Di Atas Ranjang Om Rudy

Di Atas Ranjang Om Rudy
Perempuan bertato


__ADS_3

Liany memandangi wajah perempuan yang babak belur itu, bengkak, lebam, bibir pecah dan tangan yang dibalut perban. Dokter bilang jika janinnya baik-baik saja, janin itu bertahan dengan baik ditengah penyerangan yang brutal. Mata Liany menelusuri lengan perempuan yang juga bergambar tato, hidungnya bekas tindikan dan rambutnya yang berwarna merah menyala. Satria sendiri belum memperhatikan bagaimana rupa yang ditolongnya itu karena wajahnya tertutup rambut serta darah.


Satria telah selesai dengan segala urusan administrasi perempuan yang ditolongnya itu lalu menyusul Liany di kamar perawatan. Tak lupa dia menelpon Lilis dan Lastri asisten rumah tangga mereka yang baru, mengabarkan jika mereka akan pulang terlambat.


“Liany, bagaimana keadaan … Ohh Tuhan…” desis Satria saat melihat perempuan yang tengah terbaring dengan penuh luka nyaris disekujur tubuhnya.


“Dia belum sadarkan diri, tetapi dokter bilang kalau janin yang dikandungnya selamat dan masih bertahan.” Liany berbisik memelankan suaranya.


Satria mendekat dan melihat lengan perempuan itu yang memiliki gambar-gambar tato, kepalanya menggeleng berkali-kali. Hampir tak berkedip lelaki itu memandangi wajah yang sepertinya familiar baginya. Dia merasa jika pernah bertemu di suatu tempat.


“Apa dia perempuan yang pernah kutemani berkencan? Kenapa aku merasa mengenalnya?” gumam Satria masih mengamati perempuan itu.


“Kamu kenal dengan dia, Sat?” tanya Liany yang memperhatikan suaminya yang seperti sedang berpikir.


“Tidak, aku tidak mengenalnya.” Satria memilih menjawab seperti itu karena dia memang belum bisa memastikan siapa sebenarnya perempuan yang bertato, berambut merah yang penampilannya tidak seperti ladies escort yang pernah melayaninya.


“Lia, kita pulang dulu ya, kita juga butuh istirahat, besok kita akan kembali melihat dia.” Satria menyentuh bahu istrinya, Liany pun berdiri, setuju dengan suaminya. Mereka merasa sangat lelah dan juga butuh istirahat.


Aroma kopi menguar di udara yang membuat suasana hati menjadi lebih bersemangat. Liany menuangkan kopi itu ke dalam cangkirnya sambil menunggu suaminya bangun. Akhir pekan seperti ini biasanya Satria hanya meluangkan waktu di rumah saja, bermain bersama Rangga hampir seharian, mengobrol dengan Liany dan melakukan panggilan video dengan Myla dan Om Rudi yang masih di Amerika Serikat sana.


“Pagi, Sayang, apa Rangga sudah bangun?” Satria mengecup pipi Liany dengan mesra. Liany menyodorkan cangkir kopinya yang masih berasap tipis.


“Belum, dia masih tidur kata Lilis semalam Rangga bermain hingga melewati jam tidurnya. Kamu mau sarapan apa?” Liany baru saja membuat roti bakar juga mie goreng. Satria menunjuk piring yang berisi mie goreng buatan istrinya itu dan Liany memberikannya seporsi sedang.


“Kita harus kembali lagi ke rumah sakit melihat kondisi perempuan itu, Sat.” Liany memandangi suaminya yang tengah menyantap mie goreng yang dibuatnya.


“Heemh, iya, kita akan ke sana nanti,” jawab Satria pelan. Sesungguhnya dia merasa sangat penasaran dengan wajah yang tak asing baginya itu. Jika dalam keadaan tidak babak belur, bengkak dan lebam bisa jadi dirinya akan mengenalinya dengan mudah.


Perempuan itu sepertinya cantik, hidungnya mancung dan kulitnya putih bersih, sayang ada aneka gambar tato yang menghiasi lengannya, bisa jadi di bagian tubuhnya yang lain. Satria tidak terlalu suka dengan perempuan yang merajah dirinya dengan gambar seperti itu meskipun alasannya adalah seni.


Liany meninggalkan suaminya ketika dia mendengar suara Rangga yang bangun. Lelaki itu tertegun dan menghentikan sejenak sarapannya, ingatannya kembali pada kejadian malam tadi. Pelan-pelan Satria menyingkap baju kaosnya, ada beberapa titik memar juga di bagian perutnya yang lumayan terasa nyeri. Bisa jadi laki-laki lawannya itu akan kembali mencarinya untuk membalas kekalahannya.


“Papa … papa kok melamun?” tanya Liany yang sedang menggendong Rangga. Anak itu segera mengangkat tangannya untuk meminta Satria memangkunya.


