
“Ibu jangan buat keributan di rumah ini yaa! Tiba-tiba saja datang begitu saja untuk mengambil anak Liany, Ibu bisa saya laporkan ke Polisi!” ancam Dora sengit. Apapun yang terjadi Rangga tidak boleh sampai dibawa pergi oleh kedua orang ini.
“Heh… tadi kan udah dibilang, jangan ikut campur dengan masalah keluarga kami!” bentak Eve pada Dora. Seketika Dora naik pitam dan mendorong bahu Eve agar menjauh dari sisi ibunya. Kesempatan itu digunakan Lilis untuk merebut Rangga dari tangan Ibu Witri, Eve melawan dan mendorong Dora hingga jatuh terjengkang.
“Bawa Rangga masuk ke kamar dan kunci pintunya, Lis!” seru Liany yang menghalangi Ibu Witri yang ingin mengejar Lilis. Sementara Dora juga berusaha keras untuk menghalangi Eve yang ingin merangsek masuk mengejar Lilis.
“Keluar kalian di rumah ini! Kelakuan kalian tidak beradab!” seru Dora yang mendorong Eve menuju pintu.
“Kami gak akan pergi sebelum kami mengambil Rangga, dia keponakan saya,cucu Ibu saya jadi kami berhak atas Rangga!” Eve bersikeras untuk tetap masuk dan mendorong Dora.
“Bu, tolong jangan seperti ini, Ibu dan Eve bisa-bisa dilaporkan ke polisi!” seru Liany yang masih menahan Ibu Witri agar tidak mengejar Lilis.
“Dasar memang kamu yaa gak tahu diri! Menantu pembawa sial, bahkan cucuku satu-satunya kamu mau renggut dari kami juga!” hardik Ibu Witri dengan marah. Bi Inah berdiri di kejauhan terlihat ketakutan meskipun begitu dia berdiri tepat di depan pintu kamar Rangga untuk berjaga-jaga.
Eve tak dapat menahan diri lagi mendorong Dora lebih kuat agar tidak menghalangi jalannya sehingga terlihat kedua saling mendorong. Tiba-tiba Ibu Witri melakukan hal itu lagi, dijambaknya rambut Liany hingga perempuan itu kesakitan dan menyeretnya mendekati pintu. Melihat itu Dora panik dan segera melepaskan Eve agar bisa membantu Liany.
“Kamu memang pantas diperlakukan seperti ini! Mantu kurang ajar, udah berani melawan kamu yaa!”
“Lepaskan Liany, Ibu jangan semakin kurang ajar yaa!” bentak Dora yang menarik Ibu Witri tetapi dia dihalangi lagi oleh Eve yang ikut menjambak rambut Dora. Dora pun tak dapat menahan diri lagi sehingga membalas menjambak rambut Eve. Keduanya saling berteriak memaki, terlihat seperti adegan penyerbuan pelakor.
“Ibu yang sudah keterlaluan, apa Ibu lupa jika Ibu sudah mengusir saya dari rumah? Waktu itu saya sedang hamil Rangga, Bu! Ibu dan Eve sama sekali tidak menaruh kasihan kepada saya, mengambil semua peninggalan mas Adam tanpa ingat jika di situ ada hak saya dan anak saya!” teriak Liany frustasi di depan wajah bengis Ibu Witri.
“Aku kemari agar cucuku tidak tertimpa sial seperti anakku Adam yang memilih hidup bersama kamu! Kalau miskin, miskin aja gak usah berlagak ingin memberi yang terbaik buat Rangga, aku neneknya tahu yang terbaik buat cucuku itu!” Ibu Witri sama sekali tidak menurunkan suaranya, cengkraman di rambut Liany semakin kuat. Fisik Liany memang sedang lemah karena kurang istirahat menjaga Rangga berhari-hari di rumah sakit.
“Ibu dan Eve jangan sampai menyesal karena telah melakukan penyerangan ini!” hardik Liany dengan sisa-sisa tenaganya.
“Elleh… kamu mau apa hah! Kamu mau apaaa perempuan sial?!” bentak Ibu Witri sambil menghempaskan Liany ke lantai, Liany jatuh tertelungkup. Melihat Liany jatuh Ibu Witri bergegas masuk ke dalam rumah dan mendekati kamar Rangga di sana Bi Inah sudah bersiap.
