Di Atas Ranjang Om Rudy

Di Atas Ranjang Om Rudy
Bukan pelakor


__ADS_3

Liany terkejut ketika dua orang itu masuk ke ruangan Satria, segera ditariknya tangannya yang digenggam Satria kuat-kuat. Liany melotot ke arah Satria karena laki-laki itu tak mau juga melepaskan tangannya.


“Kalian berdua udah lupa sopan santun ya sampai lupa ketuk pintu?” tanya Satria pada Demian dan Dora. Dora melirik ke arah Liany yang salah tingkah.


“Kalian sudah tampak akrab sekali padahal Liany baru masuk kerja di sini, kok bisa Pak Bos?” tanya Dora tanpa basa basi, sebelum pikirannya dipenuhi oleh dugaan yang bukan-bukan Dora langsung menembak Satria dengan pertanyaan itu.


“Apa kalian percaya jika saya sudah mengenal Liany setengah tahun lebih ini? Bahkan saya menemani proses kelahiran Rangga daaan … yang paling penting saat ini kalian sedang menginterupsi proses lamaran saya kepada Liany!” seru Satria berpura-pura kesal.


Map di tangan Dora seketika terlepas bahkan Demian sampai mundur selangkah mendengar hal yang luar biasa mengejutkan mereka.


“Kalian selama ini pacaran?” tanya Dora lagi dengan jantungnya yang baginya sudah berpindah tempat.


“Ti-tidak … kami hanya berteman, kami tidak pacaran selama ini,” tukas Liany cepat.


“Kami memang hanya berteman tetapi saya saat ini sedang mengusahakan agar menjadi teman hidupnya selamanya. Kalian ada perlu apa? Kalau masih bisa ditunda tolong tunda dulu karena saya harus menyelesaikan niat lamaran saya ke Liany,” Satria memandang Dora dan Demian bergantian.


“Pak Bos, Anda serius melamar seorang wanita pake roti lapis?” tanya Demian yang melihat ke arah meja Liany.


“Saya belum beli cincinnya, kalau ditolak lagi repot jual lagi cincinnya, kalau dia iyakan sekarang, siang nanti saya akan bawa dia ke toko perhiasan pilih cincin sendiri.”


“Astaga Satria! Gak segitu juga kali, masa sih aku sendiri yang harus pilih cincinnya?!” serga Liany dengan alisnya yang naik. Satria menoleh pada Liany juga Demian dan Dora.


“Apa itu artinya kamu terima lamaran aku tadi? Kamu mau jadi istri aku?” tukas Satria cepat dengan mata berbinar. Liany baru menyadari perkataannya barusan, dan mengingat lagi apa ada bagian kata mengiyakan dalam kalimatnya.


“A-aku belum bilang, ‘iya’ ‘kan tadi ?” Ekspresi Liany terlihat bingung tetapi menjadi semakin membuat Satria gemas.


“Jadi gimana nih, iya ato yes?” desak Satria dengan mata berbinar gembira. Dora dan Demian juga menunggu jawaban Liany dengan rasa penasaran.


Liany terlihat kebingungan harus menjawab apa, semalam dalam mimpinya dia mendengar suara Adam yang seakan merestui keputusan Liany.


“Lia, diamnya perempuan itu bisa diartikan kata ‘iya’ lho,” ujar Dora yang tak sabar melihat Liany yang hanya terdiam saja. Liany menunduk lalu mengangguk beberapa kali tanpa berkata apapun.


“Yesss…! Akhirnya …! Kalian jadi saksi yaa kalau Liany mengiyakan lamaranku, ayo kita ke toko perhiasan sekarang!” Satria bangkit dari tempat duduknya dan menarik tangan Liany. Dora dan Demina tertawa melihat tingkah pak Bos mereka itu. Jarang-jarang mereka melihat Satria bertingkah konyol seperti ini.


“Jangan sekarang, Sat! Yaa ampuuun… nanti aja, kita kerja dulu,” Liany menarik tangannya dan tidak ingin meninggalkan tempat duduknya. Demian dan Dora semakin tertawa.


“Sabar, Pak Bos! Biarkan kami kasih ucapan selamat dulu laah buat kalian, Selamat yaa Pak Bos, Liany,” ujar Demian setelah menyelesaikan derai tawanya bersama Dora. Mereka menyalami Satria dan Liany bergantian.

__ADS_1


“Sumpah aku kaget banget dengan hal ini, Liany! Kapan waktu kamu harus cerita detailnya!” seru Dora si gadis tomboy itu. Kemudian dia ingat map yang dijatuhkannya dan memungut map itu. Diserahkannya map berwarna biru itu ke Satria.


