
Syukurnya jarak dari mobil taksi Liany mogok tak jauh dari rumah sakit tujuannya. Hanya dalam hitungan menit mereka sudah sampai, Satria mendaftarkan administrasi Liany dan melihat brankar perempuan itu didorong ke arah ruang bersalin.
“Anda suaminya? Ayo temani istri Anda untuk bersalin!” perintah seorang dokter yang sudah berumur. Satria tidak dapat menjelaskan situasinya dan tatapan dokter itu seakan hendak menyuntik mati Satria jika tidak menurutinya.
Liany yang sudah berganti dengan baju pasien terkejut melihat Satria yang ikut masuk ke ruangan.
“Pegang tangan istri kamu, beri dia semangat, dia akan bertaruh nyawa sebentar lagi!” dokter perempuan itu memeriksa pembukaan Liany yang ternyata sudah lengkap.
“Tunggu aba-aba saya ya, Bu,” perintah dokter itu.
Sejenak Liany yang sudah berpeluh di dahi dan lehernya itu menatap sejenak pada Satria, lelaki itu mengulurkan tangannya agar bisa dipegang Liany. Satria setengah membungkuk agar bisa merangkul bahu Liany dan memegang tangan perempuan itu sebagai tumpuan kekuatannya.
Hampir sejam Liany berjuang keras untuk mengeluarkan bayinya, Satria pun merasa jika jemarinya hendak patah karena genggaman Liany yang sangat kuat. Ditatapnya sekali lagi perempuan itu dan membisikkannya kata-kata semangat.
“Kau wanita yang hebat, aku minta maaf atas kata-kataku tempo hari,” bisik Satria yang kebingungan hendak berkata apa lagi selain, ‘Kamu bisa, Liany!’ ‘Ayo, kamu bisa!’.
“Astagah, apa harus dibahas sekarang, hah?!” hardik Liany disela-sela jeda istirahatnya sejenak.
“Yaaa… dorong, Bu, dorong! Sedikit lagi!” Aba-aba dokter itu menambah tekanan di tangan Satria yang dipikirnya pasti sudah memerah.
Tangis bayi laki-laki pecah di ruangan itu, Lia terlihat lega dan sangat letih, Satria memandangi bayi yang tengah dibersihkan oleh seorang perawat. Tangisnya sangat kuat menandakan dia bayi yang sehat. Air mata Liany mengalir dan Satria ikut terharu menyaksikan kelahiran putra Liany.
“Pak, kasih selamat dong istrinya, biasanya kasih ciuman atau kecupan, ini lempeng amat suaminya!” tegur dokter yang julid di telinga Satria. Keduanya tersadar, Liany melepas tangan Satria perlahan, jemari laki-laki itu benar-benar memerah. Satria hanya tersenyum canggung.
“Silakan digendong putranya, Pak,” Perawat yang membersihkan bayi Liany pun memberikan bayi yang sudah tenang itu ke dalam gendongan Satria. Laki-laki yang tak pernah dekat dengan anak kecil manapun itu dengan kaku menerima bayi yang merah terbungkus selimut hangat. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba saja menyeruak di dalam dadanya. Tatapan bayi itu seperti ingin mengikat hati Satria.
“Hey, selamat datang di dunia dengan selamat, Boy! Kau dan ibumu sungguh luar biasa,” gumam Satria pelan, diliriknya Liany yang masih dalam perawatan dokter dan perawat. Satria mendekat pada Liany lalu memperlihatkan bayinya.
“Bayimu tampan,” bisik Satria yang terdengar oleh Liany. Perempuan itu mengangguk, air matanya kembali menderas, dokter sudah memperbolehkan Liany menggendong bayinya. Didekapnya bayi itu erat dan mulai terisak, bayangan mendiang suaminya kembali hadir.
“Bayi kita sudah lahir, Mas … putra kita sudah lahir dan dia mirip banget sama kamu,” ujar Liany sambil menahan isak tangisnya.