“Ouuuhhh … Anak Papa sudah bangun, mhhhuuuaah… anak ganteng Papa juga mau ikut sarapan ya?” Satria menciumi Rangga dengan gemas sementara batita berpipi montok itu tertawa-tawa karena terkena dagu Satria yang agak kasar.

__ADS_1


“Ikut sarapan sama Papa yaa? Makanan Rangga mana, Mama? Biar Papa yang suapin Rangga!” seru Satria dengan riang. Liany tersenyum lebar melihat kasih sayang Satria kepada putranya yang semakin hari semakin besar. Liany menaruh bubur tim Rangga di mangkuk dan disodorkannya kepada Satria.


“Mama mau lihat, Papa bisa gak yaa suapin Rangga sampai habis?” gurau Liany sambil mendekatkan kursi makan Rangga ke sisi Satria.


“Oohhh … bisa doonng, Papa kan jagoan!” seru Satria sambil membuat wajah lucu kepada Rangga yang membuatnya tertawa-tawa. Diambilnya mangkuk itu dan mulai menyuapi Rangga dengan semangat.


“Ayooo Kapten, buka hangarnya, pesawat akan masuk!” Satria membuat sendok di tangannya itu seakan-akan pesawat mainan hingga Rangga sangat senang disuapi Satria meskipun pipi dan dagunya belepotan makanan. Liany hanya menggeleng kecil melihat tingkah keduanya.


“Bu, apa nanti Ibu dan Tuan akan pergi ke rumah sakit lagi jenguk kawan Ibu?” tanya Lastri ART mereka.


“Iya, mungkin sekitar jam sembilan pagi ini kami akan ke sana, titip rumah yaa, bilang sama Lilis dikit lagi Rangga mandi kalau sudah selesai makan, soalnya saya dan Bapak mau siap-siap ke rumah sakit.” Liany memberikan piring kotor kepada perempuan itu dan mendekati Rangga yang tampak gembira disuapi oleh Satria. Liany mengelap pipi putranya yang belepotan makanan tetapi hasilnya cukup lumayan, Rangga sudah nyaris menghabiskan isi mangkuknya.


“Waah … Rangga pinter yaa disuapin Papa, buburnya dikiiit lagi habis nih!” seru Liany yang jarinya menyasar mencubit pipi Satria. Lelaki itu meringis kesakitan karena ulah jahil istrinya lalu tertawa kecil. Aura kebahagiaan begitu terasa di antara mereka.


Selasar rumah sakit cukup lengang dan hanya beberapa saja orang yang lalu lalang. Liany memeluk lengan Satria sambil berjalan dengan santai menuju ruang perempuan yang mereka belum tahu siapa namanya. Tak ada identitas yang tertinggal saat pasangan suami istri itu membawanya ke rumah sakit. Seorang perawat keluar dari ruangan itu yang tampaknya baru saja memeriksa keadaan pasien.


“Sust, gimana sikon pasien kamar ini?” kejar Satria sebelum perawat itu menjauh.


“Ouh, pasien belum sadarkan diri, tetapi sejauh ini situasinya membaik, tekanan darah normal, juga tanda kehidupan vital lainnya. Permisi yaa, Pak, Bu saya harus ke kamar lainnya.” Perawat itu tersenyum ramah sebelum meninggalkan Satria dan Liany.


“Liany, kita dalam masalah,” bisik Satria yang menjauh dari jendela segera dikuncinya pintu kamar lalu menutup semua gorden rapat-rapat.


“Ada apa, Sat?” tanya Liany keheranan melihat tingkah suaminya yang menutup rapat semua celah agar tidak terlihat dari luar.


“Sepertinya laki-laki yang semalam itu mencari perempuan ini, mungkin perempuan ini istrinya sehingga dia bisa mencari hingga kemari.” Satria menarik Liany agar duduk di sofa. Liany pun terlihat bingung dan gelisah, dia tak menyangka jika menolong perempuan ini akan berbuntut panjang.


“Kita harus bagaimana, Sat? kasihan kalau perempuan ini jatuh lagi ke tangan laki-laki itu. Semalam dia nyaris membunuhnya, terlebih lagi perempuan ini tengah hamil.” Liany *******-***** jemarinya sendiri. Dia tak ingin usaha menyelamatkan perempuan ini menjadi sia-sia.


“Kita hubungi polisi yaa, Sat, minta pengamanan untuk perempuan ini,” cetus Liany lagi.


“Baiklah, aku akan coba hubungi kenalanku di kepolisian untuk kasus ini, semoga kita bisa dapat bantuan secepatnya." Satria menelpon seorang kawannya yang bekerja sebagai polisi yang kantornya tak jauh dari rumah sakit tempatnya berada sekarang.


Liany tersentak kaget ketika ada yang mencoba untuk membuka pintu, suara gaduh terdengar di luar sana. segera dia merapat pada tubuh Satria yang baru saja mengakhiri percakapannya dengan kawannya yang polisi itu. Beberapa kali gagang pintu kamar bergerak naik dan turun, keputusan Satria untuk mengunci pintu memang tepat. Paling tidak mereka tidak memaksa masuk ke dalam kamar.


