Di Atas Ranjang Om Rudy

Di Atas Ranjang Om Rudy
Sebuah kebenaran


__ADS_3

Myla membuka matanya perlahan, aroma obat dan alkohol samar tercium seiring dengan dilihatnya dinding putih dan gorden berwarna biru tua. Kepalanya pusing seperti habis naik komedi putar dengan kecepatan tinggi. Jarum infus terpasang di punggung lengan kanannya, ulu hatinya terasa nyeri yang terasa meninju hingga punggung belakangnya. Myla pasti akan jatuh pingsan seperti itu jika mengalami shock berat yang membuat asam lambungnya mendadak kambuh.


“Kamu sudah bangun, Nak?” tanya Tante Katrin cemas, mamanya sudah berganti pakaian, itu artinya dia benar-benar tak sadarkan diri dalam waktu yang lama. Myla terdiam dan mengedarkan pandangannya mencari sosok Om Rudy.


“Mana Papa, Ma?” balas Myla dengan suaranya yang agak serak.


“Papa pulang sebentar untuk mandi, tadi Mama sama Papa gantian jagain kamu.” Tante Katrin hendak mengambil tangan Myla tetapi gadis itu menolak halus dengan pura-pura memindahkan tangannya.


“Apa yang telah terjadi antara Mama dan Papa? Jangan bohongi Myla karena Myla sudah dewasa,” ucap Myla dengan tegas. Nyeri di ulu hatinya kembali menusuk-nusuk seiring ditahannya emosi yang hampir meluap.


“Papa selingkuh dengan Liany karena Mama lebih dulu selingkuh dengan berondong, begitu?” lanjut Myla lagi dengan air mata yang meleleh pelan.


“Mama tidak seperti yang kalian pikirkan dan soal Papa … meskipun Mama kecewa tetapi Papa hanya khilaf saja, dia tidak akan pergi meninggalkan kita begitu saja.” Tante Katrin menatap putrinya dengan wajah sendu, entah sampai kapan rahasia ini digenggamnya kuat-kuat.


“Kenapa dengan Liany? Kenapa harus perempuan itu, Ma? Liany sudah Myla anggap seperti kakak Myla sendiri!” seru Myla yang masih menahan agar tangisnya tidak meledak.


“Liany tidak bersalah, Mama sudah bicara dengan dia, alasannya untuk lekas pindah karena ingin menghindari Papa,” jawab Tante Myla setenang mungkin.


“Myla tidak percaya! Myla mau ketemu langsung dengan Liany, Myla harus bicara dengan perempuan yang tidak tahu terima kasih itu!” seru Myla dengan geram. Dengan sisa-sisa tenaganya dia ingin bangun dan turun dari tempat tidur.


“Tidak Sayang, jangan begini… jangan bangun dulu, kamu masih sakit, Nak!” cegah Tante Katrin yang melihat Myla ingin meninggalkan tempat tidurnya. Ditahan bahunya Myla tetapi gadis itu memberontak, sekuat tenaga pula Tante Katrin untuk tetap memeluk dan menenangkan putrinya itu.


“Sayang… tenang dulu, kita bicarakan ini baik-baik, tenang Myla, tenang ….” bujuk Tante Katrin. Akhirnya tangis gadis itu pecah juga, Myla kecewa dan marah kepada papanya. Selama hidupnya sosok Om Rudy adalah laki-laki sempurna di mata Myla, papanya tak pernah kasar, marah pun tak pernah meninggikan suaranya, papanya terlihat begitu mencintai mamanya bahkan memuja perempuan yang telah melahirkannya. Di luar dugaan Myla jika papanya ternyata memiliki sisi yang rapuh dan mampu menduakan hati mamanya.


“Papa jahaaaat …!” Myla tergugu dalam tangisnya, sangat berat menerima kenyataan jika superhero yang dipujanya ternyata hanyalah manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan.


“Sabar, Sayang… semuanya akan baik-baik saja, semuanya akan baik-baik saja,” bisik Tante Katrin masih memeluk Myla dengan erat.


“Semuanya tidak akan sama lagi, Maaa… Papa sudah berubah, Papa jaahaaat!” seru Myla dengan gerung tangisnya. Gadis itu benar-benar terluka. Tante Katrin mendekapnya semakin dalam, air matanya pun sudah jatuh saling bersusulan. Myla pastinya akan bertambah luka jika suaminya menuduh dirinya selingkuh di depan Myla.


