Di Atas Ranjang Om Rudy

Di Atas Ranjang Om Rudy
Kekasih lama


__ADS_3

“Bagaimana Om tahu aku pulang ke rumah jam segini? Om mau apa?” tanya Liany terheran-heran, rasa kagetnya belum juga pergi. Lelaki itu mendekat dengan tatapan sayu, serindu itu Om Rudy kepadanya.


Sesaat Om Rudy memandangi Liany, “Aku melihatmu meninggalkan kantor dan mengikutimu.” Om Rudy menutup pintu rumah hingga rapat.


“Aku berusaha untuk melupakanmu, tetapi semakin aku mencoba aku tidak mengenyahkan bayanganmu Liany. Maafkan aku, tetapi aku benar-benar telah jatuh cinta padamu,” Om Rudy mendekat, tangannya terjulur hendak menyentuh LIany.


“Ta-tapi Om, Lia tidak bisa bersama Om, Lia jatuh cinta pada pria lain dan kami akan menikah dalam bulan ini,” ujar Liany ketakutan. Samar tercium bau alkohol dari napas Om Rudy, Liany semakin menjaga jarak dari laki-laki itu yang sepertinya sedikit mabuk.


“Tolong tinggalkan rumah ini, Om. Lia tidak mau Myla semakin salah paham kepada Lia. Beberapa hari yang lalu Lia juga sudah menjelaskan kepada Tante Katrin kalau Lia tidak ingin merebut Om dari mereka. Tolong Om, Lia mohon jangan seperti ini.” Liany mulai ketakutan, Om Rudy bisa saja nekat.


“Selama ini aku mengira jika aku sudah bahagia dengan Katrin, tetapi dia menipuku selama ini, dia berselingkuh dengan seorang laki-laki muda yang lebih pantas untuk jadi putranya. Aku akan menceraikan Katrin, hiduplah bersamaku Liany.” Tiba-tiba saja Om Rudy meraih Liany dalam pelukannya dan hendak menciumnya membabi buta.


“Om, jangaaan… lepaskaaaan! Perasaan tidak bisa dipaksa, Om! Sadar, Om, sadaaar … jangan lakukan ini!” Liany memberontak dan mendorong dada Om Rudy yang semakin menempel kepadanya.


“Aku tidak bisa melupakanmu!” bentak Om Rudy yang membuat Liany terdiam, tatapan Om Rudy yang terlihat sedih dan hendak menangis membuat Liany sejenak terpaku.


“Aku ingin melupakanmu dan menganggap tidak pernah terjadi apa-apa di dalam hatiku, tetapi aku tidak bisa Liany!” Om Rudy sudah putus asa dengan perasaannya sendiri sehingga dia nekat mendatangi Liany dengan cara seperti ini.


“Tetapi dengan seperti ini, Om sedang melecehkan Lia… lepaskan dan ikhlaskan semuanya, Lia akan menikah dengan laki-laki lain, tolong mengerti, Om!” Liany sama frustasinya dengan sikap Om Rudy yang posesif kepadanya.


“Tidak, Lia… tidak kau harus jadi milikku, aku pernah sekali kehilanganmu aku tidak akan kehilanganmu yang kedua kalinya!” Om Rudy kembali mempererat pelukannya.


“Apa maksud, Om? Lepaskaaan… lepaaaskaaan…!” Liany berontak ketika wajah Om Rudy menyasar pada wajah dan lehernya.


“Aku tahu kau akan kembali kepadaku, Lily, kau akan kembali kepadaku, kau memintaku menikahi Katrin, aku sudah melakukannya untukmu. Kau menikah dengan lelaki itu karena perjodohan aku rela, tetapi aku tidak bisa mendengar kematianmu, Lily. Kau kembali sebagai Liany kan? Kau kembali untukku kan?” Om Rudy seakan meracau hal yang aneh tetapi Liany tahu jika yang dibicarakan Om Rudy bukan dirinya tetapi ibunya. Orang-orang memang mengatakan jika Liany sangat mirip dengan mendiang ibunya.


“Om! Aku Liany, bukan siapapun, Om sudah gila!” sentak Liany, pelukan Om Rudy mengendur sehingga Liany dapat melepaskan diri dari pelukan Om Rudy. Namun, lelaki itu mengejar dan menarik baju Liany sehingga baju di bagian bahunya sobek.


Liany terjatuh, lutut dan sikunya terasa sakit. Sedikit lagi dia bisa menggapai pintu tetapi tangan Om Rudy mencegahnya dan membalik Liany sehingga terlentang di hadapannya.


