Di Atas Ranjang Om Rudy

Di Atas Ranjang Om Rudy
Simpul hati


__ADS_3

Myla mengantarkan Demian kembali ke kantor Satria setelah menemaninya makan siang. Gadis itu sangat menyesali kecerobohannya yang akhirnya banyak menyita waktunya untuk mengurus pria yang ditabraknya.


“Dem?! Lho kamu kenapa?” Chico yang melihatnya lebih dulu terkejut ketika Demian tiba di kantor dengan lengan yang dibebat dan digantung.


“Hanya sedikit kecelakaan saja, Myla membantuku ke rumah sakit. Presentasi dengan klien bagaimana?” tanya Demian yang mengingat tugasnya bersama Satria.


“Pak Bos belum pulang tuh, Dora tadi nyusul di panggil sama Pak Bos. Beberapa hari ke depan kita akan semakin sibuk karena ada beberapa klien baru, aku harap kamu cepat sembuh, Dem.”


“Ini hanya sedikit terkilir, paling beberapa hari sembuh. Seseorang berjanji akan menjagaku dengan baik,” ujar Demian sambil melirik Myla yang berpura-pura tidak mendengarnya.


“Mas Demian saya—“


“Kita sudah sepakat saat makan siang tadi, bukan?” potong Demian cepat.


“Ouh yaa, maaf saya lupa, Demian, saya akan kembali ke kantor, jika harus kembali ke rumah sakit lagi hubungi saya ya, saya tidak ingin terlihat tidak bertanggung jawab di mata Mas Satria. Saya permisi.”


“Baiklah, hati-hati di jalan dan jangan sampai menabrak orang lagi,” canda Demian yang membuat Myla menjadi sedikit memberengut. Demian tersenyum tipis karena dengan begitu Myla terlihat lebih menggemaskan.


“Wooy! Nyadar diri dooong … dia itu cewek kelas atas, mana mau sama laki-laki kelas menengah kayak kita-kita ini, cocoknya emang sama Pak Bos dia tuh!” seru Chico yang melihat Demian mematung menatap gadis itu yang semakin menjauh dan menghilang di luar lobi kantor. Sebuah gulungan kertas mendarat dengan keras di kepala Demian yang membuat pemuda itu tersadar.


“Apaan sih? Kali aja jodoh, mau dia seorang putri kerjaan dan aku cuma kusir kereta kencananya kalo jodoh pasti bakal nikah juga!” Demian mengusap kepalanya yang tidak terasa sakit.


“Mimpi kau kejauhan!” ejek Chico dan tertawa kecil. Namun, di dalam hatinya dia tidak serius dengan kata-katanya karena dia tahu persis siapa Demian sebenarnya dan bagaimana akhirnya Demian terdampar di perusahaan milik Satria. Hanya Satria dan dirinya saja yang tahu latar belakang Demian yang sesungguhnya.


Myla baru saja memutar mobilnya keluar dari parkiran ketika dia melihat mobil Satria berhenti. Gadis itu masih ingin menyapa Satria tetapi urung dilakukannya karena dari mobil keluar dua orang perempuan. Salah satunya adalah Dora, bawahan Satria dan …


“Liany…? Kenapa dia bisa ada bersama mereka?” gumam Myla yang terkejut melihat sepupunya ada di antara Satria dan Dora. Bahkan mereka terlihat sangat akrab dan saling melemparkan tawa. Cara Satria tertawa dan menyentuh Liany membuat Myla merasa cemburu, ada kabut di matanya yang terasa perih. Dengan kesal Myla akhirnya menginjak gas dalam-dalam agar segera meninggalkan gedung itu dengan cepat.


Tante Katrin terasa letih hari ini dan pulang lebih cepat ke rumah. Akhir-akhir ini dia merasakan ada yang berbeda dengan suaminya. Om Rudy terasa lebih dingin dan tak banyak bicara serta menghabiskan waktunya berada dalam ruang kerjanya. Entah apa yang terjadi karena setiap kali Tante Katrin memancingnya untuk berbicara Om Rudy tidak mau menjawab. Perempuan paruh baya itu mengendarai sendiri mobilnya pulang tetapi ketika hampir sampai dia melihat mobil suaminya justru berbelok ke arah lain dan tidak menuju rumah mereka.

