Di Atas Ranjang Om Rudy

Di Atas Ranjang Om Rudy
Kecurigaan Myla


__ADS_3

Liany baru saja selesai cuci piring dan mengelap tangannya yang basah, teh yang ditunggunya menghangat sudah siap di meja dengan sepotong brownies yang dibuatnya tadi. Rangga masih tertidur pulas dan hanya dia sendiri di dapur. Setelah beraktifitas seharian dia bisa melepaskan sejenak lelahnya dengan meminum teh dan menikmati sensasi coklat di kue brownies itu. Tatapannya tertuju pada layar ponselnya untuk mencari lowongan pekerjaan atau bisnis yang tepat untuknya.


“Liany, Om mau bicara,” ujar Om Rudy yang tiba-tiba saja sudah duduk di hadapannya.


“Silakan, Om. Apa Om mau secangkir teh juga?” tawar Liany. Om Rudy hanya menggeleng untuk menolak tawaran perempuan itu.


“Lia, aku tidak bermaksud untuk melecehkanmu, sungguh. Itu diluar kesadaranku, aku sudah jujur padamu jika aku benar-benar jatuh cinta padamu.” Om Rudy memandang lurus ke arah Liany.


“Om, tolong kita tidak perlu bahas ini lagi. Posisiku sudah jelas, status Om pun sangat jelas, aku ini keponakan Tante Katrin, Om sudah berkeluarga. Bahkan andai saja aku bukan keponakan Tante Katrin aku tidak akan menerima Om dan menghancurkan rumah tangga Om Rudy dan Tante Katrin,” ujar Liany penuh tekanan dan setengah berbisik. Tatapan Liany tajam menghujam ke arah Om Rudy.


“Aku meminta maaf sebelumnya atas perasaanku ini tetapi aku tidak bisa mencegahnya dan memungkirinya Liany, tolong berikan aku kesempatan untuk berada di sisimu,” sergah Om Rudy, secepat dia mengambil jemari Liany dan menggenggamnya erat.


“Aku membutuhkan wanita sepertimu di sisiku, yang membuatku kembali merasa menjadi laki-laki seutuhnya, melindungimu dan merasa dibutuhkan, biarkan aku menjaga kalian berdua dan mengisi kekosongan hatiku.” Om Rudy masih mencoba meyakinkan Liany.


“Om, aku juga minta tolong, aku tidak mau jadi pelakor, biarkan aku menjadi janda yang punya harga diri!” tegas Liany dengan raut wajah yang mengeras.


“Papa di sini? Myla cari Papa sampai ke depan… ada apa ini?” Myla menatap tangan Om Rudy yang masih menggenggam erat jemari Liany. Liany berusaha melepaskan diri yang membuat Om Rudy tersadar dan lekas menarik tangannya.


“Tidak, tidak ada apa-apa,” jawab Om Rudy cepat. Liany hanya meneguk tehnya untuk menutupi rasa gugupnya, dia tidak ingin Myla salah paham dengan apa yang dilihatnya.


“Aku sudah dua kali melihat kalian begini, sungguh kalian tidak ada apa-apa yang sedang kalian tutupi?” tanya Myla dengan tajam pada keduanya.


“Om Rudy menawarkanku pekerjaan dan aku menolaknya, aku sudah menerima banyak dari kalian, ini sudah cukup. Om Rudy sangat baik dan perhatian khususnya pada Rangga, Om Rudy tidak mau jika Rangga kenapa-kenapa saat kami pindah nanti.” Liany mengatakan itu dengan tenang sementara satu tangannya terkepal di bawah meja.


“Pa, ayo ikut Myla,ada sesuatu yang ingin Myla perlihatkan,” ajak Myla dengan setengah menyeret Papanya pergi meninggalkan meja dapur.


Liany menghela napas, keputusannya untuk pergi seharusnya diambil jauh-jauh hari tidak ketika Om Rudy mengungkapkan perasaannya kepada Liany. Sungguh Liany akan merasa orang yang paling berdosa di muka bumi jika dia menjadi penyebab kehancuran rumah tangga tantenya sendiri.


Satria menenteng sebuah tas yang berlogo sebuah toko mainan masuk ke dalam kantor, Dora dan Demian saling pandang dan memanjangkan leher mereka untuk mengintip isi tas yang dibawa bos mereka. Jelas sekali Satria tersenyum dan menepuk-nepuk tas itu seakan-akan benda itu adalah benda yang sangat berharga.


