
Om Rudy duduk termenung di kursi kerjanya, dia menatap kamar Liany dari kejauhan yang tidak lagi berpenghuni. Rasa sesak dan sedih berusaha ditutupinya sekuat mungkin. Seminggu sejak kepindahan perempuan muda itu Om Rudy merasa separuh hatinya ikut terbawa. Di depan Tante Katrin dan Myla dia berusaha terlihat baik-baik saja. Namun, ketika dia masuk ke ruangan ini hatinya seperti diremas, kerinduan menusuknya tanpa ampun.
“Andai saja kau tahu Lia, betapa aku menyayangimu, sepenuh hatiku. Aku tahu aku salah aku tak dapat mengontrol dirimu sehingga menciummu seperti itu, aku ingin memilikimu dan meletakkan kebahagiaan di genggamanmu,” gumam Om Rudy lirih. Dibukanya ponselnya dan mencari ruang folder yang disembunyikannya dengan sandi, ada foto-foto Liany yang diambilnya diam-diam.
“Aku akan mengunjungimu dan melihat Rangga juga.” Om Rudy seakan sedang berbicara dengan Lia lewat foto perempuan itu. Bibir lelaki itu menyunggingkan senyum yang hambar, kini ruang hatinya bukan hanya milik Tante Katrin seorang, ada sosok Liany yang tak bisa dihapusnya begitu saja.
“Papa, ini akhir pekan lho, Pa, ngapain sih Papa di dalam sini terus?” tiba-tiba suara Tante Katrin terdengar setelah pintu ruang kerja Om Rudy terbuka. Spontan jemari Om Rudy menutup folder foto-foto Liany dan menelungkupkan ponselnya.
“Mama, mau kemana?” tanya Om Rudy dengan lembut. Tante Katrin mendekati suaminya dan duduk dipangkuan Om Rudy, sebelah lengannya dikalungkan di leher suaminya.
“Mama ini belum tahu lho kemana Liany pindah, padahal Mama kangen juga sama Rangga. Papa tahu kan alamat Liany? Kita jenguk dia bareng Myla yaa?” pinta Tante Katrin.
“Ok baik, kita siap-siap ke sana ya,” jawab Om Rudy dengan senyum lesung pipinya yang semringah.
Mobil Om Rudy membelah jalan kota yang tidak terlalu macet seperti biasanya, lalu mobil itu masuk ke perumahan kelas menengah. Myla yang fokus pada ponselnya terkejut ketika melihat mobil papanya mengarah kemana. Hal yang sama dirasakan Tante Katrin, perumahan ini juga dimana putranya tinggal.
“Papa carikan Liany rumah di perumahan ini?” tanya Myla masih dengan keterkejutannya.
“Iya, kemarin anak buah Papa yang carikan kebetulan tidak jauh dari rumahnya hanya beberapa blok saja. Rumahnya terawatt harganya tidak mahal dan cocok buat Liany dan Rangga, semua akses dari perumahan ini dekat, supermarket, klinik kesehatan dan perkantoran jadi Papa setuju.”
Myla menelan ludahnya ketika mobil mereka tiba di depan sebuah rumah yang ukurannya sederhana tetapi memiliki taman asri dan apik.
“Ini rumahnya, Liany dan Rangga pasti ada di dalam karena pintunya sedikit terbuka.” Om Rudy membukakan pintu mobil Tante Katrin.
“Hey… wajah Mama kok pucat gitu? Mama sakit?” Om Rudy memindai sekali lagi wajah Tante Katrin yang terlihat berbeda.
“Aah enggak kok, Pa, Mama baik-baik aja, mungkin karena Mama gak pake foundation yang biasa mama pake jadi kulit Mama sedikit pucat,” kilah Tante Katrin sambil menahan degupan jantungnya.
Myla mematung melihat ke arah rumah yang berhadapan dengan rumah Liany, rumah lelaki yang telah mematahkan hatinya. Lampu teras itu terlihat menyala dan mobil Satria tak nampak di garasi.
“Ayo buruan masuk, kok pada bengong gitu sih? Ehh Myla, kenapa liatin rumah orang kayak gitu, gak sopan ah!” seru Om Rudy mengingatkan putrinya. Tante Katrin menggandeng tangan suaminya yang akhirnya diikuti Myla untuk masuk ke rumah Liany.
