
Tante Katrin masih tak sadarkan diri di dalam ruangan perawatan intensif, infus, masker oksigen membuatnya terlihat seperti orang yang sedang sekarat. Myla tak berhenti menangis dari balik jendela perawatan. Om Rudy pun hanya bisa memeluk dan mengusap punggung Myla dengan lembut berulang kali.
“Pa, Mama kenapa? Mama selama ini sedang sakit ya? Kenapa Myla gak bisa lihat itu, Pa?” Myla terisak dalam pelukan papanya.
“Papa juga gak tau, Myla, Papa minta maaf karena sudah egois dan hanya mementingkan diri Papa sendiri, Papa benar-benar tidak menyadari jika Mama sedang sakit.” Om Rudy menyesali perbuatannya akhir-akhir ini, membiarkan dirinya tenggelam dalam obsesinya pada Liany, putri dari mendiang mantan kekasihnya dulu.
Dokter Wilma yang ketika tahu Tante Katrin jatuh pingsan lagi segera datang dan untuk melihat pasiennya itu. Saat di dalam ruangan bersama dokter Wilma Tante Katrin siuman.
“Kat, apa keluargamu sudah tahu?” bisik dokter Wilma pada Tante Katrin.
Tante Katrin menggeleng lemah, air matanya jatuh satu persatu.
“Wilma … aku ingin beritahukan hal ini tetapi aku minta tolong sama kamu, Wil, untuk memanggil Satria dan Liany, bawakan mereka berdua untukku. Aku takut gak sempat lagi untuk mengatakan hal ini.”
Dokter Wilma mengangguk setuju, “Baiklah, aku akan segera menemui mereka. Kamu istirahat dulu, semoga kamu bisa dipindahkan ke ruang perawatan segera.”
“Terima kasih, Wilma.” Tante Katrin kembali menutup matanya, dia ingin menyimpan sisa tenaganya untuk menghadapi langkah selanjutnya. Setelah mereka tahu, saling menerima dan memaafkan dirinya, Tante Katrin ikhlas untuk menjemput mautnya.
“Dokter, Mama saya bagaimana?” tanya Myla mendekati dokter Wilma. Sejenak dokter Wilma mengatur napas, lalu tersenyum untuk menenangkan Myla dan Om Rudy.
“Sejauh ini mama kamu bisa bertahan dengan baik, saya harus keluar dulu yaa, nanti saya akan kembali. Mudah-mudahan mama kamu bisa dipindahkan ke ruang perawatan segera, setelah itu saya akan jelaskan keadaan mama kamu. Permisi.”
Myla memandangi punggung dokter Wilma yang menjauh, Om Rudy meraih bahu Myla dan mengajaknya duduk untuk menunggu tindakan dokter selanjutnya.
Satria dan Liany baru saja turun di lobi kantor, mereka akan pulang bersama setelah menjemput Rangga di daycare.
“Maaf, benar Anda yang bernama Satria Abimana dan Liany?” tanya seorang perempuan yang tampaknya seumuran dengan Tante Katrin. Perempuan cantik, berkulit putih bersih, rambutnya sebahu dan berpakaian resmi.
“Iya benar, saya Satria dan ini Liany, calon istri saya, maaf Ibu siapa ya?”
“Saya Wilma, dokter yang merawat Ibu Katrin, saat ini ibu Anda ingin bertemu Anda dan calon istri Anda. Dia sedang dirawat di rumah sakit saya,” ujar dokter Wilma yang membuat Satria dan Liany tersentak kaget.
“Apa? Ibu saya sedang sakit?” tanya Satria untuk memastikan dirinya tidak salah dengar. Satria dan Liany saling berpandangan.
“Iya, Ibu Katrin sedang dalam ruang perawatan intensif, dia sahabat saya dan meminta tolong untuk memanggil kalian berdua, bisa ikut saya sekarang?” Dokter Wilma bergantian memandangi Satria dan Liany.
__ADS_1
“Temui mama kamu, Sat, aku akan temani kamu, tetapi kita urus Rangga dulu,” bujuk Liany yang melihat keraguan di wajah Satria.
Satria terdiam dan masih menimbang-nimbang perasaannya. Lalu menatap dalam pada dokter Wilma.
“Ibu saya sakit apa, Dok?” tanya laki-laki itu pelan.
“Ibu Katrin mengidap kanker darah stadium tiga, seharusnya Ibu Katrin sudah harus menjalani kemoterapi tetapi katanya putranya akan menikah jadi dia menunda pengobatannya sampai kalian menikah terlebih dulu atau paling tidak urusan dengan kalian selesai.” Dokter Wilma memandangi Satria menunggu reaksi putra sahabatnya itu.
