
Eve memandangi secarik kertas yang diberikan Tomy dan Dody kepadanya lalu memandangi kedua orang itu bergantian. Perempuan itu mendengkus kesal ketika mendengar kedua laki-laki di hadapannya tidak lagi menerima tawaran pekerjaan dari Eve.
“Saya hanya ingin mengambil keponakan saya, saya ini Tantenya berarti saya gak menculik ‘kan? Jadi preman nanggung amat siih!” cecarnya lagi.
“Maaf, Mba Eve, kami ada tawaran pekerjaan lain di luar kota, cari saja orang lain untuk bekerja dengan Mba Eve.” Tomy masih berbaik hati bicara dengan sopan pada Eve yang melipat dada di depannya dengan sikap angkuh.
“Masih banyak yang mau kerja denganku, kalian hanya tinggal mengambil dari seorang janda miskin saja tidak bisa, lemah!” Eve menghempaskan sisa uang yang dijanjikannya ke atas meja. Dody ingin sekali membentak Eve tetapi Tomy menahannya dan mengajak mereka berlalu dari hadapan Eve.
“Sudah! Jangan diladeni, perempuan itu hanya belum tahu saja siapa yang akan dihadapinya. Dia sangat tergesa-gesa karena punya suatu rencana, dia tidak akan mencari tahu lagi siapa sesungguhnya janda yang dimakinya miskin itu. Ayo kita pergi, lekas!” Tomy menarik lengan Dody menjauh dari café itu menuju mobil mereka.
“Hanya menghadapi Liany saja, aku sama ibu juga bisa!” cetus Eve sambil tersenyum sinis.
Rangga tertidur pulas setelah lelah menangis, di tangan kanannya terpasang infus karena muntah hebat yang dialaminya. Liany memandang putranya yang tergolek lemah, mata Liany sembab tetapi perasaannya sudah lumayan membaik. Dokter mengatakan jika Rangga sedang mengalami efek pelana kuda akibat demam berdarah yang dialaminya. Saat ini trombosit Rangga sedang berada jauh di bawah angka normal. Jika keadaan Rangga tidak membaik juga maka dia harus mendapatkan transfusi darah.
“Mas Adam … jangan jemput Rangga sekarang, Mas, jangan sekarang,” ucap lirih Liany yang terdengar di telinga Satria.
“Heyyy… kamu bilang apa barusan? Rangga akan baik-baik saja, Sayang, dia anak yang kuat, anak kita pasti akan sembuh,” Satria merengkuh bahu istrinya dan membenamkan di dadanya.
“Aku takut Rangga akan meninggalkan aku, Sat, aku gak akan sanggup,” bisik Liany dengan lelehan air matanya. Satria mengecup pucuk kepala Liany dengan dalam untuk menenangkan wanitanya.
“Rangga akan baik-baik saja, Jagoanku akan sembuh dan sehat seperti semula,” ujar Satria dengan lembut sambil memeluk Liany memberikannya ketenangan.
Di sudut ruangan Lilis mengelap pipinya yang banjir air mata, dari awal dia pun tahu jika tuannya Satria Abimana itu bukanlah ayah biologis Rangga tetapi sikap, kasih sayang dan tanggung jawab pria itu melebihi dari seorang ayah kandung.
“Yaaa Tuhan … sembuhkanlah Den Rangga,Tuan Satria baeknya gak ketulungan sama Ibu Liany dan Den Rangga, mereka keluarga yang baik banget,” ucap lirih Lilis.
Rangga masih dalam tahap observasi, trombositnya masih belum bisa naik juga sehingga tindakan yang paling terakhir harus diambil adalah transfusi darah. Liany merasa lemas ketika diberitahu dokter akan hal itu karena darah Liany tidak cocok dengan darah Rangga. Lagi-lagi keajaiban terjadi atau tepatnya prosesnya begitu dimudahkan karena ternyata Satria memiliki golongan darah yang sama. Satria seperti ditakdirkan untuk menyelamatkan dua nyawa berturut-turut.
“Aku gak tahu harus mau berkata apalagi, sat, kau sudah menyelamatkan Rangga sekali lagi,” ucap Liany dalam tangisnya. Satria mendekapnya lebih erat sambil mengusap punggung istrinya.
“Ini sudah jalannya, Tuhan yang atur, aku papanya dan akan melakukan apa saja untuk putraku, ini hanya darah, aku bisa melakukan lebih dari ini kalau perlu. Sudahlah, jangan menangis lagi yaa, aku tidak sanggup lihat kamu menangis seperti ini, aku kan sudah bilang semua akan baik-baik saja.”