Dibukanya laptop dan menyambungkannya dengan saluran kamera pengawas yang sengaja dipasang di depan rumahnya tepat menghadap rumah Liany. Dia ingin melihat tetangga barunya itu sedang pindah ke rumah itu. Aktivitas tidak terlalu lama karena Liany ternyata tidak punya banyak perabot, senyum Satria mengembang melihat sosok bayi dalam gendongan Liany.


“Pak Bos, kita ada meeting dengan … Pak Bos?” Dora mendekati Satria yang masih saja dengan ekspresi senyumnya yang jarang terlihat. Satria tidak menyadari kehadiran Dora yang memandang aneh pada isi tas yang dibawa Satria tadi. Sebentuk bonek superhero yang lucu dengan inisial S di dadanya.


“Gak sopan yaa Dora kamu ngintip isi tas orang lain,” tegur Satria yang menangkap basah anak buahnya berjingkat mengintip hadiah yang akan diberikannya kepada Rangga.


“Eeh … Pak Bos, gak salah nih beli boneka? Atau boneka ini buat anak Pak Bos yaa?” Dora mencoba menyelidiki dengan nada bercanda.

__ADS_1


“Apa tampang saya butuh boneka? Jangan ngaco kamu yaa sebar gosip saya punya anak!” Satria menutup laptopnya, Liany sudah tidak terlihat lagi hilir mudik di depan rumahnya.


“Abisnya Pak Bos mencurigakan siih …,”gumam Dora sambil memilin jemarinya.


“Ada perlu apa kamu di sini?” Satria mengeluarkan kacamatanya dan mengenakannya, ambooii Dora merasa seperti sedang terhipnotis dengan penampakan di hadapannya itu.


“Pak Bos … cari sekretaris atau asisten pribadi dong,” pinta Dora dengan wajah memelas. Sparkling semakin banyak mendapat klien baru sementara perempuan itu harus berbagi waktu dengan rancang desainnya dan urusan di ruangan Satria.


“Aku belum menemukan orang yang tepat, Deborah, apa kau ada kandidat?” Tatapan Satria tertuju pada layar layar komputernya, jemarinya menggerakkan pena stylusnya untuk menggambar sesuatu.


“Ada Pak Bos, dia teman lama saya, orangnya cakap bisa diandalkan tetapi dia single parent dan punya anak bayi yang kemungkinan akan dibawanya lalu dititipkan di Daycare ujung pertokoan itu.”


Satria terdiam, ingatannya tertuju pada Liany, dia benar-benar lupa jika di ujung pertokoan dekat kantor mereka ada tempat penitipan anak. Liany bisa bekerja dari sini tanpa harus mengkhawatirkan Rangga lagi.


“Siapa teman kamu itu?” tanya satria penasaran, tiba-tiba jantungnya berdegup lebih cepat.


“Namanya Liany, katanya dia mau pindah rumah dulu hari ini, mungkin besok dia kirim surat lamaran kerjanya. Diterima yaa Pak Bos, please….” Dora menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya dengan dada memelas.


Tiba-tiba Satria tertawa dengan keras sesaat, raut wajahnya begitu gembira. Reaksi Satria membuat Dora terlonjak kaget dan mundur selangkah.


Satria mendehem dan berusaha mengendalikan dirinya, dunia memang begitu singkat, siapa yang akan menyangka lagi jika Deborah bawahannya itu berteman dengan Liany dan merekomendasikannya sebagai sekretaris Satria.


“Baiklah, suruh dia datang wawancara secepatnya, sepertinya kau memang sudah sangat butuh orang yang bisa mengurusku saat ini.”


“Dan … apa Pak Bos butuh obat juga? Atau ritual exorcist … mungkin?” tanya Dora pelan dengan sikap hati-hati.


“Kau pikir aku sedang kesambet, kerasukan atau ketempelan gitu?”


“I-iya, Pak …abisnya Pak Bos aneh banget belakangan ini, ketawa sendiri dan beli boneka superhero yang—“


“Deborah, apa kau mau kembali bekerja dengan Bimo di pusat?” Satria pura-pura mengancam Dora yang mulai berpikir aneh-aneh tentang dirinya.


