
Tante Katrin memilin jemarinya, sungguh ini kejutan luar biasa yang didengarnya barusan. Dia membayangkan jika Satria Abimana putranya akan menikah dengan seorang gadis dari kalangan terhormat dan menjalani kehidupan yang lebih baik lagi.
“Kamu yakin kalau kamu akan menikahi Liany?” tanya Tante Katrin yang ingin meyakinkan pilihan Satria.
“Tentu saja, bukankah itu bagus? Aku bisa menyelamatkan pernikahanmu karena suamimu tengah mengincar janda muda ini. Paling tidak aku bisa menjauhkan Liany dari laki-laki yang mencari kepuasan selain dari istrinya,” jawab Satria telak. Tante Katrin menghela napas paling tidak ucapan Satria ada benarnya. Suaminya akan menjauhi Liany jika perempuan muda itu menikah dengan Satria.
“Aku sedang tidak meminta izin darimu, aku hanya ingin memberitahumu, Liany memintaku untuk memberitahukan kabar baik ini kepada ibu kandungku.” Satria menekankan suaranya pada kata ibu kandung. Mata Tante Katrin mengerjap menghalau air yang mulai berkumpul di matanya.
“Dan satu lagi, aku harap kau bisa memberi pengertian kepada Myla sehingga dia tidak salah paham kepada wanitaku, Liany bukan ular atau hewan apapun yang sebut Myla untuk calon istriku. Aku tidak mau ada keributan yang dibuat oleh putrimu itu dan mengganggu Liany. Cobalah untuk jujur kepada mereka sebelum aku sendiri yang akan mengatakan sebenarnya.” Satria mengambil ponselnya di meja dan bersiap pergi.
“Kau sudah mau pulang?” tanya Tante Katrin dengan sedikit kecewa, dia mengira Satria akan meluangkan waktu yang banyak untuknya.
“Aku sudah mengatakan apa yang ingin kukatakan, lagian di kantor juga sedang banyak pekerjaan. Aku akan beritahukan tanggal pernikahannya kalau kami sudah menyelesaikan berkas kelengkapan kami.”
“Selamat yaa, Nak. Tak bisa dipungkiri kau tetap terlihat bahagia meskipun bersikap kaku padaku.”
Satria hanya tersenyum tipis kemudian berlalu dari hadapan Tante Katrin. Perempuan itu hanya diam terduduk di kursi, seorang pelayan datang membawakan pesanan minuman dinginnya. Isi kepala Tante Katrin sedang bekerja keras untuk mencari cara bagaimana menyampaikan perihal Satria kepada putri dan suaminya.
Infus Myla sudah bisa dilepas, dokter menyarankan untuk tidak stress dan banyak istirahat. Seseorang mengetuk pintu kamar perawatannya, kemudian sesosok pria muda muncul dari balik pintu. Myla mengira jika Satria yang datang menjenguknya ternyata laki-laki itu Demian. Tangannya sudah tidak dibebat lagi dan Demian menyunggingkan senyum yang menawan.
“Pagi, Myla, maaf aku baru tahu kalau kamu sakit semalam.”
“Tahu dari mana aku sakit?” tanya Myla menyelidik, dia tidak melihat Demian melihat story di aplikasi chattingnya.
“Dari Pak Bos, dia bilang kalau kamu lagi sakit jadi aku minta izin ke dia buat jengukin kamu pagi ini.” Demian membawakan Myla buket bunga yang segar dan harum.
__ADS_1
“Terima kasih, bunganya bagus sekali,” ujar Myla dengan sedikit senyum.
“Kamu sakit apa? Untung tanganku udah sembuh jadi sepertinya giliran aku yang bakal jagain kamu deh.” Demian mengambil kursi dan duduk di samping tempat tidur Myla.
“Aku cuma kelelahan saja dan asam lambungku naik, kamu gak perlu repot-repot jagain aku.” Myla meletakkan buket bunga itu di atas nakas samping tempat tidurnya. Demian mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar Myla, kamar VIP yang mengingatkan sepotong kenangan tentang masa lalunya.
“Mas Satria sedang sibuk ya?” tanya Myla perlahan, dia berharap jika lelaki muda yang disukainya itu bisa datang untuk menjenguknya.
“Hu umh, dia sedang mempersiapkan sesuatu jadi sampai akhir bulan ini dia bakal sibuk banget.” Demian sudah terikat janji jika dia tidak akan menceritakan ke siapapun tentang persiapan pernikahannya dengan Liany. Bukan Myla yang dikhawatirkan Satria tetapi dia tidak ingin insiden restoran itu akan menimpa Liany lagi. Hanya tim inti Sparkling saja yang tahu tentang rencana pernikahan Pak Bos mereka.
Myla hanya ber ‘ooh’ pelan dan menelan sedikit kekecewaannya, hanya Demian saja yang datang menjenguknya di hari ketiga dia berada di rumah sakit.