“Saya tadi mau serahkan ini, Pak Bos, sketsa iklan kita yang terbaru, eeh siapa sangka ternyata ada yang lagi lamaran di sini.”


“Saya tadinya mau minta izin, siang nanti mau kontrol ke dokter bareng Myla,” sahut Demian juga.


“Yaa baiklah. Dora terima kasih atas ini dan Demian silakan kamu pergi, tapi jangan modus sama Myla yaa, awas kamu!” ancam Satria.


“Siap Pak Bos!” seru Demian sambil meninggalkan ruangan, segera digandengnya tangan Dora untuk menjauh dari ruangan itu dan ditutupnya dengan rapat.


Satria memandangi Liany yang masih duduk dengan ekspresi yang sulit dijelaskan, bisa jadi dia juga shock dengan lamaran Satria dan anggukan kepalanya yang terasa mengkhianati hatinya. Seharusnya dia berkata Iya, tetapi kepalanya hanya mengangguk saja.


“Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Liany gugup, Satria mengulurkan tangannya memintanya berdiri. Liany pun menurutinya dan mereka berdiri saling berhadapan. Satria mengambil tangan Liany dan pulpen di meja kerja Liany. Sesaat satria menggambar sesuatu di jari manis Liany. Sebentuk cincin yang melingkari jari manisnya. Liany tertawa kecil melihat ulah Satria, laki-laki itu memang pandai menggambar sesuatu.


“Pakai ini sementara sampai kita menutupinya nanti dengan cincin yang asli. Terima kasih karena sudah bersedia menerimaku dalam hidupmu. Aku sangat bahagia selangkah lagi aku benar-benar bisa menjadi papanya Rangga dan pria yang akan selalu berada di sisimu.” Satria merengkuh Liany dalam dekapannya. Wajahnya mendekati wajah Liany yang gugup sekali didekati dengan cara seperti ini, bahkan Liany menyangka jika detak jantungnya sekarang pasti terdengar oleh Satria.


Liany menutup matanya ketika bibir Satria sudah sampai di bibirnya, lelaki itu menempelkan bibirnya dengan dalam dan penuh perasaan. Dadanya bergemuruh dengan perasaan suka cita, ciuman yang tulus tanpa campur baur nafsu birahi. Tubuh Liany terasa kaku, perasaannya melambung ke atas awan, Satria memeluk pinggangnya dengan erat tetapi ciumannya itu begitu manis dan tak terburu-buru. Hanya beberapa detik saja menempel di sana tetapi memberi sensasi luar biasa bagi perempuan itu.


“I Love you, Liany, kau dan Rangga adalah tujuan hidupku yang baru. Apa kau tahu jika kalian berdua adalah penyelamat hidupku? Kalian sangat berarti untukku,” bisik Satria di telinga Liany.


“Terima kasih juga karena selama ini kau selalu ada buat kami,” jawab Liany lembut.


“Oh ya, siang ini Tante Katrin ngajakin aku ketemuan, aku gak tahu soal apa tetapi aku harap ini gak ada hubungannya dengan Om Rudy. Aku takut Tante Katrin salah paham.”


“Mau aku temani? Sekalian nanti kita cari cincinnya,” ujar satria.


“Enggak usah, biar aku sendiri aja, tetapi nanti kita makan siang sama-sama,” ujar Liany dengan senyum teduhnya. Satria mencubit pipi Liany dengan gemas.


“Baiklah, kita bekerja dulu, nanti aku akan antar kamu ketemu dengan Tante Katrin.” Satria pun kembali ke meja kerjanya, Liany juga membereskan mejanya dan melanjutkan pekerjaannya. Ada kelegaan yang terasa luar biasa di dalam dadanya. Kini dia sudah menemukan tambatan hatinya yang akan merangkulnya bersama Rangga.


Liany duduk di pojok restoran yang dipilih Tante Katrin untuk bertemu dengannya. Tanpa sepengetahuan Liany, Satria membuntutinya dan duduk mengawasi Liany dari meja yang dibatasi dengan partisi yang tebal sehingga Satria tidak terlihat tetapi bisa mendengar percakapan mereka nantinya. Dia merasa khawatir akan pertemuan Liany dengan ibu kandungnya, Tante Katrin. Tak lama perempuan yang ditunggunya itu datang dan duduk di hadapan Liany. Satria menunduk dan memasang telinganya baik-baik.


“Apa kabar Lia?” Tante Katrin mencoba berbasa basi, di dalam hatinya dia berharap jika Liany tidak seperti yang dia pikirkan.


“Baik, Tante, Tante sendiri apa kabar?” tanya Liany juga.


“Keadaan Tante baik atau tidaknya tergantung dari jawaban kamu, Liany.”

