Di Atas Ranjang Om Rudy

Di Atas Ranjang Om Rudy
Usaha ksatria satria


__ADS_3

Liany menatap tajam ke arah pengemudi mobil yang sudah menabraknya. Beruntung saat jatuh dia masih bisa melindungi perutnya dari benturan.


“Kamu bisa menyetir tidak sih? Kamu sudah membahayakan kami!” hardik Liany dengan mata berkaca-kaca, dielusnya perlahan perutnya yang sudah menginjak usia tujuh bulan.


“Kita ke dokter yaa Mba untuk memeriksakan kondisi Mba, sungguh saya tidak sengaja dan saya mengakui kecerobohan saya,” Satria menangkupkan kedua telapak tangannya di dadanya. Kadang dia bersikap jahat pada wanita tetapi dia masih punya nurani untuk wanita yang tengah mengandung.


“Kamu … shhh…” Liany masih hendak mengomel tetapi tiba-tiba perutnya terasa sakit dan mengeras.


“Non Lia … Non Lia kenapa?” tanya bi Inah dengan cemas, Liany berpegang sangat erat pada lengannya.


“Perut Lia sakit, Bi,” Liany berusaha mengatur napasnya, Satria semakin cemas menatap wanita yang memucat wajahnya.


“Kita ke dokter yaa?” Satria segera memunguti belanjaan kedua perempuan itu dan memasukkannya ke bagasi. Segera dibimbingnya Liany masuk ke mobilnya dan menunggu bi Inah untuk masuk.


“Kita ke rumah sakit terdekat saja ya?” tanya Satria, Liany hanya mengangguk sambil menggigit bibirnya, ada peluh di dahinya. Bi Inah hanya bisa menenangkan Liany dengan mengelus bahunya perlahan.


Satria berjalan mondar-mandir di depan ruang tindakan, dia gelisah seakan-akan istrinya lah yang berada di dalam sana. Hingga Liany dan bi Inah keluar dari ruangan itu.


“Bagaimana, apa Mba baik-baik saja?” tanya Satria yang memindai Liany dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lutut kanan dan sikunya terlihat bekas iodium, pinggul Liany masih terasa nyeri karena senggolan mobil Satria.


“Saya akan membayar semua biaya pengobatan Mba dan biarkan saya mengantarkan Mba pulang,” ujar Satria yang masih belum terlihat lega. Dia tidak mungkin membiarkan wanita hamil ini pulang begitu saja dengan asisten rumah tangganya.


“Kami akan naik taksi online saja,” tolak Liany, dirinya enggan memperpanjang waktunya dengan laki-laki sembrono di depannya ini.


“Tapi saya hanya ingin bertanggung jawab, Mba,” tukas Satria cepat, dia menghalangi langkah Liany yang akan meninggalkan rumah sakit. Hasil USGnya menunjukkan jika bayinya tidak apa-apa, Liany hanya merasa terkejut saja sehingga perutnya mengalami kontraksi.


“Kami bisa pulang sendiri, Anda tidak perlu repot-repot mengantarkan kami. Keluarkan saja belanjaan kami,” sahut Liany, wajahnya masih menunjukkan ekspresi yang tidak bersahabat pada Satria.

__ADS_1


Satria menghela napas setelah membayar biaya rumah sakit, laki-laki itu menuju parkiran mobil, tampak Liany sedang menelpon taksi online yang akan membawanya pulang.


Bi Inah mengambil belanjaan itu dari tangan Satria, sama dengan Liany, bi Inah masih bermuka masam karena hampir saja membuat kerabat majikannya itu celaka.


“Sekali lagi saya minta maaf, saya benar-benar tidak sengaja dan telah ceroboh,” ujar Satria sambil menenamni Liany yang tengah duduk menunggu taksi pesanannya.


“Baiklah, Anda saya maafkan, jangan berbuat ceroboh lagi, kali ini Anda beruntung karena saya tidak mengalami luka parah.” Liany menunduk sambil mengelus perutnya, bayi di dalam sana sperti menjawab dengan gerakannya yang halus.


“Sudah berapa bulan?” tanya Satria lagi memecah keheningan.


“Masuk tujuh bulan,” jawab Liany pendek.


“Kenapa Mba tidak menelpon suami Mba? Tadi saya sudah bersiap untuk menerima hajaran dari suami Mba atau tuntutan ke polisi.” Satria tersenyum kecil mencoba mencairkan suasana.


“Suami saya baru meninggal sebulan yang lalu, saya yatim piatu dan hanya menumpang di kerabat yang mau menampung saya.” Tanpa ekspresi Liany menjawab pertanyaan Satria dengan panjang. Kalimat yang barusan didengarnya sukses membuat Satria terkejut dan semakin merasa bersalah.


Sebuah mobil berhenti dan bi Inah mengiyakan jika mereka yang memesan mobil itu. Satria mengulurkan tangannya untuk membantu Liany berdiri tetapi Liany tidak menyambutnya, dia justru berpegang pada bi Inah saja. Satria memahami sikap Liany, bergegas laki-laki itu mendahului mereka untuk membukakan pintu mobil. Sebelum mobil itu berlalu dengan cepat Satria membuka dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu untuk membayar sopir mobil itu.