“Lilis, jaga Rangga baik-baik, apapun yang terjadi jangan buka pintu!” seru Bi Inah sambil menghadang di depan pintu. Liany kembali bangun dan mengejar ibu Witri agar tidak mendekati Rangga. Sementara Dora dan Eve masih saja bergulat, Eve mencakar pipi Dora, perih terasa di bagian pipi hingga ke dagunya. Seketika juga Dora menangkap tangan Eve dan menggigitnya kuat-kuat sehingga perempuan itu menjerit kesakitan.
__ADS_1
“Ibu berhenti! Jangan mengganggu kami lagi! Lebih baik ibu pergi dari sini!” sergah Liany sambil menarik Ibu Witri menjauh. Perempuan paruh baya itu berang dan mengangkat tangannya untuk menampar Liany tetapi lengan itu tertahan di udara, terasa cengkraman yang sangat kuat membuat lengannya kesakitan lalu Ibu Witri terdorong hingga membentur dinding.
“Berani-beraninya kalian membuat keributan di rumah saya!” bentak Satria dengan geram, wajahnya memerah menahan amarah. Dari ruang tamu Demian memisahkan Dora dan Eve, lelaki itu membantu Dora berdiri.
“Kamu siapa? Oooh kamu pasti majikannya Liany kan? Begini yaa, ini urusan keluarga saya, saya hanya ingin datang menemui cucu saya tetapi dihalangi sama Liany, malah anaknya disembunyikan di kamar ini. Lihatkan kalau perempuan ini sudah bersikap kurang ajar?” tantang Ibu Witri seakan dia adalah pihak yang benar.
“Bohong Pak Bos! Ibu itu dan anaknya mau merampas dan menculik Rangga!” seru Dora yang memegangi pipinya yang terlihat ada baret luka.
“Heh! Kami ini keluarganya, kami juga berhak atas Rangga jangan sembarang nuduh kamu yaa!” hardik Eve sengit. Dia merapikan rambutnya yang acak-acak dan rontok karena jambakan Dora.
“Diaaam! Kalian sudah menyakiti istri dan bawahan saya! Saya tidak akan melepaskan kalian!” bentak Satria sambil memandangi Ibu Witri dan Eve bergantian.
Satria mendekati Liany yang terlihat memar di bagian dahinya serta dasternya yang sobek di bagian bahu.
“Kamu tidak apa-apa, Sayang?” Satria mengangkat dagu Liany dengan ujung jarinya, diamati memar di dahi istrinya itu. Diliriknya pintu kamar Rangga yang dijaga Bi Inah.
“Rangga, mana?” lanjut Satria bertanya.
“Demian, panggil polisi, aku ingin lihat apa mereka masih seganas ini di dalam penjara nanti!” perintah Satria pada Demian.
“Dora, apa kau baik-baik saja?” Satria berbalik melihat bawahannya yang tampak sangat kacau.
“Tidak, Pak Bos, saya akan mengadukan tindak kekerasan perempuan itu kepada saya, lihat, dia mencakar saya!” seru Dora sambil memperlihatkan pipinya yang memerah.
“Tunggu, kamu suaminya Liany?!” Mata Ibu Witri seakan nyaris keluar melihat perlakuan lelaki tampan itu kepada Liany.
“Iya dia istri saya, Saya Satria Abimana, Owner dan CEO Sparkling Advertising, sekaligus ayah sambung Rangga. Dia putra saya sekarang ini dan jika ada yang mengusik istri dan anak saya maka dia akan berhadapan dengan saya!” Satria mengucapkan kalimatnya dengan setiap penekanan.
“Dan… Ibu Liany adalah atasan saya, beliau adalah komisaris dari Karisma Developer, perusahaan besar properti jika Ibu belum tahu. Ibu sudah menyerang atasan saya dan banyak saksinya!” seru Demian juga sambil melipat tangannya di dada.
