Di Atas Ranjang Om Rudy

Di Atas Ranjang Om Rudy
Bekerja sama dengan cinta


__ADS_3

Liany menatap gedung yang ada di depannya, sangat jelas sekali tertulis jika salah satu dari kantor di dalam sana adalah gedung kantor Sparkling ADV dan dia belum lupa jika Satria Abimana adalah owner dan sekaligus CEO dari perusahaan periklanan itu. Dibacanya sekali lagi alamat yang dikirim oleh Dora lewat pesan obrolan, dan memang sudah benar itu adalah alamat yang harus ditujunya bahkan memang letak daycare tak jauh dari gedung itu. Walaupun ragu Liany tetap melangkahkan kakinya menuju lobi kantor.


“Lia! Kesini!” seru Dora begitu gembira melihat Liany yang tiba tepat waktu.


“Dora, apa kamu kerja di Sparkling?” tanya Liany ragu. Gadis tomboy itu mengiyakan dengan wajah ceria.


“Pak Bos aku sendiri yang akan mewawancarai kamu, ayo aku antar ke ruangannya.” Dora melangkah cepat menuju lift dan mengantarkan mereka ke lantai lima belas kantor Sparkling.


“Naah, ini ruangan Pak Bos, kamu yang tenang yaa, Pak Bos memang kadang galak tetapi percaya aku, dia sebenarnya laki-laki yang baik banget. Aku ke ruanganku dulu yaa, mau siapkan laporan desainku.” Dora pun berlalu meninggalkan Liany mematung di depan pintu ruangan calon atasannya. Dia mengetuknya perlahan dan tentu saja suara yang sangat dikenalnya itu menyahut dari dalam sana.


“Se-selamat pagi, Pak,” ujar Liany dengan gugup, dilihatnya punggung Satria yang sedang membelakanginya.


“Selamat pagi, Liany, rupanya kita memang ditakdirkan untuk sedekat ini bukan?” Satria berbalik dan memberikan senyum terbaiknya untuk Liany.


“Sekarang kau tidak bisa menolak untuk bekerja denganku, bukan aku yang menawarinya tetapi anggota timku, Deborah yang ternyata teman lama kamu. Lihatlah cara takdir bekerja, apa kau tahu jika aku tinggal di depan rumahmu, blok A nomer 3?” papar Satria seakan penuh dengan kemenangan.


Kalimat itu membuat Liany semakin terkejut map berkas lamaran di tangannya sampai terjatuh dengan bibir tipis Liany yang lupa terkatup. Satria tertawa kecil, dia berjongkok mengambil map Liany yang terjatuh dan menarik lengan wanita itu untuk duduk di kursi depan meja kerjanya.


“Hah?!” Liany sampai tidak bisa berpikir seakan otaknya benar-benar kosong tak mampu mengelola informasi yang diterimanya.


“Jangan bengong gitu, entar kesambet aku yang bingung, Dora bakal bawa tim ritual exorcist katanya!” seru Satria sambil bercanda. Dia senang sekali atas kehadiran Liany yang tanpa bersusah payah lagi untuk dibujuknya, tiba-tiba saja dia sudah ada di kantornya ini menjadi sekretarisnya pula.


“Kok bisa kamu tetanggaan sama aku? Terus kenapa bisa Deborah jadi anggota tim kamu?” Liany masih saja terkejut dengan kenyataan yang terjadi dengannya dengan Satria, betapa takdir seakan sedang mengikat mereka berdua.


“Oh ya, bagaimana dengan Rangga? Apa dia tidak rewel dan bisa ditinggal?” tanya Satria serius, rindu selalu ada untuk bayi laki-laki yang tampan dan menggemaskan itu.


“Ini hari pertama tetapi sejak seminggu yang lalu aku sudah biasakan dia pakai botol dan aku harus memompa…,’ Liany berhenti, dia merasa tidak etis menyebut hal pribadi itu di depan Satria.


“Memompa?” Satria yang tidak mengerti lanjut mempertanyakan hal itu.


“Engh … Pumping ASI untuk Rangga karena dia tidak minum susu formula,” jawab Liany dengan canggung.


“Ouh … itu, o-oke baiklah. Kamu bisa memulai kerja hari ini kan?” Satria paham mengapa Liany tidak melanjutkan perkataannya dan terlihat canggung.