__ADS_1


Perasaan Tante Katrin terusik lalu mengikuti kemana mobil Om Rudy pergi. Diam-diam dia membuntuti mobil suaminya. Tante Katrin merasa jika jalan ini adalah arah ke perumahan Liany. Diambilnya ponselnya untuk menelpon suaminya.


“Lho ini kan ke rumah Liany? Mau apa Papa ke sana?” gumam Tante Katrin. Mobilnya diparkir cukup jauh tetapi masih bisa melihat mobil Om Rudy berhenti tepat di depan rumah Liany.


“Mau apa si Papa ke sini?” Tante Katrin menekan tombol cepat panggilan untuk suaminya. Dia harus menunggu beberapa saat agar Om Rudy menerima panggilannya.


“Papa masih di kantor gak? Mama mau pulang lebih awal nih, kita makan malam di luar yuk?” ajak Tante Katrin basa-basi.


“Papa masih di kantor dan mungkin Papa bakal lembur, ada laporan yang masih belum selesai dari divisi lain,” jawab Om Rudy yang menerima telepon dari depan pagar rumah Liany.


“Ouh ya udah lain kali aja kita makan malamnya. Jangan lupa makan tepat waktu ya, Pa. Bye.” Tante Katrin menutup telponnya. Dia tak menyangka jika suaminya akan berbohong di depan matanya sendiri.


Perasaan Tante Katrin semakin kacau, alarm di hatinya berbunyi jika Om Rudy sedang tidak baik-baik saja. Segera dia memutar mobilnya sebelum suaminya melihatnya ada di sekitar rumah Liany juga.


Tante Katrin mengeringkan rambutnya dan duduk di depan meja riasnya yang besar. Kepalanya masih dipenuhi dengan segala prasangka atas suaminya. Hatinya sama sekali tidak bisa menerima kecurigaan yang hadir di kepalanya.


“Jangan … jangan sampai ini terjadi, aku gak akan bisa bertahan jika suamiku berkhianat, jangan sampai hatinya telah terbagi dengan perempuan lain, aku gak akan bisa….” desis Tante Katrin dengan mata yang berkaca-kaca. Digenggamnya gagang sisir itu kuat-kuat hingga tangannya gemetar.


Liany baru saja turun dari taksi bersama Rangga dan terkejut melihat mobil Om Rudy terparkir di depan rumahnya. Rangga sedang tertidur dalam gendongannya dan berjalan pelan menghampiri Om Rudy yang tengah berdiri menunggunya di depan pagar rumah.


“Om … Apa yang Om lakukan di sini?” Liany membuka pagar dan mempersilakan Om Rudy untuk masuk. Melihat Liany kerepotan menggendong Rangga, Om Rudy mengambil bayi itu dari gendongan Liany dan menunggu perempuan itu membuka pintu. Om Rudy masuk langsung ke kamar Rangga dan meletakkan bayi itu dengan hati-hati di boxnya.


“Ada perlu apa Om kemari? Kenapa Om cuma sendirian, mana Tante Katrin?”


“Liany, tolong, aku kesini hanya ingin menemui, aku hanya ingin membahas kita berdua saja,” jawab Om Rudy sambil mendekati Liany.


“Om, Liany juga minta tolong, berhenti temui Lia seperti ini, Tante Katrin dan Myla akan salah paham.”


Om Rudy menghela napas, diperhatikannya sejenak penampilan Liany yang berbeda sekarang ini.

__ADS_1


“Kamu bekerja di suatu tempat?” tanya Om Rudy lagi.


“Iya, Om. Saya sekarang bekerja di perusahaan periklanan, tidak jauh dari sini. Di dekat kantor saya ada tempat penitipan anak jadi saya bisa membawa Rangga bekerja.”


