Di Atas Ranjang Om Rudy

Di Atas Ranjang Om Rudy
Ratu di hatiku


__ADS_3

Satria membopong Liany menuju kamarnya segera, tubuh istrinya terasa sangat dingin hingga Satria menaikkan selimut ke dada Liany. Wajahnya pucat dan bibirnya yang berwarna keunguan.


“Sayang, bangun, ayo bangun, semuanya sudah selesai, mereka sudah pergi dari sini. Bangun, Liany.” Satria mengambil minyak kayu putih dan membalurkannya ke kaki dan betis Liany yang dingin. Dora dan Bi Inah menyusul Satria untuk melihat keadaan istri atasannya mereka itu.


“Apa perlu panggil dokter, Pak Bos?” tanya Dora yang melihat Liany terkulai lemas di tempat tidur mereka.


“Rangga …” panggil Liany lirih mencari bayinya. Satria yang hampir menelpon dokter Wilma segera meletakkan kembali ponselnya.


“Rangga baik-baik saja, Sayang, kamu tidak usah khawatir, Rangga tidak akan kemana-mana, dia akan bersama kita selamanya, aku janji, Liany.” Satria menggenggam tangan Liany dengan erat, meyakinkan sebisanya jika perempuan itu yakin dengan janjinya barusan. Liany melihat ke arah Satria dengan sendu, dua titik air matanya meleleh dengan pelan.


“Maafkan aku atas semua kekacauan ini, aku salah karena telah membiarkan mereka masuk. Aku mengira jika mereka akan berniat baik untuk menjenguk Rangga.” Liany sangat menyesali keputusannya beberapa saat lalu memberikan Rangga dalam timangan ibu Witri.


“Sudah… sudahlah, semua sudah terjadi dan kita hanya perlu untuk meningkatkan kewaspadaan saja kepada mereka.” Satria mengelus kepala Liany dengan lembut dan mengecup ujung jemari istrinya dalam-dalam. Dia tahu jika kondisi Liany memang tidak fit sepulang dari rumah sakit ditambah situasi yang mengejutkannya tadi hingga istrinya drop tak sadarkan diri.


“Bi Inah tolong nanti makanan istri saya antar ke kamar saja yaa, dia memang kurang istirahat selama di rumah sakit. Bilang sama Lilis kalau dia sudah bisa keluar kamar dengan Rangga.” Satria meminta dengan santun pada Bi Inah yang dijawab dengan anggukan pula oleh asisten rumah tangga mendiang mamanya dulu. Bi Inah pun tak keberatan jika dia melayani anak majikannya selama nona mudanya di luar negeri bersama papanya.


Lilis menggendong Rangga dan membawanya ke kamar Liany, segera Liany menyongsong putranya, memeluknya dan menciumnya berkali-kali.


“Terima kasih yaa Lilis, kamu bergerak cepat untuk mengamankan Rangga, kalau kamu tidak bertindak seperti itu saya tidak tahu apa Rangga masih bersama kita atau tidak lagi,” ujar Liany penuh haru, dia sangat bersyukur berada di sekeliling orang-orang yang peduli kepadanya bahkan rela terluka demi dia dan putranya.


“Lilis sudah janji sama Ibu dan Tuan kalau Lilis bakal melindungi Den Rangga dengan nyawa Lilis sendiri. Sekarang yang penting Ibu sehat-sehat lagi dan kita bisa jaga Den Rangga sama-sama, Yaa Allah … Lilis jadi terharuuuu…” Lilis mengusap matanya dengan punggung tangannya, tindakan heroiknya bersama Dora pastinya akan diingatnya seumur hidupnya.


Satria mendekati Dora dan memeriksa pipi bawahannya itu lalu menghela napas panjang.


“Biaya perawatan luka di pipi kamu itu biar aku yang tanggung, aku tidak menyangka kalau kamu akan bertarung begitu gigih. Terima kasih kamu sudah melindungi Liany dan Rangga,” ujar Satria pelan. Dora tersenyum mendengar perkataannya bosnya barusan.

__ADS_1


“Sebelum Pak Bos kenal dengan Liany, saya sudah lebih dulu berteman dengannya, dia teman yang sangat baik, bahkan jika kejadian ini terulang berkali-kali saya akan tetap berada di pihak Liany, membantunya semampu saya. Dora mengalihkan pandangannya pada Liany yang tengah memeluk Rangga dengan wajah yang sembab.


