
Liany menatap jam dinding, sudah hampir tengah malam ketika dia mendengar suara deru mobil memasuki pekarangan rumah. Suara mobil yang sangat dihapalnya, dia sudah berjam-jam berdiri menggendong Rangga yang tidak ingin diletakkan di boxnya. Liany juga sudah kasihan kepada Lilis yang sudah terlihat sangat lelah mengurus Rangga yang rewel.
Pelan-pelan Liany keluar kamar sambil menggendong Rangga yang baru saja tertidur di gendongannya.
“Lho kamu kok pulang sih, Sat? Pertemuan kamu sama Bimo gimana?”tanya Liany dengan setengah berbisik. Satria menyimpan tasnya dan menuju wastafel untuk mencuci tangannya.
“Kamu pikir aku bisa tenang di sana meninggalkan Rangga yang sedang sakit? Aku gelisah sepanjang jalan dan kepikiran ke rumah terus ternyata anakku lagi sakit,” jawab Satria dengan suara rendah. Dielusnya dengan lembut punggung bayi itu lalu beralih kepada Liany.
“Kamu udah kecapean banget, aku ganti baju dulu dan kita gantian jaga Rangga,” ujarnya lagi sambil menuju kamar. Tak perlu waktu lama Satria sudah berganti dengan baju kaos oblong dan celana pendeknya. Pelan-pelan diambilnya Rangga dari gendongan Liany dan menimang-nimangnya dengan lembut. Tangis Rangga pecah, bayi itu menangis dengan keras tetapi ketika dia mendengar suara berat yang menenangkannya Rangga membuka matanya perlahan dan terdiam lalu melanjutkan tidurnya dengan tenang.
“Kamu sudah makan?” Satria bertanya pada Liany yang sedang bersandar di sofa.
“Iya, aku sudah makan, kamu bagaimana?”
“Sudah, aku sudah makan juga, kamu istirahat saja biar aku yang jaga Rangga,” jawab Satria berbohong. Dia terjebak macet di jalan dan belum sempat makan, tetapi dia tidak ingin membuat Liany kerepotan karena istrinya sudah terlihat sangat lelah.
“Lia. Kamu ke kamar aja, jangan tidur di situ,” lanjutnya lagi. Satria bersenandung lagi seperti biasa, lagu anak-anak yang masih diingatnya, menimang bayinya dengan penuh kasih sayang. Merasa benar-benar tidurnya sudah pulas, dengan gerakan sangat hati-hati dan pelan-pelan Satria meletakkan Rangga dan mengelus-elus dahinya sesaat. Diambilnya pengukur suhu badan dan menunggu angka yang menunjukkan kondisi demam putranya. Beberapa saat kemudian bunyi terdengar dari alat itu dan memperlihatkan demam Rangga sudah mulai sedikit turun meskipun belum sepenuhnya membaik.
“Besok Papa bawa Rangga ke dokter yaa, Jagoan Papa harus segera sembuh,” gumam Satria lalu mengecup pelan kepala putranya.
Perut Satria berbunyi, dia merasa kelaparan saat ini. ketika melewati ruang tengah dia melihat Liany sudah ketiduran. Lelaki itu kembali berbalik menuju kamar untuk mengambil selimut dan menyelimuti Liany lalu bergegas menuju dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dimakannya. Sebungkus mie instan sepertinya menjadi pilihan Satria untuk menghilangkan laparnya.
Aroma mie instan soto menguar dari dapur, semenjak menikah dia nyaris lagi tak pernah memasak sendiri di dapur. Semua sudah disiapkan istrinya dan mie instan hampir tak pernah lagi disantapnya, hingga malam ini dia memasak mie kesukaannya itu. Baru saja hendak menyantapnya sebuah sentuhan halus di bahunya membuatnya tersentak kaget.
“Astagaaa… kau membuatku kaget, Lia!” seru Satria sambil mengelus dadanya.
“Aroma mie instan sampai di ruang tengah, hidungku sensitif kalau ada aroma masakan,” ujar Liany sambil memandang isi mangkok Satria.
