
Satria memalingkan wajahnya dari tatapan tajam Liany. Dia menengok ke dalam rumah untuk mencari sosok bayi yang dirindukannya.
“Aku ingin bertemu dengan baby boy-ku,” ujar Satria melewati Liany yang masih penasaran dengan bungkamnya Satria.
“Sat, kamu belum jawab aku, ada apa dengan Myla sampai kamu menolak dia? Kurang apa Myla, Sat? Dia pasangan yang ideal untukmu tapi—“
“Aku mencintaimu, Liany. Sebelum bertemu dengan Myla aku lebih dulu bertemu denganmu dan aku jatuh cinta padamu. Myla bukan pilihan untukku jadi jangan bertanya lagi tentangnya, mengerti?” Satria menegaskan pandangannya ke arah Liany yang membuat perempuan itu tak berkutik dengan pernyataan laki-laki itu.
“Aku mau main sama Rangga dulu, tiga hari di luar kota bikin aku kangen banget, Mama Rangga gak boleh ganggu kami, sini … sini… My Boy, jagoan Papa Satria!” seru Satria yang kehadirannya seakan sudah ditunggu-tunggu oleh bayi itu. Rangga merespon dengan tawa dan teriakan kecilnya juga terlihat bergembira. Tangan mungilnya menggapai-gapai wajah Satria dan tertawa geli ketika Satria mencium perutnya di udara.
Liany menjauh, dan duduk di karpet ruang tamu sambil memandangi tas pemberian Satria. Dia menerka jika harganya tidak murah dan bisa seharga dengan beberapa bulan gajinya. Rasanya Liany tidak bisa percaya begitu saja dengan pernyataan Satria tadi. Bahkan dibanding dengan Deborah yang tomboy itu pun Liany merasa rendah diri apalagi dengan Myla yang merupakan calon penerus perusahaan RH.
Sebuah ketukan pintu terdengar, Liany kaget karena tidak merasa sedang menunggu tamu, diintipnya sesaat. Dari pakaiannya terlihat seperti seorang kurir online ditambah dengan bungkusan di tangannya.
“Maaf, mau mengantarkan pesanan makanan untuk Ibu Liany dari Pak Satria,” ujar kurir itu dengan sopan.
“Ouh, iya Mas, saya sendiri.” Liany menerima bungkusan yang terasa masih hangat. Setelah mengucapkan terima kasih, Liany masuk dan membukanya di meja makan.
“Kamu pesan apa, Sat?” tanya Liany, dari aromanya dia mengenali bahwa itu adalah makanan favoritnya.
“Sat, kamu pesan kepiting saos Padang? Banyak banget!” seru Liany dengan berbinar.
“Kamu makan aja duluan, biar aku yang jagain Rangga.” Satria menggendong Rangga yang mulai tampak mengantuk. Dielus-elusnya punggung Rangga dan terdengar senandung kecil dari mulut Satria. Liany melihat itu merasa tersentuh, semakin hari hari Satria semakin dekat dengan Rangga dan bayi itu juga lengket dengan Satria.
Liany mengikuti perkataan Satria, dia ingin menikmati makan malamnya dengan seporsi besar kepiting saos Padang yang lezat. Liany menyiapkan piring dan mengeluarkan nasi dari pemasak nasi elektronik. Rangga yang lelah bermain dengan Satria benar-benar tertidur dalam buaian Satria.
“Sat, Rangga sudah tidur, taruh dia di boxnya saja dan kita makan malam sama-sama,” ujar Liany meninggalkan meja makan dan membuka kamarnya, disiapkan tempat tidur Rangga. Satria masuk dan meletakkan Rangga dengan sangat hati-hati agar bayi itu tidak terbangun lagi.
“Dia seperti malaikat kecil jika sedang tertidur seperti ini, wajahnya sangat damai.” Satria setengah berbisik sambil menaikkan selimut Rangga.
__ADS_1
“Hanya dia yang membuatku kuat untuk menghadapi dunia,” sahut Liany dengan suara pelan. Tatapannya juga tertuju pada wajah bayi yang tertidur itu.