“Kasihan bayimu jika harus kau bawa seperti itu tiap hari, Lia. Berhentilah bekerja, Om akan biayai semua kebutuhanmu, apapun itu.”


“Dan Lia harus menjadi simpanan, Om, begitu?” tanya Liany dengan sinis sambil melipat tangan di dadanya.


“Simpanan? Aku tidak menghargaimu serendah itu, Lia! Aku tidak menganggap sebagai wanita simpanan, Lia, aku mencintaimu dan kau setara dengan Katrin. Biarkan aku menikahimu dan memenuhi segala kebutuhanmu, kau dan Rangga sudah menjadi bagian dari hidupku, biarkan Rangga menjadi putraku juga.”


“Cukup Om! Hentikan semua yang mengada-ada ini, Om tidak pantas bersikap seperti ini, saya menghargai Om seperti paman saya sendiri, ayah bagi Myla!” seru Liany yang mulai terlihat marah.


Om Rudy menghela napasnya panjang, dia tak menyangka jika Liany akan sekeras ini menolaknya. Namun, dia tidak ingin menyerah sekarang, sudah terlanjur dia melangkah seperti dulu dia meluluhkan hati Katrin kini dia ingin juga agar Liany bisa menerima cintanya.


“Saya ingin beristirahat, Om, tolong pulanglah, kembali ke Tante Katrin dan Myla. Tolong Om, jangan buat mereka salah paham atas saya.” Liany melangkah menuju pintu dan membukakannya untuk Om Rudy lebar-lebar.


“Aku harap suatu hari kau mengerti dengan perasaanku Lia, jaga diri kamu baik-baik.” Om Rudy melangkah keluar dengan perasaan yang gamang. Lagi-lagi sikap Liany membuat dadanya terasa nyeri. Entah bagaimana caranya lagi esok hari untuk menaklukan hati perempuan muda itu.


Mobil Satria terdengar dari arah seberang rumahnya. Liany melirik jam dinding, tetangga sekaligus Pak Bos-nya itu pulang agak larut malam. Saat menutup pagar Satria melihat sejenak ke rumah Liany, lampu ruang depan rumah itu sudah padam tanda Liany sudah beristirahat. Namun, di dalam kamar perempuan itu tidak dapat memejamkan matanya. Segala tentang Om Rudy membuatnya tidak bisa tidur. Ingin rasanya dia pergi sejauh mungkin tetapi dia tak tahu harus kemana dan apakah nanti dia bisa mendapat pekerjaan yang layak seperti di Sparkling.


Liany tidak bisa membayangkan jika Tante Katrin akan salah paham padanya sementara di dalam hati Liany tidak ada niat sedikitpun untuk merusak rumah tangga kerabat ibunya itu. Tiba-tiba ingatannya tertuju pada mendiang suaminya, Adam.


“Mas Adam, aku harus bagaimana? Aku harus bagaimana menghadapi semua ini? Aku bingung….” Liany menggigit bibirnya, dipeluknya bantal guling itu dengan erat. Matanya yang basah tertuju pada boneka super hero yang dibelikan satria untuk Rangga tempo hari.


“Mas, apakah kau bisa merelakan aku untuk menerima Satria sebagai pendampingku dan ayah sambung Rangga? Dia menyayangi anak kita, dan Rangga senang bersamanya. Apa aku bisa menerima dia sebagai suamiku?” tanya Liany dengan air matanya yang meleleh.


“Aku takut jika cinta Satria yang besar untukku menghapus cintamu dalam hatiku, karena aku pun mulai jatuh cinta padanya, maafkan aku Mas….” Liany terisak hingga tak terasa dia jatuh tertidur. Di dalam mimpinya sosok mendiang suaminya hadir dan membuat Liany tersenyum, ada jawaban yang dijawabnya lewat mimpi itu.


“Berbahagialah Liany, kalian akan baik-baik saja dengannya.” Suara Adam terdengar nyata di telinga Liany dan membuat perempuan itu terbangun dari tidurnya begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2