Di Atas Ranjang Om Rudy

Di Atas Ranjang Om Rudy
Dari klub malam


__ADS_3

Aroma minyak telon dan bedak bayi memenuhi kamar Liany, dibantu oleh bi Inah mama muda itu diajarkan cara memandikan bayi. Liany melakukannya dengan senang hati, ditatapnya dalam-dalam makhluk kecil itu yang sedang menikmati air susu ibunya.


“Selamat pagi ponakan Aunty yang ganteeeeng …,” Myla menyembulkan kepalanya dari balik pintu diiringi senyumnya yang merekah serta tas besar di tangannya.


“Hey Aunty Myla, selamat pagi juga, waaah sudah cantik aja niih Aunty,” sahut Liany dengan ceria. Myla mengambil Rangga perlahan dari tangan Liany, baru saja Rangga selesai menyusu.


“Halo Ganteng, Aunty bawakan kamu hadiah, ini jadi teman pertama kamu yaaa,” ujar Myla dengan gemas, diciumnya kening Rangga.


“Waah … bagus sekali Teddy Bear ini, Myl, pasti harganya mahal.” Liany mengelus bulu boneka yang terasa lembut itu.


“Aah harganya biasa aja kok,” Kilah Myla yang menimang-nimang Rangga sambil menikmati aroma wangi dari pelembut pakaian bayi dan selimut yang membalut Rangga. Liany menaruh boneka di samping box bayi, bahkan dia sendiri pun tampak gemas dengan boneka yang lucu itu.


“Myla, ini sudah jam berapa lho, nanti kamu telat lagi, gak enak kan Bu Bos datangnya telat,” ujar Liany sambil mengambil Rangga dalam gendongan Myla.


“Yaaah Lia… aku masih mau gendong Rangga,” Myla pura-pura memberengut ketika Rangga sudah beralih ke tangan Liany. Bayi yang tertidur pula situ diletakkannya dengan hati-hati di box bayi.


“Nanti kalau kamu udah pulang sore nanti baru main lagi sama Rangga, Bu Bos.” Liany tertawa kecil dia senang semua anggota keluarga menyambut bayinya dengan suka cita.


Myla mendekati box bayi dan mengecup Rangga sekali lagi. Rasanya dia sudah jatuh cinta pada makhluk kecil ini dengan begitu cepat. Sepupu Liany itu pun melambaikan tangannya kemudian menghilang dari balik pintu. Liany tertegun, dipandanginya seisi kamar, sebentar lagi dia harus mencuci pakaian kotor bayinya. Semua pekerjaan harus sudah beres sebelum Rangga terbangun kembali. Sekelebat bayangan tentang mencari pekerjaan mulai mengusiknya, rasa sungkannya akan semakin membesar jika dia berlama-lama di rumah ini.


Ponsel Liany bergetar sebuah pesan masuk, sebuah gambar gif berupa bayi yang lucu dan ucapan selamat pagi. Pengirimnya dari Satria tentu saja, Liany tersenyum, gambar bayi yang bergerak-gerak itu begitu lucu dan menggemaskan. Ada desir aneh yang menjalari hatinya, desir yang sudah lama tak dirasakannya setelah suaminya tiada. Buru-buru Liany menggeleng untuk menepis rasa itu. Dia menolak dengan semua perasaan apapun yang bisa tumbuh di dalam hatinya. Hanya ada satu laki-laki saja yang di hati Liany, bayi Rangga yang masih butuh segenap perhatian dan kasih sayangnya.


Satria menatap layar ponselnya, pesannya hanya dibaca saja tanpa dibalas. Hatinya sedikit gelisah hingga dia berusaha mengalihkannya kepada pekerjaan di hadapannya itu.


“Ck … apa susahnya siih balas pesan, kasih jempol kek, emot senyum kek atau apa gitu!” gerutu Satria sambil menaikkan kacamatanya. Matanya kembali melirik ponselnya yang masih belum berbunyi.

__ADS_1


“Cuma anak bayi tetapi kok bisa merebut perhatianku seperti ini ya?” gumamnya lagi dengan gusar.


“Pak Bos! Dari tadi ngomel sendirian aja, bayi apa? Apa kita punya rencana iklan tema bayi?” tanya Dora mendekat dan ikut menatap layar laptop Satria.


“Engh … gak, gak ada, aku gak ngomong apa-apa kok,” kilah Satria. Dia menjauhi Dora, mengambil ponselnya dan menyalakan sebatang rokok dekat jendela. Dirinya masih membayangkan wajah bayi yang tampan itu. Dora memperhatikan gelagat Satria yang tak biasanya, seperti ada kegelisahan yang disembunyikannya. Hampir semua bawahan Satria tahu jika laki-laki itu adalah don juan yang hanya suka berpetualang pada one night stand. Belum pernah tim mereka Satria dekat dengan satu wanita manapun dalam waktu yang lama. Dora mendengar samar tentang bayi dan mulai berpikir yang tidak-tidak.


‘Apa Pak Bos udah punya anak yaa? Atau Pak Bos diam-diam udah nikah gitu?”


“Saya tahu kamu sedang ngeliatin saya yaa, ada yang mau kamu tanyakan Lagi Deborah?” tanya Satria dengan suaranya yang penuh penekanan.


Dora terkesiap, tak menyangka Satria memperhatikannya.


