
Myla nyaris terhempas ketika dokter Wilma menyatakan hari dan jam kematian mamanya, lalu dokter sahabat mamanya menarik selimut Tante Katrin hingga menutup wajah cantik yang tak bernyawa itu lagi. Seakan seperti mimpi buruk Myla menampar-nampar pipinya sendiri agar bisa terbangun, sayangnya ini bukan mimpi, mamanya memang sudah pergi untuk selamanya. Om Rudy berjalan perlahan mendekati jasad istrinya, disibak selimut yang menutupi Tante Katrin, diamatinya wajah yang cantik seakan sedang tertidur.
“Kat, kamu kok gak pamit sih mau pergi jauh seperti ini, Sayang? Kenapa kamu gak tunggu aku dan anak-anak kamu ada? Kenapa kamu pergi diam-diam, Kat?” suara parau Om Rudy terdengar sesak. Dokter Wilma membuka kacamatanya dan mengusap air mata yang tak bisa dibendungnya, Tante Katrin bukan hanya pasiennya tetapi sahabatnya untuk berbagi suka dan duka, kehilangannya begitu cepat bukan hal yang bisa diduganya.
“Rud, tabahkan hati kamu, ikhlaskan kepergiannya,” ujar dokter Wilma sambil mengusap bahu Om Rudy berkali-kali.
“Wilma, bahkan dia tidak mengatakan sepatah kata pun, dia tidak pamitan, dia pergi begitu saja,” jawab Om Rudy dengan suara gemetar menahan sesak di dadanya.
“Sabar, Rudy, sabar, kuatkan hatimu, kau harus kuat demi Myla,” bisik dokter Wilma. Perhatian perempuan itu pun beralih pada putri sahabatnya yang masih mematung di sudut ruangan.
“Myla, Sayang, ikhlaskan kepergian mama kamu, ya. Kau harus kua, Sayang, kau masih punya papamu.” Dokter Wilma memeluk gadis itu dan mengusap punggungnya. Seakan tersadar barulah tangis Myla pecah dalam pelukan dokter itu. Diusapnya punggung Myla berkali-kali dengan lembut dan membisikkan kat-kata penguatan dan penghiburan kepadanya. Dia pun teringat untuk menghubungi seseorang, Satria, lelaki muda itu juga harus tahu jika Tante Katrin sudah tiada lagi bersama mereka. Tante Katrin kalah oleh penyakitnya tetapi pergi dengan begitu damai.
Satria nyaris saja menjatuhkan ponselnya ketika mendengar kabar yang disampaikan dokter Wilma, dokter keluarga Tante Katrin. Dia terduduk di ujung ranjang masih menatap nanar ponsel yang dipegangnya dengan tangan gemetar. Liany yang baru saja masuk kamar memandangi suaminya dengan keheranan. Baru kali ini dia melihat ekspresi Satria yang aneh dan jemari yang bergetar.
“Sat, ada apa?” tanya Liany sambil menyentuh bahu suaminya, ponsel yang nyaris tak digenggamnya lagi diambil Liany dan diletakkan di atas tempat tidur mereka. Istrinya itu menunggu Satria untuk berbicara sambil duduk di sampingnya.
“Kamu habis terima telpon dari siapa sampai kamu syok seperti ini?” tanya Liany lagi dengan lembut.
Satria hanya menoleh dengan mata yang berkaca-kaca, hal itu membuat Liany kaget ditambah Satria yang tiba-tiba memeluknya dengan erat.
“Sat, ada apa? Katakan, ada apa Satria?” desak Liany sambil membalas pelukan suaminya.
“Dia sudah pergi, Lia … dia bahkan tidak berpamitan pada siapapun, dia pergi begitu saja…”
“Maksud kamu siapa?”
“Mama baru saja pergi Lia, mama sudah tidak ada, mama pergi di kala dia sendirian di rumah sakit, mama sudah meninggal, Liany,” bisik lirih Satria, ada luka yang dalam terasa dari suara laki-laki itu.
