Di Atas Ranjang Om Rudy

Di Atas Ranjang Om Rudy
Dua hati patah


__ADS_3

“Kenapa mendadak begitu mau pindah Lia?” tanya Tante Katrin dengan dahi berkerut. Sekilas ekor mata Liany melirik om Rudy kemudian dia menunduk lagi berbicara kepada Tante Katrin.


“Sebenarnya rencana ini sudah lama, Tante, Lia hanya menunggu Rangga sudah bisa MP-ASI supaya Lia bisa bekerja. Maaf, Tante kalau saya tidak ngomong sebelumnya, tadinya setelah dapat rumah atau kamar sewa baru Liany mau ngomong sama Tante.”


“Aduuuh Lia, kenapa harus pindah sih? Kami gak pernah keberatan loh kamu tinggal di sini, malah senang karena ada kamu dan Rangga.” Tante Katrin mendekati Liany dan mengusap-usap bahunya lembut.


“Sudah waktunya Lia mandiri, Tante. Biar Liany berjuang untuk membesarkan Rangga dengan tenaga dan keringat Lia sendiri,” jawab Liany yang masih menunduk. Terdengar helaan napas panjang dari om Rudy yang tak jauh dari mereka.


“Biar Papa nanti yang carikan Lia rumah ya, Ma, paling tidak kita bisa carikan rumah tinggal yang layak untuk Rangga.” Usul om Rudy membuat Liany dan Bi Inah saling pandang.


“Baru aja Mama mau bilang gitu ke Papa, ya udah Papa yang carikan, nanti kita bantu Lia pindahan. Tetapi Lia, kamu mau kerja apa, Nak? Kamu sudah ada rencana?” tanya tante Katrin kali ini dia duduk di kursi makan sambil menunggu Liany berbicara.


“Selama ini Lia mencari peluang di internet, mungkin Lia akan berjualan makanan saja dengan sistem pesan antar, Tante. Melayani catering dan kue-kue,” jawab Liany.


“Kenapa kamu gak kerja di kantor kami saja, kamu bisa pilih mau kerja di mana, kantor Om, Tante atau kantor Myla, Lia.” Kali ini om Rudy kembali berbicara, sungguh di dalam hati kecilnya dia tidak ingin Liany keluar dari rumah ini, kejadian siang tadi adalah kekhilafannya. Dalam hati dia berjanji tidak akan berbuat seperti itu lagi pada Liany.


“Tidak, terima kasih, Om, biarkan saya memulai usaha saya sendiri dari nol, saya tidak ingin merepotkan keluarga Om dan Tante lagi.” Nada tegas terdengar dari Liany. Kali ini dia menatap om Rudy seakan menantang karena kecewa dengan apa yang telah dilakukan lelaki itu.


“Baiklah, Sayang, jika itu keputusanmu, kami hanya bisa mendukung kamu, tetapi jika di luar sana kau sedang kesulitan dan butuh bantuan, jangan ragu untuk datang ke rumah kami ya,” ujar Tante Katrin dengan senyumnya yang lebar.


Tante Katrin melihat Liany seperti dirinya yang dulu, terbuang sendirian dan harus bertahan. Satu-satunya kerabatnya yang selalu menolongnya adalah Lily, ibunya Liany. Namun, hidupnya berubah ketika dia menemukan cinta sejatinya pada om Rudy. Bukan hanya sekedar mendapat limpahan cinta tetapi Tante Katrin juga berhasil meraih kesuksesan dengan harta yang banyak. Kini dia ingin membalas kebaikan mendiang Lily dengan membantu Liany meskipun perempuan itu menyadari jika Liany sudah merasa sangat sungkan terlalu lama bersama mereka.


Om Rudy menelpon beberapa orang untuk meminta mencarikan rumah sewa yang sederhana untuk Liany, dirinya bisa saja membelikan sebuah rumah lengkap dengan isinya untuk perempuan muda itu. Namun, sudah pasti hal itu akan ditolak oleh Liany sehingga dia membantu mencarikan rumah sewaan saja yang akan dibayarnya penuh selama setahun. Bawahan om Rudy pun mengiyakan perintahnya dan berjanji akan segera memberikan beberapa pilihan rumah sewa yang nyaman dan strategis.