Satria mundur selangkah, napasnya tertahan, seakan tidak percaya dengan apa yang didengar dari dokter cantik di depannya itu.
“Dokter … Anda sedang bercanda ‘kan? Dia yang meminta Anda untuk mengarang cerita ini ‘kan?” ucap Satria dengan suara gemetar.
“Satria…,” Liany meraih lengan laki-laki itu dan memeluknya erat. Jantungnya sudah hampir pecah terasa karena berita yang dibawa oleh dokter Wilma.
“Satria, saya bukan tipe orang yang senang bercanda dengan nyawa pasien saya,” Dokter Wilma membuka kacamata dan mendekat selangkah lagi ke Satria.
“Temui Ibumu, jangan sampai terlambat, dia menyayangimu, Satria. Aku bukan saja dokternya tetapi aku juga sahabatnya bertahun belakangan ini. Ini kartu namaku dan alamat rumah sakitnya, kau bisa menghubungiku jika kau tiba di sana. Aku permisi,” pamit dokter Wilma sambil memasang kembali kacamata bening ovalnya itu.
Satria masih mematung dengan bertopang pada tiang lobi kantornya, dadanya terasa mendadak sesak, matanya memerah. Liany melangkah berdiri di depan laki-laki itu sambil mengusap pipinya.
“Kita tengok Rangga dulu dan perpanjang waktu penitipannya, anak kecil masih rentan di bawa ke rumah sakit. Ayo,” ujar Satria sambil menarik napas panjang lalu menggandeng tangan perempuan itu. Mereka beriringan berjalan dengan kebisuan. Hingga sampai di tempat penitipan mereka belum banyak bicara. Tampak Satria yang berbicara pada Rangga untuk menghibur bayi yang menggapai-gapai ke arahnya.
“Papa Satria nanti balik lagi ya, Papa dan Mama mau jenguk Oma Katrin dulu di rumah sakit, gak akan lama ya Sayang.” Satria mengecup kedua pipi Rangga dan punggung tangan bayi putih yang menggemaskan hati.
Selasar rumah sakit seakan lorong paling jauh yang pernah dijalani Satria, seperti jalan yang tak ada ujungnya. Detak jantungnya lebih cepat mengetuk-ngetuk dinding dadanya, ada perasaan aneh yang merayap meminta agar Tante Katrin selamat dan sembuh dari penyakitnya. Berkali-kali tanpa sadar Satria meremas jemari Liany yang ada dalam genggamannya hingga jemari perempuan itu memerah. Liany tidak mengeluh, dia paham jika Satria saat ini sedang berperang melawan perasaan dan keegoisannya.
“Sat, itu dokter Wilma, Dok!” seru Liany yang mempercepat langkah mereka.
“Ibu kamu baru saja dipindahkan ke ruang perawatan ini, masuklah,” ujar dokter Wilma pelan. Sekilas Satria dan Liany melihat Myla dan Om Rudy di dalam sana. Liany tampak ragu dan melepaskan pegangan tangan Satria dan mundur selangkah. Dia tidak mau ada keributan di dalam kamar itu.
“Tidak apa-apa, Lia, Ibu Katrin juga sudah menunggu kamu.” Dokter Wilma membuka pintu untuk mereka berdua, sontak pandangan Om Rudy dan Myla melihat ke arah Satria dan Liany yang terlihat di ambang pintu. Tante Katrin ikut menoleh dan tersenyum lalu melambaikan tangannya meminta untuk keduanya mendekat.
“Satria, Liany kemarilah, ayo sini,” pinta Tante Katrin dengan suara yang pelan, matanya berbinar menyambut kedatangan putra dan calon menantunya itu. Tante Katrin berusaha untuk duduk, dengan sigap dokter Wilma membantunya.
“Terima kasih, yaa Wil, terima kasih kamu sudah bantu aku untuk mendatangkan Satria. Kamu di sini aja ya, temani aku.” Tante Katrin menggenggam sesaat jemari dokter Wilma seakan meminta dukungan moril lebih kepadanya sahabatnya itu. Dokter Wilma mengangguk dan mengelus bahu Tante Katrin sesaat.
__ADS_1
Myla menatap tajam pada Liany, andai mamanya tidak sakit mungkin dia sudah mengusir perempuan itu, diliriknya papanya untuk memastikan jika laki-laki itu tidak lagi memandang Liany mesra sebagai kekasihnya. Namun, Om Rudy bersikap lebih tenang, di dalam hatinya dia pun sedang berusaha untuk mengendalikan jantung serta perasaannya.
“Mama meminta kalian berkumpul di sini, agar Mama bisa meminta maaf pada kalian semua. Pada Papa, Myla dan juga Satria serta Liany,” ujar Tante Katrin.
