Di Atas Ranjang Om Rudy

Di Atas Ranjang Om Rudy
Pencuri hati


__ADS_3

Om Rudy membuka matanya, yang pertama dilihatnya adalah sebentuk bantal guling yang didekapnya erat. Mimpinya barusan terasa nyata dan membuatnya merasa bersalah, tak mungkin dirinya akan memperlakukan Liany layaknya seorang istri. Ranjangnya terasa dingin, tante Katrin sudah pergi dari beberapa jam yang lalu. Samar terdengar tangisan Rangga dari kamar Liany. Om Rudy keluar dari kamarnya untuk melihat bayi Liany.


“Rangga kenapa, Lia?” Om Rudy muncul dari balik pintu kamar Lia yang terbuka setengahnya, tampak Liany sedang menggendong Rangga yang menangis sambil duduk di tempat tidurnya.


“Gak tahu, Om. Padahal popoknya kering dan habis menyusu juga. Bi Inah lagi keluar sebentar jadi Lia gak tahu harus apa.” Liany tampak cemas, Om Rudy mendekat dan mengambil Rangga dalam gendongan Liany.


“Kamu sudah makan malam?” tanya om Rudy lagi, gerakannya lembut menimang-nimang Rangga.


“Belum, Om.” Liany perlahan turun dari tempat tidurnya, om Rudy segera mengulurkan tangannya untuk membantu Liany turun.


“Ayo, kamu makan dulu, biar Rangga Om yang gendong, lihat dia sudah berhenti menangis.” Om Rudy tersenyum sambil menatap Rangga yang tenang dalam gendongannya. Liany mencoba berjalan perlahan menuju ruang makan dengan bantuan om Rudy yang memegangi tangannya.


“Hati-hati, pelan-pelan saja,” Om Rudy membantu menarikkan kursi untuk Liany duduk sementara Rangga sudah tertidur di sebelah tangan om Rudy. Pria itu terlihat luwes dalam menggendong bayi padahal putri tunggalnya sudah menjelma menjadi perempuan dewasa yang sudah siap memberinya cucu.


“Makanlah yang banyak, susu dan vitamin jangan lupa,” Om Rangga melihat sekilas Liany yang menyendok nasi ke piringnya.


“Om Rudy sudah makan? Biar Rangga ditaruh di boxnya lagi, Om.” Liany merasa tak enak karena dia hanya makan sendiri saja. Om Rudy sekali lagi tersenyum dengan tatapannya yang lembut itu.


“Makanlah dulu, Om gampang aja kok kalau mau makan, kamu harus perhatikan dirimu dan Rangga dulu.” Om Rudy melangkah perlahan di sekitar ruang makan sambil menimang-nimang Rangga. Liany menyantap nasi dan lauk pauknya dengan lahap, dia tak mau merepotkan om Rudy dengan ikut mengurus Rangga.


Setelah menyelesaikan makanannya Liany menghampiri om Rudy dan meminta Rangga kembali, tetapi om Rudy menolak dan menyuruh Liany kembali lebih dulu ke kamarnya.


“Biar Om gendong dulu, kamu kembali saja ke kamar, ayo!” Om Rudy kembali mengambil tangan Liany dan membimbingnya kembali ke kamarnya. Diletakkannya Rangga di dalam box dengan hati-hati sementara Liany duduk di tepi ranjang.


“Jangan sungkan untuk meminta Om untuk menjaga Rangga, sekarang dia adalah anggota keluarga yang VVIP,” kelakar om Rudy yang membuat Liany tersenyum. Tanpa sadar om Rudy meletakkan telapak tangannya di pipi Liany saat berada di depan perempuan itu, mengelusnya dengan ibu jari om Rudy. Liany terkejut dengan perlakuan hangat om Rudy, sorot mata Liany yang memandangnya dengan terperangah membuat om Rudy tersadar dan menarik tangannya menjauh dari wajah cantik itu.


“Maaf, Om sering melakukan itu kepada Tante Katrin dan Myla,” terang om Rudy. Liany tersenyum canggung dan menundukkan pandangannya.


“Om, mau makan dulu,” ujar om Rudy seraya mundur mendekati pintu, diliriknya sekilas Rangga yang tertidur pulas di box bayi berwarna biru laut. Lalu melemparkan senyum dengan lesung pipi yang bisa menawan hati wanita di mana saja.