__ADS_1
Liany tampak terkejut dan gembira dengan kedatangan keluarga Tante Katrin. Tante Katrin dan Myla juga menunjukkan kegembiraan yang sama. Myla segera menggendong Rangga dan menciumi anak itu habis-habisan hingga Rangga nyaris menangis. Om Rudy melihat ruang tamu yang lapang dan hanya ada selembar karpet saja tanpa kursi tamu, ruang tengah yang hanya ada mainan Rangga. Laki-laki itu meneruskan langkahnya menuju dapur memeriksa kelayakan hidup Liany.
“Ruang tamu kamu kosong banget, Lia. Om pesankan sofa tamu ya?” tawar Om Rudy yang membuat Liany dan Tante Myla memandang ke arahnya.
“Ouh … tidak perlu, Om, Rangga saat ini sedang belajar merangkak dan berdiri, justru ruangan lapang seperti aman untuknya.
“Lia, katanya kamu udah kerja ya? Kamu kerja apa, sayang dan bagaimana dengan Rangga?” tanya Tante Katrin yang akhirnya duduk di karpet itu bersama Liany dan Myla.
“Lia kerja jadi sekretaris di perusahaan periklanan, Tante. Kebetulan teman lama Lia menawarkan pekerjaan dan bosnya juga baik bisa memberikan Lia waktu yang fleksibel. Hampir seminggu ini Lia bawa Rangga ka penitipan anak yang tak jauh dari kantor Lia. Syukurnya Rangga bukan tipe yang rewel, dia anteng saja Lia tinggal, jam istirahat Lia jengukin Rangga lagi sambil pompa ASI Lia.”
“Duuuh repotnya kamu, Nak. Apa kamu bisa jalani itu, Sayang?” tanya Tante Katrin prihatin.
“Bisa Tante, harus bisa, Liany sudah bertekad untuk hidup mandiri, berjuang sebisa Lia.”
“Kalau kamu ada apa-apa jangan sungkan hubungi Tante, yaa Lia,” ujar Tante Katrin sambil mengusap bahu Liany.
“Tunggu sebentar ya, Lia mau bikin minum dulu,”
Om Rudy berkeliling memperhatikan keadaan rumah Liany. Memastikan tidak ada bagian rumah yang rusak, taman yang aman dan segala sesuatunya yang dibutuhkan Liany. Namun, mengingat perempuan itu baru saja menolak tawaran sofa tamu itu dia urung untuk menawarkan Liany perabotan untuk mengisi rumah dan dapurnya. Tante Katrin, Myla dan Rangga bermain bersama, kesempatan bagi Om Rudy untuk masuk berbicara dengan Myla di dapur.
“Kamu nyaman tinggal di sini?” tanya Om Rudy yang masuk dari arah pintu samping yang menghubungkan teras depan dengan bagian samping rumah.
“Iya, Om, dan perumahan ini juga dekat dengan kantor Liany. Terima kasih atas rumah ini,” jawab Liany dengan sopan. Teh yang dibuatnya sudah siap untuk dibawanya. Om Rudy memegang tangan Liany lalu mendekatkan dirinya pada perempuan itu.
“Aku merindukanmu,” bisik Om rudy. Liany segera melepas tangannya, di luar ada Tante Katrin dan Myla, rasa takut menjalari Liany.
“Om, tolong jangan seperti ini, Om sudah berjanji untuk tidak melakukan hal yang macam-macam lagi pada Lia!” seru Liany dalam bisikannya pula. Bergegas ditinggalkannya lelaki itu yang mematung mendengar ucapan Liany.
Deru mobil terdengar dari arah rumah depan. Myla segera memanjangkan lehernya untuk melihat mobil yang baru saja tiba itu, terdengar pagar yang terbuka. Myla bergegas bangkit, Tante Katrin yang mendengar mobil Satria yang baru saja tiba, pelan-pelan mengikuti Myla yang keluar untuk melihat Satria.
Myla berdiri di depan teras dan memastikan jika yang turun dari mobil itu benar Satria. Tampaknya Satria dari luar kota karena dia keluar dari mobil lalu dengan kopernya. Satria pun berbalik dan hendak menutup pagar, matanya membulat tak bisa menutupi rasa keterkejutannya ketika dia melihat gadis itu berdiri di teras rumah Liany dan ada Tante Katrin di belakangnya.