__ADS_1
Liany memekik kecil karena terkejut, seketika air matanya merebak. Wanita baik, ramah dan penyayang itu akhirnya tak kuasa melawan penyakitnya.
“Aku belum sempat menebus salah dan dosaku padanya, Lia. Kenapa dia pergi secepat itu? Apa dia juga ingin menghukumku?”
“Tidak Satria … tidak, mama tidak sedang menghukum, mama hanya kalah dalam perlawanannya, mama hanya lebih dulu menyelesaikan kisahnya. Mama tidak akan pernah benar-benar pergi di kita, satria,” hibur Liany dengan menekan perasaan sedih yang juga menghantamnya.
Satria semakin terisak, tak ada lagi sisa kemarahannya, tak ada lagi sisa dendamnya, sesal begitu menyelimutinya dan beribu kata andai memenuhi kepala lelaki itu.
“Ayo Sat, kita harus bersiap untuk pemakaman mama, kau harus kuat Sat, ada Myla di sana dan Om Rudy yang juga sedang kehilangan, mereka adalah keluargamu juga. Kalian harus bisa saling menopang dan menjaga satu dengan yang lainnya. Tegarkan hatimu, Sayangku,” bisik Liany yang seakan tengah menguatkan dirinya sendiri. Satria melepaskan pelukannya, hatinya masih terasa tercabik-cabik dengan kepergian Tante Katrin yang begitu cepat. Liany menangkupkan kedua tangannya pada pipi suaminya, dahi mereka saling menempel. Satria pun melakukan hal yang sama, meletakkan kedua telapak tangannya pada pipi Liany seakan saling berbagi kekuatan di dalam duka yang menghampiri biduk baru rumah tangga mereka.
“Aku akan selalu bersamamu dalam suka maupun duka, kita akan hadapi duka kehilangan ini bersama-sama, Sat,” ucap Liany pelan pada Satria.
“Terima kasih, Sayang, terima kasih kau ada di saat aku nyaris tumbang,” balas Satria yang mulai sedikit tenang. Liany mengecup dahi Satria dengan dalam dan penuh perasaan.
“Ayo kita bersiap kesana, biar Rangga bersama Lilis saja di rumah,” ajak Liany setelah merasa suaminya sudah tenang. Satria mengangguk lalu menarik napasnya panjang.
Gadis itu masih menangis tersedu-sedu sambil memeluk nisan mamanya, Demian berjongkok sambil mengusap-usap bahu Myla. Pakaian hitam yang membalut tubuhnya membuat suasana muram lekat menyelimuti gadis itu.
“Kita pulang yaa, Myla, kasihan papa kamu, hanya kamu yang tersisa untuk penyemangat hidupnya, ayolah kita pulang, aku gak mau kamu jatuh sakit,” bujuk Demian.
“Kamu pulang saja sana, aku masih mau di sini dengan mamaku!” hardik Myla. Tangisnya kembali pecah, kepergian mamanya seperti itu membuatnya terpuruk dalam kesedihan yang yang dalam.
“Baiklah, aku akan menemani kamu di sini,” ujar Demian lalu mengambil posisi duduk di samping Myla.
“Pergi saja kamu! Apa kamu pernah merasakan sedihnya ditinggal seperti ini hah?” sergah Myla lagi yang melihat Demian justru duduk di sampingnya.
“Iya, aku pernah. Aku pernah ada di posisi kamu, bahkan aku ingin memeluk tiga nisan bersamaan karena ibu, kakak perempuan dan keponakan yang paling aku sayang bersamaan pergi meninggalkan aku dalam kecelakaan tragis. Aku tahu rasanya ditinggalkan seperti itu, Myla.” Demian menatap sendu pada gadis itu, kematian Tante Katrin mau tak mau membuat kenangan di dalam kepala Demian kembali berputar seperti film.
__ADS_1
“Sangking sedih dan terpukulnya aku tak tahu ingin memeluk nisan siapa karena ketiganya sangat berarti untukku, ibuku, Diana kakakku dan si kecil Brian yang saat itu umurnya baru lima tahun. Aku seperti orang gila saat mendengar mereka kecelakaan dan tidak selamat, padahal di pagi harinya aku masih sarapan bersama mereka, Brian masih bermain bersamaku dan memintaku untuk mengambil gambarnya sebanyak mungkin.”