__ADS_1


Tante Katrin menatap Liany dengan wajah sendu, dia mengambil tangan Liany dan menggenggamnya dengan erat.


“Liany, tolong jujur sama Tante, apa kamu punya hubungan khusus dengan Om Rudy?” tanya Tante Katrin dengan hati-hati. Liany terperanjat kaget, dia menggeleng kuat-kuat menyangkali itu.


“Meskipun Om Rudy tidak menyatakan terus terang tetapi sebagai wanita dan sebagai istrinya, Tante tahu dan bisa membaca jika dia menyukai kamu. Tolong jujur sama Tante, kamu tidak berniat untuk mengambil Om Rudy dari Tante ‘kan, Liany?” Mata Tante Katrin berkaca-kaca, sekuat tenaga dia menahan gejolak di balik dadanya.


“Kalaupun kamu juga menyukai dia tolong, Liany, pertimbangkan perasaan Myla, dia bisa terluka dengan pengkhianatan papanya. Dia sangat memuja papanya, di mata Myla papanya adalah pria tanpa cela, jangan ambil Om Rudy dari kami.”


Liany melepas genggaman tangan Tante Katrin dan meminum es teh yang ada di depannya. Tak lupa dia menarik napas panjang agar bisa menenangkan perasaannya.


“Tante, Lia sama sekali tidak ada niat untuk menjadi pelakor, menjadi sumber bencana bagi rumah tangga Tante. Lia memang sejak awal ingin keluar dari rumah itu karena sudah merasa Lia terlalu lama ditampung keluarga Tante. Lia pun akhirnya mempercepat kepindahan Lia karena memang, Om Rudy … Om Rudy menyatakan perasaan sukanya kepada Lia.”


Liany mengerjapkan matanya beberapa kali, ada air yang siap memenuhi matanya itu karena kejujuran ini.


“Tante, demi Tuhan, Liany tidak ada niat untuk membalas perasaan Om Rudy, Liany tidak pernah sedikitpun ingin menghancurkan kepercayaan Tante dan Myla kepada Lia. Percaya Liany, Tante.”


Tante Katrin menarik napas panjang, sedikit kelegaan bisa dirasakannya, paling tidak perasaan suaminya hanya bertepuk sebelah tangan dan Liany memang tidak memberikan peluang untuk Om Rudy.


“Tante, Lia gak akan tega merusak rumah tangga Tante dan mengkhianati Myla. Liany tidak akan berbuat seperti itu. Liany juga akan berencana pindah mencari rumah lain jika rumah itu bisa menjadi alasan untuk Om Rudy datang menemui Lia.”


Liany berusaha meyakinkan Tante Katrin jika dirinya memang tidak ada hubungan apapun dengan Om Rudy.


“Terima kasih Liany, terima kasih untuk tidak menyambut perasaan suami Tante ke kamu,” ujar Tante Katrin dengan suara yang bergetar. Mereka saling bertukar senyum dan Tante Katrin berpamitan untuk kembali ke kantor. Satria sendiri di meja sebelah bernapas dengan lega, ibunya bertindak dengan elegan dalam menghadapi masalah ini.


Liany menelpon Satria, mereka sudah janjian untuk makan siang. Satria sengaja meletakkan ponselnya di meja sehingga deringnya bisa terdengar oleh Liany. Panggilan pertamanya tidak diangkat, Liany mencoba lagi dan mendengar dering ponsel yang dikenalnya, suaranya sangat dekat, tak jauh dari tempatnya menelpon. Rasa penasaran mendorong Liany untuk berdiri dan mengitari lengkungan meja yang dipisahkan oleh partisi.


Satria berbalik sambil melemparkan senyum jahilnya sementara Liany hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Satria. Perempuan itu pun duduk di hadapan Satria dengan wajah yang penuh tanda tanya.


“Kamu dari tadi di sini?” tanya Liany penasaran.


“Iya, aku pengen denger apa kata Tante Katrin-mu itu, aku takut dia seperti ibu-ibu di medsos yang main jambak aja jadi aku nyusul kamu ke sini. Syukurlah kamu masih utuh,” canda Satria.


“Apaan sih kamu…,” Liany mencubit punggung tangan Satria dengan gemas.


“Ooh jadi kamu perempuan yang membuat Satria berpaling dari aku hah?!” suara seorang perempuan muda dari arah belakang Satria terdengar membentak.


Byuuuur…!

__ADS_1


Wajah Liany tersiram segelas es teh dingin oleh perempuan itu dengan gerakan yang tidak disangka-sangka. Liany dan Satria sama terkejutnya sehingga dengan cepat Satria berdiri dan melindungi calon istrinya itu.


“Apa-apaan kamu hah?!” bentak Satria tak kalah keras dengan amarahnya yang meledak.


__ADS_2