Di Atas Ranjang Om Rudy

Di Atas Ranjang Om Rudy
Tamu tak pernah diundang


__ADS_3

Hampir sepekan Rangga menghabiskan waktu di rumah sakit, Liany sama sekali tidak pulang ke rumah dan hanya mempercayakan Lilis untuk bolak balik mengambil keperluannya. Kadang Bi Inah juga datang bersamanya untuk mengantarkan makanan pesanan Liany. Bahkan Satria pun turut menginap bersama mereka. Dia hanya pulang untuk mandi, ganti baju dan berangkat ke kantor.


Kabar baik pun tiba dari dokter yang merawat Rangga, putra mereka akhirnya diperbolehkan pulang. Kondisinya sudah jauh lebih membaik, semua orang senang dengan kepulangannya itu. Di rumah Bi Inah sudah menyambut mereka dengan aneka masakan. Liany begitu tergesa ingin segera pulang sehingga tidak sempat lagi mengganti bajunya, yang dikenakannya hanya baju kaos biasa dan rok plisket.


“Halooo… keponakan Aunty Dora yang ganteeeeng!” seru Dora yang muncul dari pintu kamar perawatan, dia diminta Satria untuk menjemput Rangga karena tiba-tiba ada rapat penting yang harus dihadirinya.


“Halo juga Aunty Dora yang cantik, mau jemput Rangga yaa?” Liany melemparkan senyum ramahnya seperti biasa meskipun gurat-gurat lelahnya masih jelas terlihat.


“Pak Bos minta maaaaaaf bangeeet karena gak bisa antar Rangga pulang, klien kami harus mengejar pesawat juga jadi mau gak mau Pak Bos harus bertemu mereka secara langsung.” Dora membantu mengemas tas pakaian Liany. Lilis juga terlihat sibuk dengan perlengkapan Rangga.


“Tidak apa-apa, aku ngerti kok, kalau gak gini kapan lagi kita bisa ketemu, Deb? Kangen tahu! Oh ya di rumah Bi Inah masak banyak banget, kamu harus makan siang dulu yaa bareng kami,” tawar Liany pada teman lamanya itu.


“Oooh Tidaaak … tentu saja aku tidak menolak!” seru Dora kegirangan. Mereka bertiga pun meninggalkan rumah sakit dengan kegembiraan karena Rangga yang sudah tampak lebih kuat dan tertawa-tawa lagi.


Mobil yang dikendarai Dora sudah tiba di halaman rumah Liany. Mereka masuk dengan langkah santai karena perbincangan seru kedua teman yang sudah cukup lama tidak bersua. Rangga yang tertidur selama perjalanan melanjutkan tidurnya di box dalam kamarnya. Bi Inah menyambut mereka dengan suka cita lalu menyuguhkan minuman dingin. Ponsel Dora berdering dan tampak Satria tengah menelponnya.


“Iya, Pak Bos, ada apa?” tanya Dora yang duduk bersama Liany di ruang tengah.


“Ooh … iya Pak Bos, sudah, saya sudah antar mamanya Rangga ke rumah, iya baru saja. Iya Pak Bos, sama-sama laah Pak Bos, mamanya Rangga kan teman saya juga.” Dora menutup telponnya dan mengambil minuman dinginnya di meja.


“Pak Bos tanya apa aku sudah jemput Nyonya kesayangannya dan katanya lagi tunggu dia sebentar karena kepengen makan siang sama-sama,” terang Dora pada Liany.


“Bentar yaa Deb, aku mau ganti baju dulu, gerah nih, aku lebih suka pake daster soalnya,” ujar Liany yang menyodorkan kue kering yang ada dalam toples.


“Weeeh … emang bener yaa kalau daster itu sudah jadi seragam wajib emak-emak di rumah, mau Ibu komisaris perusahaan kek sampai ibu rumah tangga rebahan gak lengkap kalau gak dasteran!” seru Dora yang masih belum mengubah penampilan tomboynya.


