Di Atas Ranjang Om Rudy

Di Atas Ranjang Om Rudy
Pertanyaan dan takdir


__ADS_3

Myla agak bangun siang, kepalanya pusing karena minuman semalam, padahal dia tak minum sebanyak itu dan masih bisa menyetir mobil pulang ke rumah. Ditambah akhir pekan jadi Myla tak perlu ke kantor. Gadis itu hendak membuka jendela kamarnya tetapi urung dilakukannya, dari balik tirai dia melihat Om Rudy yang sedang menggenggam tangan Liany mesra, sementara sepupunya itu hanya mengangguk beberapa kali.


Dari gesturnya Liany ingin melepaskan genggaman tangan Om Rudy tetapi papanya menahan tangan Liany. Myla tak pernah melihat ekspresi papanya seperti itu, raut wajah yang sedih dan sulit digambarkannya lagi.


“Papa kenapa ya sama Lia? Kok mereka berdua kayak lagi ada masalah gitu?” Myla meninggalkan kamarnya ketika Om Rudy berbalik meninggalkan Liany. Dicarinya sosok Om Rudy yang dikiranya masuk ke ruang tengah. Akhirnya dia menemukan papanya di dalam ruang kerjanya.


“Pagi, Pa, Mama bilang semalam kalau Papa lagi sakit ya?” Myla menyapa papanya yang terlihat seperti sedang termenung di depan jendela ruang kerjanya, jendela yang langsung menghadap ke jendela kamar Liany. Myla mengikuti ke mana arah pandangan papanya. Dari sini bisa terlihat apa yang sedang dilakukan Liany jika ibu muda itu membuka tirai jendelanya.


“Ouh Myla, sini Sayang, Papa juga mau bertanya dari mana kamu semalam sampai telat pulang?” Om Rudy merentangkan lengannya agar Myla leluasa masuk ke dalam pelukannya seperti biasa. Myla pun memeluk papanya dengan erat dan merasakan kecupan hangat penuh kasih sayang dari laki-laki itu.


“Maaf, Pa, semalam ada teman yang ngajakin party, Myla juga butuh refreshing jadi Myla ikut deh. Oh Ya, Liany kenapa? Dia ada masalah sama Papa?” tanya Myla lalu melepaskan pelukannya. Om Rudy mengernyitkan dahi dan menatap ke Myla dengan tatapan tanya.


“Itu … tadi Myla lihat Papa sama Liany di teras samping rumah, Papa tadi keliatan sedih banget, ada apa, Pa?” Myla menjatuhkan dirinya di sofa panjang dalam ruangan itu.


“Ouh … itu, Liany mau keluar dari rumah kita, dia mau cari kontrakan,” jawab Om Rudy yang mulai menyalakan laptopnya.


“Lho, memangnya kenapa sampai Liany mau pergi, Pa?” Myla sontak kembali duduk dan memandangi papanya dengan serius.


Om Rudy hanya menghela napas, tak mungkin dia akan mengatakan kepada Myla jika saat ini hatinya sudah mendua. Beberapa dekade lebih hatinya tak pernah tergoyahkan meski ada yang lebih cantik dan lebih menggoda. Kesetiaannya pada Tante Katrin tak mudah luntur hingga akhirnya seorang janda muda, tak terlalu cantik, bertutur kata lemah lembut dan penuh perhatian membobol hati Om Rudy.


“Katanya Liany mau hidup mandiri bersama Rangga, tidak ada masalah yang terjadi. Yaa kita hanya bisa mendukung keputusan terbaiknya saja.” Om Rudy merapatkan mantelnya, ada gigil yang dirasakan kembali menyergap tubuhnya.


“Papa semalam sakit kan? Kenapa kerja lagi sih? Istirahat dulu yaa!” Seru Myla yang kemudian bangkit dari sofa, mendekati Om Rudy dan menarik lengan laki-laki itu.

__ADS_1


“Papa sudah baikan, Sayang, biar Papa periksa email saja sebentar,” tolak Om Rudy.


“Enggak boleh! Pokoknya Papa harus istrirahat dulu, besok saja kerjanya, Myla mau Papa istirahat!” Myla memaksa papanya untuk berdiri dari kursinya dan menyeretnya keluar ruangan.


“Ayo temani Myla sarapan, habis itu Papa gak usah kerja dulu, bawahan Papa banyak, perusahaan juga gak bakal langsung runtuh kalo Papa istirahat sehari!” omel Myla. Om Rudy hanya mengiyakan saja ketika Myla berhasil mendudukkannya di kursi meja makan.


“Sekarang, Papa yang mau tanya, mata kamu bengkak gitu habis nangis berapa liter air mata? Apa yang bikin kamu menangis?” tanya Om Rudy yang mengambil seporsi nasi goreng di atas meja.


Myla memutar matanya, dia masih enggan bercerita tetapi papanya juga tidak akan berhenti bertanya.


“Myla lagi patah hati, Pa. Cinta Myla ditolak sama laki-laki yang Myla kira dia juga suka sama Myla.”


“Eeh? Apa laki-laki itu buta sampai gak bisa melihat kecantikan kamu? Apa laki-laki itu berhati batu sampai tidak bisa merasakan kebaikan kamu?” Nada suara Om Rudy cukup tinggi, di matanya putrinya adalah sosok gadis ideal idaman pria manapun, sebagai orang tua dia sangat bangga memiliki Myla sebagai putrinya.


“Cinta gak bisa dipaksa, Pa. Dia mencintai orang lain katanya dan hanya menganggap Myla sebagai adiknya saja.” Mata Myla menerawang jauh, penolakan Satria masih membekas di hatinya. Namun, yaah tentu saja dia tidak bisa memaksa, percuma berada di sisi orang yang hatinya berada di tempat lain.


