saksi pernikahanmu, sudah lama aku menantikan ini terjadi, Sobat!” Bimo terdengar kegirangan. Seulas senyum mengembang di bibir Satria, dia tahu jika sahabatnya akan selalu bisa diandalkan.
“Makasih banyak yaa, Mo, bawa keluarga kamu juga nanti, kalian tidak boleh ada yang melewatkan momen istimewa ini.” Satria melepas kacamatanya, lalu tertawa kecil. Bahkan jantungnya mulai berdebar dari sekarang membayangkan dirinya akan mengucapkan ijab kabul pada wanita yang dicintainya itu.
__ADS_1