__ADS_1


Tante Katrin melirik jam dinding, tangannya menggenggam remot TV, meskipun pandangannya mengarah pada benda itu tetapi perhatiannya ada pada Myla yang belum juga pulang. Sementara suaminya sudah tertidur pulas karena obat demam yang diminumnya. Baru saja Tante Katrin hendak mengambil ponselnya untuk menelpon putrinya, suara deru mobil Myla terdengar masuk ke garasi. Tante Katrin menunggu agar Myla masuk lebih dulu untuk bertanya kepadanya. Firasatnya jika putrinya sedang tidak baik-baik saja terlihat dari tampang Myla yang kusut dan mata yang bengkak.


“Kok Mama belum tidur? Biasanya jam segini Papa yang masih nonton TV,” tegur Myla yang melihat tante Katrin yang menunggunya di ruang tengah.


“Mana Mama bisa tidur kalo jam segini kamu baru pulang? Papa lagi sakit, tadi badannya panas. Kamu dari mana Myla?” Tante Katrin mendekati Myla yang duduk di kursi meja makan sambil meminum segelas air dingin.


“Astaga Myla, kenapa baju kamu bau minuman, hah? Kamu habis minum-minum?!” Jika tidak ingat suaminya yang sedang sakit mungkin suara tante Katrin terdengar keras.


“Myla udah dewasa yaa, Ma, Myla berhak menentukan apa yang Myla mau lakukan!” seru Myla sambil meletakkan gelas dengan kasar.


“Heeey! Sejak kapan kamu bicara seperti itu dengan Mama? Kamu ada apa?” Tante Katrin terkejut melihat respon Myla.Gadis itu hanya mampu memalingkan wajahnya, air matanya kembali merebak dan dihapusnya dengan cepat. Tante Katrin melihat itu lalu seketika memeluk putrinya erat dan hangat. Perlakuan mamanya yang begitu penuh kasih membuat Myla menjadi menangis terisak dalam pelukan Tante Katrin.


“Maafkan Myla, Ma, Myla gak bermaksud kurang ajar sama Mama,” ujarnya di tengah isak tangisnya.


“Myla jatuh cinta dengan laki-laki itu, Ma. Enam bulan ini Myla menyimpan perasaan Myla hingga siang tadi Myla mengatakan jika Myla mencintainya. Dia menolak Myla, katanya dia hanya menganggap Myla adik. Jika hanya menganggap Myla adiknya kenapa dia begitu baik kepada Myla, Ma? Dia selamatkan Myla di club, membantu pekerjaan Myla, menemani Myla saat Myla merasa kesulitan, dia nyaris tak pernah menolak jika Myla butuh sesuatu, tetapi kenapa dia bilang jika dia mencintai perempuan lain? Myla gak bisa terima, Ma!” Emosi Myla kembali pecah, Tante Katrin berusaha menenangkannya, mungkin sulit bagi Myla menerima sebuah penolakan karena dia adalah putri tunggal yang selalu menjadi prioritas kedua orang tuanya dan pimpinan kantor.


“Siapa laki-laki itu?” tanya Tante Katrin yang merasa telah melewatkan masa-masa di mana Myla sedang jatuh cinta. Kesibukannya membuat dia tidak menyadari jika putrinya sedang kasmaran.


“Satria Abimana, owner dari Sparkling, laki-laki yang dulu pernah menyelamatkan Myla di klub,” jawab Myla dengan sedikit tenang.


Kaki Tante Katrin seakan kehilangan kekuatan mendengar itu, dirinya seketika merasa sangat bodoh dan merasa bersalah karena tidak menyelidiki semua itu. Putrinya telah jatuh cinta pada kakaknya sendiri dan itu adalah kesalahan Tante Katrin yang selama ini menyembunyikan rahasianya tentang Satria. Siapa yang menyangka jika memang dunia ini sempit, Satria pernah menolong Liany lalu menolong Myla yang berakibat Myla menjadi dekat dengan Satria kemudian jatuh cinta kepadanya.


Paling tidak Tante Katrin bersyukur Satria masih bersikap baik pada Myla, meskipun Satria kasar kepadanya tetapi kepada adiknya dia bisa menjaganya dengan baik. Mata Tante Katrin basah, Myla begitu terluka dan itu bukan salah Satria juga bukan salah Myla. Entah sampai kapan rahasia ini akan tersimpan dan bertahan karena Satria pun tidak mengungkapkan kebenarannya kepada Myla. Dia hanya mengatakan jika putranya itu mencintai perempuan lain.

