Di Atas Ranjang Om Rudy

Di Atas Ranjang Om Rudy
Partner in crime


__ADS_3

Myla berjalan cepat dan menarik lengan Yelena agar menjauh dari satria, keduanya tersentak kaget dengan Myla yang tiba-tiba saja ada di dalam kamar itu.


“Berani-beraninya kalian berpelukan di kamar ini, di rumah kakak iparku!” bentak Myla sambil melihat ke arah Yelena dan Satria bergantian.


“Mas Satria jangan macam-macam dengan Liany yaa!” ancam Myla lagi. Matanya membulat sambil mengacungkan telunjuknya dengan marah. Yelena menyentak lengannya agar terlepas dari cengkraman Myla. Satria ingin tertawa tetapi dia berusaha sekuatnya untuk menahan diri dan bersikap tenang.


“Heeyy… tenang dulu, Myla, ini tidak seperti yang kamu bayangkan,” bujuk Satria, dia mendekati adiknya dan berusaha memperkenalkan keduanya.


“Myla, dia itu Yelena, adik angkat Mas dan Yelena ini Myla adik Kakak juga,” ujar Satria sambil menunjuk ke duanya.


“Apa?!” seru Myla tidak percaya, segera dia memindai Yelena dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Yelena mendelik menegaskan tidak terima dengan perlakuan Myla yang tidak sopan.


“Iya, aku adiknya, ayahku resmi mengadopsi Kak satria ketika dia berumur dua belas tahun!” jawab Yelena dengan sengit. Myla tak menyangka jika hal itu benar dan memandang kepada kakaknya untuk meminta kepastian.


“Itu benar, ayah Yelena adalah seorang ekspatriat dan diplomat ibu Yelena asli Indonesia dan Tuan Clark berdarah Inggris. Ayo kita berkumpul di meja makan, asisten kami sudah menyiapkan aneka makanan kecil,” ajak Myla dan Yelena keluar dari kamar.


“Heey Mylaaa … aku sangat merindukanmu!” seru Liany menyongsong sepupunya itu dan memeluknya dengan hangat. Myla membalas pelukan hangat kakak iparnya itu dengan suka cita.


“Dengan Demian, dia yang mengantarku ke mari. Di mana keponakanku Rangga ? Aku bawa oleh-oleh yang banyak untuknya.” Wajah Myla terlihat antusias menanyakan Rangga.


“Dia bermain bersama Lilis di halaman samping, hey … Demian, ayo bergabung bersama kami!” seru Liany pada pria muda yang muncul dengan membawa beberapa goody bag yang memenuhi tangannya.


“Hai Bu Bos! Myla benar-benar ingin memenuhi kamar Rangga dengan semua barang-barang ini di kamar si jagoan kecil itu,” ujar Demian yang terlihat kesulitan menenteng semua tas di kedua tangannya ekor matanya menangkap seorang gadis berambut merah yang duduk di dekat Satria. Sejenak Demian memicingkan matanya untuk memastikan siapa yang dilihatnya itu.


“Dia…?” tanya Demian sambil melirik ke arah Yelena, Myla pun ikut melirik lalu menarik tangan Demian untuk menjauh mencari Rangga. Hadiah-hadiah yang dibeli untuknya sudah menunggu.


Yelena dan Satria hanya memandangi punggung Myla dan Demian yang kemudian menghilang di ujung ruangan.


“Kakak belum cerita tentang Myla dan keluarga Kakak kepadaku,” ujar Yelena, secangkir teh dengan asap tipis meliuk-liuk di udara tersaji di depannya. Aroma melati samar tercium dari cangkir itu.


“Hhhhmmhh … ya, Myla dan mama Katrin, nanti aku akan ceritakan kepadamu.” Satria mengambil bagian tehnya dan menyesapnya perlahan.


“Laki-laki tadi siapa?” tanya Yelena dengan pelan. Diambilnya sepotong puding coklat yang tampak menggiurkan.


“Dia Demian, CEO dari perusahaan mendiang mamaku dan sebentar lagi akan melamar Myla.”

