
Liany sudah merasa baikan dan tidak merasa keluhan lagi atas tabrakan itu. Hari-hari dijalaninya seperti biasa dan menjadi kebiasaan baru baginya untuk memasakkan anggota keluarga om Rudy. Tante Katrin, Myla dan Om Rudy sangat senang dengan kehadiran Liany yang memberi warna baru di dalam keluarga mereka. Namun, kesibukan tante Katrin dan putrinya membuat Om Rudy hanya lebih sering bersama Liany saja di rumah. Hampir segala sesuatu kebutuhan Om Rudy disiapkan atau diingatkan oleh Liany. Seperti minuman suplemennya, vitamin dan sesekali memberi bekal makan siang jika Om Rudy sedang sibuk-sibuknya dengan rapat yang beruntun.
Akhir pekan Myla memilih pergi bersama teman-teman kantornya, ada janji wisata bersama mereka. Sementara tante Katrin pergi ke salon untuk perawatan rutin.
“Om, Lia minta izin untuk ke pusat perbelanjaan, susu Lia sudah habis dan Lia juga mau belanja untuk makan malam.” Kali ini Lia tidak berani lagi untuk pergi tanpa izin dari om Rudy.
“Kamu sama Bi Inah?” Om Rudy mengalihkan pandangannya dari tablet yang dipegangnya pada Liany.
“Bi Inah sedang minta ijin untuk pulang kampung, Om sudah dua hari ini, besok katanya baru bisa pulang. Anak bungsunya sedang sakit.”
“Ouh … pantas Om gak lihat dia akhir-akhir ini, biar Om temani aja kamu.” Om Rudy beranjak dari sofanya dan menyimpan tabletnya di kamar kerjanya. Kemudian bergegas mengambil kunci mobil dan meminta Liany menunggu di depan teras. Tadinya Liany hanya ingin naik taksi online tetapi melihat kesigapan om Rudy dia tak jadi memesannya.
Mall di pusat kota ini cukup ramai, di bagian grocery Liany berjalan menyusuri lorong yang dipenuhi aneka susu kotak dan kaleng. Diambilnya beberapa kotak dan berjalan lagi ke arah sayur mayur. Liany melewati bagian baju-baju bayi yang lucu, Liany menyentuhnya dengan perlahan, matanya berbinar melihat baju-baju yang sangat lucu dan menarik perhatiannya.
“Kau suka?” tanya om Rudy, laki-laki itu mendekat dan ikut melihat-lihat baju bayi di depan Liany.
“Iya, Om. Ini lucu sekali,”ujar Liany dengan binar matanya yang ceria.
“Ambilah, beli itu dan beberapa lainnya,” tunjuk om Rudy pada baju-baju yang dipegang Liany.
Dari kejauhan sepasang mata tengah mengawasi Liany, sosok itu masih ingat betul dengan perempuan hamil yang dibawanya ke rumah sakit sebulan yang lalu.
“Liatin apa sih Pak Bos?” tegur Demian yang melihat Satria tertegun memandangi seseorang. Demian mengikuti kemana arah Satria melihat.
“Selera Pak Bos udah berubah ke wanita hamil yaa?” kelakar Demian. Satria berbalik dan menatapnya tajam lalu terdengar laki-laki itu mendengkus kemudian mendorong troli belanjaannya.
“Aku mengenali perempuan itu tetapi laki-laki yang bersamanya itu, entah di mana aku pernah melihatnya." Sekali lagi Satria menoleh, Liany sudah menjauh bersama om Rudy.
__ADS_1
“Ngomong-ngomong itu si Dora kemana? Belanja pribadi lama amat!” seru Satria sambil memanjangkan lehernya. Tak lama seorang gadis bertubuh tinggi dengan celana jeans belel serta kemeja kotak-kotak datang menghampiri mereka.
“Dari mana aja sih kamu? Lama amat!” semprot Satria pada Dora yang bernama asli Alicia Deborah.
“Nyari ini dulu Pak Bos, biar casing tomboy gini tetapi daleman masih cewe tulen Pak Bos!” Dora mengacungkan sebungkus besar pembalut wanita yang membuat kedua laki-laki di depannya segera berpaling.
“Ayo buruan, habis ini kita ke lantai atas, foodcourt, udah laper ini. Demian, nanti kamu telpon Chiko mau dibungkusin apa,” perintah Satria pada timnya. Salah satu anggotanya memutuskan untuk tinggal karena masih harus mengurus desain.
Dora mencuri pandang pada Satria, dia merasa seperti kejatuhan bulan saat atasannya Bimo memerintahkan dirinya bergabung dengan tim Satria untuk desain iklan Dunant.
‘Isshh… marah-marah aja dia udah cakep banget, apalagi kalo senyum, berasa lagi liat malaikat, adem banget’ pikir Dora di dalam benaknya. Demian menyenggol siku Dora yang tersenyum-senyum sendiri.
“Wooy … lagi kesambet apa kamu?” bisik Demian di bahu Dora.
Gadis itu mendelik dan menjauh dari Demian, “Kesambet malaikat!” jawab Dora ketus.