“Tolong antar dengan baik Mba ini, ini tip dari saya,” ujarnya pada sopir taksi yang matanya membulat lebar melihat uang sebanyak itu.


“Tolong hubungi saya jika Mba butuh pemeriksaan selanjutnya atau apa saja.” Satria menyelipkan kartu namanya di genggaman Liany dan menjauh dari mobil itu. Bi Inah memerintahkannya segera meninggalkan rumah sakit karena orang rumah pasti sudah bertanya-tanya kenapa mereka berdua tidak ada di rumah setelah langit gelap.


Om Rudy berjalan mondar-mandir di depan teras mereka dan sesekali melihat ke arah jalan ketika ada suara kendaraan yang mendekat. Ponsel Liany tak juga menjawab panggilannya, sementara ponsel bi Inah tertinggal di meja dapur. Laki-laki itu merasa sangat khawatir karena baru kali ini Liany pergi dan belum kembali juga.


“Mereka belum pulang, Pa?” tanya Myla yang masih menggosokkan handuk di kepalanya, dia baru saja mandi dan menggunakan baju kaos longgar dan celana pendek selutut.


“Belum, ada apa dengan mereka berdua ini?” Om Rudy menghela napas panjang. Sesaat kemudian sebuah mobil berhenti di depan gerbang pagar mereka. Om Rudy dan Myla saling berpandangan dan menunggu siapa yang berhenti di depan rumah mereka. Bi Inah pun turun untuk membuka pagar agar mobil itu bisa masuk, sesusai pesan dokter Liany dilarang banyak bergerak dulu untuk mencegah kemungkinan yang terjadi.

__ADS_1


“Liany?!” seru Om Rudy dan Mylal bersamaan ketika Bi Inah membimbing Liany berjalan dengan sedikit terpincang.


“Astagah! Apa yang terjadi, Bi? Kenapa dengan Liany?” berondong Myla sambil membantu bi Inah untuk memapah Liany. Sopir mobil menurunkan barang belanjaan Liany dan pamit pergi setelahnya.


“Maaf Tuan, Non Lia tadi ditabrak mobil di parkiran supermarket sewaktu kami mau pulang,” jawab bi Inah takut-takut.


“Apa?! Ditabrak mobil?!” suara om Rudy meninggi dan bergegas mendekati mereka.


“Kamu gak apa-apa? Kandunganmu bagaimana?” kejar om Rudy lagi.


“Tidak apa-apa Om, hanya tersenggol saja, hanya luka di lutut dan di siku. Orangnya juga bertanggung jawab membawa Lia ke rumah sakit dan menunggui Lia sampai selesai diperiksa. Dokter bilang kandungan Lia baik-baik saja.” Liany menatap om Rudy dengan mengharap om-nya itu tidak memperpanjang lagi masalahnya.


“Kamu tahu gak siapa yang nabrak kamu tadi? Gimana ceritanya tadi?” Myla ikut bertanya sambil melihat lutut dan siku Liany.


“Aku lupa menanyakan namanya. Dia memang ceroboh, katanya ponselnya terjatuh saat dia menyetir mobil, dia gak berhenti malah sambil nyetir dia nunduk untuk mengambil ponselnya. Mobilnya jalan ke pinggir dan gak sengaja udah nyenggol aku.”


“Astagaaah … Untung kamu gak apa-apa, Lia! Kalo aku ada di situ udah abis aku maki-maki dia. Laki-laki apa perempuan sih?!” omel Myla tidak terima.


“Laki-laki, dia maksa untuk membawa Lia ke rumah sakit, membayar semua biayanya juga ongkos taksi tadi,” jawab Lia dengan pelan.


“Hmmm … baguslah, paling tidak dia sudah bertanggung jawab membawamu ke rumah sakit.” Om Rudy sudah terlihat sedikit tenang.


“Andai tidak, Om akan kejar dia dan seret sampai ke kantor polisi!” lanjutnya lagi sambil mengancam.


“Om jangan khawatir, dia juga meninggalkan kartu namanya, jika terjadi sesuatu dia meminta Lia untuk menelponnya.”


“Yaa sudah, kamu istirahat saja dulu, biar Myla pesan makanan siap saji saja, Bi Inah juga istirahat, pasti bi Inah kaget dengan kejadian ini.”

__ADS_1


Dengan diantar Myla dan bi Inah Liany kembali ke kamarnya. Dia berbaring dengan nyeri yang masih terasa di pinggulnya. Sepeninggalnya bi Inah dan Myla, Lia membuka dompetnya dan melihat kembali kartu nama Satria. Satria Abimana, CEO dari Sparkling Adv, berpostur tinggi, kulit putih, hidung mancung, alis tebal dan sorot mata tajam. Wajah Satria seperti familiar dalam penglihatannya, otak Liany mencari-cari apa dia pernah bertemu sebelumnya atau dia mirip dengan siapa.


__ADS_2