__ADS_1


Mendengar itu Yelena berhenti memotong puding yang akan disantapnya. Ingatannya masih baik untuk bisa mengenali sekilas lelaki itu. Namun, dia merasa ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya lagi kepada Satria terlebih sikap Myla yang memulai perkenalan mereka dengan tidak menyenangkan. Jika Demian memperhatikannya tadi pasti laki-laki itu akan bereaksi dengan keras melihatnya berada di sini.


“Makanlah lalu beristirahat, jika ada hal yang kau inginkan kau bisa memanggil Lastri untuk membantumu.” Satria menghabiskan seiris besar puding coklat buatan Liany.


“Aku akan menemui Myla dan Demian sebentar,” ujar Satria sembari berdiri dan mengelus bahu Yelena dengan lembut. Gadis itu menatap Satria lalu menghabiskan sisa teh di cangkirnya.


Myla tengah bermain bersama Rangga, Liany dan Lilis dengan aneka mainan yang dibelikannya sebelum pulang ke tanah air. Selebihnya gadis itu baru saja beli lagi ketika mereka melewati toko mainan.


“Myla, aku ingin ke toilet dulu, kau bermain dulu dengan Rangga yaa,” pamit Demian dan masuk kembali melalui pintu samping. Lelaki itu sempat berkeliling dulu sebelum menuju toilet. Setelah dari kamar kecil di ruang tengah dia akhirnya menemukan sosok yang tengah dicarinya, Yelena.


“Aku tidak menyangka jika kau adik angkat dari bosku, luar biasa … ini benar-benar kejutan,” sapanya pada Yelena. Gadis tampak terkejut sehingga menjatuhkan buku yang dipegangnya.


“Ternyata bukan aku saja yang kaget, kau malah sangat kaget sehingga menjatuhkan buku ini,” lanjut Demian sambil membungkuk mengambil buku yang dijatuhkan Yelena.


“Jangan bilang kau tak mengenalku atau tidak mengingatku, matamu yang gelisah itu tahu pasti siapa aku, benar bukan Nona Yelena Fritz ? Atau tepatnya tunangan dari pecundang Mike Dewangga!” desis Demian dengan tajam.


“Permisi aku harus istirahat, aku—“


“Kau ingin melarikan diri lagi, hah?!” seru Demian tertahan, dia mencengkram siku Yelena mencegah gadis itu pergi dari hadapannya.


“Kau ada di sana, kau ada di dalam mobil itu bersama si bajingan Mike, lalu kalian menyangkalinya dan menghilang begitu saja. Tiga nyawa kalian hilangkan begitu saja!” seru Demian tertahan wajahnya sudah memerah menahan amarah.


“Tetapi bukan aku yang mengemudikan mobilnya, Mike … Mike yang menyetir saat itu, itu … itu … kecelakaan dan aku tidak terlibat!” mata Yelena memerah menahan air yang akan tertumpah dari sana.


“Yelena!” seru Liany yang mencari gadis itu di kamarnya, Yelena mengusap matanya lalu berlalu dari hadapan Demian.


“Kita belum selesai, kalian harus bertanggung jawab!” ucap Demian sebelum Yelena menjauh.


Yelena mendekati Liany yang berdiri di ambang pintu kamarnya, di tangannya ada selimut yang dibawanya untuk adik iparnya.


“Kau dari mana? Aku kira kau sedang beristirahat, aku bawakan selimut ini untukmu.” Liany masuk dan meletakkan selimut itu di atas ranjang Yelena.


“Iya, aku butuh istirahat sekarang, terima kasih banyak, Kak.” Yelena duduk di tepi ranjang lalu mengusap selimut yang lembut serta mengeluarkan aroma yang wangi.


“Ada apa, Yelena? Apa ada yang membuatmu tidak nyaman di sini?” Liany mendapati wajah Yelena yang murung tetapi gadis berambut merah itu segera tersenyum.

__ADS_1


“Tidak, Kak, semuanya baik-baik saja, aku hanya sedikit pusing dan lelah.” Yelena memijat pelipisnya pelan, kehadiran Demian yang tiba-tiba itu sungguh membuat kepalanya pusing.