“Sat, a-aku takut,” bisik Liany, tangannya mencengkram sisi rok A line yang dikenakannya. Satria hanya menempelkan ujung jari telunjuknya agar Liany tidak bersuara banyak. Tak ada suara di kamar, benar-benar senyap, yang terdengar hanya alat monitor vital sign yang mengeluarkan bunyi bip sesekali. Satria dan Liany sama-sama melihat ke arah gagang pintu yang sudah tidak bergerak lagi. Suara-suara gaduh itu pun mulai menjauh dan tidak terdengar.

__ADS_1


Liany menghembuskan napasnya lega, lututnya terasa gemetar karena takut laki-laki itu akan menyerang mereka, laki-laki itu tidak sendiri tetapi membawa kawanan yang penampilannya tak kalah seram. Satria mendekati pintu dan mencoba mengintip, mereka benar-benar sudah menjauh dan tak tampak olehnya.


“Mereka sudah pergi dan kawanku Arjuna juga dalam perjalanan ke rumah sakit ini, kita hanya perlu menunggunya.” Satria merengkuh bahu Liany dan membimbingnya untuk duduk. Sekali lagi Satria mendekati pintu dan membuka kuncinya tetapi tetap membiarkan pintu tetap tertutup rapat.


“Bagaimana kalau mereka datang lagi, Sat? Apa kita pindahkan saja perempuan ini ke rumah sakit lain agar tidak bisa ditemukan?” Liany masih mengkhawatirkan kondisi perempuan itu, dirinya merasa jika mereka berdua harus benar-benar melindunginya karena lukanya yang masih parah serta janin yang dikandungnya.


“Kita akan dengar apa kata Arjuna nanti, kita akan mengambil keputusan setelah mendengar sarannya.” Satria mendekati tempat tidur pasien, menatap dalam-dalam dan mencoba mengingat di mana wajah itu pernah ditemuinya.


“Tidak … ini tidak mungkin, tidak mungkin dia,” desis Satria. Satu persatu wanita yang pernah berkencan dengannya diabsen dalam ingatannya, tetapi Satria masih merasa ada yang salah.


“Siapa kau sebenarnya?” gumam Satria lagi dengan rasa penasaran Liany pun mendekati suaminya, firasatnya mengatakan jika suaminya itu tahu sesuatu tentang perempuan yang mereka tolong.


Ketika Satria dan Liany masih memandangi si pasien, mata perempuan muda itu membuka, dan melihat sekeliling dengan pandangan samar.


“Kau sudah sadar? Syukurlah … aku sangat mencemaskanmu,” ujar Liany cepat dan bergegas mendekat ke sisi perempuan itu. Wajah Satria mengeras ketika melihat kedua bola mata perempuan yang baru saja menatapnya.


“Bayiku, bagaimana dengan bayiku?” tanyanya setengah berbisik, dirinya berusaha menahan rasa sakit luar biasa yang seketika menyerang tubuhnya.


“Kata dokter bayimu aman. Katakan siapa namamu?” tanya Liany cepat. Satria menunggu apa yang hendak dikatakan perempuan itu. Dia sedang berharap jika perempuan itu menyebut nama yang berbeda dengan apa yang ditebaknya.


Braaaak…!


Pintu dibuka dengan kasar yang membuat ketiganya terperanjat kaget.


“Di situ rupanya kau bersembunyi perempuan ******! Ayo pulang denganku sekarang!” bentak laki-laki yang memukulinya semalam. Wajah Liany menjadi pucat, Satria berbalik menatap lelaki yang datang dengan tiga orang kawannya.


“Tidak ada yang akan pergi bersamamu kecuali tiga kawanmu itu, perempuan ini tetap bersama kami di sini.” Satria berdiri menghalangi lelaki itu tepat di hadapan perempuan yang hendak dijemput paksa.


“Kau tidak bisa menghalangiku karena dia tunanganku! Ingat Bung, ini bukan urusanmu, jangan sampai kau menyesal!” ancam lelaki itu seiring dengan ketiga kawannya yang maju selangkah.


“Polisi sedang dalam perjalanan ke mari, apa yang kau lakukan semalam sudah melanggar hukum dan yaa tempat kejadian ada kamera pengawasnya jadi saksi dan bukti sangat lengkap untuk membuatmu dipenjara dalam waktu yang lama, Bung!” ancam Satria lagi. Laki-laki itu kemudian berpikir, dia tidak ingin mengambil resiko.


“Hey … ******! Kali ini kau selamat, kelak aku benar-benar akan menyeretmu kembali padaku!” lelaki itu berbalik dan memberi kode agar teman-temannya ikut serta.


“Terima kasih, aku—“ perempuan itu meringis kesakitan dan tidak melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


“Kenapa … kenapa kau jadi seperti ini?” tanya Satria dengan nada prihatin, di dadanya bercampur emosi sedemikian rupa di kala tatapan mereka beradu.


__ADS_2