Liany memperhatikan Satria dan Rangga yang sedang bermain bersama, anak itu sudah mulai belajar berbicara dan yang paling mengejutkan Liany justru kata ‘Papa’ yang lebih dulu keluar dari bibir mungil Rangga. Liany sampai gemas dibuatnya karena sebutan itu, Satria sangat senang mendengar Rangga memanggilnya dengan sebutan papa.

__ADS_1


“pappaah … Paaappaah,” celoteh Rangga sambil menepuk-nepuk pipi Satria.


“Iyaaa Rangga, anak Papa yang ganteng, anak Papa Sayang,” Satria mendaratkan ciumannya di pipi Rangga yang membuat anak itu tertawa-tawa karena dagu Satria yang agak kasar menyentuh pipi dan lehernya.


Liany tersenyum, lalu pandangannya dialihkan pada cincin yang emas di jarinya, sebentar lagi Satria akan resmi jadi papanya Rangga. Dia tidak pernah menduga jika hatinya akan berlabuh pada laki-laki yang pernah menabraknya, menampar pipi Satria hingga laki-laki itu juga yang mengambil Liany yang terduduk di jalan raya ketika hendak melahirkan Rangga. Bibirnya mengulum senyum, laki-laki asing itu yang lebih dulu menjumpai Rangga, memeluknya penuh cinta meskipun terlihat kaku. Lalu kini justru Satria sudah terlatih membersihkan Rangga jika bayi itu buang air atau ganti popok sekali pakai.


“Hayooo senyum-senyum sendiri… ntar kesambet kamu!” seru Satria sambil mencolek pipi Liany. Di dalam gendongan Satria, Rangga sudah mulai terlihat gelisah dan mengantuk.


“Botol susu Rangga mana? Sini biar aku yang kasih dia susu, sepertinya Rangga sudah mengantuk.” Satria menggoyang-goyangkan Rangga yang mulai rewel karena kehausan.


“Biar aku aja, Sat, kamu belum makan malam ‘kan?” Liany menyiapkan susu untuk Rangga, ketika Liany hendak mengambil Rangga, Satria menolak memberikannya.


“Sini, biar aku saja, kamu makan duluan mumpung Rangga sama aku,” ujar Satria yang mengambil botol susu dari tangan Liany.


“Aku tadi sore habis makan mie ayam bareng Chico jadi masih kenyang, kamu makan aja dulu, setelah Rangga tidur aku mau pulang, masih ada sisa kerjaan.”


Satria dengan telaten memegang susu botol Rangga dan bayi itu mengisapnya dengan cepat. Rangga pun tertidur setelah isi botolnya habis tak tersisa. Sesaat Satria mengayun-ayun Rangga dalam gendongannya dengan gerakan pelan dan lembut serta senandung lagu anak-anak yang digumamkannya lirih. Laki-laki itu menunggu Liany sampai selesai makan dengan sabar lalu membawa Rangga masuk ke kamarnya dan diletakkan dengan perlahan di dalam box.


“Lia, aku pulang dulu ya, aku harus selesaikan desain aku malam ini soalnya besok aku masih harus urus surat-surat kelengkapan kita.” Satria berujar dengan setengah berbisik, dia tak mau suaranya mengganggu tidur Rangga. Liany memandang ponselnya dengan tak berkedip, tenggorokannya tiba-tiba kering melihat postingan Myla di story WA-nya. Dia kenal betul dengan tangan yang ada di foto itu yang sedang terpasang jarum infus.


Liany mencoba mencerna kalimat Myla itu, dia mencoba mengirimkan pesan dan bertanya apa dia sedang dirawat di rumah sakit atau kenapa. Hanya centang biru, dibaca saja dan tidak ada balasan.


“Hey, dari tadi aku ngomong sendiri, kamu liatin apa sih sampai gak dengar aku?” Satria mengambil ponsel Liany dan melihat apa yang membuat Liany mendadak seperti patung.


“Hmmm … Myla sedang sakit rupanya, apa status Myla yang membuatmu pindah ke alam lain?”


Liany mendongak menatap Satria, “Alam lain? Maksudnya?”