“Yaa enggak lah Pak Bos, di sini asik dekat dengan orang tua saya, kenapa Pak Bos mau balikin saya ke pusat?” tanya Dora yang masih juga belum menyadari kesalahannya.


“Saya akan sangat senang memulangkanmu ke sisi Bimo jika kau mengatakan aku butuh ritual pengusiran setan!” Satria menatap tajam ke arah Dora.


“Aaah itu… sori Pak Bos, cuma becanda aja tadi itu,” jawab Dora dengan wajah dan senyum yang ramah.

__ADS_1


Satria melipat tangan di dadanya, dia berusaha menahan senyum melihat mimik wajah Dora yang lucu.


“Baiklah aku tak menganggap serius soal yang tadi. Apa kau pernah jatuh cinta, Dora?” tanya Satria lagi masih dengan sikap yang serius. Perempuan muda di depannya itu menggaruk-garuk ujung hidungnya dan berpikir sejenak.


“Belum pernah, Pak Bos ….” Dora tertawa kecil dengan dipaksakan sehingga Satria hampir saja meledakkan lagi tawanya tetapi urung dilakukannya.


“Pantas … kau belum pernah merasakan gila atau dirimu butuh ritual pengusiran setan. Oh yaa, tentang teman kamu, Liany, aku tunggu secepatnya untuk hasil wawancara kerjanya.”


“Siap Pak Bos! Terima kasih baaaanyak!” Dora nyaris saja melompat di tempatnya jika saja Satria tidak sedang memelototinya.


“Ouh yaa, jangan lupa meeting kita hari ini dengan tuan Emil, CEO dari Bintang Fajar, tuan Emil sepertinya akan menggunakan jasa kita dalam beberapa iklannya.” Dora membaca agendanya untuk mengingatkan Satria. Atasannya itu hanya mengangguk mengerti dan bersiap untuk bertemu dengan Emil Dwi Putra teman lamanya saat di SMU dulu.


Liany menatap langit-langit kamarnya, tiga hari setelah kejadian di dapur itu dia segera memutuskan untuk pindah secepatnya. Dia tak bisa melupakan tatapan Myla yang curiga kepadanya. Paling tidak sekarang ini dia bersyukur bisa menjauh dari Om Rudy. Jemari Liany mengusap leher yang pernah dikecup Om Rudy diluar kesadarannya, betapa dia menyesali hal itu. Seakan ada noda yang menempel di sana dan sukar untuk dihilangkannya.


[Lia, bisa gak kamu besok datang wawancara di kantorku? Ini hanya formalitas aja sih, aku bisa pastikan kamu diterima wkwkwkwk…]


Liany membaca pesan dari Dora, si gadis tomboy itu, seulas senyum terbentuk dari bibirnya, betapa Tuhan sangat baik kepadanya dengan membukakan jalan.


[Siap, Deb, besok aku akan datang]


[Btw, alamat baru kamu di mana?]


[Aku ngontrak di Permata Garden Blok B no 3]


Mata Dora membulat, alamat itu sangat familiar baginya.


[Ohh God… Lia! Kamu tetanggaan sama Pak Bos?]


[Maksudnya?]


[Pak bos aku juga tinggal di sekitaran situ, eh tapi kan kamu baru pindah yaa, lagian kamu juga belum pernah ketemu sama pak bos aku. Sekalian aja deh kamu ketemu besok di kantor!]


Liany masih ingin membalas pesan Dora tetapi sebuah ketukan di pintunya terdengar, sejenak Liany ragu karena dia merasa tidak sedang menunggu tamu. Dengan pelan disingkapnya sedikit tirai jendela dan matanya membulat ketika melihat sosok di luar sana.


“Kamu tahu dari mana aku pindah ke sini?” tanya Liany sesaat setelah pintu dibukanya.


“Anggap saja aku beruntung dan bisa membaca jejakmu. Ini hadiahku untuk Rangga, besok kita akan ketemu lagi, ini sudah malam. Aku kesini hanya untuk bilang, selamat datang semoga betah karena kita akan sangat sering bertemu!” Satria menyodorkan tas yang dibawanya sedari siang. Liany menerimanya dengan ragu dan diintipnya isi tas itu. Ketika dia mendongak Satria sudah berjalan keluar meninggalkan pekarangan rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2