__ADS_1
“Satria,” gumam Myla lirih yang terdengar oleh Tante Katrin.
“Myla, dia …?” tanya Tante Katrin ingin memastikan.
“Dia pria itu, Ma, pria yang sudah membuat Myla jatuh cinta tetapi dia menolak Myla. Pria yang membuat Myla patah hati. Lihatlah, dia melihat Myla berdiri di sini tetapi sikapnya seakan tidak mengenal Myla.”
Satria hanya memandangnya sesaat, lalu membuang muka, dirinya bingung bagaimana harus menyapa gadis itu sementara ibunya ada juga bersamanya. Ibu mereka berdua, dia tidak ingin semakin jauh berpura-pura di depan Tante Katrin sebagai orang asing. Akhirnya Satria memilih diam, menutup pagar tanpa ekspresi apapun dan masuk ke dalam rumahnya.
Myla merasa kecewa dan sedih, lukanya terasa kembali terbuka dan perih, cepat-cepat dia kembali ke dalam rumah dan mengelap air matanya.
“Lho, kamu kenapa Myla?” tanya Liany, Om Rudy pun memperhatikan anak gadisnya.
“Papa kenapa pilih rumah ini sih? Tau enggak siapa yang tinggal di depan rumah Lia? Dia laki-laki yang menolak cinta Myla. Tadi dia melihat Myla tapi seakan-akan gak kenal sama Myla!” seru Myla kesal.
“Padahal selama enam bulan ini kami begitu dekat, kenapa hari ini dia seperti orang asing begitu?” lanjut gadis itu dengan sangat kecewa. Tante Katrin menghela napas, kini dia salam posisi yang semakin sulit. Putrinya masih menyimpan rasa pada laki-laki yang masih berhubungan darah dengannya.
Kini giliran Liany yang merasa sangat terkejut karena mengetahui jika sepupunya menyukai Satria. Akhirnya Liany memilih diam, dia tidak ingin mereka jadi tahu jika sebenarnya Liany adalah sekretaris dari satria. Liany bingung harus berbuat apa, dia kasihan melihat Myla yang begitu kecewa, dia juga merasa aneh mengapa Satria bersikap seakan tidak mengenali Myla.
“Papa, kita pulang yuk, maaf ya Lia, aku tiba-tiba jadi tidak enak perasaan begini. Nanti aku ceritakan sama kamu apa yang terjadi.” Myla bangkit dari duduknya dan mengecup Rangga yang ada dalam gendongan Liany.
“Iya, gak apa-apa, kapan-kapan aku yang akan main ke rumah bersama dengan Rangga.”
Tante Katrin pun merasa tidak ingin berlama-lama di rumah itu karena dia juga masih merasa terkejut ketika tahu Liany bertetangga dengan Satria, artinya dia tak bisa lagi leluasa datang ke rumah putranya itu. Mereka pun akhirnya pamit dan meninggalkan Liany dan Rangga.
Di balik tirai rumahnya, Satria melihat Myla dan orang tuanya meninggalkan rumah Liany. Diremasnya tirai itu dengan gemas, dia pun merasa serba salah, biar bagaimanapun Myla tidak salah. Dirinya yang salah karena membiarkan rasa suka Myla berkembang terlalu jauh dan ibunya juga yang seharusnya tersangka utamanya karena ketidak jujurannya membuat situasi menjadi rumit.
Setelah mobil keluarga itu pergi, Satria mengambil salah satu tas oleh-oleh yang dibawanya dari luar kota, dia menyeberang ke rumah Liany untuk membawakan ta situ. Satria mengetuk pintu dan menunggu Liany membukanya.
“Aku bawa ini untukmu, semoga kamu suka.” Satria menyodorkan tas yang berisi tas kerja wanita yang bagus sekali. Warna dan modelnya yang sederhana sesuai dengan kepribadian Liany. Perempuan itu menerimanya dengan ucapan terima kasih.
“Sat, kenapa kamu menolak Myla dan membuatnya sakit hati seperti itu? Apa kamu sudah tahu jika Myla itu sepupu aku?” tanya Liany yang membuat Satria mematung.
__ADS_1