Myla mengangkat kepalanya mendengar cerita Demian, dia tidak bisa membayangkan kehilangan tiga orang dikasihi secara bersamaan dan mendadak pula. Paling tidak dalam kasusnya, mamanya menang sedang sakit dan kemungkinan untuk bertahan atau meninggal dunia memang fifty-fifty. Gadis itu mengelap air matanya yang membekas di pipinya, matanya bengkak dan memerah karena menangis selama berjam-jam. Demian melirik gadis yang mulai tenang di sebelahnya.
“Kau bisa berkunjung ke sini sesering mungkin, Myla, aku akan menemanimu, tetapi sekarang kau juga butuh istirahat jiwa dan raga kamu.” Demian mengambil tangan Myla, dibersihkannya tangan itu dari sisa-sisa tanah yang menempel.
“Kita pulang ya?” ajak Demian lagi dengan lembut. Myla akhirnya setuju dan menuruti kata-kata Demian. Namun, emosi dan tenaga Myla yang sudah terkuras membuat gadis itu limbung dan nyaris terjatuh. Sigap Demian menangkap tubuh Myla yang lemas, gadis itu kehilangan kekuatannya juga setengah kesadarannya. Dengan mantap Demian membopong Myla keluar dari area pemakaman, tanpa diduga ternyata Chico menunggu Demian keluar dari sana. Chico membuka pintu mobilnya segera ketika melihat Myla dalam gendongan Demian bagai mayat hidup.
“Pingsan dia?” tanya Chico dengan nada prihatin, dia baru saja tahu kalau gadis yang dulu kerap bolak balik mendatangi kantor Sparkling adalah adik dari atasannya. Demian hanya mengangguk dan meletakkan Myla hati-hati di dalam mobil.
“Pak bos udah jalan?” Demian balik bertanya dan mengedarkan pandangan pada jalan pemakaman yang sudah sepi.
“Iya udah, bareng sama istrinya, bapak tiri Pak bos kayaknya syok banget ditinggal sama mamanya pak bos, kasihan mereka berdua ini,” ujar Chico sambil menyalakan mobil.
“Kita kemana nih?” lanjut Chico yang melajukan mobilnya meninggalkan pemakaman.
“Yaa ke rumah Myla anterin dia pulang, emang mau dibawa kemana anak gadis orang?”
“Yaa kali … kamu mau bawa dia dulu ke rumah sakit ato kemana kek,”
“Enggak … enggak … buruan bawa dia pulang ke rumahnya, adeknya pak bos ini, bisa gawat kalau abangnya ngamuk. Kasihan memang keluarga ini, baru aja pak bos bisa berdamai dengan mamanya malah mamanya gak panjang umur, hmmmhhh… dunia.”
“Kasihan siih kasihan … kamu sendiri apa kabar? Apa kamu sudah berdamai dengan masa lalu kamu sendiri? Terakhir kamu kunjungi makam ibu kamu kapan hah?”
Demian terdiam, pemakaman Tante Katrin menyibak kenangan masa lalunya, duka kehilangan yang sama dirasakannya seperti Myla dan keluarganya. Namun, duka itu jauh terasa lebih sakit karena dia merasa menjadi penyebab ketiga orang yang sangat dikasihinya itu meninggal dunia.
“Udah aah kamu jangan bahas itu dulu, kita kasih penghiburan yang terbaik buat keluarga pak bos.” Demian mencoba membungkam Chico untuk tidak mengulik lagi masa lalunya. Dalam pangkuannya Myla masih belum sadarkan diri, dibelainya kepala gadis itu dengan perasaan sayang. Dirinya berjanji akan selalu menemani gadis itu hingga jiwa Myla tidak rapuh lagi. Mungkin dengan begitu Demian bisa menyembuhkan juga dirinya dari luka masa lampau yang masih membayanginya dan mencoba kata-kata sahabatnya Chico untuk berdamai dengan masa lalu.
__ADS_1