
Satria sudah sangat fasih menggendong Rangga, orang-orang yang melihat mereka pastinya tidak akan menduga jika mereka sama sekali tidak memiliki pertalian darah meskipun wajah mereka mirip. Kedekatan mereka sudah terjalin pada keduanya, Rangga sudah sangat mengenali Satria yang selalu menemaninya di waktu senggang Satria. Mata Rangga akan berbinar-binar dan tangan kecilnya akan menggapai-gapai ke arah Satria jika mereka bertemu.
Sebuah taman kecil yang asri tak jauh dari perumahan itu tempat ketiganya bertemu. Liany akan membawa Rangga di saat Liany akan berbelanja kebutuhan dapur atau rumah juga kebutuhan Rangga. Sebenarnya Liany agak sungkan untuk bertemu dengan laki-laki yang bukan siapa-siapa Liany. Mereka hanya dekat sebagai teman saja, tetapi perempuan itu melihat ada kasih sayang besar di mata Satria untuk Rangga. Walaupun, di rumah om Rudy laki-laki itu juga memberikan perhatian dan kasih sayang yang sama besarnya.
“Halooo Anak Tampan, sini… sini… Om gendong!” seru Satria ketika Liany dan Rangga mendekat. Di tangan Liany ada beberapa kantong belanjaan termasuk popok Rangga. Terkadang Satria berusaha untuk membantu keuangan Liany demi Rangga tetapi Liany menolak dengan tegas. Dia tak ingin lagi menambah rasa sungkannya yang telah lebih dulu ada pada keluarga tante Katrin dan om Rudy.
“Aku akan mencari pekerjaan, Sat.” Liany meneguk segelas minuman dingin yang dibelikan Satria dari samping taman. Satria yang tengah menimang-nimang Rangga terhenti dan memandang sejenak ke arah Liany.
“Kamu mau kerja apa? Terus Rangga gimana?” Satria beralih memandangi bayi Rangga yang sedang tertawa-tawa kepadanya.
“Aku punya ijazah diploma sekretaris dan sedikit pengalaman kerja. Aku juga akan cari kontrakan dan sewa baby sitter untuk Rangga.” Tatapan Liany kosong pada kolam kecil di tengah taman hatinya sedang gundah dia merasa ada yang aneh dengan sikap om Rudy akhir-akhir ini.
Satria menciumi pipi Rangga dengan gemas, dan menimang-nimangnya sehingga bayi enam bulan itu terasa tenang dalam gendongan Satria.
“Ini sudah terlalu lama, bahkan Rangga sudah enam bulan sekarang, dia sudah mulai makanan pendamping ASI jadi kupikir dia sudah bisa aku tinggal bekerja.”
“Bagaimana andai kau menikah saja denganku?” tawar Satria dengan serius. Liany nyaris tersedak minumannya mendengar tawaran Satria.
“Jangan bercanda, kita hanya berteman, aku ini janda dengan satu anak, yatim piatu pula!” tolak Liany dengan keras. Satria tertawa kecil melihat wajah Liany yang tiba-tiba merona merah.
“Tapi kenapa wajahmu sampai memerah seperti itu, Mamanya Rangga?” goda Satria yang membuat Liany menjadi salah tingkah. Sudah enam bulan lebih mereka saling mengenal tetapi kali baru kali ini Satria benar-benar membuatnya seperti hendak terserang demam.
“Dan apa salahnya dengan status jandamu itu serta bonus bayi yang lucu dan menggemaskan ini? Ayolah kita menikah saja,” bujuk Satria dengan mimik wajah yang lucu.
“Aku mau pulang, sudah waktu Rangga tidur,” tukas Liany cepat dan hendak mengambil Rangga dari gendongan Satria.
“Eeitss … Rangga kan masih mau main, iya kan Boy? Main sama Papa Satria kan?” goda Satria lagi. Liany merasa wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus, dia merengut karena Satria menghindarinya untuk mengambil Rangga. Kekehan terdengar dari Rangga karena diayun-ayun oleh Satria, lelaki itu semakin tertawa lebar melihat bayi lucu mengeluarkan suara yang terdengar lucu.
__ADS_1
“Berikan Rangga padaku, sat, aku mau pulang!” seru Liany sambil mengejar Satria yang membawa Rangga menjauh. Mereka terlihat seperti sepasang suami istri yang ingin rebutan anak dengan lucunya. Satria pun mengalah, dia menyerahkan Rangga setelah puas menciumi wajah bayi itu.
“Kalau kamu memang mau bekerja, aku bisa masukkan kamu ke tempat kerjaku. Aku bisa mengatur waktu yang fleksibel untukmu supaya Rangga tidak kamu tinggal lama-lama.” Nada suara Satria lebih serius kali ini. Liany belum menanggapinya, dia tahu jika Satria memiliki sebuah perusahaan besar periklanan dan dia memegang satu di kota ini.
“Lia, aku serius, tolong pertimbangkan tawaranku,” cekal Satria pada lengan Liany.
“Aku belum terpikirkan untuk menikah, Satria!” sentak Liany kesal tetapi justru membuat Satria tertawa semakin keras.
“Heey … kamu kepikiran ajakanku untuk menikah ya?” tanya Satria setelah tawanya mereda.
“Aku itu menawarkan pekerjaan, Mamanya Rangga tapi kalo kamu pertimbangkan untuk menjadi istriku maka aku akan sangat bersyukur, jadi aku bisa dekat dengan Rangga kapan saja yang aku mau,” lanjut Satria serius. Penuturan Satria semakin membuat Liany salah tingkah dan hampir saja meninggalkan sekatung besar belanjaannya.