Myla kembali ke kantornya setelah makan siang bersama Satria, langit mulai gelap dan dia memang pulang agak sedikit terlambat. Diusapnya layar ponselnya senyumnya melengkung, siang tadi Myla diam-diam mengambil foto Satria. Tak sopan memang tetapi Myla tidak mau kehilangan kesempatan untuk mengabadikan wajah tampan rupawan itu. Dilihatnya jam di pergelangan tangannya, gadis itu pun bergegas meninggalkan kantor menuju rumah.

__ADS_1


Mobil Myla menepi di depan toko boneka, dia ingin mencarikan sesuatu yang lucu untuk Rangga. Dia sudah merasa jika Rangga adalah keponakannya sendiri, Myla pun menyambut kelahirannya dengan suka cita. Sebuah boneka Teddy Bear berkostum pelaut dipilihnya, boneka yang lucu dan menggemaskan. Perjalanan pulangnya ke rumah diiringi dengan lagu ceria yang mengalun di pemutar musik mobil Myla. Lelahnya tidak terasa karena ada hal yang membahagiakan terjadi beruntun dalam harinya.


“Anak gadisku selalu pulang terlambat, gak tau yaa kalau Papanya kangen banget?” keluh om Rudy ketika Myla tiba di rumah dan mencium kedua pipinya.


“Demi sebongkah berlian, Papaaa!” seru Myla dengan ceria.


“Kamu bawa apa itu?” tanya om Rudy yang melihat tas besar yang dijinjing Myla.


“Ouh … ini Teddy Bear untuk Rangga, Myla lihatnya lucu banget kayak Rangga jadi Myla beli buat teman Rangga yang pertama.” Myla bergegas menuju kamar Liany untuk menunjukkannya boneka itu.


“Myla, tunggu, lebih baik besok saja, Liany sepertinya sudah tidur, nanti Rangga terbangun juga. Dia baru pulang dari rumah sakit jadi biarkan dia istirahat dulu,” cegah om Rudy ketika Myla ingin mengetuk kamar Liany. Myla mengurungkan niatnya dan mengangguk-angguk lalu berbalik menuju kamarnya, teddybear itu akhirnya dibawa masuk kembali ke kamarnya.


“Mo, aku udah dapat lokasi yang kira-kira pas untuk kantor Sparkling di sini dan sepertinya kita langsung dapat klien perdana nih.” Satria masih mengenakan handuknya ketika dia menerima telpon dari Bimo. Rambutnya masih basah dan teracak oleh gosokan handuk di kepalanya.


“Waah Dunant sepertinya bawa keberuntungan untuk Sparkling nih, klien dari mana?” Bimo hanya menginap semalam saja ketika Satria baru keluar dari rumah sakit. Sekarang mereka sama-sama sibuk menangani proyek masing-masing.


“RH Corps, kepala cabangnya masih kerabat dari Dunant, gadis ini malah panggil ‘Tante’ ke klien kita.” Satria mengambil bajunya dari dalam lemari juga celana selutut.


“Bayi kamu gak sawan gitu denger ketawa kamu yang kayak genderuwo itu?” Satria berdecak kesal dengan kebiasaan tawa Bimo yang membahana.


“Hebat kali pengalihan topik kau, bawa-bawa bayiku pula!” sindir Bimo.


“Aku mau makan dulu, kalo ada perkembangan baru aku telpon kamu lagi, salam buat Rere yaa,” ujar Satria menyebut nama istri Bimo. Satria menatap ponselnya, mengingat Rere membuat dia teringat pada Liany. Dibukanya ponselnya dan melihat foto-foto Rangga yang dikirim Liany kepadanya. Tak sadar Satria mengembangkan senyumnya, rindu pada bayi kecil itu muncul lagi sehingga Satria akhirnya mengirim pesan pada Liany.


[Udah tidur?] tanya Satria setelah ketik hapus ketik hapus kalimatnya.


[Belum, aku sedang merapikan baju-baju Rangga] balasan pesan yang lebih cepat diterimanya dari Liany.


[Bagaimana Rangga?] Satria mengambil posisi serius duduk di tempat tidurnya, dia seperti seorang ayah yang sedang menanyakan putranya.


