Di Atas Ranjang Om Rudy

Di Atas Ranjang Om Rudy
Yang mengejar waktu


__ADS_3

Tante Katrin basah kuyup tak sadarkan diri di lantai kamar mandi, Om Rudy segera membopongnya ke tempat tidur dan mengeringkannya.


“Kat… Katrin, ada apa denganmu, Kat? Bangunlah,” ucap Om Rudy cemas sambil mengeringkan tubuh Tante Katrin dan menggantinya dengan baju kering. Wajah Katrin sangat pucat nyaris seperti mayat.


“Katrin, bangunlah, jangan membuatku takut seperti ini,” ujar Om Rudy lagi dengan mendekatkan botol minyak angin ke arah hidung istrinya. Sesaat jemari Tante Katrin bergerak. Om Rudy segera meraih jemari istrinya dan menempelkannya kepada dadanya.


“Kat, kamu kenapa?” tanya Om Rudy cemas. Sebelah tangannya membelai kepala Katrin dengan lembut.


“Aku … aku hanya kelelahan saja, aku baik-baik saja, tekanan darahku sepertinya menurun,” jawab Tante Katrin dengan pelan. Om Rudy belum bisa menekan kecemasannya, baru kali ini dia melihat istrinya jatuh pingsan, rasa takut kehilangan tiba-tiba muncul dan menguasainya.


“Kita ke dokter yaa, Katrin, kita pastikan apa yang terjadi denganmu, ayolah, kita pergi sekarang.” Om Rudy membantu Tante Katrin yang hendak duduk.


“Aku gak apa-apa, istirahat dan minum vitamin udah cukup kok,” elak Tante Katrin.


Dia tidak ingin jika suaminya tahu kondisinya yang sebenarnya. Dari pertama mengalami mimisan Tante Katrin segera ke dokter dan menjalani serangkaian tes. Perempuan itu pandai menutupi wajahnya yang pucat dengan riasan wajahnya agar selalu tampak segar.


“Aku ada vitamin di tas, kamu gak perlu khawatir, Rud. Aku hanya butuh istirahat saja, bisa kamu ke dokter kamu sendiri saja?” tanya Tante Katrin, tubuhnya terasa sangat lemah untuk pergi menemani suaminya.


“Kesehatanmu jauh lebih penting saat ini, Katrin, aku bisa pergi besok.” Om Rudy memandangi Tante Katrin serius.


“Tidak … tidak, aku hanya butuh istirahat sebentar saja, aku tidak mau, kamu melewatkan janji temu dengan doktermu hari ini, kalau kamu bersikeras tidak mau pergi maka aku yang akan membawamu ke sana sekarang!” ancam Tante Katrin yang membuat Om Rudy mematung. Dia paham karakter Tante Katrin yang keras seperti ini.


“Baiklah, aku akan pergi, kamu istirahat saja, tolong jika ada apa-apa kamu harus telpon aku secepatnya, aku tidak akan lama.” Om Rudy melirik jam di pergelangan tangannya. Tante Katrin hanya mengangguk mengiyakan perkataan suaminya.


Tak lama Om Rudy keluar dari kamar dan memanggil Santo sopir mereka yang baru, Tante Katrin mempekerjakannya khusus untuk suaminya agar lelaki itu tidak mengendarai mobil sendirian lagi. Setelah kejadian di rumah Liany, Tante Katrin memperketat pengawasan pada suaminya. Dia tidak ingin kondisi kejiwaan suaminya terganggu lagi. Namun, dia akhirnya menyadari sesuatu, dia pun sedang bertaruh dengan waktu. Penyakitnya telah menggerogoti tanpa disadarinya. Lebam-lebam di lengan, betis dan pahanya bisa ditutupi dengan baik.


“Wilma, tadi aku pingsan di kamar mandi, Rudy menemukanku di sana, apakah bisa dosis obatku ditambah saja?” tanya Tante Katrin pada dokter yang merawatnya sekaligus teman dekatnya. Dia memutuskan menelpon dokternya setelah apa yang terjadi barusan.


“Kat, sebaiknya keluarga kamu tahu tentang ini, kau harus dirawat di rumah sakit, jangan sampai terlambat,” pinta dokter perempuan itu di balik mejanya.


“Aku masih harus mengurus sesuatu, Wilma. Putraku akan menikah, aku harus memberikan yang terbaik untuknya,” desah Tante Katrin dengan napas yang berat.


