Di Atas Ranjang Om Rudy

Di Atas Ranjang Om Rudy
Limited edition


__ADS_3

Lilis segera mengambil lap, mengisi ulang tekonya dan bergegas meninggalkan dapur. Satria dan mengambil botol Rangga yang terjatuh dari tangan Liany sementara Yelena membereskan mangkok bekas mie mereka.


“Lia, aku dan Yelena…,”


“Sat? Apa kamu mau menikahi Yelena untuk perlindungan dan bayi dalam kandungannya?” tanya Liany yang masih berdiri di tempatnya. Satria menoleh kepada Yelena yang seakan tidak terjadi apa-apa.


“Tidak! Aku tidak akan menikahi perempuan lain dengan alasan apapun, aku tidak akan melakukan itu,” ucap Satria penuh penegasan. Yelena yang mendengar itu hanya tersenyum kecil, dia sedang mencuci mangkuk dan peralatan masak yang tadi dipakainya.


“Biar aku yang membuatkan Rangga susu kau kembali lah ke kamar. Aku akan bicarakan hal ini dengan Yelena, itu adalah ide gila yang tidak akan kusetujui. Kembali lah ke kamar,” pinta Satria sekali lagi. Liany tidak berkata lagi, dia hanya menatap punggung Yelena yang masih berdiri di dapur lalu dia berbalik menuju kamarnya sendiri seperti yang dikatakan Satria.


Satria bergegas membuatkan Rangga susu diliriknya Yelena yang sudah selesai menaruh mangkuk yang bersih di tempatnya.


“Kita akan bicarakan ini besok, aku tidak mau istriku salah paham dengan dengan ide gilamu itu!” Satria tidak main-main dengan ucapannya. Dia benar-benar tidak menyangka jika Yelena akan mempunyai pemikiran seperti itu. Satria menghela napas panjang dan meninggalkan Yelena di dapur sendirian. Gadis itu mengedikkan bahunya sambil menatap Satria yang menjauh berjalan menuju kamar Rangga putra sambungnya.


“Kak … jika kau menyayangi Rangga seperti itu apa kau bisa menyayangi juga anakku kelak? Hanya kau laki-laki yang bisa aku percaya, Kak. Aku tak memandangmu sebagai laki-laki yang kucintai pada umumnya, aku rasa Liany akan mengerti itu.” Yelena ikut menghela napasnya dan kembali masuk ke kamarnya.


Satria masuk ke kamarnya ketika Rangga sudah tidur tenang kembali. Liany tidur memunggunginya, dia merasa bersalah dengan ucapan Yelena yang ngawur itu. Pelan-pelan dia naik ke tempat tidur dan memeluk istrinya dari belakang. Dikecupnya kepala Liany dengan penuh perasaan tak ada sedikitpun di dalam hatinya untuk menduakan Liany atau membiarkan perempuan lain berada di antara mereka.


Mata Liany terbuka, dia merasakan semua sentuhan yang Satria lakukan kepadanya. Perempuan mana yang akan bisa tidur setelah mendengar ada perempuan lain yang meminta dinikahi oleh suaminya apapun alasannya. Kecupan Satria yang penuh kasih sayang itu membuat hatinya terenyuh, dia tahu ketulusan Satria tetapi hatinya pun menaruh kasihan kepada Yelena. Yelena benar, mereka bukan saudara kandung Satria bisa menikahi Yelena untuk melindunginya. Mata Liany pun menutup, dia tak ingin berpikir jauh sebelum meyakinkan Yelena atas niatnya itu.


Liany sedang menyiapkan sarapan yang dibantu oleh Lastri di ruang makan. Pagi ini Liany membuat roti lapis untuk Yelena, tak lupa segelas susu hamil juga disiapkannya agar asupan nutrisi Yelena benar-benar terjaga dengan baik. Satria masih belum keluar dari kamarnya dan mungkin dia masih tidur.


“Tolong buatkan Bapak kopi yaa, Lastri, saya mau lihat Nona Yelena dulu di kamarnya.” Liany sudah selesai dengan sarapan Yelena dan akan mengajak gadis itu makan bersama.


“Yelena, apa kau sudah bangun?” Liany mengetuk pintu Yelena dengan pelan, “Ayo kita sarapan bersama,” lanjut Liany lagi. Namun, tak ada jawaban. Liany membiarkannya karena bisa jadi Yelena masih sangat mengantuk. Dia beralih ke kamarnya sendiri untuk melihat Satria yang seharusnya sudah terbangun saat ini.