Satria kembali menemukan sosok Liany bersama lelaki paruh baya tadi juga sedang menuju foodcourt. Rasa penasaran Satria cukup menggelitiknya, Satria pun akhirnya sengaja mengikuti Liany agar bisa lebih dekat melihat perempuan itu. Satria masih ingat jika Liany mengatakan jika suaminya telah meninggal dunia dan dia adalah seorang yatim piatu. Liany dan om Rudy mengambil tempat yang cukup terlindungi dan Satria memilih tempat yang berseberangan dengannya.
“Pesankan aja yang paling mahal di situ, Doremon!” bisik Demian lagi. Kembali Dora mendelik sambil mengangkat alisnya. Namun. Akhirnya Dora mengikuti saran Demian untuk memesan makanan yang biasa mereka santap. Tiga porsi nasi goreng spesial dengan campuran jamur dan seafood.
Liany sedang menyantap mihun gorengnya dengan nikmat, tekstur mihun dan bumbunya cocok di lidah Liany dan dia menyukainya. Om Rudy menyantap mie kuah sama lahapnya. Ternyata keasyikan berbelanja membuat keduanya lapar. Om Rudy ini pandai berkelakar, selalu saja berhasil membuat Liany tertawa. Om Rudy senang menceritakan masa kecil Myla dan tante Katrin saat mereka baru saja menikah. Tak terasa makanan mereka pun sudah habis.
“Maaf, Om, Lia cari toilet dulu, yaa.” Kandungan Liany yang sudah semakin tua membuatnya lebih sering ke kamar kecil. Dari kejauhan Satria melihat Liany meninggalkan meja dan menuju arah toilet umum. Bergegas Satria mengikutinya tanpa mempedulikan pertanyaan Dora dan Demian.
Satria menjaga jarak dengan Liany meskipun demikian dia tetap berharap punya kesempatan untuk berbicara dengan perempuan itu. Tiba-tiba langkah Liany terhenti, Satria pun turut berhenti dan tetap mengawasinya. Seorang perempuan muda dengan wajah tidak ramah mendekati Liany sambil mendorong Liany dengan ujung telunjuknya.
“Minggir! Bisa sial aku ketemu kamu di sini!” bentak Eve yang ternyata sedang berbelanja di mall ini pula. Sebuah kebetulan yang terjadi satu kali dibanding seribu kali kemungkinan.
__ADS_1
“Apa kabarnya, Eve?” tanya Liany dengan hati-hati. Eve memindai seluruh penampilan Liany yang sudah jauh berubah dan terawat sehingga kecantikan Liany semakin terlihat.
“Udah pake baju bagus kamu yaa?” Eve melihat baju hamil yang dikenakan Liany sedang diiklankan di sebuah marketplace dengan harga yang mahal. Liany masih terdiam, dia tahu Eve sedang menaksir harga dari semua yang dipakainya.
“Tas tangan dan sepatu kamu juga bagus, jual diri sama siapa kamu?” cetus Eve yang membuat wajah Liany merah padam.
“Jaga omongan kamu, Eve, aku sama sekali tidak berbuat serendah itu, meskipun kamu dan ibu sudah mengusirku ke jalan aku tidak akan berbuat apa yang kamu tuduhkan!” bela Liany dengan wajah yang marah.
“Ouhh … sudah bisa keras yaa suaramu itu? Perempuan miskin seperti kamu yang gak punya apa-apa mana bisa hidup nyaman seperti ini kalo gak ngejual diri?” tuduh Eve lagi tak karuan.
“Meskipun kamu sudah memakai baju bagus dan berpenampilan kayak orang kaya gak akan mengubah diri kamu yang selalu membawa sial bagi keluargaku! Minggiiir kamu!” hardik Eve sambil mendorong Liany cukup keras. Liany yang tak menduga akan mendapat perlakuan seperti itu terhuyung dan nyaris terjatuh.
“Aaaahhh …!” pekik Liany yang tak berhasil menyeimbangkan dirinya, sebelum jatuh ke lantai tangan kokoh sudah memegang dan menahannya agar tidak terjerembab dengan perut besarnya.
“Mba! Jangan kasar gitu dong sama ibu hamil!” bentak Satria pada Eve yang sudah berlalu meninggalkan mereka dengan cepat.
“Kamu gak apa-apa?” tanya Satria yang membantu Liany berdiri, tubuh Liany bergetar hebat karena terkejut lalu menghapus jejak air mata di pipinya.
“Sa-saya baik-baik saja,” jawab Liany, sesaat kemudian dia tersadar jika laki-laki yang menolongnya itu adalah penabraknya sebulan yang lalu.
“Terima kasih,” lanjut Liany lagi yang sudah mulai merasa tenang.
“Jadi kau diusir oleh keluarga mendiang suamimu, lalu dipelihara oleh om-om yang sedang berbelanja denganmu?” Mulut Satria kembali pedas seperti biasanya. Dia benci perempuan genit, pelakor dan perempuan yang rela berbuat apa saja demi uang. Liany menatap Satria dengan marah.
“Tolong jaga mulutmu! Kau sama sekali tidak mengenalku!” Liany merasa menyesal karena ditolong oleh Satria.
“Lalu siapa om-om yang bersamamu itu jika bukan sumber uangmu?”
__ADS_1
Plaaak…!
Habis sudah kesabaran Liany dan dia mendapatkan pelampiasan yang tepat kali ini!