__ADS_1


“Myla Sayang, ayo istirahat dulu ya, tenangkan dirimu kamu dulu, ayo bersihkan dirimu. Mama tidak mau Papa tahu kalau kamu sampai menyentuh minuman keras, Papa bakal kecewa. Minuman keras tidak akan membantumu pulih dari rasa sakit, ayo, Sayang.” Tante Katrin meminta Myla berdiri dan membimbingnya masuk ke kamar. Dia menunggu sampai putrinya selesai membersihkan diri dan berganti baju. Tante Katrin menemani Myla berbaring di ranjang, memeluknya dengan penuh kasih sambil mengusap kepala putrinya. Sudah lama dia tidak melakukan hal itu dan tiba-tiba saja Myla sudah menjelma menjadi gadis dewasa. Tante Katrin pun akhirnya tertidur bersama Myla hingga menjelang pagi.


Selama lebih enam bulan Satria di kota Itu, Tante Katrin beberapa kali memintanya bertemu. Namun, hanya beberapa kali pertemuan saja yang diiyakan oleh Satria. Kali ini Tante Katrin datang tanpa pemberitahuan ke rumah kontrakan Satria. Waktu memang masih pagi tetapi Tante Katrin merasa harus bertemu dengan putranya itu segera. Lalu di sinilah dia mengetuk pintu rumah Satria. Tangannya ada seporsi bubur ayam untuk Satria sarapan. Entah Satria akan menerimanya atau tidak yang penting dia sedang berusaha.


Satria membuka pintu, tampangnya terlihat segar dan tidak seperti orang yang baru bangun, tetapi tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya melihat Tante Katrin datang ke rumahnya.


“Sepagi ini?” tanya Satria tetapi dia tetap saja membukakan wanita itu pintu rumahnya.


“Aku ingin membicarakan hal penting, tentang adikmu Myla.” Tante Katrin meletakkan bubur ayam itu di meja dan membukanya untuk Satria. Pemuda itu hanya melanjutkan meminum kopinya sambil menatap ke arah laptopnya.


“Aku sudah menolaknya, putrimu harus tahu kebenarannya tetapi bukan dari aku tetapi dari ibunya sendiri.” Cara bicara Satria masih ketus seperti biasanya, tetapi bagi Tante Katrin tidak ditolak untuk masuk ke rumahnya atau menyuruhnya pergi adalah suatu kemajuan dalam hubungan mereka.


“Aku berterima kasih karena kau masih menutupi hal ini dari Myla dan–”


“Sampai kapan kau akan membohongi dunia, Nyonya Katrin? Myla sudah menjadi korbanmu, apa harus menunggu korban berikutnya lagi?” Satria menghentikan pekerjaannya sejenak sambil menatap tajam ke arah ibunya. Tante Katrin tak mampu menjawab, tetapi untuk mengatakan kebenaran itu rasanya dia tak sanggup. Suaminya hanya tahu jika dia seorang janda yang nestapa tanpa anak, Tante Katrin tak sanggup membayangkan reaksi suaminya kelak jika tahu tentang rahasia ini.


Liany sedang menyuapi Rangga di teras samping rumah, celotehan Rangga terdengar begitu menggemaskan. Tanpa disadarinya Om Rudy sudah berdiri tak jauh dari mereka dan berjalan mendekati Liany.


“Om, mau minta maaf atas kejadian kemarin, Lia. Om khilaf, jika itu alasanmu untuk keluar dari rumah ini, Om benar-benar minta maaf.” Kalimat yang didengar Liany itu membuatnya tangannya berhenti di udara saat hendak menyuapi Rangga.


“Iya tidak apa-apa, Om.” Liany kembali melanjutkan menyuapi Rangga, anak kecil itu tertawa-tawa melihat Om Rudy yang berdiri di samping mamanya.


“Om sudah menemukan rumah yang tepat untukmu dan Rangga, kau bisa menempatinya kapan saja kau mau.” Om Rudy merasa seperti ada yang patah di balik dadanya, berat untuk melepas perempuan itu pergi. Om Rudy merasa tengah patah hati.

__ADS_1


__ADS_2