“Dulu kau tidak pernah menolakku, Lily, kenapa sekarang kau bersikap aku adalah laki-laki yang menakutkan, tidak … tidak … jangan menangis, aku menyayangimu, aku masih menyayangimu,” ucap Om Rudy yang seakan berbicara dengan sosok lain.

__ADS_1


Liany menggeleng dengan tangis tertahan, sosok Om Rudy kini sangat membuatnya ketakutan. Kelembutan dan perhatian Om Rudy berubah menjadi aneh dan memperlakukan Liany sebagai orang lain. “Jangan tinggalkan aku lagi, Lily, jangan tinggalkan aku lagi….” Om Rudy meraih Liany dan memaksa untuk memeluknya.


“Jangaaaan … lepaskan…. Lepaskan Om!” Liany masih berontak dan hendak berdiri tiba-tiba saja pintu terbuka.


“Bajingan tua!” Satria menarik Om Rudy menjauh dari Liany dan melayangkan tinjunya ke pipi Om Rudy. Om Rudy terpental hingga menabrak meja kemudian jatuh tersungkur. Satria mengambil Liany yang terduduk di lantai dengan penampilan kacau juga baju yang sobek.


“Kau tidak apa-apa?” Satria menangkupkan kedua telapak tangannya di wajah Liany. Perempuan itu mengangguk masih dengan air matanya yang mengalir deras. Mendadak Om Rudy berdiri dan menghantam Satria menggunakan kursi plastik yang biasa Liany dan Satria pakai untuk makan bersama.


Braaak …!


Kursi itu patah mengenai bahu dan punggung Satria, Liany memekik tetapi Satria laki-laki yang tangguh, dia berdiri dan berbalik menyerang Om Rudy. Sesaat keduanya bergumul di lantai saling serang dan saling pukul. Liany mencoba menghentikan keduanya, Liany menarik Om Rudy yang hendak meninju wajah Satria. Kekuatannya tidak sepadan sehingga Liany justru terkena siku Om Rudy yang membuatnya terlempar ke sudut.


Satria semakin marah dan melawan dengan kekuatan penuh, dua pukulan bersarang di wajah dan perut Om Rudy yang membuat Om Rudy menyerah.


“Lily, maaf aku tidak sengaja menyakitimu, aku minta maaf….” Om Rudy bersimpuh sambil memegangi perutnya. Satria segera meraih Liany yang meringkuk di sudut ruangan. Matanya terpejam menahan sakit di ulu hatinya.


“Lia, Liany, lihat aku, apa kau baik-baik saja?” Satria menepuk pelan pipi Liany. Erangan kecil terdengar dari mulut perempuan itu.


“Apa kau sampai segila ini ingin memiliki Liany hah?! Apa kah Katrin tidak cukup sebagai istrimu?” bentak Satria masih dengan kemarahannya.


Satria mengalihkan pandangannya kepada Liany, tatapannya bertemu dengan pandangan Liany yang nanar menahan rasa sakit. Kebingungan melanda mereka berdua. Om Rudy melihat Liany sebagai Lily dan itu sangat aneh.


“Om Rudy menyebut nama ibuku, aku tidak tahu apa yang terjadi tetapi sepertinya ada hubungan di antara mereka bertiga yang aku tidak mengerti,” ucap Liany dengan lirih. Liany mencoba bangkit, Satria dengan sigap membantunya untuk berdiri. Dirapikannya rambut Liany yang acak-acakan, diambilnya selimut Rangga untuk menutupi bahu Liany yang terlihat.


“Tenangkan lah dirimu, aku akan memastikan jika laki-laki ini tidak akan mengganggumu lagi, dia dalam keadaan setengah mabuk. Aku sendiri akan memulangkannya pada istrinya.”


“Tetapi Rangga … aku harus menjemputnya,” tukas Liany cepat.


“Apa kau bisa naik taksi online?” Satria menatapnya cemas, dia menyerahkan ponsel Liany yang tertinggal di meja, alasan yang membawanya tiba di rumah Liany tepat pada waktunya.


“Iya, aku akan ganti baju dan menjemputnya, jangan khawatir, aku baik-baik saja. Terima kasih,” ucap Liany mengambil ponsel itu dari Satria.

__ADS_1


Satria mendekati Om Rudy yang duduk bersandar di tembok, dalam diam air mata laki-laki itu mengalir. Satria mengerahkan segenap kekuatannya untuk membantu laki-laki itu bediri.


“Aku akan membawamu pada Katrin, aku tidak mau ada keributan lagi jika masih mengacau kau berakhir di kantor polisi!”