__ADS_1
Eve sudah mulai terlihat ketakutan, dia sama sekali tidak menyangka jika hidup Liany akan berubah sedrastis ini. Ibu Witri masih mencoba bersikap tenang di hadapan Satria, dia tidak ingin termakan gertakan lelaki di depannya itu.
“Ooh … jadi perempuan ini sudah dapat tangkapan yang baru dan lebih kaya, pantas saja dia berani melawan sekarang. Sebaiknya Anda hati-hati, karena dia itu perempuan pembawa sial, ciih … Ibu komisaris? Kalau ingin bohong jangan ketinggian, sadar diri kamu Liany! Lalu apa istimewanya tinggal bersama bapak tiri hah? Yang ada cucuku malah akan menderita, ibunya cuma sibuk ngangkang ke bapak tiri anaknya bakal terlantar!” ucap pedas Ibu Witri.
Plaaak…!
Sebuah tamparan mendarat di wajah perempuan bermulut pedas itu. Tangan Liany gemetar, kali ini penghinaan Ibu Witri benar-benar melukai harga dirinya. Emosi Liany sudah tak terkendali lagi sehingga di luar kesadarannya dia menampar perempuan yang pernah dihormatinya itu.
“Beraninya kamu menampar saya! Menantu durhaka kamu!” pekik Ibu Witri tidak terima.
“Ingat yaa Bu, saya bukan menantu Ibu lagi! Sejak Ibu dan Eve mengusir saya yang tengah hamil ke jalanan saya bukan menantu dan ipar dari kalian! Kalian perempuan tidak punya hati, serakah. Bahkan kalian tidak tahu apa bayiku lahir dengan selamat atau tidak, di mana kami bernaung dan siapa nama dari bayiku, kalian tidak tahu apa-apa dan sekarang kalian ingin datang mengambil Rangga? Kalian keterlaluan!” teriak Liany penuh emosi.
Satria mendekati Liany dan merengkuhnya agar emosi Liany bisa teredam, dia tidak ingin istrinya lepas kendali lagi. Diusapnya bahu Liany agar perempuan itu tenang. Eve pelan-pelan mendekati ibunya dan memberi kode agar sebaiknya mereka pergi sebelum polisi benar-benar tiba.
“Bu. Ayo kita pergi saja, kalau ada polisi urusan bakal panjang,” bisik Eve di bahu ibunya. Dengan satu gerakan cepat mereka berkejaran menuju pintu untuk melarikan diri.
“Heeey … perempuan bar-bar, urusan kita belum selesai!” seru Dora yang gagal menahan Eve ketika perempuan itu melewatinya. Keduanya bergegas menuju mobil dan melajukannya dengan kecepatan yang tinggi.
Liany menarik napas panjang, baru terasa olehnya debaran jantung, gemetar di tubuhnya serta lemas di lututnya setelah menghadapi kejadian ini.
“Sat, aku tidak tahu jika mereka akan sekasara ini, aku kira mereka hanya datang untuk melihat Rangga saja,” ujar Liany dalam pelukan Satria. Lelaki itu memeluknya erat dan merasakan tubuh istrinya yang dingin.
“Lilis menelponku dan menceritakan semuanya, kebetulan aku dan Demian memang sedang dalam perjalanan pulang hingga kami buru-buru kemari. Tenanglah semua sudah selesai, semuanya akan baik-baik saja.” Satria mengecup puncak kepala Liany dan mengusap punggungnya berkali-kali.
“Dasar monyet rabies! Sialan pipiku sampai baret gini!” gerutu Dora yang melihat pipinya di cermin.
“Kalau dia monyet rabies terus kamu apa?” goda Demian sambil menahan tawa. Dora hanya mendelik kesal karena Demian menertawainya.
“Liany, ayo kita lihat Rangga dulu, ayo Say—“ Satria tidak melanjutkan ucapannya, tubuh Liany melorot dalam pelukannya dengan mata terpejam. Mungkin karena syok dan kelelahan fisik Liany tidak mampu lagi menahan semua emosi yang terkuras juga tenaganya, dia pingsan dalam dekapan Satria.
__ADS_1
nantikan novel terbaru Hardin Grey, Romeo, Api Dendam Pria Malam di GoodDreamer launching satu November,donlod ya.