[Dia hanya sesekali menangis, kurasa dia bayi yang tidak rewel]

__ADS_1


[Apa kau baik-baik saja setelah keluar dari rumah sakit?]


Liany tertegun membaca pesan itu, dia merasa Satria perlahan sudah mulai masuk ke dalam kehidupannya.


[Baik, keluargaku merawatku dan Rangga dengan sangat baik, hanya saja,]


[Ada apa? Aku sudah bilang jika kau butuh sesuatu kau bisa bilang padaku]


[Ah tidak apa-apa, aku ingin istirahat. Kau bisa menghubungiku besok lagi]


[Baiklah, apa boleh aku meminta sesuatu?]


[Apa?]


[Sampaikan peluk dan ciumku untuk Rangga, setelah pekerjaanku longgar aku harap bisa menemuinya lagi]


[Ouh, tentu. Selamat malam]


Satria tidak membalasnya lagi, dia hanya memandangi fotonya saat menggendong Rangga yang diambil oleh salah seorang perawat di sana. Lagi-lagi senyumnya terkembang rasanya tak sabar lagi dia ingin menjumpai makhluk kecil yang telah mencuri hatinya.


Tante Katrin masuk perlahan ke kamarnya agar tidak menimbulkan suara dan membuat suaminya terbangun. Berbagai proyek yang tengah berlangsung dan mengejar tenggat waktu membuat tante Katrin benar-benar menguras waktu dan tenaga tante Katrin. Setelah berganti pakaian dan membersihkan dirinya tante Katrin naik ke atas ranjang dan merebahkan diri dengan pelan. Sesaat dipandanginya wajah om Rudy, sekelebat rasa bersalahnya menghujam dadanya. Sudah lama dirinya mengabaikan kebutuhan psikologis suaminya walaupun dia tahu suaminya adalah pria baik dan sabar.


Om Rudy bergerak pelan dan meraih tubuh tante Katrin dan memeluknya juga memberikan satu kecupan yang dalam di kepala tante Katrin.


“Jangan terlalu memaksakan diri, Kat, aku gak mau kamu jatuh sakit. Delegasikan saja sebagian pekerjaanmu itu,” ujar om Rudy pelan.


“Hhhmmm … kamu tahu aku ‘kan Rud? Aku gak bisa kalo gak terjun langsung, mumpung aku masih bisa ke sana kemari, kalau Myla sudah menikah nanti dan kita punya cucu aku akan berhenti.” Tante Katrin memeluk dada om Rudy dengan hangat.


“Maafkan aku yang selama ini mengabaikanmu, aku harap kau mengerti, Rud,” bisik tante Katrin kemudian mengecup pipi om Rudy. Om Rudy berbalik dan membalas kecupan tante Katrin di bibir istrinya itu. Mereka berciuman sesaat dan tante Katrin menelusupkan tangannya ke dalam baju om Rudy.


“Tidak, Kat, aku tahu kau sangat lelah, kita bercinta lain kali saja, istirahatlah. Besok aku juga ada rapat panjang dengan beberapa klien.” Om Rudy melepaskan tangan tante Katrin. Sebenarnya itu bukan alasan yang sesungguhnya, om Rudy sudah kehilangan selera malam ini. Dia memilih memeluk istrinya dan tertidur. Tante Katrin pun akhirnya terlelap juga dalam dekapan suaminya yang hangat.

__ADS_1


Tengah malam om Rudy terbangun, dia menuju dapur untuk mengambil minuman di kulkas. Dilewatinya kamar Liany yang pintunya agak terbuka. Perempuan muda itu tertidur di samping bayinya, bajunya tersingkap sehingga menunjukkan betis serta pahanya yang putih mulus. Buah dada Liany pun menyembul karena padat oleh ASI, Om Rudy menelan ludahnya, sisi pria nya bangkit melihat perempuan yang sedang tertidur pulas itu. Om Rudy masuk ke kamar Liany, menaikkan selimutnya agar betis dan paha itu tertutupi, meskipun pada akhirnya mata om Rudy tertuju pada bibir Liany. Laki-laki itu mendekatkan wajahnya dan mendaratkan kecupan kecilnya, sekilas dengan cepat agar perempuan itu tak tahu jika seseorang telah mencuri ciuman dari bibirnya. Pertahan om Rudy roboh seketika, betapa Liany telah menjadi magnet tersendiri baginya.


__ADS_2