“Biarkan aku menjadi bagian hidupmu, Liany. Biarkan aku menjadi tiang sandaranmu bersama Rangga, aku ingin menjadi ayah Rangga seutuhnya.” Satria merengkuh bahu Liany dan memutarnya agar mereka bisa saling berhadapan. Satria menatap dalam pada Liany seakan ingin menyatakan jika perkataannya barusan adalah hal yang paling serius dan penting. Liany terdiam, dirinya mematung berusaha untuk menimbang keseriusan Satria. Satria menempelkan telapak tangannya pada pipi Liany dan menatap ke arah bibir perempuan itu. Satria memang memiliki riwayat petualangan di ranjang yang sangat banyak dan panjang tetapi dia hampir tidak pernah mencium bibir wanita-wanita di luar sana dengan mudahnya.
Hidung mancung satria sudah menyentuh puncak hidung bangir Liany, napas laki-laki itu terasa hangat di wajah Liany.
“Ki-kita makan malam dulu, makanan sudah aku siapkan,” ujar Liany terbata, dia memundurkan wajahnya dan menjauh selangkah. Tangan Satria menggantung di udara, bibirnya tersenyum, dirinya bersyukur karena pipinya aman dari tamparan Liany. Dia akhirnya meninggalkan kamar Rangga dan menutup pintunya rapat.
Satria menarik kursi dan duduk berdampingan dengan Liany, di depannya sudah tersaji dengan nasi hangat dengan sepiring besar kepiting saos Padang kesukaan Liany.
“Kamu tahu dari mana aku suka kepiting ini?” tanya Liany yang menyendokkan nasi ke piring Satria.
“Dari Dora, saat kami makan siang dengan klien dia tidak sengaja mengatakan jika kamu sangat suka menu ini.” Satria memberikan potongan kepiting yang besar ke piring Liany. Mereka pun mulai menyantap makanan dengan nikmat. Sesekali Satria melemparkan candaan dan lelucon yang membuat Liany tertawa. Malam ini merupakan malam yang hangat bagi keduanya.
Suasana temaram di kamar kerja Om Rudy, lelaki paruh baya itu memainkan saklar lampu meja kerjanya. Dihidupkan dan dimatikannya lagi, hatinya merasa gusar, tak pernah dia merasa sesepi dan sesedih ini atas kepergian seseorang. Penolakan Liany terhadapnya semakin membuat Om Rudy merasa ada lubang gelap yang besar di dalam hatinya. Tante Katrin pun tak merasa jika sesuatu yang aneh terjadi dengan Om Rudy, perempuan itu melihat suaminya baik-baik saja sementara dia sibuk bekerja.
Om Rudy menatap ke arah bekas kamar Liany yang kosong dan gelap, tak ada lagi suara lembut yang melayaninya di meja makan, mengingatkannya untuk minum vitamin juga obat. Senyum yang ceria saat bermain dengan Rangga dan wajah yang terkejut tak bergerak saat dirinya mengecup leher Liany. Mata Om Rudy terpejam, kerinduannya bertepuk sebelah tangan dan hal itu tentunya menyakitkan. Dia belum mau menyerah, akan diusahakannya lagi mendekati perempuan yang telah mencuri hatinya itu.
“Astaga, Demian kamu kenapa?!” seru satria yang baru saja keluar dari lift dan melihat Demian yang masih tergeletak di lantai parkiran.
“Mas … Maaf … Mas, saya gak sengaja, maafkan saya!” seru Myla dengan perasaan sangat bersalah.
“Myla? Kamu yang tabrak Demian?!” seru Satria sedikit emosi.
“Aku gak sengaja, Mas, aku buru-buru kembali ke kantor dan gak lihat kalo ada Mas ini dekat mobil aku,” ujar Myla dengan ketakutan.
“Dem, kamu bisa bangun?” Satria membantu Demian berdiri dan tampaknya lengan kanan Demian terkilir.
“Pak Bos, tolong liat laptop saya itu, apa tidak rusak? Desain kita untuk persiapan presentasi ada semua di sana.” Demian berusaha berdiri sambil memegang tangannya yang terasa sangat sakit.