“Kat, tolong pertimbangkan baik-baik, semakin lama kamu menunda pengobatan maka penyakitnya bisa menyebar dan menyerang organ lainnya.” Dokter Wilma mengingatkan kondisi Tante Katrin.

__ADS_1


“Iya … iya, aku akan bicarakan ini dengan keluargaku dulu. Aku ingin bertemu dengan calon menantuku dan menyaksikan mereka merayakan pernikahannya dengan meriah.” Air mata Tante Katrin meleleh, dia tidak menyangka jika harus lebih dulu mengalah pada penyakit mematikan ini.


“Baiklah, Katrin, aku menunggumu di sini, dalam minggu ini kau harus sudah ada di rumah sakitku. Aku sudah membentuk tim khusus untuk menanganimu jadi, aku mohon segera datang padaku.”


Percakapan mereka sudah selesai, Tante Katrin memeluk ponselnya sambil menangis. Dia harus bertemu dengan Satria dan Liany secepatnya juga memperkenalkan putranya itu kepada Myla dan Om Rudy. Perempuan itu menyusut air matanya. Dia harus tegar seperti biasanya, dengan sisa kekuatannya dia berjalan menuju meja untuk mengambil botol obat-obatan di dalam tasnya.


“Aku tidak boleh menyerah sekarang … putraku akan menikah, aku berutang maaf pada Rudy dan Myla. Aku harus bertahan sampai akhir.” Tangannya gemetar mengeluarkan beberapa butir obat dengan warna dan ukuran yang berbeda. Seiring air matanya yang jatuh lagi dia menenggak air minum di gelasnya sampai habis dan mengantarkan obat-obatan itu sampai di lambungnya.


“Bekerjalah dengan baik di dalam sana, aku mengandalkan kalian,” bisik Tante Katrin sambil mengelus perutnya.


Myla duduk merenung di kantornya, map yang dipegangnya hanya dibiarkan terbuka tanpa dibacanya. Dia mencoba memutar kembali kejadian di restoran itu di kepalanya. Myla terlihat menyesali perbuatannya yang terbawa emosi. Perkataan Satria kembali terngiang-ngiang, lelaki itu menyuruhnya bertanya kepada mamanya untuk mengetahui suatu kebenaran.


“Mengapa Mas Satria memintaku untuk menanyakan siapa dia kepada mama ya? Apa yang sebenarnya terjadi?” Myla berpikir keras dan menduga-duga. Kepalanya menggeleng karena tidak menemukan kemungkinan-kemungkinan di kepalanya.


“Lebih baik aku pulang sekarang, situasi seperti ini membuatku tidak bisa bekerja dengan baik,” gumamnya lirih.


Dilihatnya jam di dinding kantornya, menjelang sore dan memang sudah waktunya untuk jam pulang kerja. Dibereskan mejanya lalu gadis itu meninggalkan kantor langsung pulang menuju rumahnya.


“Mama ada di rumah, kamu udah mau pulang?”


“Iya, Ma. Myla mau pulang cepat, ada hal yang mau Myla tanyakan ke Mama,”


Terdengar helaan napas Tante Katrin di seberang sana, “ Baiklah, Mama tunggu, hati-hati kamu di jalan ya, Sayang.”


Untuk memperbaiki suasana hatinya dia menyalakan pemutar musik di mobilnya. Alunan lagu membuat Myla sedikit menjadi lebih rileks. Potongan ingatan ketika dia bersama Demian di pantai tadi membuatnya tersenyum kecil. Dia merasa Demian punya andil dalam menenangkannya, gadis itu pun berencana untuk mengajak Demian makan malam demi menebus makan siang mereka yang kacau.


Lampu merah menghentikan laju mobil Myla, tiba-tiba matanya menangkap mobil papanya yang sedang parkir di sebuah klinik dokter psikiater. Berulang kali Myla membaca papan nama klinik itu dan memastikan jika dia tidak salah lihat mobil sedan berwarna hitam itu.


“Ngapain Papa di klinik itu?” rasa penasaran dan berbagai dugaan kembali mengisi kepala Myla. Bahunya tersentak kaget ketika bunyi klakson bersahutan ketika mobilnya tak maju juga setelah lampu berganti warna. Segera Myla melajukan mobilnya, niatnya ingin berbalik tetapi arus sangat macet sehingga dia memilih untuk kembali pulang ke rumahnya saja.


