
Sudah beberapa hari kondisi Rangga mulai membaik, demamnya sudah turun, Satria dan Liany beraktifitas seperti semula. Beberapa brosur perguruan tinggi dikirimkan Karinda untuk dipelajari Liany agar bisa sesuai dengan kebutuhan dan waktu Liany yang masih memiliki bayi. Hari ini adalah hari pertama Demian bekerja sebagai CEO di Karisma Developer. Satria benar-benar mempercayakan Karisma di tangan Demian sahabatnya itu.
Celotehan Rangga bersama Lilis terdengar dari halaman samping rumah, gadis pengasuh itu sedang mengajak Rangga bermain sambil menyuapinya makanan. Liany sedang menyiapkan jas yang akan dikenakan Satria ke kantor.
“Sayang, hari ini ada klien baru Sparkling dan mungkin akan ada pertemuan-pertemuan sampai sore. Aku sedikit pulang terlambat tidak apa-apa, ya?” Satria merengkuh pinggang Liany ketika perempuan itu sedang memasangkan dasi di leher suaminya.
“Kenapa harus tanya begitu? Aku tahu Sparkling kian hari kian besar dan banyak klien baru, aku justru sangat bersyukur yang penting kamu makan tepat waktu yaa,” ujar Liany dengan lembut.
“Kamu memang istri yang paaaaling pengertian, terima kasih, Sayang.” Sebuah kecupan mendarat di dahi Liany dengan hangat. Liany tersenyum bahagia, di dalam hati justru dia yang selalu ingin berterima kasih kepada Satria yang telah mengubah hidupnya sejauh ini.
Satria mengeluarkan mobilnya perlahan sambil melambai-lambaikan tangannya kepada Rangga dan bayi itu merespon dengan tawanya yang lucu dan menggemaskan. Pandangan Satria tertuju pada sebuah mobil minibus berwarna hitam yang parkir tak jauh dari rumahnya. Ada dua orang laki-laki yang terlihat sedang bercakap-cakap di dalam mobil itu. Satria pun melewatinya begitu saja tanpa menaruh curiga sedikit pun.
“Buseeet … perempuan ini bukan orang biasa, Tom! Dia komisaris dari sebuah perusahaan, gimana ceritanya tuh klien kita bilang kalau dia janda miskin?” Dody menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Orang yang diperintahkan untuk dicari ternyata bukan orang sembarangan.
“Jadi kita harus gimana, Dod? Gue gak mau cari perkara sama orang-orang kaya ini, serem kalo kita tiba-tiba diciduk terus kita hilang, gue masih mau hidup. Bayarannya gak sepadan!” keluh Tomi yang merupakan orang bayaran Eve dalam mencari Liany.
“Lu liat kan tadi? Suaminya tinggi, cakep, ganteng dan bos-bos pula, gue gak mau urusan yang ribet daah!” timpal Dody pula.
“Biar kita lihat aja nih perkembangannya, gue juga gak mau terlibat masalah besar. Kita buat laporan aja di mana perempuan ini tinggal tetapi gak usah bilang soal suaminya yang sekarang. Si mba Eve itu juga keliatan banget songongnya, biar dia tahu rasa deeh kalo mantan iparnya yang sekarang tuh udah jadi tajir!” cetus Tomi yang terkejut mengetahui siapa Liany sebenarnya salam seminggu ini.
“Iya, gitu aja deeh, males banget gue berurusan sama perempuan itu, biar dia tahu siapa lawannya. Besok kita pulang, serahkan alamatnya bilang aja kalo Liany ini pembokat di rumah gedongan. Kita terima bayaran dan kita putus semua komunikasi sama perempuan songong itu.”
“Sekali-sekali perempuan kayak dia harus dikasih pelajaran!” lanjut Dody lagi sambil mengamati rumah kediaman Liany yang megah. Apa yang digambarkan Eve jauh sekali dengan apa yang mereka lihat sekarang ini. Tomi menggeleng-gelengkan kepalanya, di tangannya terdapat setumpuk berkas tentang data diri Liany dan suaminya pemilik Sparkling Advertising. Berkas itu dimasukkan ke dalam laci dashboard mobilnya dan tidak akan diberikan kepada Eve. Lelaki itu hanya menuliskan alamat Liany di secarik kertas yang akan diserahkan kepada Eve beberapa hari ke depan. Mereka berdua memutuskan untuk kembali ke kota mereka esok hari, pencarian mereka terhadap Liany sudah cukup.
__ADS_1
Satria merenggangkan tubuhnya, rasa penat terasa membelit punggung dan pinggangnya. Seharian dia bersama Dora dan Chico menggelar rapat serta presentasi berturut-turut. Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul delapan malam dan dia masih berada di kantornya. Desain iklan untuk kliennya baru saja selesai dan sudah saatnya dia pulang ke rumah. Tempat yang selalu memberikan rasa nyaman, pada pelukan Liany yang hangat, aroma kamar Rangga yang khas bayi, betapa kini dia selalu ingin cepat-cepat pulang ke rumah.
Lagi-lagi Satria melihat mobil mini bus hitam itu di tempat yang sama, tetapi tidak terlihat orang di sekitar situ. Rasa penasaran Satria mulai menggelitik, bukan hanya saja hari ini dia melihat mobil yang sama tetapi beberapa malam lalu dia juga melihat mobil itu melintas di depan rumahnya. Satria segera masuk ke rumah, karena tidak melihat Liany, dia masuk ke dalam ruang kerjanya dan menyalakan laptop. Diperiksanya rekaman kamera pengawas untuk beberapa hari terakhir ini.