__ADS_1
“Mau?” tawar Satria sambil menggeser mangkoknya. Liany, menggeleng pelan meskipun tawaran Satria sangat menggiurkan.
“Makanlah, biar aku masak yang baru lagi, ini sudah tidak terlalu panas jadi kau bisa makan sekarang.” Satria mendekatkan mangkuknya ke hadapan Liany dan berdiri untuk memasak sebungkus mie instan lagi.
Liany terharu dengan sikap Satria, dia tidak menyangka laki-laki yang terlihat dingin dan angkuh di luarnya adalah sosok yang sangat peduli dengan orang lain dan tidak egois. Bahkan dia rela mengorbankan waktunya bersama Bimo demi menemaninya mengurus Rangga yang sedang sakit.
“Kenapa belum dimakan? Gak enak lho kalau udah dingin,” tegur Satria sambil membuka bungkus mienya.
“Aku tunggu kamu, kita makan sama-sama.” Liany menyunggingkan senyum dia tidak ingin makan sendiri dan membiarkan Satria juga makan sendiri.
“Kalau demam Rangga besok belum turun juga kita akan bawa Rangga ke dokter,” ujar Satria sambil menyiapkan mangkuk mienya. Aroma yang sama kembali tercium dan semakin menggugah selera makan keduanya.
“Sat, kenapa kamu sampai segitunya menyayangi Rangga? Padahal dia bukan darah dagingmu,” kata Liany setelah mereka selesai makan. Namun, pertanyaan itu membuat Satria tersedak ketika minum air putih.
“Pertanyaan bodoh macam apa itu?” Satria memandang ke arah Liany dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Apa kau lupa jika aku adalah orang yang pertama menemuinya, dari awal kami sudah terikat satu dengan yang lainnya. Apa kau tahu ‘imprint’ yang dialami Jacob dan anaknya Bella di film Twilight? Tetapi aku dalam artian yang lain, aku merasa Rangga menjadi bagian hidupku di awal aku melihatnya,” terang Satria panjang lebar. Mendengar perbandingan itu Liany tertawa seakan tak percaya.
“Rangga dan dirimu telah meluruskan jalanku yang selama ini telah melenceng jauh atas nama dendam. Apa kau masih tidak percaya juga jika aku punya kontak batin yang kuat dengan anakku? Kau lihat bukan di mana sekarang aku berdiri?” Satria membentangkan kedua tangannya setelah meletakkan dua mangkuk bekas mie itu ke dalam bak wastafel dapur.
“Lia, dengar, mungkin aku memang tidak membuahi Rangga, tetapi percayalah dia adalah buah hatiku juga, putra pertamaku dan aku jamin perasaan serta sikapku tidak akan berubah meskipun kelak dia akan memiliki beberapa orang adik dariku.” Satria duduk di dekat Liany dan memandang ke arah kamar Rangga yang setengah terbuka.
“Aku tak mau Rangga mengalami nasib sepertiku, kurang merasakan kasih sayang seorang ayah, walaupun aku hanya seorang ayah sambung tetapi cinta kasihku kepadanya tulus. Aku tidak akan membiarkan dia kekurangan kasih sayang dari orang tuanya, aku ingin pastikan itu.”
Liany meraih tangan hangat Satria dan menggenggamnya erat, rasa haru semakin melesak di dadanya. Dirinya berdoa dalam hati agar tidak ada yang berubah dari kata-kata suaminya hingga akhir hayat mereka.
“Terima kasih untuk semuanya, Satria, semua yang kamu lakukan untukku dan Rangga sungguh tak bernilai. Kamu adalah kebanggan ksatria kebanggaan kami,” ujar Liany dengan penuh haru. Satria merangkul bahu Liany dan mengelus-elusnya dengan lembut.
__ADS_1
Suara tangis Rangga terdengar lagi, Satria melepas rengkuhannya dan berjalan menuju kamar Rangga.