“Iya, selamat yaa, Bu, putranya memang ganteng mirip Bapaknya, hidungnya mancung, kulitnya putih alisnya juga sama. Saya tinggal dulu ya,” ujar dokter yang semakin sok tahu itu.
Liany menatap Satria yang memang kebetulan memiliki ciri yang mirip disebutkan dokter tadi. Garis senyum Satria terlihat tertarik tipis meskipun sesungguhnya dia ingin tertawa keras.
“Terima kasih, terima kasih banyak kau menolongku di jalan tadi. Kenapa kau tidak mengatakan kepada mereka jika kau bukan … ayah dari bayi ini?” tanya Liany dengan suara pelan. Tangisnya mulai mereda dan terhenti.
__ADS_1
“Dokternya galak, aku gak dikasih kesempatan buat menjelaskan, dikiranya aku bapak-bapak yang gak bertanggung jawab jadi yaaa gitu, aku akhirnya temani kamu.”
“Tangan kamu gak apa-apa?” tanya Liany sambil melirik tangan Satria, laki-laki itu melihat ke arah tangan kanannya yang masih memerah dan ada jejak-jejak kuku Lia di sana.
“Nanti bakal hilang sendiri, kamu di sini dulu yaa, aku mau urus administrasinya dulu. Oh ya, kau akan beri nama siapa bayimu ini?”
“Rangga, dulu ayahnya ingin memberi nama Rangga jika anaknya laki-laki,”
“Nama yang bagus, aku akan menemuimu nanti.”
Satria pun bergegas mengurus segala sesuatunya, ternyata sopir taksi online itu masih ada dan juga menunggu proses bersalin Liany. Satria mengatakan jika dia adalah abang Liany sehingga sopir itu tak perlu khawatir. Dia pun membayar ongkos taksi itu dan mengambil tas perlengkapan Liany serta mengucapkan banyak terima kasih.
Liany dan bayinya pun dipindahkan ke ruang perawatan, Satria sengaja memilih kamar VIP agar Liany dan bayinya tidak terganggu dengan pasien lainnya. Perempuan itu akhirnya tertidur bersama bayinya setelah dia meminta tolong kepada Satria untuk pulang mengambilkan ponselnya yang tertinggal.
Hari sudah pagi ketika Satria sampai di alamat yang Liany berikan, Satria pun membuka pagar dengan kunci yang diberikan oleh perempuan itu. Ponsel Liany memang tertinggal di meja teras. Tak lama ada seorang perempuan paruh baya masuk dan menghampiri Satria.
“Mas siapa ya dan ada perlu apa?” tanya bi Inah yang baru tiba dari kampungnya.
“Mba Liany saat ini sedang di rumah sakit, saya menolongnya mengantarkan dia ke rumah sakit saat taksi onlinenya mogok tengah jalan. Ponselnya tertinggal di meja ini jadi saya datang untuk mengambilnya.”
“Yaa Tuhaaan … Non Lia melahirkan semalam? Padahal perkiraan dokter bayinya akan lahir seminggu lagi, apa mereka baik-baik saja?” Bi Inah tampak sangat terkejut mendengar berita itu.
“Tuan, nyonya dan non Myla sedang keluar kota. Bibi ikut dengan Mas ke rumah sakit ya?
“Ouh … baiklah, ayo mari kita ke sana sekarang.”
Bi Inah pun menerima kunci pagar yang diserahkan oleh Satria, dia menutup kembali pagar itu dan menguncinya. Satria membukakan pintu untuk bi Inah dan segera melajukan mobilnya.
“Engh maaf sebelumnya, apa kita pernah ketemu ya? Kok rasanya Bibi pernah liat, Mas, tapi lupa di mana.” Bi Inah akhirnya bertanya juga setelah tak bisa menahan rasa penasarannya.
“Saya Satria, Bi, yang pernah menabrak mba Liany di parkiran supermarket.”
Mata bi Inah seketika membulat, dia tidak menyangka jika Liany akan dipertemukan lagi dengan laki-laki itu dengan cara yang menakjubkan.