Mata Satria menyipit, diputarnya beberapa kali rekaman yang dilihatnya itu. Mobil minibus hitam yang sama berulang kali melintas dan memarkir mobil tak jauh dari rumahnya. Dua orang yang dilihatnya tadi pagi terlihat di jelas di rekaman itu ketika mereka mengintai rumah Satria.
“Siapa mereka? Apa mereka suruhan atau bagaimana?” gumam Satria sambil melonggarkan dasinya. Kepalanya dipenuhi berbagai pertanyaan dan dugaan jika ada saingan bisnis Karisma yang sedang mengincar keselamatan keluarganya.
Satria mematikan laptop setelah mengambil gambar dan mencetaknya menjadi beberapa lembar foto dengan sudut yang berbeda. Bahkan plat mobil mereka pun disamarkan agar tidak terlihat jelas.
“Sat, kamu sudah pulang? Maaf aku tadi gak dengar kamu pulang, aku ketiduran di kamar Rangga. Kamu sudah makan malam belum?” Liany menghampiri suaminya yang sedang berganti pakaian di kamar mereka.
“Sudah, aku sudah makan malam sama Dora dan Chico, mereka juga lembur. Oh ya Lia, kamu pernah didatangi dua orang laki-laki gak beberapa hari terakhir ini?” selidik Satria.
“Ouh … tidak apa-apa,” jawab Satria yang tidak ingin memperpanjang masalah ini, dia tidak mau membuat istrinya menjadi cemas.
Diliriknya istrinya yang sedang merapikan tempat tidur lalu dia berjalan menuju jendela kamarnya dan menyibak sedikit tirai jendelanya. Mata Satria mengawasi keadaan sekeliling rumahnya, terbersit dalam benaknya untuk memperkerjakan dua orang pengamanan untuk menjaga rumahnya. Firasatnya mengatakan jika sesuatu yang buruk sedang terjadi tetapi dia belum mengetahui sumber permasalahannya.
“Sat, tidur yuuk, kamu butuh istirahat lho,” ajak Liany sambil menyibak selimut dan menepuk sisi tempat tidurnya yang kosong.
“Iya, Sayang,” sahut Satria yang berusaha untuk menepis semua perasaan tidak enak di dalam hatinya.
“Kamu memikirkan sesuatu, Sayangku?” bisik Liany, mereka sedang tidur berhadapan dan melihat tatapan Satria yang menerawang.
__ADS_1
“Heem? Tidak, aku hanya berpikir cara agar bisa membuat adik perempuan untuk Rangga,” jawab Satria sambil tersenyum. Liany mencubit pipi Satria dengan gemas, yang dibalas dengan Satria mencubit hidung Liany.
“Rangga masih kecil, Sat, apa kita bisa menunggu sampai Rangga cukup umur untuk punya adik lagi?” tanya Liany hati-hati.
“Iya, kita akan menunggu jadi aku masih punya waktu untuk memikirkan cara dan gaya yang tepat untuk membuat peluang terjadinya adik bayi perempuan untuk Rangga,” jawab Satria lagi.
“Apaan siih kamu… iihh….” Liany menarik selimut hingga menutupi wajahnya yang bersemu merah. Hal itu membuat Satria semakin gemas dengan tingkah Liany. Disingkapnya selimut itu dan Satria mendekatkan dirinya agar bisa mencium bibir Liany dengan penuh cinta.
“Kau selalu bisa menyihirku dengan tingkah lakumu,” bisik Satria setelahnya. Jemari Satria mulai membuka kancing daster Liany satu persatu dan tangannya mulai bergerilya di bagian bawah sana. Tiba-tiba terdengar suara tangisan Rangga yang membuat Satria seketika terhenti lalu bangun dari tempat tidurnya.
“Ayo kita lihat Rangga, sepertinya dia memang belum mau punya adik dalam waktu dekat ini,” ajak Satria sambil tertawa kecil.
“Kenapa anak Papa ini menangis? Sini Sayang … sini…” Satria mengambil Rangga dari dalam box, dirasakannya ada yang tidak beres dengan Rangga lalu bayi itu muntah dan mengenai Satria. Muntahan yang banyak kemudian bayi itu menangis dengan keras. Liany terkejut melihatnya dan segera membersihkan Rangga.
“Lia, kok Rangga demam lagi?” tanya Satria khawatir.
“Tadi dia baik-baik aja, Sat, yaa Tuhan … anakku kenapa?” Liany terlihat hampir menangis, Rangga masih muntah dengan hebat.
“Kita bawa ke rumah sakit sekarang, panggil Lilis untuk siapkan keperluan Rangga!” seru Satria yang bajunya sudah berlumuran muntahan Rangga. Liany segera berlari menuju kamar Lilis untuk membangunkan pengasuh bayinya. Dengan tergopoh-gopoh keduanya menuju kamar Rangga dan mengganti baju Rangga serta menyiapkan tas bayi untuk membawanya ke rumah sakit.
“Sat, ayo ganti baju dulu, baju kamu kena muntahan,” Liany meraih tisu untuk membersihkan dari dada Satria.
“Sudah-sudah… Tak perlu, aku akan ganti saja, kamu juga ganti baju, kita berangkat secepatnya.” Pasangan muda itu terlihat panik lalu berangkat menuju rumah sakit untuk memeriksakan Rangga.
__ADS_1