“Makanya nikah giiih dan bikin bayi buruan!” timpal Liany yang melangkah menuju kamar tidurnya sambil tertawa kecil.


Sebuah mobil berhenti di depan rumah Liany, dua orang perempuan turun dari mobil itu sambil mengamati rumah megah di hadapan mereka.

__ADS_1


“Udah tiga kali kita ke sini tapi hasilnya nihil, apa kamu yakin kalau sekarang kita bisa ketemu perempuan itu?” tanya Ibu Witri yang mulai kesal karena belum juga bertemu dengan Liany.


“Yaa dicoba sampai dapat laah Bu, masa kita udah sejauh ini gak ada hasil,” jawab Eve sambil mengibaskan rambutnya. Cuaca cukup panas sehingga membuatnya berpeluh. Mereka berdua pun mendekati pintu gerbang dan memencet bel, berharap jika kali ini Liany yang membukakan pintu.


Tak lama Lilis yang sedang bersantai di samping rumah beranjak melihat siapa yang datang bertamu. Lilis mendekat ragu, dia tahu jika kedua tamu ini tak diinginkan majikannya.


“Heeh… ngapain bengong di situ? Bukain pintunya cepat, kami mau ketemu Liany!” perintah Eve pada Lilis. Gadis pengasuh itu berpikir keras dan kemudian mendekati pagar.


“Maaf, saya harus bilang dulu sama majikan saya, apa ibu berdua bisa masuk atau tidak,” ucap Lilis ragu lalu berbalik dan berlari kecil menemui Liany yang sudah duduk bersama dengan Dora.


“Bu, maaf di luar sana ada tamu yang mau ketemu Ibu,” ujar Lilis perlahan, dia melirik Dora yang sedang memandanginya.


“Siapa, Lis? Kok gak langsung disuruh masuk,” ujar Liany lembut.


“Anu, Bu tamu yang itu, yang… tempo hari mau ketemu Ibu.” Lilis memberi kode jika itu adalah tamu yang mereka bicarakan di rumah sakit. Liany menarik napas panjang, dilihatnya penampilan Dora yang mengenakan setelan baju kerja yang mahal.


Lilis membuka pagar dan membiarkan ibu Witri dan Eve masuk ke ruang tamu. Liany sudah menunggu di sana bersama Dora.


“Anda pasti pemilik rumah ini kan? Perkenalkan saya Ibu Witri dan ini putri saya Eve kami ke sini karena ada sedikit urusan dengan pembantu Ibu itu, Liany. Dia mantan menantu saya.” Ibu Witri duduk di sofa bersama Eve yang mengibas-ngibas tangannya kepanasan. Dora menatap Liany, perempuan itu membulatkan matanya meminta penjelasan. Liany hanya mengangguk samar meminta Dora mengikuti rencananya.


“Ibu ada urusan apa yaa dengan Liany?” tanya Dora yang ikut duduk sambil melipat tangan di dadanya.


“Saya kemari ingin menjenguk cucu saya, kami ingin bertemu dengan kenang-kenangan terakhir mendiang putra saya. Syukur-syukur kalau bisa sementara waktu anaknya tinggal bersama kami,” jawab Ibu Witri dengan senyum yang dibuat seramah mungkin.


“Ibu tahu gak siapa nama cucu Ibu?” Dora mengernyitkan dahinya, dia pernah mendengar kisah kelam Liany selama tinggal bersama mereka.


“Kami gak tahu laah … ini aja baru ketemu! Gimana sih?!” delik Eve dengan ketus.


Liany menggeleng perlahan, kelakuan mereka masih saja sama, tidak ada yang berubah dari Eve dan ibunya.

__ADS_1


“Bawa ke sini cucuku Liany, ingat aku juga berhak atas putra mendiang Adam!” perintah Ibu Witri dengan angkuhnya. Liany menghela napas, ingin rasanya dia menolak tetapi memang benar adanya jika ibu Witri memang berhak atas Rangga. Liany memberi kode kepada Lilis untuk mengambil Rangga dari dalam kamarnya. Tak lama Lilis pun keluar berjalan mendekati mereka dengan Rangga dalam gendongannya.