“Lily … Lily…” Om Rudy mencoba menggapai Liany tetapi Satria menghalanginya.


“Ayo kita lekas pergi dari sini, apa yang kau pikirkan sehingga kau mabuk di siang hari begini, hah?!” hardik Satria kesal. Dirabanya saku Om Rudy untuk menemukan kunci mobilnya. Dimasukkan laki-laki itu segera di kabin penumpang lalu Satria bergegas duduk di belakang setir. Sebelum mobil itu berjalan dia menelpon Tante Katrin.


“Segera temui aku di rumah, aku akan mengantarkan suamimu yang baru saja berbuat ulah di rumah calon istriku. Aku harus menghajarnya agar dia menghentikan perbuatan busuknya pada Liany. Ingat! Aku tidak mau menunggu, kau harus tiba di rumah sebelum aku!” perintah Satria dengan nada kesal. Kemarahannya yang timbul membuatnya semakin kasar berbicara kepada Tante Katrin.


Tante Katrin benar-benar mematuhi perkataan Satria, dengan cemas dia menunggu di teras rumah dan bergegas membuka pagar ketika melihat mobil suaminya.


“Astaga Rudy, Satria! Apa yang sudah terjadi pada kalian berdua?!” Mata Tante Katrin membelalak ketika melihat Satria memapah Om Rudy turun dari mobil dan membawanya ke dalam rumah.


“Seharusnya aku yang bertanya, siapa Lily itu? Suamimu datang dengan keadaan mabuk ke rumah Liany dan hampir melecehkan calon istriku. Dia tak hentinya menyebut nama Lily, ada hubungan apa dengan kalian?” Satria membantu Om Rudy untuk berbaring di kamarnya. Laki-laki itu tak meracau lagi dan sepertinya dia jatuh tertidur di atas ranjangnya yang nyaman.


Lagi-lagi Tante Katrin tersentak kaget mendengar nama itu, “Tidak mungkin… apakah Liany memicu ingatan Rudy tentang Lily?” gumamnya.


“Apa benar Lily itu ibu kandung Liany?” tanya Satria lagi penasaran.


Tante Katrin memandang sejenak ke arah putranya yang menunggu jawaban.


“Iya, benar. Lily adalah ibu kandung Liany. Dulu Lily menjalin hubungan dengan Rudy, tetapi mereka tidak mendapat restu, Lily dijodohkan dengan laki-laki lain oleh kakek dan nenekmu. Rudy saat itu benar-benar frustasi. Saat itu aku sudah menikah dengan ayahmu, dan tengah mengandungmu. Lili ternyata tak berhenti mencintai Rudy, cukup lama Lily dan suaminya baru dikaruniai seorang putri. Hingga akhirnya aku berpisah dengan ayahmu lalu Lily sakit keras setelah suaminya meninggal dunia. Lily meminta Rudy untuk menikah denganku. Soal ayahmu dan kau—“


“Cukup, kau tak perlu menjelaskan apa-apa tentangku dan ayah. Mulai sekarang perhatikan suamimu baik-baik, jika dia masih mengganggu Liany aku bersumpah akan menyeretnya ke penjara jika dia masih hidup di tanganku!” ancam Satria dengan serius.


“Satria, aku minta maaf, aku akan meminta Rudy mengunjungi psikiaternya lagi dan sampaikan permintaan maafku kepada Liany.” Tante Katrin tak punya lain, dirinya sungguh tidak menyadari jika kehadiran Liany di rumahnya saat itu memicu kenangan Lily di alam bawah sadar Rudy. Kehilangan dan kesedihan itu ternyata menjadi bom waktu untuk suaminya.


Dipandanginya punggung putranya yang menjauh lalu beralih pada wajah Om Rudy yang tampak memerah dan memar.


“Maafkan aku yang sudah mengabaikanmu begitu lama… aku kira selama ini kita sudah cukup untuk saling mencintai dan memiliki satu sama lain, maafkan aku Rudy yang sudah membiarkanmu kesepian dan sendirian. Aku tak menyangka Liany akan membuatmu merasa kembali ke masa lalu, maafkan aku,” bisik Tante Katrin sambil mengecup pipi Om Rudy. Dipeluknya tubuh laki-laki itu lalu Tante Katrin menangis terisak penuh penyesalan.

__ADS_1


“Lily … Lily … jangan pergi ….” igau Om Rudy yang membuat Tante Katrin semakin menangis keras.


“Rudy, Lily sudah tidak ada, kembalilah padaku, Rudy, kita mulai semuanya dari awal lagi, kumohon.”


__ADS_2