“Dia layak untuk mendapatkan pembelaan dan perlindungan. Saya pamit yaa Pak Bos,” pungkas Dora.


“Eeh … Tunggu dulu, Bi Inah sudah memasak banyak hari ini, kita makan bersama dan biarkan Demian yang mengantarkan kamu ke dokter atau kemana saja yang kau butuhkan.” Satria mempersilakan Dora dan Demian untuk beralih ke ruang makan di mana Bi Inah di sana sudah menyiapkan makan siang mereka.


Eve melemparkan tas tangannya ke sofa sesampainya mereka di rumah. Bekas jambakan Dora di kepalanya terasa berdenyut sakit. Ibu Witri pun tak kalah kusutnya, bahkan pipinya masih terasa panas karena tamparan Liany itu.


“Preman sialan! Mereka sudah memberikan informasi yang salah kepada kita, mereka tidak mengatakan jika Liany itu sudah menikah dengan orang kaya! Mereka berdua malah mengatakan kalau Liany itu pembantu di sana. Dasar penipu!” gerutu Eve dengan sangat kesal. Ibu Witri hanya mendengkus dan tertawa sinis, baru kali ini dia merasa sangat dipermalukan.


“Kamu yang sudah bodoh memilih mereka untuk mencari informasi Liany! Mana bayarannya mahal banget, sekarang uang hilang Rangga juga gak berhasil kita dapatkan! Semuanya gak beres!” pekik Ibu Witri sangat kesal.


Di tatapnya beberapa amplop putih yang tergeletak di atas meja tamu, sebagian besar adalah tagihan-tagihan hutang mereka yang sebentar lagi akan jatuh tempo. Pelipis Ibu Witri berdenyut, lambat laun akhirnya mereka terlilit hutang karena gaya hidup mereka yang hedon, bisnis perhiasan yang digeluti Ibu Witri pun tidak berjalan dengan baik. Jalan keluar dari masalahnya itu hanyalah laba bagi hasil investasi putranya yang ternyata dilimpahkan kepada Liany dan putranya.


“Jauh-jauh kita ke kota itu ternyata gak dapat apa-apa! Rugi, mana si tomboy gila itu juga sudah merusak rambutku, aargghhh… menyebalkan! Kita harus bagaimana sekarang, Bu?” rengek Eve


Eve menggigit bibirnya, hidupnya terasa hampir hancur sekarang, pernikahannya terancam bubar sementara dia dan ibunya juga terancam jatuh miskin. Mau tak mau Eve harus mencari pekerjaan kantoran lagi untuk menghidupi dirinya atau dia bersiasat lagi untuk pura-pura hamil agar Yuda tidak menceraikannya. Matanya memanas ketika mengingat rumah megah Liany, suami yang tampan dan kaya raya serta perusahaan yang dipegang Liany sekarang. Hatinya terbakar iri yang luar biasa kepada Liany yang kerap disebutnya pembawa sial.


“Nyatanya justru Liany sekarang yang hidup enak, jadi nyonya besar punya suami ganteng dan kaya, huuhh… pake pelet apa dia?” gumam Eve. Dirabanya bagian belakang kepalanya yang nyeri, mulutnya meringis kesakitan, ini adalah momen paling mengenaskan bagi dirinya. Perempuan itu bersumpah akan membalas perbuatan Dora yang telah menjambaknya sedemikian rupa.


Tamu Satria dan Liany sudah pulang, seperti yang dikatakan sebelumnya Demian diminta mengantar Dora ke klinik untuk mendapatkan perawatan agar lukanya tidak meninggalkan bekas di pipinya. Liany belum menyentuh makanan yang dibawa Bi Inah ke kamarnya, perempuan itu meringkuk di dalam selimut dengan mata terpejam. Satria menyentuh makanan Liany yang sudah hampir dingin.


“Makanlah dulu, Lia. Aku gak mau kamu makin melemah nantinya,” ujar Satria yang menyibak perlahan selimut Liany. Mata Liany mengerjap dan membuka pelan-pelan, lalu dia berusaha duduk dengan tegak dengan sisa tenaganya.