Liany mengurai pelukannya dan menatap Satria dengan penuh kesyukuran, tak pernah dirasakannya seberuntung ini dalam hidupnya memiliki Satria sebagai pendamping hidupnya yang sekarang. Satria mengusap jejak air mata Liany dan merapikan rambut istrinya.
“Kamu jangan khawatir lagi yaa, istirahatlah di sini, kamu tidak usah ikut lihat aku,” ujar Satria seraya tersenyum manis.
__ADS_1
“Lilis, tolong temani ibu yaa, saya harus ke ruangan lain,” pesan Satria kepada pengasuh Rangga.
“Iya Tuan, Lilis akan jaga Ibu sebaik mungkin, Tuan tidak usah cemas,” jawab Lilis dengan mantap.
“Terima kasih yaa, Lilis.” Satria keluar dari ruangan menuju ruang pengambilan darah.
“Bu, ayo sini duduk dulu, Ibu sudah lelah seharian ini, Ibu mau makan apa? Ibu dari tadi siang belum makan apa-apa, nanti Ibu sakit lho. Kasihan Tuan Satria kalau Ibu juga jatuh sakit,” bujuk Lilis penuh perhatian.
“Hhmmmhh … kamu bisa carikan saya nasi Padang? Beli tiga porsi yaa buat kamu sama Bapak juga,” Liany membuka dompetnya dan mengansurkan sejumlah uang.
“Baik, Bu, tunggu Lilis yaa, Lilis gak lama kok.” Bergegas Lilis mengambil sweeternya dan meninggalkan Liany di kamar perawatan anak VIP itu.
Liany memandangi Rangga yang masih tertidur lelap, bayinya masih terlihat lemas dan pucat, bahkan untuk menangis keras pun putranya itu sudah seperti kehabisan tenaga. Tangannya mengambil jemari kecil milik Rangga dan diciuminya penuh perasaan. Rangga sedikit menggeliat, tangannya kanannya yang masih tertancap infus membuatnya tak nyaman.
“Papa dan Mama akan melakukan segalanya buat Rangga, Rangga cepat sembuh yaa, jangan sakit lagi, Mama juga kesakitan melihat Rangga seperti ini. Papa Satria akan memberikan Rangga darah yang akan membuat Rangga lebih kuat lagi.” Liany berbisik lirih pada putranya itu dan membisikkan untaian doa-doa panjang untuknya.
Satria membuka pintu kamar perawatan Rangga, istrinya terlihat tertidur di sisi tempat tidur Rangga sambil berbantal lengannya. Pandangannya mengedar ke seluruh ruangan dan tidak ditemukan gadis pengasuh itu. Tak lama Lilis datang dengan membawa bungkusan besar.
“Kamu dari mana, Lis, tadi kan saya suruh kamu jagain Ibu?” tanya Satria dengan alis terangkat, suaranya setengah berbisik agar Liany dan Rangga tidak terbangun.
“Baiklah, bawa masuk siapkan untuk Ibu, kamu juga beli buat kamu kan Lis?”
“Iya Tuan, ada.” Lilis segera menyiapkan makan malam mereka di meja.
“Lia, bangun makan dulu yuk, Sayang, ayo bangun, Lilis sudah bawa makanannya.” Satria mengelus pipi Liany dan mengguncang bahu istrinya dengan lembut. Liany menggeliat dan terbangun dari tidurnya. Sebelum bergabung dengan mereka Liany mencuci wajahnya di wastafel.
“Terima kasih banyak ya, Lis. Oh ya, nanti biar Bapak pesankan kamu taksi online untuk pulang, kamu tidur di rumah saja, biar kami yang menginap di sini.”
“Baik, Bu. Tapi, besok pagi saya bisa ke sini lagi kan?” tanya Lilis penuh harap, hatinya pun sudah terlanjur terpaut sayang dengan anak majikannya itu sehingga tidak ingin meninggalkannya begitu saja di rumah sakit.
“Iya kamu bisa datang lagi besok, ayo kita makan dulu sama-sama,” ajak Satria.
Lilis menyiapkan kebutuhan yang diminta Liany pagi ini sebelum ke rumah sakit. Tiba-tiba bel rumah mereka berbunyi, Bi Inah yang sedang membuatkan sarapan yang akan dibawa Lilis terlihat sibuk di dapur. Lilis bergegas membuka pintu dan ingin melihat siapa yang bertamu pagi-pagi begini.
“Maaf, Ibu cari siapa yaa?” tanya Lilis di balik pintu pagar, dia ingat pesan tuannya untuk tidak membiarkan orang asing masuk ke rumah mereka.
__ADS_1
“Saya cari Liany, pembantu di sini, saya ada perlu. Suruh dia keluar temui saya sekarang, bilang Ibunya mertuanya datang!” perintah Ibu Witri dengan nada tinggi. Lilis mengerutkan dahi, bingung dengan kehadiran dua orang perempuan di hadapannya itu.