“Liany, tunggu!” Satria mengejar mama muda itu dengan belanjaan di tangannya.
“Apalagi siih?” gerutu Liany, rasanya dia ingin cepat-cepat menghilang dari hadapan laki-laki itu. Wajahnya semakin tertekuk ketika Satria melayangkan senyumnya.
Suasana rumah sepi, bi Inah sedang mengunjungi anaknya sementara Myla belum pulang dari kantor juga tante Katrin yang kesibukannya semakin menjadi. Setelah mengganti baju Rangga dan memberinya ASI bayi itu sudah tertidur dengan pulas. Liany menuju ruang tengah untuk melihat keadaan, ruang kerja om Rudy terlihat setengah terbuka dan Liany mencoba mencari tahu apa laki-laki itu ada di dalam sana. Liany tercenung, dilihatnya sosok om Rudy sedang terbaring di sofa dengan tumpukan kertas yang masih dipegangnya di dadanya. Pelan-pelan Liany mengambil tumpukan kertas itu dan menaruhnya di meja.
Hampir tanpa suara Liany berjalan di dalam ruangan itu, di ujung kaki om Rudy ada selimut yang biasa dipakainya. Hati-hati dia menutupi om Rudy dengan selimut yang hangat dan lembut itu. Tanpa sengaja Liany menyentuh kaki om Rudy yang terasa dingin. Baru saja Liany hendak meninggalkan ruangan itu tiba-tiba tangan om Rudy mencekal lengannya dan menariknya ke dalam pelukan laki-laki itu.
“Kau dari mana saja, Kat?” tanya om Rudy tanpa membuka matanya. Liany terkejut, baru kali ini om Rudy bersikap tak wajar seperti ini dan membuat wajahnya pucat.
“Om… sa… saya Lia, Om…!” seru Liany dengan sangat gugup. Pelukan Om Rudy begitu kuat sehingga sulit dirinya melepaskan diri.
Spontan Om Rudy membuka matanya dan melepaskan pelukannya. Bahkan pipinya sudah menyentuh pipi Liany yang terasa panas oleh perempuan itu. Perlahan Liany melepaskan diri dan meraba dahi om Rudy.
“Astaga, Om sedang demam!” seru Liany yang membuatnya hampir melupakan kejadian beberapa detik yang lalu.
__ADS_1
“Apa saya harus menelpon Tante Katrin dan Myla, Om?” Liany bingung harus berbuat apa mengetahui lelaki yang telah memberinya naungan itu sedang sakit.
Om Rudy bangun perlahan, kepalanya terasa agak berat, sejenak dia memperhatikan Liany yang berdiri di hadapannya.
“Maaf, Liany, Om tadi mengira tante kamu sudah pulang. Om memang sedikit kurang enak badan. Gak usah telpon mereka. Om mau pindah ke kamar saja, Om ketiduran di sini.” Terdengar kekehan kecil dari om Rudy, baru saja dia melangkah tiba-tiba kepalanya pusing dan oleng. Segera Liany menahan tubuh Om Rudy agar tidak terjatuh.
“Om kenapa bisa demam begini?” tanya Liany prihatin, dibantunya laki-laki itu berjalan menuju kamarnya. Tubuh mereka berdua menempel erat dan dengan gerakan lembut Liany membantu om Rudy duduk di tepi ranjangnya.
“Om, butuh air minum?” tawar Liany, Om Rudy hanya mengangguk pelan. Bergegas perempuan itu menuangkan air yang tersedia di atas meja kecil di kamar itu. Om Rudy meneguknya sampai habis, Liany mengambil gelas itu dan menyimpannya lagi di tempatnya semula.
“Liany carikan obat penurun demam ya, Om?” kekhawatiran Liany belum berkurang juga karena baru kali ini dia melihat om Rudy sakit.
“Tidak usah, ini hanya sebentar saja, kemarin Om kehujanan di proyek dan terlambat makan siang.”
“Om sudah makan?”
Om Rudy menggeleng, Liany hendak mengambilkannya makanan tetapi lelaki itu mencegahnya.
“Duduklah sebentar di samping Om,” pinta Om Rudy dengan lembut. Walaupun ragu menuruti permintaan om Rudy, Liany tetap duduk di samping lelaki itu. Om Rudy meraih tangan Liany dan menggenggamnya erat.
“Aku tahu aku sudah salah dengan perasaan ini, Lia, tetapi aku tidak bisa mencegah rasa ini tumbuh di dalam hatiku.”
Perkataan Om Rudy terdengar seperti petir di telinga Liany, dia ingin menarik tangannya tetapi lelaki itu menggenggamnya dengan sangat erat.
“Seiring waktu dan caramu memperlakukanku dengan penuh kelembutan da perhatian membuat aku jatuh hati padamu, Liany. Aku ingin menjadi pelindungmu dan selalu berada di sisimu dalam keadaan apapun. Aku ingin menikahimu, jadilah istriku Liany.”
Tangan Liany gemetar, matanya terpejam rapat, di atas ranjang om Rudy dirinya dipinang oleh lelaki yang dianggapnya sebagai pamannya sendiri. Napas om Rudy yang terasa panas terasa berhembus di dekat leher Liany dan sebuah kecupan mendarat di leher jenjangnya. Otak Liany seakan berhenti bekerja karena rasa terkejutnya, tubuhnya terasa kaku tak bisa menolak saat om Rudy membaringkannya di atas ranjang itu.
__ADS_1