Di Atas Ranjang Om Rudy

Di Atas Ranjang Om Rudy
Sang penyelamat


__ADS_3

Satria membuka pintu mobil untuk Myla dan mengantarkannya sampai di depan pintu gerbang. Dia hanya pura-pura tidak tahu alamat Myla padahal sebelumnya dia pernah mengambil ponsel Liany yang tertinggal di rumah ini. Satria tidak ingin berlama-lama karena dia tidak ingin tante Katrin melihatnya meskipun Myla memohon kepadanya untuk mampir sebentar. Bahkan kemeja Satria yang dipakai Myla tak sempat dikembalikannya.


Myla menatap belakang mobil Satria yang melaju membelah malam, bibirnya melengkungkan senyum yang tak hentinya. Hati Myla berbunga dengan sikap Satria yang gentle layaknya seorang pria sejati yang membelanya. Gadis itu masuk ke rumah ketika mobil Satria benar-benar sudah hilang dari pandangannya.


“Kamu dari mana, Myla?”tegur om Rudy yang baru saja keluar teras, dia mendengar pintu gerbang yang dibuka.


“Pesta ulang tahun teman, Pa, tapi ada kejadian jadi Myla pulang lebih awal,” jawab Myla lesu.


“Ini baju kamu?” tanya om Rudy lagi yang melihat penampilan pakaian Myla yang aneh. Myla baru tersadar jika kemeja Satria masih dipakainya.


“Ouuh … ini … Papa mau dengar ceritanya?” Myla melangkah masuk dan disambut dengan tante Katrin yang hanya memakai daster longgar. Sesaat Myla memandangi mamanya, sudah lama dia tak melihat wanita itu memakai baju santai di rumah.


“Myla? Katanya kamu lagi ada pesta ulang tahun sama teman, kok cepat pulang?” Tante Katrin duduk di sofa ruang tengah. Myla mengikutinya dan merebahkan kepalanya di pangkuan tante Katrin. Om Rudy pun ikut duduk dan menunggu Myla untuk bercerita.


“Iya, tadi Myla memang ke pesta itu, tahunya mereka rayakan di club malam, Myla mau pulang tapi gak enak juga. Pas nungguin teman yang lain Myla digangguin sama orang mabuk, bokong Myla diremas gitu. Myla marah lah, tapi dia tambah kurang ajar, Myla tampar pipinya,” tutur Myla.


“Astaga! Kamu gak apa-apa, Sayang?” Tante Katrin terperanjat kaget begitu juga om Rudy.


“Orangnya marah karena Myla gampar, Myla ditarik dan mau dipeluk-peluk gitu tapi tiba-tiba ada laki-laki yang tolongin Myla. Dia tarik bahu orang mabuk itu dan dihajarnya berkali-kali. Myla sampai kaget dan ketakutan, karena dilihatnya aku gemetar dia pakaikan aku kemejanya gitu.” Wajah Myla yang tadi memberengut berubah semringah mengingat wajah tampan penolongnya itu.


“Apa dia juga yang mengantarmu pulang tadi?” tanya om Rudy yang nyaris menahan napas mendengar cerita putrinya.


“Iya, Pa, namanya Satria, dia rekan bisnis Myla juga untuk urus advertising perusahaan. Dia CEO dari Sparkling Adv.” Penuturan Myla barusan nyaris membuat jantung tante Katrin terlepas. Dia sangat mengenal sosok yang diceritakan oleh putrinya. Dia harus bertemu dengan pemuda itu dan mengingatkannya siapa Myla.


“Mama … Mama kok bengong sih?” Myla menggoyang-goyangkan tangan tante Katrin yang membuat perempuan itu tersentak kaget.


“Humhh? Kenapa?” tanya tante Katrin yang tidak menyimak cerita Myla.


“Mama kenal dengan yang namanya Satria itu?” Myla kembali duduk dan membuka kemeja milik satria dan digulung di lengannya.

__ADS_1


“Mama kayak pernah dengar nama Sparkling itu, mungkin salah satu klien Mama pernah memakai jasa Sparkling.” Tante Katrin sebisa mungkin mengendalikan dirinya dan bersikap setenang mungkin. Dia tahu jika Satria ada di kota ini ketika tahu penolong Liany adalah putranya sendiri.


“Tante Daisy juga pake jasa Sparkling lho, jadi tante Daisy juga yang kenalkan aku sama Satria.”