“Sat … hey, Sayang, sudah pagi lho, tumben banget kamu telat bangun, mau begadang jam berapa juga biasanya kamu bangun cepat. Ayooo … bangun!” Liany menyibak selimut Satria, tiba-tiba lengan kokoh itu menariknya sehingga Liany rebah di atasnya. Satria memeluk pinggang istrinya dengan erat lalu berguling dan membuat Liany tertindih olehnya.


“Aku masih ingin bermalas-malasan, aku ingin itu,” Satria membenamkan wajahnya di leher Liany. Liany meronta karena merasa geli, dagu Satria terasa kasar karena belum bercukur dalam minggu ini.

__ADS_1


“Saaaat … hentikaaan aku geliiii…. Aaahhh… berhentiiii!” seru Liany sambil tertawa-tawa, mungkin itu adalah titik lemahnya yang tidak bisa digelitik. Satria tidak menghentikannya justru dia bersemangat untuk melanjutkan kejahilannya.


“Aku akan gelitik sampai kamu kamu kasih aku “itu” hitung-hitung olahraga pagi!” Satria masih bercanda dengan Liany kali ini bukan hanya lehernya saja yang diciumi, dengan nakal Satria membuka kancing baju atas Liany dan menyasar ciumananny ke sana.


“Stooop … aaah geli, Sat! Jangan gituuu aaah…!” Liany masih tertawa sungguh aneh kelakuan suaminya, ini bukan hal yang biasa untuk memulai bercinta.


“Ampun gak?” tanya Satria berulang kali dan menunggu istrinya mengatakan kata ampun. Tangan Satria mulai meraba kemana-mana yang membuat Liany semakin tertawa geli.


“Saaaat … iyaaa aku ampun… aku ampuuun…!” seru Liany yang tak tahan lagi karena gelitikan suaminya.


“Bagus! Tawanan sudah menyerah, saatnya tawanan cantik ini aku hukum!” Satria membuka baju kaosnya dan mengangkat tubuh Liany dengan sekali gerakan.


“Heey … kamu mau bawa aku kemana?!” seru Liany yang kancing bajunya sudah terbuka semua.


“Temani aku mandi!” seru Satria penuh semangat disertai senyumnya yang lebar. Liany hanya tertawa lagi dan merangkul leher suaminya.


“Aku senang menjadi tawananmu,” bisik Liany lalu mengigit telinga Satria dengan pelan. Keduanya pun masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan kesenangan di pagi hari.


“Ehhem …” Liany mendehem yang membuat keduanya melirik Yelena. Dari arah dapur Lilis memperhatikan nona berambut merah itu dengan tatapan tidak suka. Wajahnya cemberut dan menganggap jika Yelena itu bibit pelakor di dalam rumah tangga majikannya.


“Soal semalam …,” Yelena masih ingin mengajukan ide gilanya kepada Satria dan Liany.


“Tidak, aku menolaknya. Aku tidak setuju dengan ide gilamu, aku tidak akan menikahimu Yelena,”sergah Satria cepat.


“Yeeesss!” Tanpa sadar Lilis berseru sambil menekuk lengannya dan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Satria, Liany dan Yelena menoleh kepada Lilis, Lastri menyenggol Lilis agar dia tahu jika sikapnya tadi membuat para majikannya menoleh kepadanya.


“Engh… yesss … Lilis menang undian, ini ada pesan kalau Lilis dapat hadiah seratus lima puluh juta, ta-tapi Lilis gak mau ambil karena Lilis gak ikut undian apapun. Permisi Bu, Tuan, Lilis mau sarapan di halaman belakang.” Segera Lilis meninggalkan dapur yang membuat Satria geleng-geleng kepala. Dia tahu jika itu hanya alasan Lilis saja.


“Kak, aku tidak memintamu untuk berbagi cinta, aku hanya butuh status saja agar Mike tidak menggangguku, tolong pertimbangkan lagi. Aku tidak akan mengganggu hubungan kalian berdua, aku tidak akan menuntut hak sebagai istri.” Yelena memandang keduanya penuh harap.