“Ouh, baiklah. Istirahat sekarang aku benar-benar ingin istirahat.” Yelena naik ke tempat tidur, berbaring menyamping memunggungi Liany. Kakak iparnya mendekati gadis itu dan menyelimutinya dengan selimut yang baru dibawanya. Mata Yelena terpejam, hangat dan lembut selimut yang diulurkan Liany membuatnya merasa nyaman. Namun, ketika Liany sudah tak berada di kamarnya Yelena membuka matanya, peristiwa beberapa tahun yang lalu kembali memutar di ingatannya.


“Mike… kau benar-benar seorang pecundang, kini laki-laki itu hadir begitu saja dalam hidupku secara tiba-tiba, kau membuatku dalam masalah Mike…” gumam Yelena risau.


Demian memandangi Myla dan Rangga yang bermain begitu ceria bersama pengasuhnya Lilis. Baru kali ini dia melihat wanita pujaan hatinya itu tertawa lepas tanpa beban. Bisa jadi jika itu adalah tanda, duka dalam hati Myla mulai berangsur memudar.


“Kau pasti terkejut dengan kehadiran Yelena di tengah-tengah kami, bahkan Myla tadi hampir saja mendamprat Yelena karena melihat kami berpelukan.” Satria bersuara di samping Demian.


“Iya, aku sangat terkejut, penampilan Yelena pastinya sangat mencolok di antara kalian, tidak ada yang berubah darinya,” jawab Demian pelan.


“Maksudmu? Apa kau pernah bertemu Yelena sebelumnya?” balas Satria dengan nada keheranan.


Demian tergagap, tentu dia tidak ingin menceritakan itu sekarang. Suasana saat ini terlalu bagus untuk dirusaknya dengan cerita duka keluarganya yang disebabkan oleh Mike dan Yelena.


“Ouh … tidak, tidak begitu, aku hanya salah ucap. Hey , bagaimana dengan momen-momen romantis yang ingin kau ajarkan kepadaku, Suhu?” kilah Demian mengalihkan pembicaraan.


Satria tertawa lebar, Demian masih menagih itu untuk melamar adiknya, Myla.


“Apa tutorial gugel tidak cukup untukmu, Bung?” canda Satria, dia menyudahi tawanya ketika Myla dan Lilis melihat ke arah mereka berdua.


“Berguru langsung kepada orangnya tentu hal yang paling baik, bukan?”


Satria tertawa kecil, dia berpikir hal itu mudah saja dan akan diajarkannya kepada Demian nanti. Dia hanya teringat suatu hal yang menggelitik rasa penasarannya.


“Demian, tentang alasanku mengangkatmu sebagai CEO, apa kau sudah bergerak?” tanya Satria pelan dengan wajah yang serius.


“Iya, aku sudah mempelajari sejauh mana sepak terjang mereka sekarang. Hanya saja, aku ingin mengincar salah satu dari mereka dulu. Putra bungsu mereka yang telah melenyapkan keluargaku, yang membuat kakakku terpuruk lalu mereka memanfaatkan momen duka kami untuk menggempur perusahaan kami habis-habisan. Putra bungsunya sudah lama menghilang karena kasus itu tetapi kurasa aku telah menemukan jejaknya sekarang,” beber Demian juga sama seriusnya.


“Benarkah? Dia ada di kota ini?” tanya Satria lagi. Demian menatap Satria dengan dalam, tangannya memegang pagar kayu di hadapannya dengan erat.


“Iya, aku baru saja bertemu dengan kekasihnya, ternyata mereka ada di kota ini. Aku ingin membalas mereka dari putra kesayangannya mereka lebih dulu lalu melakukan hal yang sama pada perusahaan mereka.” Jantung Demian berdegup kencang saat mengatakan kalimat itu. Entah bagaimana nanti caranya dia akan mengatakan kepada Satria jika adiknya yang lain adalah partner in crime musuh Demian.


Mike dan Yelena adalah pasangan yang bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpa, ibu, kakak ipar dan keponakan kesayangannya, si kecil Brian. Demian ingin memastikan kedua orang itu membayar perbuatan mereka.

__ADS_1


__ADS_2