“Iya, bisa, saya bisa mulai kerja hari ini.” Liany mengiyakan dengan penuh percaya diri, Satria pun memberikannya daftar pekerjaannya dan menjelaskan apa-apa saja tugas yang harus dilakukannya. Bahkan meja Liany pun sudah di siapkan Satria berada di sudut ruangan. Setelah selesai menjelaskan Satria membiarkan Liany memulai pekerjaannya. Sudut bibir Satria tetap ingin menyunggingkan senyum, dia merasa sedikit lagi dia akan bisa masuk lebih jauh lagi ke dalam hidup Liany.

__ADS_1


Liany sesekali mencuri pandang pada Satria, melihat cara pria itu memainkan penanya, memuji hidung mancung tempat kacamatanya bertengger, juga pada rahang tegas yang membuatnya Satria terlihat sangat maskulin dan … tampan. Liany menggeleng untuk menghalau berbagai pikiran yang memenuhi kepalanya.


“Fokus … Lia … Fokus, kamu di sini untuk bekerja, untuk masa depan Rangga,” gumam Liany sambil menarik napas dan menghembuskannya lewat mulut perlahan. Satria melirik lagi ke arah Liany dengan ekor matanya. Dia tahu jika Liany mencuri-curi pandang kepadanya dan membuatnya merasa geli dan ingin tertawa sepanjang hari.


Waktu istirahat tiba, Satria meregangkan lengan serta jemarinya, dilepaskannya kacamata yang selalu setia menemaninya di depan komputer. Semantara Liany terburu-buru mengemas tas tangannya agar bisa segera menemui Rangga di Daycare.


“Lia, ayo kita makan siang bersama,” ajak Satria, dia ingin memangkas jarak yang dibuat Liany selama ini di antara mereka.


“Maaf, Sat eeh Pak, saya harus melihat Rangga dan memberikan ASInya lagi dan memastikan dia makan dengan baik di sana.”


“Baiklah, aku akan antar kamu ke sana, aku sudah tak sabar lagi ingin menemui Rangga, apa dia suka bonekanya?” Satria membukakan pintu untuk Liany dan mereka berjalan beriringan.


“Ku rasa Rangga sangat menyukainya, dia mengoceh pada boneka itu,” Liany tertawa kecil mengingat tingkah polah lucu bayinya.


Mereka berdua berjalan dengan saling tertawa akrab, beberapa orang melirik ke arah dua orang yang saling tertawa akrab itu. Serasi, mereka seperti pasangan yang dijodohkan dari surga, kesederhanaan penampilan Liany justru menjadi daya tarik sendiri di sisi Satria yang tinggi, tegap dan rupawan.


“Co, pinjam motor kamu bentar, aku sama Liany mau ke ujung pertokoan sana,” Satria baru saja melihat Chico memarkir motornya, bawahannya cukup kaget melihat Satria dan seorang perempuan di sampingnya yang jelasnya bukan Myla yang selama berbulan-bulan ini menempel padanya atau pasangan cinta semalamnya yang kadang berpakaian kurang bahan.


Chico menyerahkan kunci motornya tanpa banyak tanya, hanya matanya saja menyelidik dengan sosok baru di sisi Satria.


“Co, kamu belum tahu ya kalau Liany ini sekretaris baru kita di kantor?” Seakan bisa membaca pikiran Chico Satria bertanya pada Chico yang memandangi Liany.


“Liany, mohon bantuannya ya,” jawab Liany dengan sopan sambil menjabat tangan Chico.


“Udah, ayo naik, buruan!” perintah Satria yang sudah menyalakan mesin motor. Liany melemparkan senyum pada Chico dan duduk dengan baik.


“Pegangan! Aku gak mau kamu jatuh,” lanjut Satria.


“Iya, aku ini udah pegangan, Sat, lagian tempatnya juga dekat kok, gak jauh-jauh amat!” seru Liany.


Keduanya pun berlalu meninggalkan pelataran parkir dan membuat Chico termangu melihat adegan terakhir itu.


“Lho, Liany kok cepat amat panggil Pak Bos cuma pake nama doang?” gumam Chico yang akhirnya memilih segera masuk ke dalam gedung perkantoran itu.


Satria mengikuti langkah Liany yang menuju bagian dalam ruangan daycare yang khusus untuk anak-anak bayi. Saat itu Rangga baru saja terbangun dan Liany memberikan botol ASI yang sudah disiapkannya. Namun bayi itu malah berceloteh riang saat melihat Satria muncul.

__ADS_1


“Ouuh hooo… My Boy! Gembira yaa liat Papa Satria datang?” Satria mengambil Rangga yang tertawa-tawa ingin menggapainya.