“Biar aku yang gendong, aku sudah tahu cara menenangkannya dan itu selalu ampuh, percaya sama aku,” ucap Satria dengan sikap percaya diri. Liany hanya tersenyum sambil mengikuti langkah Satria dia yakin senandung lagu twingkle-twingkle little star akan terdengar selama setengah jam penuh.
Di pagi hari Lilis membuka pintu kamar Rangga perlahan, dia merasa tersentuh melihat majikannya Satria tengah tertidur di sofa dekat box Rangga dengan selimut kecil Rangga dalam pelukannya. Liany pun tertidur di paha Satria dengan memeluk guling kecil bayinya. Mereka masih tertidur pulas sementara di dalam box Rangga sudah terbangun. Pelan-pelan Lilis memegang dahi Rangga, demam bayi itu sudah turun sehingga gadis itu bernapas lega.
Liany bergerak dan Lilis buru-buru keluar dan menutup pintu kamar setengahnya saja seperti semula. Gadis itu menuju dapur untuk menyiapkan sarapan saja sambil menunggu kedua majikannya terbangun, toh Rangga juga tidak menangis. Lilis melihat nasi cukup untuk digorengnya sehingga memutuskan untuk membuat nasi goreng kesukaan Liany. Gadis itu tak menyangka jika tuannya akan kembali di malam yang sama dan tidur menemani istrinya menjaga anak mereka yang tengah sakit.
“Tuan Satria soow swiiit banget, beruntung banget ibu Liany dapat jodoh kayak tuan Satria. Gak semua laki-laki mau bantu istri jagain anak. Semoga Lilis bisa dapat jodoh kayak tuan Satria!” seru Lilis sambil menengadahkan wajahnya ke langit-langit sambil memegang sutil di tangan kanannya.
“Aamiiin…!” seru suara berat di belakangnya tiba-tiba.
“Aamiin Yaa Allah,” jawab Lilis lagi, dia baru sadar jika yang mengaminkan doanya barusan adalah laki-laki yang baru saja dia sebut namanya. Wajah Lilis seketika memerah seperti kepiting rebus tetapi dia pura-pura tidak melihatnya dengan menunduk dan memunggungi Satria. Laki-laki itu tersenyum kecil melihat ulah baby sitter anaknya.
“Kamu bisa buatkan saya kopi setelah itu, Lis?” tanya Satria yang baru saja selesai minum segelas air.
“Aamiin Tuan…” jawab Lilis tanpa sadar.
“Kok Aamiin?” Satria mengernyitkan dahi keheranan atas jawaban Lilis.
“Eeh… eeh maksud Liilis bisa Tuan … Bisa, habis ini Tuan, iya setelah ini!” seru Lilis gelagapan dan membuat wajahnya semakin panas. Satria hanya tertawa kecil sambil berlalu. Dia masuk ke kamarnya dan membuang dirinya di atas tempat tidur. Kantuk masih membuat matanya terasa berat, menjelang dini hari tadi Rangga terbangun, dibuatkannya susu dan mengajaknya bermain karena setelah minum susu anak itu tak kunjung tertidur kembali. Barulah menjelang subuh Rangga kembali tidur dan ternyata bayi itu justru bangun lebih cepat darinya.
Dering ponsel Satria membuatnya kembali terjaga lalu dengan malasnya dia menyahuti panggilan Bimo.
“Satria Abimana! Kamu janji akan menghadiri pertemuan internal kita dan seharusnya tadi malam kamu sudah tiba di apartemen kamu. Kamu kemanaaa?”
“Sori, Bim, anakku mendadak sakit dan gak bisa kabari kamu semalam, aku panik jadi langsung segera putar balik pulang. Siang nanti kita VC aja yaa di kantor, aku masih ngantuk karena begadang jagain Rangga,” terang Satria dengan mata tertutup.
__ADS_1
“Yaaa ampuuun udah jadi papa siaga kamu ya? Yaa yaa yaa… Papa sambung yang luar biasa, ok deh aku tunggu VC kamu nanti siang!” seru Bimo dari seberang sana. panggilan terputus dan akhirnya Satria kembali terlelap dalam tidur pulasnya.