Di Atas Ranjang Om Rudy

Di Atas Ranjang Om Rudy
Kencan luar biasa


__ADS_3

Beberapa bulan setelah perseteruan sengit itu terjadi, situasi di rumah Liany sudah aman dan tenang. Satria mempekerjakan dua orang sekuriti di rumahnya dan menambah kamera pengawas untuk memantau keamanan. Tidak ada lagi orang-orang yang terlihat mencurigakan atau tanda-tanda keberadaan Ibu Witri dan Eve yang jahat itu. 


Semuanya berjalan dengan baik, Liany belajar banyak dari Karinda, sekretaris sekaligus asisten pribadi mendiang Tante Katrin sambil menunggu jadwal perkuliahan. Lilis pun diberi kesempatan untuk mengikuti kursus yang dia suka, menjahit pakaian. Liany berharap kelak Lilis tidak lagi bekerja dengan orang lain tetapi memiliki usaha sendiri dan sukses.


“Gimana kursus jahit kamu, Lis?” tanya Liany di suatu sore saat mereka menenami Rangga bermain di taman rumah.


“Baik, Bu. Cuma ribet bikin polanya tetep aja Lilis ketemu matematika lagi, pusyiiing Lilis Bu, kalau ketemu sama bagi, kali, kurang, tambah. Tapi Lilis akan tetap semangat, Bu soalnya kain yang Ibu kasih buat praktek Lilis bagus banget!” seru Lilis dengan gembira.


“Bagus, Lis. Jangan cepat patah semangat yaa, yang rajin belajarnya, semoga kamu bisa buka usaha sendiri dan sukses.” Liany memberi semangat gadis muda di depannya itu.


“Aamiin Yaa Allah, makasih banyak yaa, Bu. Tapi Lilis untuk beberapa waktu ke depan tetap mau jagain Rangga dulu, syukur-syukur kalau nanti Rangga punya adek, rumah ini bakal tambah rame deeh.”


“Nanti, Lis. Saya rencananya siih hamil lagi kalau Rangga sudah dua atau tiga tahun. Saya juga masih belajar kayak kamu, karena perusahaan mendiang mama Katrin itu besaaar sekali. Kapan-kapan saya akan ajak kamu jalan-jalan ke sana lihat kantor saya,” ujar Liany sambil tersenyum ramah.


Rangga yang mulai berjalan dengan berpegang pada kursi dan meja menghampiri Liany, celotehannya semakin banyak yang menambah kegemesannya.


“Oh iyaa, Bu, dikit lagi Rangga ulang tahun yang pertama kan yaa?” Lilis mengingat tanggal kelahiran Rangga. Biasanya para orang kaya akan merayakan ulang tahun anak-anak mereka dengan meriah.


“iya, papanya berencana akan merayakannya tetapi hanya pesta keluarga saja, di sini nanti.” Liany mengelus kepala bocah itu dengan penuh kasih sayang.


“Kenapa gak dirayain rame-rame, Bu? Tuan kan orang besar banyak yang kenal Tuan,” sahut Lilis.


“Suami saya tidak terlalu suka dengan suasana pesta, itu pun hanya keluarga inti saja yang hadir dan beberapa anak buahnya seperti Mba Dora dan Mas Chico.”


Lilis hanya manggut-manggut saja, dalam pikirannya dia mengira jika tuannya itu penyuka pesta, gadis itu sampai berpikir kira-kira apa kekurangan tuan Satria karena dia adalah pria idaman yang nyaris sempurna kecuali galaknya yang bikin Lilis jadi mengkerut di pojokan.


 


Liany membuka ponselnya dan membaca artikel-artikel ringan, hingga ibu jarinya terhenti pada tajuk berita yang menuliskan sepasang ibu dan anak yang tertangkap karena penipuan jumlah besar. Liany menghela napas, dia kenal betul dengan sosok dua perempuan yang kini berseragam oranye itu. Siapa lagi kalau bukan Ibu Witri dan Eve.


“Mereka kini benar-benar dapat ganjarannya,” gumam Liany dengan mata berkaca-kaca, antara marah dan kasihan bercampur di dalam hatinya sehingga dia merasa ambigu dengan perasaannya sendiri. Lilis memanjangkan lehernya ikut melihat ke arah layar ponsel Liany.


“Wadidaaawww… Itu kan Ibu Monster sama anaknya kan Bu? Mereka ditangkap karena penipuan!” seru Lilis kegirangan.


“Lilis, heeyy… tetap jaga sikap yaa, biar bagaimanapun mereka itu kerabat Rangga juga.” Liany mencubit lengan Lilis pelan.