Langkah kaki tante Katrin bergegas menyusuri selasar rumah sakit untuk mencari ruang perawatan Liany dan bayinya. Dia bergegas pulang setelah Liany mengabarkan jika dirinya telah melahirkan semalam. Perasaannya lega setelah menemukan ruang yang ternyata VIP itu.
“Maaf Tante datangnya terlambat Sayang, Om sama Myla juga bakal menyusul pulang siang ini.” Tante Katrin mendekat dan melihat bayi Liany yang masih tertidur nyenyak.
__ADS_1
“Gak apa-apa, Tante, maaf harus membuat Tante pulang lebih cepat. Ouh ya, kenalkan ini Satria, Tante, dia menolong Lia di jalan waktu mobil taksi Lia mogok, dia juga yang mengantarkan Lia dan mengurus semua administrasinya.”
Satria dan tante Katrin sama-sama terkejut, mereka saling berpandangan, dan dengan cepat tante Katrin pura-pura tidak mengenali Satria.
“Terima kasih atas bantuannya kepada keponakan saya, Nak Satria.”
“Sama-sama , Nyonya.” Sorot mata Satria dingin, dalam hatinya dia menertawai takdir yang mengaitkan antara dirinya dan tante Katrin, ibu kandungnya.
“Bisa kita bicara di luar sebentar?” ajak tante Katrin yang meminta Satria mengikutinya menjauh.
“Aku akan mengganti semua biaya yang kau keluarkan untuk persalinan Liany. Tetapi—“
“Tetapi apa? Saya tetap harus tutup mulut dan tidak membeberkan siapa Anda sebenarnya?”
“Satria, aku mohon ini bukan waktu yang tepat, tolong kita jangan berdebat di sini, katakana saja berapa jumlahnya dan lupakan Liany.”
“Apa maksud Nyonya berkata seperti itu?” Satria mengerutkan dahinya, dia benar-benar tidak mengerti maksud dari tante Katrin.
“Jauhi Liany, dia hanya seorang janda dengan satu putra, kau bisa mendapatkan gadis yang berkelas dengan latar keluarga yang lebih baik,” jawab tante Katrin setengah berbisik.
Satria mendengkus dan tersenyum sinis, kini dia paham dengan maksud tante Katrin. Wanita itu tidak ingin dirinya mempunyai hubungan khusus dengan Liany.
“Kau … jangan pernah ikut campur dalam urusanku! Kau sudah kehilangan hak itu sejak kau pergi meninggalkan aku dan papa!” desis Satria dengan wajahnya yang memerah.
“Satria, aku hanya ingin yang terbaik dalam hidupmu, aku—“
“Aku ingin tahu reaksi suamimu jika tahu siapa kau sebenarnya, janda miskin dengan satu putra yang sudah kau buang agar bisa hidup dengan lelaki kaya!” ancam Satria dengan kemarahannya.
“Sudah kubilang ini bukan waktu yang tepat, satria, aku mohon beri aku waktu untuk memperbaiki semua kesalahanku tetapi jangan hancurkan hidupku yang sekarang, Satria. Mama mohon….”
“Jangan pernah lagi kau sebut dirimu, ‘Mama’ untukku, aku udah gak punya mama lagi.” Satria pun meninggalkan tante Katrin dan menemui Liany.
“Tampaknya keluargamu sudah datang, aku harus pulang, hubungi aku kapanpun kau butuh sesuatu.” Satria mengambil Rangga dan menggendongnya dengan hangat.
“Hey, Boy, aku harus kerja dulu, kita akan bertemu lagi nanti, jangan nakal ya, Jagoan.” Satria mencium dahi Rangga dengan lembut lalu menaruhnya lagi di tempat tidurnya yang kecil.
“Aku pulang dulu,” pamitnya pada Liany yang dijawab dengan anggukan perempuan itu.
__ADS_1
Satria hanya melemparkan tatapannya yang tajam pada tante Katrin dan tidak mengatakan sesuatu lagi. Tante Katrin hanya bisa memandangi punggung Satria, dia semakin tak berdaya menghadapi kebencian putranya itu yang membesar kepadanya.