“Sini-sini Jagoanku, aaah … iya aku juga sangat merindukanmu, my Boy,” bisik Satria kemudian mencium pipi Rangga dalam-dalam. Bayi itu semakin tertawa karena merasa geli. Liany hanya memandangi Satria yang sibuk mengobrol dengan Rangga.


“Waah pantesan anaknya ganteng, papanya aja ganteng gitu,” bisik pengasuh yang memegang Rangga setengah hari ini.


“Iya, astaga hidungnya kayak babang Lee Min Ho, tapi mamanya juga cantik, sederhana tapi gak bikin bosan ngeliatnya,” bisik perempuan muda lainnya.


Liany memilih pura-pura tak mendengar. dan mendekati Satria yang sibuk meladeni celotehan dan teriakan kecil Rangga.


“Biarkan Rangga minum susu dulu, Sat, sini!” pinta Liany yang sudah siap dengan sebotol susu ASI-nya.


“Yaaah … Jagoan harus minum susu dulu, nanti Papa Satria ajak main lagi, sepulang mama kerja Papa jemput Rangga ya!” seru Satria sambil menciumi perut Rangga, kemudian menyerahkannya pada Liany. Bayi itu menyusu dengan lahap sambil memandangi wajah Liany dan bergantian pada Satria. Sepintas mereka terlihat seperti keluarga muda yang bahagia dan membuat para pengasuh di ruang bayi menjadi iri melihat pasangan itu.


“Di samping sini ada rumah makan, kita makan siang sama-sama ya?” ajak Satria setelah mereka keluar dari tempat penitipan anak itu.


“Aku bawa bekal, ada di kantor,” jawab Liany pendek. Sebagai seorang perempuan dengan predikat janda Liany membatasi dirinya di tempat umum seperti ini.


“Kalau begitu aku akan beli makanan dan kita makan sama-sama di kantor nanti, ayo!” tanpa persetujuan Liany, Satria menarik menarik tangan Liany dan menggenggamnya erat.


“Satria … gak usah ditarik-tarik gini dong, Sat!” Liany berusaha melepaskan tangannya yang dipegang erat Satria.


“Gak mau, entar kamu lepas dan hilang!” ujar Satria sekenanya. Liany memandang ke sekeliling mereka, toh tak ada juga memperhatikan dirinya.


Satria menyuruh Liany duduk ketika Satria memesan makanan. Juga minuman untuk mereka bawa ke kantor. Tak lama berselang mereka sudah kembali ke kantor dan makan bersama di meja. Liany menyiapkan makan siang satria kemudian menyiapkan makannya sendiri.


“Lia, untuk tiga hari ke depan ini kamu bisa pulang lebih awal, aku kasihan sama Rangga, dia belum pernah jauh-jauh sama kamu dan–”


“Terima kasih, biarkan aku menjalani kehidupanku, kamu gak perlu khawatir, aku dan Rangga harus terbiasa dengan keadaan ini.” tukas Liany cepat. Dia tidak ingin dikasihani lagi oleh siapapun, dia harus bisa berjuang sendiri, membesarkan dan merawat putranya seorang sebaik mungkin.


“Dan tolong, jangan buat orang lain salah paham dengan menyebutmu sebagai Papa di depan hadapan orang lain. Kamu pria lajang dan bukan ayah dari anakku, kau bisa menikahi gadis lain lain dan memiliki anakmu sendiri.” Liany menekankan nadanya pada kata gadis agar Satria paham dengan status Lainy.


“Apa aku harus perjelas untuk kesekian kalinya jika Rangga sudah menjadi bagian dari hidupku, kau janda, tidak terikat dengan siapapun dan aku bisa menikahimu, bohong jika dalam kurun waktu enam bulan ini aku tidak menyukaimu, Liany.”


Hari pertama Liany bekerja dengan Satria bukan dipusingkan dengan urusan adaptasi pekerjaan melainkan ajakan menikah laki-laki yang baru satu hari jadi atasannya itu. Liany memegang pelipisnya dan melanjutkan makanannya sama dengan satria yang menikmati makanannya dengan perasaan yang tidak bisa lagi digambarkannya dengan kata-kata.

__ADS_1


“Biarkan aku bekerja dulu, menikmati hidupku yang baru selepas dari rumah Tante Katrin, Sat.”


“Tentu saja dan aku akan selalu mendukungmu bersama Rangga,” ujar Satria dengan tulus kepada Liany.


__ADS_2