__ADS_1


“Eeh … iyaaa Bu, maaf …” Lilis mengatupkan kedua tangannya di depan Liany sambil menunjukkan senyum lucunya.


“Bawa, masuk Rangga gih, tolong mandiin yaa sekalian saya mau ke dapur masak untuk papanya Rangga,” ujar Liany sambil meninggalkan bangku taman. Lilis pun mengiyakan lalu mengangkat Rangga dari tempatnya bermain dan membawanya masuk ke kamar. Anak itu sudah pandai memanggil beberapa orang terdekat sehingga menambah kegemasan dan rasa sayang kepadanya.


 


Liany masih kepikiran tentang Ibu Witri dan Eve yang akhirnya mendekam di penjara, setelah rusuh tempo hari di rumahnya Satria sudah ingin memenjarakannya. Namun, Liany membujuk Satria untuk tidak melakukan itu, dia berusaha untuk memaafkan keduanya. Satria sempat marah dengan keputusan Liany, tetapi demi menghormati mendiang ayah kandung Rangga akhirnya Satria menuruti permintaan Liany untuk tidak membawa kasus mereka ke polisi.


“Apa yang sedang kau pikirkan sampai tidak mendengarku memanggilmu?” bisik Satria sambil melingkarkan lengannya di pinggang Liany dari belakang. Liany tersentak kaget dan mencubit lengan Satria.


“Issshhh… kebiasaan deh kamu ngagetin aja!” seru Liany pura-pura marah. Di hadapannya ada sayur yang sedang disianginya untuk makan malam mereka.


“Kamu kok cepat pulang?” lanjutnya lagi sambil membiarkan Satria memeluknya seperti itu. Dia pun suka jika Satria memperlakukannya seperti itu.


“Aku hanya ingin pulang cepat saja, akhir pekan membuatku cepat-cepat ingin pulang, aku ingin mengajakmu berkencan,” bisik Satria mesra di telinga Liany. Perempuan itu tertawa kecil mendengar jawaban suaminya. Jawaban yang sama di setiap akhir pekan untuk mengajaknya berkencan. Sesuatu yang rutin dilakukan mereka beberapa bulan terakhir ini, alasan Satria cukup sederhana katanya mereka tidak sempat berpacaran dan langsung menikah, bagian terberatnya adalah harus meyakinkan Liany selama hampir setengah tahun lamanya.


“Kita akan kemana malam ini?” tanya Liany sambil berbalik, Satria merendahkan dirinya agar bisa sejajar wajahnya dengan wajah Liany. Hidung mereka hampir bertabrakan, senyum keduanya mengembang bersamaan.


“Ke pantai mungkin, atau kemana saja yang kau suka,” ujar Satria lembut. Liany menempelkan ujung hidungnya dengan hidung Satria.


“Kita sudah sering ke pantai, ajak aku clubbing,” goda Liany yang ingin melihat reaksi Satria. Senyum Satria lenyap seketika, raut wajahnya jelas menunjukkan rasa kaget.


“Iya, aku hanya bercanda, aku pikir kau akan tetap ke sana setelah kita menikah ternyata tidak lagi, aku salut kepadamu. Ayolah jangan, marah, jelek tahu!” bujuk Liany sambil menyentil ujung hidung Satria.


“Kita akan tetap kencan malam ini tetapi kita tidak akan pernah menginjak klub malam manapun, oke?” Satria menatap istrinya dengan serius.


“Yaaa…Baiklah, aku tidak akan pernah meminta ke sana lagi, lagi pula aku tidak akan bisa cocok berada di tempat itu. Musik keras, asap rokok, aroma minuman dan berbagai aroma lainnya, hmmm … aku gak bisa.”


Tangan Satria bergerak di belakang punggung Liany, melepas ikatan tali apron yang tengah dipakai istrinya dan melepaskan benda itu dari Liany.


“Aku belum selesai masak, Sat.” Liany menatap sejumlah bahan makanan di atas meja dapur.


“Biarkan Mba Lastri yang mengerjakannya, aku ingin berendam air hangat denganmu saat ini.”


Dengan gerak cepat Satria mengangkat Liany dan membopongnya naik ke kamar mereka lalu mengunci pintu dengan rapat.

__ADS_1


 


 


Satria dan Liany bergandengan tangan menyusuri pinggiran kota tua yang menjadi salah satu objek wisata. Malam masih semarak dan ramai meskipun malam sudah merangkak larut, kebetulan di sana ada festival musik yang ramai pengunjung. Ibarat pasangan kencan mereka pun turut menonton beberapa lagu yang dinyanyikan di sebuah panggung, membeli beberapa cemilan dan sesuatu yang lucu untuk mereka bawa pulang. Tenggorokan mereka akhirnya terasa haus dan mencari booth minuman dingin.