“Sebelum Mama menikah dengan Papamu Myla, Mama ini seorang janda, kesalahan besar Mama kepada Papamu adalah Mama tidak mengatakan yang sejujurnya jika Mama adalah janda dengan satu anak.” Perempuan itu menarik napasnya panjang, matanya mulai berkaca-kaca. Myla dan Om Rudy memperlihatkan ekspresi keterkejutan mereka.
“Jadi Myla punya seorang kakak?” Myla sesaat ragu, perlahan dialihkan pandangannya kepada Satria dan Liany bergantian. Salah satu dari mereka bisa jadi adalah anak pertama mamanya. Om Rudy hanya bisa menghela napas berat, dugaannya tertuju pada Satria, laki-laki muda yang sering ditemui oleh Tante Katrin.
“Selama bertahun-tahun ini Mama merasa sangat bersalah dan berdosa kepada anak mama itu, kepada Satria, putraku yang selama ini aku ingkari keberadaannya, yang selama ini kurahasiakan dari kalian dan dunia,” ujar Tante Katrin dengan air mata yang berlomba untuk menitik.
“Papa perkenalkan ini anakku, Satria Abimana, dia bukan selingkuhan Mama, tetapi dia putraku yang selama ini telah aku abaikan. Aku minta maaf padamu Rudy…,” Tante Katrin mulai terisak.
“aku sudah menyembunyikan darimu hal ini selama bertahun-tahun,” lanjut Tante Katrin lagi.
Melihat Tante Katrin yang ringkih, pucat dan lemah serta terguncang menangis itu, pertahanan Satria bobol juga, hatinya tersentuh melihat perempuan yang telah melahirkannya itu menangis tersedu-sedu.
“Satria … Mama minta maaf, Nak. Mama minta maaf atas keegoisan, Mama. Kamu sudah Mama terlantarkan bertahun-tahun, Mama tidak pernah ada ketika kamu membutuhkan Mama, maafkan Mama … Maafkan…” Tante Katrin menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya memohon maaf dengan linangan air mata dan rasa penyesalan yang luar biasa.
Mendengar hal itu Myla menjadi syok, betapa dia sudah melakukan kesalahan besar yang tidak diketahuinya, mencintai kakaknya sendiri. Air mata Myla jatuh tanpa bisa dibendungnya lagi.
Satria menatap Tante Katrin dengan mata berkaca-kaca, apa yang ingin didengarnya bertahun-tahun ini telah didengarnya tetapi dia tidak mengharap jika mamanya akan mengatakan maaf dalam kondisi lemah seperti ini. Laki-laki muda itu mendekat lalu pelan-pelan duduk di samping Tante Katrin. Mata Satria memerah, diraihnya tangan Tante Katrin dan diciumnya pelan punggung tangan mamanya dengan penuh perasaan. Tante Katrin semakin menangis melihat putranya yang akhirnya mau mendekat kepadanya.
“Maafkan Satria juga, Mama, selama ini Satria bersikap ketus dan kurang ajar kepada Mama. Satria tidak bisa menahan rasa marah dalam diri Satria, maafkan Satria juga Mama….” Satria menarik Tante Katrin ke dalam pelukannya, mereka berdua menangis bersama dengan penuh haru.
Liany mengusap air mata yang meleleh di pipinya, juga dokter Wilma melakukan hal yang sama. Mereka terharu melihat momen ibu dan anak yang saling meminta maaf itu. Satria melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan mamanya dengan erat.
“Ketidakjujuran Mama membuat Myla menjadi perempuan yang memalukan! Myla jatuh cinta pada saudara sendiri karena Mama!” seru Myla penuh kemarahan, dia masih belum bisa menerima kenyataan jika laki-laki yang telah mencuri hatinya itu adalah kakak kandungnya sendiri.
Semua orang tersentak dengan pernyataan Myla barusan dan melihat ke arahnya.
“Myla, Mama minta maaf Sayang … Mama—“
“Mama jahaaat!” pekik Myla, kemudian gadis itu berlari meninggalkan ruangan perawatan Tante Katrin.
“Myla! Mylaaa jangan pergi, Nak!” sergah Tante Katrin, dia ingin mengejar tetapi tubuhnya terasa lemah.
__ADS_1
“Biar aku yang bicara kepadanya, Kat. Kamu gak usah khawatir, paling tidak aku sudah cukup lega mendengar penuturanmu tadi. Biar aku yang mengurus Myla.” Om Rudy pun menatap istrinya memberinya keyakinan. Dia pun akhirnya meninggalkan kamar Tante Katrin untuk mengejar putrinya itu.