“Wiiih … anak Papa kok sampai kelihatan ceria banget yaa omongin pahlawannya,” ledek om Rudy. Tante Katrin semakin gelisah mendengar candaan suaminya.


“Aaah … Papa… apaan siih? Myla mau ganti baju dulu ya!” seru gadis itu sambil beranjak dari sofa. Om Rudy tertawa melihat anak gadisnya yang salah tingkah.


“Putri kita sudah dewasa, Ma, kayaknya sudah waktunya untuk menikah.”


“Aaah … Papa, Myla masih muda, Pa, biarkan Myla menikmati dulu masa mudanya.Jangan buru-buru nikah dulu laah,” sergah tante Katrin.


“Lho… Myla itu udah dewasa, Ma, dia sudah cukup matang untuk berumah tangga,”


“Iya tapi tidak dengan Satria, dia….” Tante Katrin hampir saja kelepasan bicara tentang Satria. Om Rudy menunggu apa yang akan dikatakan istrinya itu.


“Sudah laah Ma, jangan tegang gitu dong aah … Myla juga kan gak minta nikahnya sekarang, calonnya aja belum ketahuan siapa,” ujar Om Rudy sambil mendekati tante Katrin dan merengkuhnya. Wanita itu menghela napas, hampir saja dia mengatakan siapa sesungguhnya pemuda yang telah menyelamatkan putri mereka.


Satria memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia tak kembali ke rumah sewa mereka tetapi tempat lain yang letaknya agak dipinggiran kota dengan perumahan berdempet dan ramai. Di sebuah tikungan jalan dia menepikan mobilnya dan mematikan mesin. Dibukanya jendela mobilnya dengan lebar sambil memandangi sebuah rumah tua yang tak berpenghuni. Rumputnya meninggi serta tanpa penerangan membuat rumah itu terlihat seram. Satria mengambil rokoknya dan tetap memperhatikan rumah yang dulu pernah ditinggalinya semasa kecil.


Di sana dia kerap mendapat siksaan dari ayahnya yang pemabuk, penjudi dan sering membawa berbagai macam perempuan pulang ke rumah itu. Satria kecil yang sering merasa kelaparan dan sulit baginya untuk melanjutkan sekolah padahal dia adalah siswa yang cerdas dan disayangi oleh guru-guru. Dia kembali mengenang di mana tubuhnya sering mendapat pukulan dari kesalahan yang tidak dilakukannya. Caci maki dan sejarah ibunya yang sangat buruk diceritakan berulang kali. Dirinya seperti tempat sampah pelampiasan kemarahan ayahnya akan ibu Satria yang meninggalkannya.


Hingga akhirnya penderitaan Satria berakhir, ayahnya ditemukan tewas di kamar mandi karena overdosis narkoba. Satria kecil di masukkan ke panti asuhan lalu mendapat beasiswa berkali-kali serta mendapat orang tua asuh yang membukakannya jalan pada kesuksesannya yang sekarang. Namun, luka hati Satria benar-benar tak pernah sembuh seutuhnya. Kerinduannya pada sosok ibu berubah menjadi dendam dan sakit hati yang tak berkesudahan.


[Sat, party lanjut ke apartemen Reno, ada temen baru niih!] pesan dari teman Satria di club itu kembali masuk di ponselnya diikuti dengan beberapa foto beberapa orang laki-laki dan perempuan muda yang cantik serta sensual. Satria hapal benar di mana pesta ini akan berujung, pastinya pada gelora panasnya ranjang.


[Tunggu, aku otw] Satria membuang puntung rokoknya dan memutar mobilnya menuju apartemen Reno. Mungkin ini adalah jalan terburuk untuk melepaskan rasa gundahnya pada kenikmatan sesaat seorang wanita. Perempuan yang dibayarnya untuk membuat dirinya senang, kadang Satria bersikap kasar dan dingin ketika bersama mereka di ranjang. Dia bercinta dengan hasrat amarah dendam dalam hatinya. Membayangkan perempuan-perempuan yang bergantian mendarat di pelukan ayahnya sehingga dia dan ibunya terabaikan. Perempuan-perempuan murah yang membuat ibunya memilih pergi meninggalkannya.