“Sudah hampir tengah malam, kita pulang yuk,” ajak Liany menandaskan sisa minuman dinginnya itu. Satria melihat ke arah jam tangannya, dan memang benar ini sudah menjelang tengah malam.


“Baiklah, putri Cinderella saatnya kita pulang,” canda Satria. Mereka berdua berjalan menuju parkiran mobil yang cukup sepi. Liany tiba-tiba berhenti berjalan, samar terdengar pertengkaran seorang perempuan dan laki-laki. Satria pun akhirnya mendengar itu tetapi meminta Liany untuk tidak mempedulikan pasangan itu. 


“Ayolah, kita harus pulang sekarang,” ujar Satria yang sedang mencari kunci mobil di saku  jaketnya.


Terdengar pertengkaran itu semakin keras dan penuh caci maki serta  bahasa kasar dari suara laki-laki. Kemudian diiringi dengan bunyi tamparan yang keras, perempuan itu terdengar melawan dengan sengit. Liany berbalik untuk mencari di mana pertengkaran itu terjadi, di sebuah sudut yang remang-remang terlihat seorang laki-laki tengah memukuli seorang perempuan lalu menghujaninya dengan tendangan.


“Berhentiiii! Pengecut kamuuuu!” Liany segera berlari mendekati keduanya untuk menghentikan tindakan brutal laki-laki yang memiliki tattoo di sepanjang kedua lengannya. Perempuan yang wajahnya tertutupi rambut meringkuk sambil memeluk perutnya, menahan semua rasa sakit dari siksaan laki-laki yang masih mendaratkan tendanganya.


Sekuat tenaga Liany mendorong laki-laki asing itu agar menjauh dari perempuan yang sudah babak belur karenanya.


“Sialaaan! Kalau bukan urusan kamu, jangan ikut campur dan jadi sok pahlawaaan!” bentak laki-laki yang tampangnya menyeramkan itu kepada Liany.


“Minggir! Perempuan ini memang bikin repot aja, minggir gak?! Jangan salahkan saya kalau—“


“Kalau apa?” Satria berdiri di belakang laki-laki bertatto itu yang sudah siap hendak menendang Liany yang dalam posisi berjongkok melindungi perempuan yang sudah tidur meringkuk di atas aspal yang dingin.


“Kenapa sih kalian itu suka ikut campur urusan orang lain?! Jangan menyesal kalau kau mati!” sebilah pisau ditodongkan kepada Satria yang membuat Liany memekik. Perempuan yang berbaring itu sudah hampir kehilangan kesadarannya, wajahnya sudah penuh bekas memar dan bengkak serta darah dari hidung dan bibirnya yang pecah.


“Hanya seorang pecundang saja yang berani menganiaya perempuan, malam ini aku tandinganmu!” Satria melemaskan otot-otot tubuhnya lalu memasang kuda-kuda untuk siap berkelahi dengan lelaki yang memiliki postur tubuh lebih kekar darinya.


Keduanya pun berkelahi, saling menyerang dengan pukulan, meskipun lelaki itu menggunakan pisau tetapi satria mampu melumpuhkannya lebih cepat. Sebuah pukulan telak di perutnya dan hantaman di bagian kepala membuat laki-laki itu tersungkur jatuh tak sadarkan diri.


“Mba, hey ... Mba, ayo bangun, kita ke rumah sakit, ayo,” Liany mencoba membantu perempuan itu untuk duduk tetapi dia terlalu lemah menopang dirinya sendiri. Satria pun setengah membungkuk dan mengangkat perempuan itu yang terasa lebih ringan dari istrinya dan bergegas menuju mobil mereka. Sekilas Liany melihat  jika perempuan itu juga bertatto dan penampilannya sedikit urakan.


“Bertahanlah, Mba, kita ke rumah sakit sekarang,” ujar Liany sambil memegangi perempuan itu. Wajahnya yang separuh tertutup rambut dan babak belur membuat dia tidak terlalu jelas melihat wajah perempuan yang ditolongnya itu.


“Tolong … tolong selamatkan aku dan bayiku,” bisik perempuan itu dengan lemah.

__ADS_1


“Sat, cepaaat … Mba ini sedang hamil, jangan sampai dia keguguran!” seru Liany panik yang membuat Satria menginjak gas lebih dalam lagi.


 


__ADS_2