“Kedatangan aku gak akan buat seseorang marah ‘kan?” tanya Demian memecah kebisuan mereka berdua.
“Maksud kamu?” balas Myla dengan tanya pula, pikirannya yang tertuju pada Satria membuatnya kehilangan fokus pada Demian.
“Oooh … aku belum punya pacar, rasanya susah cari laki-laki yang seperti papaku….” Myla tidak melanjutkan kalimatnya. Dia baru saja teringat apa yang dilakukan oleh papanya belakangan ini yang membuat Myla patah hati. Mungkin mulai sekarang dia harus mengubah standar dan kriteria tentang calon pasangan hidupnya.
“Berarti aku masih ada kesempatan,” ujar Demian nyaris tak terdengar.
Myla hanya tertawa kecil menanggapi gombalan Demian. Hatinya masih tertuju pada Satria rasanya tak mungkin untuk memberikan jalan kepada Demian.
“Aku menyukai orang lain tetapi orang lain itu tidak merasakan hal yang sama. Bagaimana menurutmu?” tanya Myla dengan jujur mengungkapkan perasaannya. Sesaat Demian terdiam dan berpikir.
“Berarti saat ini aku merasakan hal yang doong dengan kamu, aku suka kamu tetapi kamu suka orang lain, aku harus bagaimana sekarang?” Demian balik bertanya.
__ADS_1
“Aku hanya bisa menawarkan pertemanan kepadamu saat ini Demian, aku masih berharap ada keajaiban pada kisah cintaku.” Myla menatap Demian dengan serius. Dia tidak ingin Demian berharap banyak kepadanya dan menunggu hal yang tidak pasti.
“Dan aku merasa beruntung untuk itu, paling tidak kau tidak mendepakku jauh dari dirimu.” Demian tersenyum lalu mengulurkan tangannya untuk meminta Myla menjabat tangannya.
“Untuk pertemanan,” tawar Demian memberikan kode kepada Myla.
“Untuk pertemanan.” Myla membalas jabat tangan Demian lalu keduanya tertawa kecil.
Ternyata Demian adalah sosok yang menyenangkan menurut Myla, laki-laki itu pandai bercerita dan mudah membuatnya tertawa. Berbagai lelucon diceritakannya kepada Myla sehingga gadis itu merasa terhibur dengan kehadiran Demian. Tak terasa sudah dua jam Demian menemani Myla tanpa bosan, dia melirik jam tangannya.
“Myla, aku harus kembali ke kantor, bilang sama aku kapan kamu akan pulang, aku akan menjemput dan mengantarkanmu.”
“Gak perlu repot, kedua orang tuaku pasti akan menjemputku nanti, tetapi aku akan tetap mengabarimu.” Myla dan Demian sejenak beradu pandang lalu bersamaan tersenyum.
“Baiklah, lekas sembuh yaa, aku akan menghubungi kamu lagi nanti,” ujar Demian lalu melambaikan tangannya sebelum menghilang dari balik pintu yang ditutupnya rapat.
Liany sedang serius mengetik di depan komputernya, ada beberapa surat penting yang harus segera diselesaikannya. Satria pun sedang sibuk dengan komputernya, suasana hening karena masing-masing tenggelam dengan kesibukan masing-masing. Waktu sudah hampir menunjukkan jam makan siang dan Satria sudah berjanji pada Liany untuk makan siang bersama setelah menjenguk Rangga di daycare.
Liany tiba-tiba teringat sesuatu jika salah satu berkasnya tertinggal di rumah dan dia harus mengambilnya.
“Sat, salah satu file ketinggalan di rumah, flashdisknya ketinggalan aku harus pulang.” Liany mengambil tas tangannya dan buru-buru meninggalkan kantor.
“Jangan lama-lama, kita harus lihat Rangga dulu sebelum makan siang!” seru Satria.
“Pasti dia memikirkan banyak hal akhir-akhir ini sampai pekerjaannya berantakan, bahkan ponselnya tertinggal begitu saja.” Satria mengambil ponsel Liany dan menaruhnya di atas mejanya. Dia akan menyelesaikan sedikit lagi editannya kemudian akan menyusul Liany setelahnya.
__ADS_1
Dengan terburu-buru Liany turun dari ojek online yang membawanya pulang. Segera dia masuk untuk mencari benda yang dibutuhkannya itu. Dia menemukannya dan segera dimasukkan ke dalam tas, dilirknya jam di dinding, Liany menghitung waktu, sebaiknya dia meminta saja Satria menjemputnya dan mereka bersama-sama ke daycare menjenguk Rangga. Liany sedang membelakangi pintu ketika sesosok laki-laki masuk ke dalam rumahnya.
“Liany, aku merindukanmu.” Suara berat itu membuat Liany tersentak kaget dan berbalik.