__ADS_1
“Yaaa ampun Demian, lihat dulu tangan kamu ini, sakit gak?!” sergah Satria dengan gusar. Myla tampak sedikit gemetar dengan kejadian ini.
“Sepertinya tangan saya terkilir Pak Bos, ini sakit banget kalau digerakkan.” Demian masih berusaha menahan sakitnya tetapi tidak dengan peluh di dahinya yang menyatakan jika laki-laki itu sedang menahan sakit.
“Kita ke rumah sakit ya, Mas?” tawar Myla cepat, tentunya dia tak ingin dituntut oleh laki-laki yang ditabraknya itu.
“Myla, kamu urus anak buah saya sampai sembuh, kamu harus tanggung jawab. Dem, presentasi itu akan aku urus biar Dora yang gantikan kamu. Myla, kamu harus tanggung jawab sama Demian sampai dia sembuh, mengerti?” gertak Satria dengan kesal. Dia tidak suka dengan kecerobohan Myla yang sudah menabrak Demian. Satria mengambil tas laptop Demian dan membantu anak buahnya itu untuk masuk ke mobil Myla.
“Saya mengerti, saya akan bawa Mas Demian ke rumah sakit, saya akan tanggung jawab,” ujar Myla meyakinkan Satria.
“Dem, maaf aku gak bisa temani kamu, tetapi aku akan menjemputmu nanti, kamu periksakan diri kamu sebaik mungkin, aku gak mau kamu kenapa-kenapa karena kecerobohan gadis ini.”
“Ini hanya kecelakaan kecil saja, Pak Bos, jangan terlalu khawatir.” Demian berusaha menenangkan Satria yang terlihat marah pada Myla. Satria pun menutup pintu mobil Demian dan menunggu mobil itu keluar dari parkiran. Satria menggelengkan kepalanya, diperiksanya laptop Demian, Satria menghela napas lega, laptop itu baik-baik saja dan dia hanya butuh bantuan Dora untuk presentasi kepada klien mereka.
Myla tertunduk lemas ketika melihat Demian keluar dari ruangan dengan lengan yang dibebat dan digantung. Dia benar-benar sudah membuat tangan Demian terkilir. Laki-laki itu tersenyum kecil saat melihat Myla menatapnya dengan perasaan bersalah.
“Mungkin butuh beberapa hari aku pakai ini, aku minta maaf karena sudah mengacaukan rapat pentingmu hari ini.” Demian berdiri di hadapan Myla, gadis itu mengerutkan dahinya karena mendengar Demian meminta maaf.
“Seharusnya aku yang minta maaf karena sudah membuatmu cedera seperti ini,” ujar Myla.
“Aku harus meminum obat penghilang rasa nyeri ini tetapi aku belum makan siang, apa kau mau menemaniku?” tanya Demian.
“Ya, baiklah, aku sudah janji sama Mas Satria untuk bertanggung jawab padamu, ayo kita makan siang dan pastikan jika kau meminum obatmu.” Myla menghela napas panjang, rasanya saat ini dia sedang menjalani hukuman.
“Sepertinya takdirku selalu saja ditabrak olehmu, ini kedua kalinya kau menabrakku, Myla.”
“Oh ya? Di mana aku menabrakmu sebelumnya?” tanya Myla yang tidak ingat kejadian di kantor Satria.
“Di kantor Sparkling, saat itu sepertinya kau habis menangis jadi kau tidak akan ingat jika sudah menabrakku, bahkan kau menangis di dalam mobilmu,” jawab Demian detail.
__ADS_1
“Aah … itu … itu memalukan, jangan diungkit lagi,” ujar Melody dengan senyum kecutnya, hari itu adalah hari di mana Satria menolaknya.
“Baiklah, dan kuharap ada sengsara membawa nikmat atas kecelakaan ini,” lanjut Demian lagi yang seperti mendapat kesempatan untuk mendekati Myla. Gadis itu hanya mendelik dan pura-pura tak mendengar perkataan Demian barusan.