“Aku suapi ya?” Satria mengambil makanan Liany dan mengaduknya sebentar. Liany menggeleng dan ingin meraih piring makanannya tetapi Satria mengelak.

__ADS_1


“Hmmm … tidak boleh, biar aku suapi dan pastikan kamu memang makan dengan benar dan kenyang.”


“Sat, aku bukan Rangga yang harus disuapi, sini aah … tadi aku benerang ngantuk jadi tidur dulu sebentar, sini biar aku makan sendiri.” Liany mengulurkan tangannya, Satria menggeleng, dia menolak keinginan Liany.


“No… aku gak percaya, biar aku suapi saja sampai habis. Aaaa… buka mulut kamu!” perintah Satria yang sudah mengacungkan sendok di depan mulut Liany. Bukan Satria namanya jika dia tak berhasil membujuk orang lain untuk menuruti kemauannya.


“Pinter … makanan ini harus habis dan lanjut minum vitamin serta suplemen agar kondisimu lekas pulih,” ujar Satria lagi. Liany pun sibuk mengunyah makanannya dan pikirannnya pun ikut mengembara. Dia tak habis pikir kenapa Satria kadang menunjukkan sikap yang berbeda. Lelaki itu bisa menunjukkan sikap dingin, skeptis dan angkuh sementara di lain waktu dia menunjukkan sikap yang hangat, penuh perhatian dan sangat peduli.


“Kau pandai sekali memperlakukan wanita dengan sangat istimewa, Sat. Apakah aku perempuan di urutan kesekian mendapat perhatianmu seperti ini?” tanya Liany penasaran. Satria membuang napas panjang dan menatap sesaat istrinya.


“Kau adalah perempuan pertama yang mendapat perhatianku penuh, mutlak dan tak terbagi serta tidak bisa dibandingkan dengan perempuan manapun, kecuali…” Satria menggantung kalimatnya, lalu lanjut menyuapi Liany.


“Kecuali dengan Yelena, gadis yang beberapa tahun pernah dekat denganku, tetapi tidak sebagai kekasih, dia seperti Myla, aku hanya melihatnya sebagai adikku saja. Sikapnya yang manja, selalu meminta perhatian dan kadang kasar membuatku harus pintar-pintar menjaganya.”


Penuturan Satria barusan membuat Liany bergegas mengunyah makanannya karena desakan pertanyaan yang antri di dalam kepalanya.


“Yelena? Dia siapa? Aku baru dengar,” berondong Liany setelah menelan paksa makananya. Satria tersenyum tipis dan menyodorkan segelas air putih. Liany meminumnya sedikit lalu meraup lagi sendok yang sudah menunggunya.


“Yelena, dia anak dari ayah angkatku. Di panti asuhan dulu aku mendapat beasiswa penuh dari seorang donatur, kecerdasan dan kisah hidupku yang sebatang kara menggugah perasaannya untuk mengadopsi serta membiayai semua kebutuhan hidupku.” Denting sendok beradu di piring yang dipegang Satria, ada babak baru kisah dalam hidupnya yang akan dibaginya bersama Liany.


“Yelena adalah pusat kehidupan ayah angkatku, kebahagiaannya adalah nyawa bagi ayah angkatku itu. Awalnya aku kewalahan menghadapi sifatnya yang sangat manja dan pembangkang tetapi entah mengapa akhirnya Yelena menjadi penurut bagiku. Ayah angkatku sangat senang mengetahui hal itu, hingga akhirnya aku pergi ke Amerika untuk kuliah sementara Yelena menetap di London, ayah angkatku kembali kembali ke negara asalnya ketika masa jabatanya di negara ini selesai.”


“Apa kau masih berhubungan dengan mereka?” tanya Liany lagi. Cerita Satria sangat menarik untuknya.


“Ya, masih tetapi hanya kadang-kadang saja, Yelena berjiwa petualang, gadis itu senang bepergian kesana kemari. Sementara ayah angkut masih di kota yang sama, aku kadang menelpon atau mengirim email untuk mengetahui kabarnya.”

__ADS_1


“Kau menyayangi Yelena?”


“Tentu, tetapi kau tidak usah cemburu karena hanya kau adalah ratu dalam hidupku,” ucap Satria dengan lembut.


__ADS_2