“Sudah lah Pa, gak usah dibahas. Biar ini jadi pelajaran Myla aja, semalam juga Myla udah nangis lama. Seperti pesan laki-laki itu, kelak Myla akan mendapat pria yang tepat untuk Myla.” Myla mengambil sesendok nasi goreng dan gegas mengunyahnya. Ada perih yang masih ditahan-tahannya, Myla terbiasa seperti itu, terlihat tegar, kuat sementara ada badai yang masih bergemuruh di dalam dadanya.


Tante Katrin masih terdiam, dia tak ingin membahas soal putrinya lagi yang jatuh cinta pada pemuda itu.


“Dulu kau sangat suka bubur ayam ini, cobalah,” ujar Tante Katrin dengan lembut. Satria melirik sekilas, perutnya memang minta diisi, bubur ayam memang sarapan kesukaannya, ibunya masih ingat itu. Satria menyingkirkan laptopnya dan membuka mangkuk bubur ayam yang aroma segera memenuhi penciuman Satria.


“Buburnya enak, gurih dan semua topingnya masih segar. Beli di mana?” tanya Satria pada bubur ayam yang menarik perhatiannya.

__ADS_1


“Makan saja, jika kau suka aku akan kemari lagi untuk mengantarkannya,” jawab Tante Katrin dengan tersenyum.


“Modus!” gumam Satria yang terdengar di telinga Tante Katrin.


“Tak apa modus, agar aku punya alasan untuk menemuimu lagi,” ujar Tante Katrin dengan senyumnya yang makin lebar. Satria melirik ibunya itu dan menyunggingkan senyum tipis.


“Hey … jangan sembunyikan senyummu itu, kalau mau tersenyum, tersenyum saja,” goda Tante Katrin. Satria masih menahan senyumnya dan mempercepat makannya. Satria sedikit tersedak makanannya, buru-buru Tante Katrin mencarikan Satria air minum.


“Terima kasih,” ujar Satria pelan dan menghabiskan air minum yang disodorkan Tante Katrin. Diambilnya kembali gelas kosong itu dan dibawa masuk ke dapur. Langkah Tante Katrin terhenti ketika melihat foto dalam bingkai kecil yang lucu di dinding ruang tengah. Tante Katrin menyipitkan matanya untuk memperjelas foto yang dilihatnya. Dia sangat mengenali bayi yang sedang tertawa dalam gendongan Satria. Bayi itu Rangga, dan bukan hanya satu foto tetapi enam bingkai yang bergandengan dengan foto Satria berdua dengan Rangga.


“Satria dan Liany tetap berhubungan?” gumam Tante Katrin sambil mengelus salah satu foto di dinding itu. Satria mendehem dari ruang depan yang membuat Tante Katrin tersentak kaget, bergegas dia keluar dan kembali duduk di tempatnya.


“Terima kasih untuk bubur ayam itu, bubur ayam yang enak, aku menyukainya.” Satria mengelap mulutnya dan membereskan sampah bungkusan bubur itu. Tante Katrin memperhatikan gerak-gerik Satria, hatinya ingin sekali mempertanyakan tentang Liany dan Rangga kepadanya tetapi urung dilakukannya. Ini pertama kali dia melihat Satria tersenyum, Tante Katrin tidak ingin merusak suasana hati Satria lagi dengan pertanyaannya.


“Aku senang jika kau menyukainya, kuharap kau bisa memanggilku dengan sebutan Mama seperti dulu lagi, Satria. Aku pamit pulang.” Tante Katrin mengambil tas tangannya dan berlalu dari hadapan satria. Pemuda itu tidak merespon apapun, dia tetap memilih diam dan memandangi punggung wanita itu yang menghilang dari balik pagar rumahnya.


“Mungkin … suatu hari nanti, aku akan memanggilmu dengan sebutan Mama, tapi tidak sekarang ketika kau masih saja memilih merahasiakan aku pada duniamu,” tutur Satria dengan nada sendu.


Ponsel Satria bergetar di atas meja, pria itu berbalik dan duduk kembali untuk mengerjakan desainnya yang tersisa. Sebuah pesan masuk membuat dahi Satria berkerut tetapi sesaat kemudian ada tarikan senyum di bibir laki-laki itu.


[Sat, aku akan keluar dari rumah ini, meskipun tidak sepenuhnya mandiri karena Om Rudy sudah mencarikan aku rumah kontrakan dan dibayarnya penuh satu tahun. Alamatnya di perumahan permata garden blok B no 3. Aku akan pindah dalam minggu ini]


Satria nyaris melompat kegirangan, bergegas dia keluar dari rumahnya dan membuka pagar lebar-lebar. Dipandanginya rumah kosong tepat di depan rumahnya yang bertuliskan DIKONTRAKKAN, seperti anak kecil dia berseru seperti telah memenangkan permainan.

__ADS_1


“Yeessss … siapa yang akan menduga jika kau akan berada tepat di depanku, Mamanya Rangga? Yesss …! Aku gembira sekaliiiii!” pekik Satria tanpa sadar. Alamat yang dituliskan Liany di pesannya adalah perumahan yang sama didiami Satria, hanya saja berbeda blok. Satria menempati blok A sementara Liany akan pindah di blok B tepat di depan rumahnya. Satria kini semakin merasa jika Rangga dan Liany adalah takdir besar untuk hidupnya.


[Kejutan yang menyenangkan, kau pasti akan menyukai tempat itu Lia, lihatlah nanti bagaimana cara takdir bekerja!] balas Satria sesaat kemudian.


__ADS_2