Kedatangan Satria disambut meriah oleh kawan-kawannya, mereka membuka kaleng minuman dan menyodorkan kepada laki-laki yang sudah bertindak heroik malam ini. Dia pun diminta memilih gadis mana yang ingin menemaninya berkencan malam ini. Pilihannya jatuh pada seorang gadis yang berambut burgundy dengan baju yang menonjolkan gundukan dada dan ramping betis serta pahanya. Gayanya yang sensual menggoda membuat Satria tersenyum menyeringai.

__ADS_1


Satria membawa gadis itu masuk ke kamar Reno dan menghempaskannya ke ranjang.


“Siapa nama kamu?” tanya Satria yang melepas baju kaosnya, perutnya yang rata tercetak kotak-kotak membuat gadis di depannya itu terpana.


“Rieke, panggil saja Rieke,” jawabnya dengan menggoda.


“Berapa bayaran kamu?” Satria menatapnya dengan dingin sehingga membuat Rieke merasa ada yang aneh dengan pelanggannya malam ini.


“dua ratus lima puluh dollar,” jawabnya menantang. Satria tersenyum sinis dengan harga yang didengarnya.


“Kugandakan jika aku merasa puas!” seru Satria sambil menoleh pada celana yang dikenakannya. Gadis itu paham dengan kode yang diberikan lelaki tampan itu. Dengan cekatan jemari Rieke membuka kancing celana Satria dan menurunkannya. Telapak tangan Rieke halus menelusuri dada Satria dan dengan gerakan lembutnya bibir gadis itu mencium ke leher dan dagu Satria. Ketika hendak menyasar bibir Satria, laki-laki itu menolak.


“Aku tidak senang dengan ciuman bibir, kau lakukan saja yang lain dan mematuhi semua perintah gaya yang aku minta. Aku juga tidak melakukan anal jadi kita tidak akan melakukan itu. Apa kau punya pengaman?”


Gadis itu mengangguk paham peraturan Satria, lalu meraih tas kecilnya dan mengeluarkan sebungkus pengaman pria. Satria membuat gadis itu menjadi pelayannya di dalam kamar mewah ini. Sikapnya yang dingin tanpa ******* hasrat membuat Rieke bertanya-tanya seperti apa pelanggannya kali ini. Bahkan ketika Rieke berlutut di hadapan Satria untuk melakukan pekerjaan di bawah sana, Satria tidak menunjukkan hasrat sedikit pun yang ditunjukkannya malah seperti tatapan sinis dan menghina. Ketika Satria hendak memulai dengan gadis itu di ranjang, tiba-tiba bayangan wajah Liany dan Rangga melintas.


“Lho, Mas, kok berhenti?” Rieke bingung ketika Satria tak jadi melanjutkan permainan, dia berdiri dan memungut kembali celananya lalu berjalan ke kamar mandi. Satria tidak menjawab, yang terdengar hanya suara pancuran air saja.


“Aneh, baru kali ini aku dapat orang seperti dia, padahal ‘adek’nya baik-baik saja, pengaman juga udah disiapkan” gerutu Rieke. Dia menunggu hingga Satria keluar dari kamar mandi. Butuh setengah jam gadis itu menunggu dan melihat Satria keluar dari sana hanya mengenakan handuk.


“Gimana, Mas, apa kita sudah bisa mulai lagi?” Rieke yang sudah polos dan hanya menutupi tubuhnya dengan selimut menunggu perintah Satria.


“Berpakaianlah dan aku akan tetap membayarmu penuh sesuai kesepakatan,” ujar Satria mengeluarkan lembaran uang dari dompetnya.


“Tetapi kita belum selesai,” Rieke semakin bingung dengan sikap Satria.


“Aku sudah selesai, keluarlah!” perintah Satria dengan penekanan. Diletakkannya lembaran uang itu sesuai janjinya di awal. Mata Rieke berbinar, tentunya ini adalah malam keberuntungannya, tanpa harus bekerja keras dia bisa mendapatkan uang.


Satria memandang kaca jendela apartemen Reno, di luar sana tampak kelap kelip lampu perkotaan. Dia masih mengenakan handuk dengan sisa air di ujung rambutnya. Di tangannya tampak layar ponsel yang masih menyala, ada foto Rangga yang dikirimkan Liany beberapa jam yang lalu. Satria tak habis pikir, hanya dengan mengingat Rangga dan Liany dia mendadak kehilangan hasrat untuk menghabiskan waktu dengan perempuan penghibur itu.

__ADS_1


__ADS_2