“Waaah cucuku tampan sekali, dia persis ayahnya waktu bayi dulu, siapa namanya Liany?” Ibu Witri terlihat semringah, sambil menimang Rangga yang tampak gelisah dalam gendongan neneknya. Eve hanya tampak acuh tak acuh melihat bayi yang sudah mereka tunggu-tunggu untuk dilihatnya.


“Namanya Rangga, Bu, Rangga Putra Adam,” jawab Liany pendek. Hatinya was-was, firasatnya mengatakan jika kedua orang ini muncul tiba-tiba dengan niat terselubung.


“Waah … namanya memang sesuai dengan keinginan mendiang ayahnya, tampan sekali kamu yaa? Adduuh menggemaskan sekali, sayang cuma kamu agak kurusan, ibu kamu pasti gak kasih makan kamu dengan layak!” sindir Ibu Witri sambil melirik tajam kepada Liany.


“Rangga baru saja sembuh dari sakit, dia terkena demam berdarah,” jawab Liany ragu.


“Ohh pasti kamu tinggal di tempat yang kumuh dan jorok kan? Sampai anak mendiang kakakku jatuh sakit begini, dasar ibu gak becus urus anak!” tuduh Eve berapi-api. Lilis dan Dora tersentak kaget mendengar kalimat Eve barusan. Tangan Dora terkepal ingin sekali rasanya dia melayangkan tinjunya kepada perempuan itu.


“Itu tidak benar, Bu. Tempat tinggal kami sangat layak untuk Rangga, sudah takdirnya dia bisa jatuh sakit dan terkena demam berdarah,” sanggah Liany yang masih mencoba untuk bersabar.


“Seberapa layak sih tempat tinggal dengan gaji pembantu kayak kamu! Gak usah sok mampu kamu deeh, gini aja biarkan Rangga tinggal bersama kami agar kami bisa memberikan kehidupan yang sangat layak untuk Rangga,” tawar Eve sambil melirik ibunya.


“Iya, biarkan Rangga tinggal bersama kami, masa depannya lebih terjamin daripada tinggal dengan ibu tunggal miskin seperti kamu!” sahut Ibu Witri dengan dagu terangkat.


“Enak aja Ibu datang-datang begini mau ambil Rangga! Ibu dan Mba kemana saja waktu Liany hamil besar, waktu Rangga lahir dan waktu Rangga sakit?! Bisa-bisanya yaa kalian mau datang seenaknya mengambil Rangga begitu saja, kalian gak kan kalau Liany itu—“ Dora masih ingin melanjutkan kata-katanya tetapi Liany mencengkram pergelangan tangannya.


“Ibu gak usah ikut campur yaa, ini urusan keluarga kami!” sergah Eve cepat.


“Ibu, tolong, jika Ibu ingin berkunjung menjenguk Rangga, saya tidak keberatan karena biar bagaimanapun Ibu dan Eve keluarga Rangga juga. Namun, untuk melepaskan Rangga bersama kalian, sekali lagi maaf, Bu, saya tidak bisa menyerahkan Rangga begitu saja!” Liany menolak permintaan Ibu Witri dan Eve. Berpisah dari Rangga adalah hal yang tidak pernah terbersit dalam kepalanya sedikitpun.


“Saya tidak mau Rangga hidup dalam kemiskinan seperti kamu dulu! Saya belum lupa bagaimana sialnya anak saya menikahi kamu sampai dia berumur pendek!” hardik Ibu Witri dengan nada tinggi yang membuat Rangga menangis keras.


“Bu, tolong, kembalikan Rangga dia menangis, Bu, tolong berikan Rangga,” pinta Liany sambil mengangkat tangannya ke udara.


tunggu cerita baru Romeo, Api Dendam Pria Malam di aplikasi baru GoodDreamer tanggal satu November.

__ADS_1


__ADS_2