“Ouh … gak Pak Bos, gak ada pertanyaan,” jawab Dora yang kaget mendengar nama aslinya disebut seperti itu yang tandanya Satria benar-benar sedang tidak mau diganggu.


[kalau kamu ada waktu kita makan siang bersama ya?] pesan Dari tante Katrin segera dihapusnya dan tidak ada niat Satria untuk membalasnya.


Dihisapnya rokok di jarinya dengan dalam, rasa sakit di hatinya pada wanita itu masih belum bisa terobati. Pesan itu semakin membuat mood Satria semakin buruk.


[party malam ini di tempat Milena, jangan sampai gak datang!]


Pesan berikutnya datang dari seorang teman clubbing Satria, dia menimbang sejenak, selama di sini dia memang belum pernah menemui teman-temannya lagi.


[ok, share lock.] balas Satria dengan cepat. Mungkin dengan pesta nanti malam suasana hatinya akan membaik. Dimatikanya rokok yang masih tersisa setengahnya, kemudian membuang puntungnya keluar jendela. Satria kembali ke mejanya, menghidupkan mode senyap pada ponselnya dan ditaruhnya di laci. Sejenak dia membunyikan otot-otot jemarinya lalu tenggelam dalam pekerjaannya.


Bunyi musik menghentak-hentak menyambut telinga Satria, berbagai aroma bercampur di dalam ruangan itu. Satria mengedarkan pandangannya mencari sosok teman-temannya. Sekumpulan lelaki muda di sudut ruangan terlihat melambaikan tangan kepadanya dan menyuruhnya bergabung segera. Satria pun menyunggingkan senyumnya dan melangkah mendekati mereka . Minuman, canda dan tawa mereka berbaur bersama alunan musik yang membangkitkan semangat.

__ADS_1


Di sudut ruangan lainnya tampak Myla dan beberapa temannya juga sedang menikmati waktu. Salah satu teman Myla sedang berulang tahun dan merayakannya di klub ini. Sebenarnya Myla enggan untuk hadir karena club bukan tempat yang nyaman untuknya, tetapi dia merasa tidak enak menolak undangannya temannya. Seorang pengunjung mencoba berbuat iseng pada Myla, dia menabrak gadis itu lalu meremas bokongnya.


“Heeh jangan kurang ajar kamu yaa!” bentak Myla marah. Laki-laki yang setengah mabuk itu tertawa lalu mencoba mendekati Myla lagi dan ingin menyentuhnya kembali.


“Kenapa? Kurang banyak yang sentuhannya, apa mau ditambah lagi dengan di sini?” tunjuk laki-laki itu ke arah dada Myla. Gadis itu naik pitam lalu menampar laki-laki yang mencoba melecehkannya.


“Perempuan sialan! Kamu benar-benar ingin dikerjain yaa?!” Tangan laki-laki itu menangkap tangan Myla cepat lalu menarik Myla dalam pelukannya. Myla berontak, sementara teman-teman Myla tak ada yang berani membantunya.


Tiba-tiba dari arah belakang bahu laki-laki itu ditarik kemudian sebuah tinju yang sangat keras bersarang di pipinya, lelaki yang mabuk itu terjungkal dan mengerang kesakitan.


“Mas Satria?!” seru Myla tak percaya ketika dia melihat penolongnya itu kembali melayangkan tinjunya berkali-kali sehingga pemabuk yang mengganggu Myla itu terlentang tak sadarkan diri. Wajah Satria terlihat memerah karena amarah, orang-orang menatapnya dengan segan melihat dengan mudahnya Satria menumbangkan laki-laki yang berbadan besar itu.


“Kamu gak apa-apa?” tanya Satria pada Myla yang masih tampak pucat dan gemetar. Kawan-kawan Satria menghampiri dan memuji keberanian serta kekuatan Satria sementara kawan-kawan Myla baru saja mendekatinya.


“Aku mau pulang,” jawab Myla yang tampak hampir menangis, dia memeluk dirinya sendiri tampak masih kaget dengan kejadian barusan.


“Aku akan mengantarkanmu pulang,” ujar Satria tegas. Satria melepas kemejanya hingga menyisakan baju kaos dalamnya lalu menyampirkan kemeja itu pada bahu Myla dan merapatkannya. Satria pun merengkuh bahu Myla agar merapat padanya lalu melewati kerumunan. Teman-teman Satria hanya bisa memaklumi saja tindakan Satria yang meninggalkan pesta mereka yang bahkan belum dimulai.


Ada hangat yang menjalari Myla karena perlakuan hebat Satria, sungguh membuat Myla semakin kagum dan suka padanya. Namun, bagi Satria hal itu memang harus dilakukannya, dia bisa marah kepada ibunya tetapi tidak bisa membiarkan jika adik perempuannya diganggu orang lain apalagi hendak melecehkannya.


“Apa kau baru pertama ke tempat seperti ini?” tanya Satria sambil menyetir.


“Iya, sebenarnya aku segan tetapi temanku ulang tahun aku gak enak mau menolak,” terang Myla.


“Jangan pergi lagi ke tempat-tempat seperti itu lagi ya, itu gak aman buatmu.” Satria menatap sekilas pada Myla dan perempuan itu merasa ada taman bunga yang sedang bermekaran di dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2