“Kamu pembantu juga kan? Buruan panggil dia keluar, pembantu kok belagu amat, kami ini orang kaya yang setara sama majikan kamu, jadi cepat panggil Liany keluar kami ada perlu!” bentak Eve pada Lilis.
“Maaf Bu, di sini gak ada pembantu yang namanya Liany, maaf saya buru-buru karena harus ke rumah sakit, anak majikan saya sedang sakit. Permisi.” Lilis segera meninggalkan kedua perempuan itu dengan perasaan campur aduk.
Lilis masih kepikiran dengan dua orang aneh yang ditemuinya di pagar, sepanjang perjalanan menuju rumah sakit gadis itu masih berpikir mengapa majikannya disebut pembantu oleh kedua orang itu. Bahkan sesampainya di kamar perawatan Rangga pun Lilis seperti orang bingung dan itu jelas terlihat.
“Lis, kamu kenapa sih? Dari tadi kamu saya panggil gak nyahut?” tanya Liany yang mengambil popok dari tangan Lilis yang mematung dengan tatapan kosong.
“Engh … maaf Bu, soalnya saya masih kepikiran sama dua perempuan yang datang tadi di rumah, nyariin Ibu tapi kok bilangnya ibu itu pembantu rumah. Makanya Lilis heran, Bu,” jawab Lilis dengan nada keheranan. Satria yang mendengar penuturan Lilis keluar dari kamar mandi segera.
“Dua orang perempuan, Lis?” Satria memastikan yang didengarnya.
“Iya, Tuan katanya ibu mertua Ibu Liany, dia nyuruh saya panggil Ibu Liany yang disebutnya sebagai pembantu. Karena bingung Lilis tinggal kemari, Tuan. Saya bilang saya harus ke rumah sakit jagain anak majikan saya yang sakit.”
Lianya berpikir sesaat dan menduga jika itu adalah Ibu Witri dan Eve, segera tangan Liany sibuk mencari ponselnya dan membuka media sosial untuk mencari akun mantan iparnya itu.
“Lilis, coba lihat deeh, apa yang datang tadi perempuan ini?” tanya Liany sambil memperlihatkan foto Eve sedang duduk bersama Ibu Witri dan mendiang suaminya.
“Iyaaa Bu! Dua perempuan ini yang tadi maksa-maksa Lilis panggil Ibu kalau itu yang mereka maksud tapi gak mungkin laah, Ibu kan majikan Lilis bukan pembantu yang dimaksud pasti salah orang deh,” jawab Lilis berapi-api.
“Sat, kamu masih ingat kejadian di mall waktu kamu nolong aku hampir jatuh karena ditabrak seorang perempuan. Dia mantan ipar aku, namanya Eve dan dia juga yang sudah datang ke rumah kita pagi ini.”
“Perempuan galak yang nuduh kamu jadi simpanan om-om ya? Terus mau ngapain dia di rumah kita?” tanya Satria keheranan.
“Mereka mau apa yaa?” gumam Liany khawatir. Perempuan itu sangat tahu tabiat mantan ibu mertua serta mantan adik iparnya itu, mereka tidak akan berhenti sebelum keinginan mereka terpenuhi.
Satria menjadi teringat dengan mobil minibus hitam yang parkir beberapa hari tak jauh dari rumahnya, dia menduga jika kedua laki-laki itu memang sedang mengintai rumah mereka.
“Lilis, dengar jangan sampai mereka masuk ke dalam rumah sebelum bertemu saya dan Ibu ya, saya tidak mau istri dan anak saya disakiti atau dicelakai siapapun, kamu paham?” ucap Satria penuh penekanan. Liany melihat Lilis masih kebingungan sehingga dia menceritakan siapa sebenarnya mereka berdua hingga peristiwa terusirnya Liany dari rumah Ibu Witri.
“Huaaaah… mereka kejaaam … kejaaam… Lilis yang dengar cerita Ibu aja gemes banget, uang dua ratus juta sepeser pun Ibu gak dikasih, serakah amat! Iihh amit-amit Lilis punya mertua dan ipar kayak gituuu!” seru Lilis sambil mengusap matanya yang berair. Gadis itu semakin merasa jika memang sudah saatnya lah Liany sekarang menuai hasil kesabaran dan ketabahannya.
“Lilis janji tidak akan membiarkan orang jahat dekat-dekat sama Ibu dan Den Rangga, begini-begini Lilis pernah ikut silat,” ucap Lilis sambil memasang kuda-kudanya yang membuat Satria dan Liany tergelak tertawa.
__ADS_1