“Iya, alam dunia maya, sampai aku pamitan kamu gak jawab. Liany, apa kamu terganggu dengan status Myla itu?” tanya Satria sekali lagi.


“Sat, jika memang status itu ditujukan untuk aku, aku harus meluruskannya segera, aku bukan hewan yang tak tahu berterima kasih, aku tidak mengganggu Om Rudy.”

__ADS_1


“Percuma menjelaskan orang yang gak mau mendengar apapun, toh sebentar lagi kita akan menikah, hanya dia belum tahu saja.” Satria memegang bahu Liany dan memutarnya.


“Jangan diambil hati, dia hanya salah paham,” ujar Satria dengan lembut.


“Sat, apa kata Myla nanti kalau tahu kita akan menikah? aku sudah dituduhnya tak tahu terima kasih, dulu Myla menyukaimu lalu kau akan menikah denganku? Bisa jadi Myla—“


“Jangan dengarkan orang, Lia. Bagaimanapun juga aku dan Myla gak akan bisa bersama, itu tak akan bisa terjadi. Aku hanya ingin ditakdirkan bersamamu saja dan Rangga juga anak kita lainnya nanti. Jadi, aku tidak mau hanya karena Myla dan keluarganya itu membuat kamu berubah pikiran. Aku tidak rela.” Satria menatap tajam ke arah mata Liany, meyakinkan perempuan itu jika mereka berdua yang ditakdirkan bersama.


“Ta-tapi Sat, aku harus memberitahukan hal ini kepada Myla, aku ingin memberikannya penjelasan,” ujar Liany yang mendadak diliputi perasaan bersalah. Benar dia tidak merebut Om Rudy tetapi Satria, dia merasa berada di tengah antara sepupunya itu dan laki-laki yang telah melamarnya.


“Bisakah sekali ini kamu memikirkan tentang dirimu sendiri Lia? Kebahagiaanmu, hidupmu dan apa yang berhak kamu pertahankan? Terlambat untuk mundur sekarang, Sayang, dalam waktu dekat kamu akan resmi jadi bagian hidupku. Sesuatu yang telah aku miliki sudah pasti tidak akan aku lepas lagi.”


Liany tertunduk, Satria selama ini memang sudah sangat dekat dengan kehidupannya terlebih Rangga, tidak mungkin juga untuknya untuk mundur sekarang.


“Aku tidak ingin Myla membenciku, Sat, dia sudah seperti adik perempuanku sendiri, aku tidak ingin menyakiti perasaannya.”


“Aku tahu Liany, tetapi ketahuilah, di dalam kehidupan ini andaikan aku jatuh cinta pada Myla dan ingin bersama dengannya itu akan mustahil terjadi, dosa besar jika aku menikahinya,”


“Maksudmu?” Liany mendongak lagi mencari wajah satria.


Satria membuang napas dan menjauh dari Liany. Terlihat jelas dia sedang berpikir dan menimbang apa dia harus mengatakan kebenarannya sekarang.


“Satria, jawab aku, aku calon istrimu bukan? Apa aku tidak boleh tahu apa yang ada di dalam kepalamu sekarang?”


Liany yang tersulut rasa penasaran mendekati Satria dan menarik lengan laki-laki itu agar melihat ke arahnya.


“Dosa besar apa yang terjadi jika kalian bersama? Jelaskan padaku!” desak Liany.


Satria menarik napasnya dalam-dalam. Bening mata Liany yang tersorot padanya membuatnya luluh juga.


“Aku dan Myla tidak mungkin bersama. Tak ada perasaan cinta antara laki-laki dan perempuan pada umumnya untuk Myla. Aku memang menyayanginya tetapi sebatas kakak kepada adiknya dan memang kenyataannya jika Myla itu adalah adikku, aku dan Myla saudara seibu,” terang Satria.

__ADS_1


Bahu Liany tersentak tanda dia terserang rasa kaget yang luar biasa, ini bukan candaan karena Satria terlihat sangat serius dan dengan ekspresi berat dia mengatakan itu.


“Jadi … jadi Tante Katrin … Tante Katrin itu ibu kandungmu yang kamu ceritakan tempo hari?!” tanya Liany dengan mata yang membulat dan jantung yang terasa melorot dari tempatnya.


__ADS_2