__ADS_1


“Sat, Yelena—“


“Tidak, aku bilang tidak! Dengan alasan apapun, aku tidak akan menikahi perempuan lain, Liany. Perbincangan ini cukup sampai di sini dan kau Yelena … demi Tuhan jangan berpikir sejauh itu lagi. Aku lebih baik mengantarmu ke Inggris sekarang juga jika kau masih mengungkit ini lagi!” Satria membuang napasnya kasar, menghabiskan sisa kopinya lalu menggeser kursi dengan kasar.


“Aku berangkat ke kantor sekarang, ingat lupakan tentang ide gilamu itu, Yelena dan kau Liany, aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu dan jangan harap aku akan membantu Yelena dengan cara itu!” Satria terlihat benar-benar marah. Dia mengambil jas dan tas kerjanya, dikecupnya sekilas kepala Liany lalu menuju kamar Rangga untuk memberikan ciuman sayang sebelum dia berangkat kerja.


Yelena tak bicara lagi, dia kenal betul dengan tabiat kakak angkatnya itu, sekali tidak berarti tidak dan tidak ada yang bisa mengubahnya. Suara deru mobil Satria terdengar lalu ruang makan itu menjadi senyap tanpa suara. Yelena tak berselera lagi untuk melanjutkan sarapannya, sementara Liany baru saja masuk ke ruangan itu setelah mengantar suaminya hingga ke halaman depan.


“Aku tahu niatmu baik, kau mengkhawatirkan calon bayimu itu, tetapi kau lihat sendiri bukan tanggapan kakakmu seperti apa.” Liany duduk di hadapan Yelena memandang gadis itu dengan perasaan iba.


“Yaa… mungkin permintaanku kali ini keterlaluan dan tidak masuk di akal. Tapi aku bangga melihat sikapnya yang tegas seperti itu, dia tidak punya bakat untuk selingkuh dengan wanita manapun. Selamat, kak, kau mendapat pria limited edition!” Yelena menyunggingkan senyumnya lebar. Walaupun di dalam hatinya ada sedikit kecewa tetapi dia memaklumi sikap Satria.


“Seandainya Kak Satria setuju menikahiku, apa Kak Liany tidak keberatan?” tanya Yelena yang membuat Liany berpikir sesaat.


“Tidak, aku tidak keberatan karena Satria tidak sedang berbagi hati denganmu, dia hanya ingin memberimu perlindungan juga kepada bayimu. Aku percaya jika suamiku hanya memiliki aku di dalam hatinya.” Liany tersenyum lembut, dia percaya diri jika Satria memang hanya menaruh dia seorang di dalam hatinya.


“Kau beruntung sekali, kak… aku memang sudah sangat bodoh menghancurkan hidupku sendiri. Lalu kini kelabakan mencari pria baik-baik untuk menambal kehancuran yang kubuat sendiri.”


“Sudahlah, tak perlu banyak disesali. Kau harus memikirkan langkahmu dengan bijak ke depannya. Setiap keputusan harus kau pertimbangkan masak-masak karena kau tidak sendiran lagi, ada nyawa yang dititipkan kepadamu yang juga harus kau perhitungkan, Yelena.”


Mendengar hal itu mata Yelena berembun, hatinya benar-benar tersentuh dengan kebaikan dan ketulusan Liany. Gadis itu pun berdiri dari kursinya lalu menghampiri Liany dan memeluknya sangat erat.


“Terima kasih banyak, Kak… terima kasih, bahkan kau sudah mengurusku dengan sangat baik dan begitu tega aku mengatakan meminta berbagi suami denganmu. Maafkan aku….” Yelena terisak, Liany membalas pelukan Yelena dengan hangat dan mengelus punggung gadis itu dengan lembut.


“Lupakan lah, aku tidak apa-apa, sebagai kakak tentunya aku yang harus mengurusmu dengan baik. Aku sudah pernah rasa bagaimana hidup sendiri dan dalam keadaan hamil. Keluarga Myla mengurusku juga dengan sangat baik, kau pun berhak mendapatkan itu, Yelena.”


“Sungguh kau kakak terbaik yang pernah ada,” ucap Yelena dengan penuh bangga.


Beberapa meter dari rumah Liany sebuah mobil terparkir, seorang laki-laki sedari tadi mengawasi rumah itu. Dirinya bisa memastikan jika di rumah itu dia bisa menemukan Yelena dan akan membawanya pergi.

__ADS_1


“Yelena Sayang, aku menunggumu, setelah kau bebas dari rumah itu kau akan kembali kepadaku, aku akan pastikan itu!” gumam Mike sambil menyeringai.


__ADS_2