Tante Katrin melihat wajahnya di depan cermin, seperti biasa riasan wajahnya mampu menutupi wajahnya yang kian hari memucat. Berat badanya pun cukup menurun tetapi baik suaminya atau putrinya belum memperhatikan hal itu. Deru mobil Myla terdengar masuk ke garasi. Tante katrin menarik napas dan menghembuskannya perlahan, dia akan bersiap menghadapi Myla karena baru saja Satria mengirimkannya pesan tentang kejadian di restoran siang tadi.


“Myla, kalau kamu sudah bersih-bersih, Mama mau bicara sama kamu ya, Mama tunggu di ruang tengah.” Tante Katrin menyambut Myla lalu berjalan ke ruang tengah dan duduk di sofa.

__ADS_1


“Mama, mau kemana lagi? Udah cantik aja,” Myla memperhatikan mamanya sejenak.


“Gak kemana-mana, supaya Papa betah di rumah aja, Mama juga sudah memutuskan untuk tidak lagi sibuk bekerja dan segera mencari pengganti Mama untuk mengurus perusahaan.”


Myla mengerutkan dahinya, dia kembali teringat dengan mobil papanya yang berada di klinik psikiatri tetapi mamanya memberi kode untuk Myla membersihkan diri dulu baru mereka berbicara. Tak lama deru suara mobil suaminya juga terdengar. Tante Katrin merasa jika ini adalah waktu yang tepat untuk menceritakan tentang Satria kepada putri dan suaminya. Juga tentang situasi Om Rudy kepada Myla.


“Bagaimana hasilnya, Pa?” tanya Tante Katrin, dia berdiri menyambut suaminya dan mencium pipi Om Rudy dengan mesra. Laki-laki itu membuang napas, perasaan bersalah menusuk hatinya karena masalahnya dengan Liany itu.


“Masih harus kontrol sekali lagi bulan depan, tetapi sejauh ini semuanya sudah membaik. Dosis obatku mulai dikurangi.” Om Rudy duduk di sebelah Tante Katrin sambil memeluk pinggang istrinya.


“Rud, tadi Myla melihat mobil kamu di parkiran klinik, sepertinya kita harus menjelaskan kepada Myla tentang kondisimu.” Tante Katrin menatap suaminya serius dan setengah memohon, rasanya dia sudah kelelahan dengan menutupi semua kebenaran yang disimpannya.


Om Rudy tampak terkejut tetapi segera dinetralisir perasaannya itu, mau tidak mau mereka memang harus berterus terang tentang apa yang terjadi dengannya.


Sesaat mereka menunggu Myla keluar dari kamarnya, Tante Katrin pun berusaha menenangkan diri dan berpikir hendak memulai dari mana di bercerita. Tentang pengobatan psikiatri Om Rudy, latar belakang Satria dan utang maaf yang harus dikatakannya kepada suami dan anak-anaknya. Juga tentang penyakit kanker yang dideritanya yang butuh penanganan segera.


Myla sudah duduk di depan mama dan papanya, di kepalanya sudah mengantri berbagai pertanyaan, tetapi dia harus bisa menahan diri agar emosi tidak menguasainya lagi.


“Mama ingin beritahukan sesuatu kepada kalian, pertama tentang Satria dan Liany. Papa, Myla … Mama minta maaf kalau selama ini Mama gak jujur dengan kalian tentang Satria, sehingga membuat kalian salah paham, terutama Papa.”


Tante Katrin menarik napasnya perlahan, tiba-tiba sakit di kepalanya muncul lagi. Perempuan itu menahan rasa nyeri itu hingga tangannya terkepal dan gemetar.


“Satria Abimana, sebenarnya dia ….”


“Mama … kenapa Mama bisa mimisan? Mama sakit?!” seru Myla kaget melihat darah meleleh dari lubang hidung Tante Katrin.


“Katrin?! Kamu kenapa?” Om Rudy segera mengambil tisu di meja makan dan membersihkan darah yang semakin deras mengalir.


“Ini juga yang bikin kamu pingsan di kamar mandi tadi siang ‘kan?”


“Apa? Mama habis pingsan?!” seru Myla semakin panik.


“Mama gak apa-apa… kalian tenang aja, Mama cuma kelelahan, Mama….” Tante Katrin tidak dapat menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya lunglai dalam dekapan Om Rudy, kesadarannya hilang lagi dan membuat Om Rudy serta Myla seketika panik.

__ADS_1


__ADS_2