Di Atas Ranjang Om Rudy

Di Atas Ranjang Om Rudy
Pertolongan di detik terakhir


__ADS_3

Liany meringis kesakitan sambil mencengkram bahu om Rudy kuat-kuat, baru kali ini rasanya kakinya tidak bisa digerakkan. Om Rudy berusaha untuk menenangkan Liany, dan memutar memori jika Katrin dulu juga pernah mengalami kejang otot seperti ini.


“Kamu tenang dulu, pelan-pelan luruskan kakimu,” om Rudy menarik kaki Liany pelan-pelan.


“Sakiit … Om, aawwhhh…!” Liany berusaha untuk meluruskan kakinya seperti arahan om Rudy tetapi nyeri yang dirasakannya begitu hebat.


“Pelan-pelan saja, gerakkan kakimu pelan-pelan,” ujar om Rudy sambil tetap membantu Liany meluruskan kakinya. Wajah Liany masih terlihat meringis, om Rudy berusaha membantu perempuan itu agar otot betisnya bisa kembali semula. Dipegangnya pergelangan kaki Liany dan mendorong telapak kakinya ke atas sehingga Liany bisa merasa baikan. Diulangi beberapa kali gerakan itu sehingga dia benar-benar merasakan sakitnya berkurang.


“Bagaimana, apa masih sakit?” tanya om Rudy lembut.


Liany menggeleng pelan, sakit di betisnya sudah jauh berkurang, dia merasa otot yang kejang itu sudah kembali pada posisinya meskipun sisa rasa sakitnya masih terasa.


“Terima kasih, Om, kalau gak ada Om, Liany gak tahu harus berbuat apa.”


“Kamu ingat aja caranya, kalau sakit lagi coba gerakkan kakimu dan dorong ke atas, mengerti?” om Rudy memandangi wajah Liany, sekian detik mereka saling berpandangan.


“Ayo, Om bantu kamu kembali ke kamar, kalau kamu rasa terlalu letih gak usah memasak dulu, tante Katrin dan Myla juga akan pulang terlambat.”


“Baik, Om.” Liany berusaha bangkit dan dengan sigap om Rudy membantunya berdiri. Liany berjalan dengan sedikit pincang di sisi om Rudy yang memegang tangannya erat. Kembali ingatan om Rudy terlempar jauh saat tante Katrin sedang mengandung Myla, kejadian seperti ini kerap menimpa tante Katrin sehingga om Rudy tahu cara untuk meredakan nyerinya.


Om Rudy mendudukkan Liany di tepi ranjang kemudian mengambilkan segelas air minum.


“Minum dulu, tenangkan dirimu, kau tidak perlu takut hal ini wajar terjadi pada wanita hamil. Apa kau baik-baik saja sekarang?” Om Rudy ikut duduk di samping Liany sangat dekat sehingga lengan mereka bersentuhan. Liany sedikit canggung, hanya mereka berdua saja di rumah ini.


“Jika butuh sesuatu, Om ada di ruang kerja yaa, jangan sungkan.” Suara om Rudy memecah kebisuan di antara mereka. Sejenak om Rudy menggenggam tangan Liany. Perempuan itu hanya mengangguk sekali lagi dan melihat jemarinya yang baru dilepaskan om Rudy. Sesaat sebelum laki-laki itu menutup pintu, pandangan mereka kembali beradu. Ada getar di balik dada keduanya yang tanpa disadari oleh Liany dan om Rudy.


Liany masih memandang bekas genggaman om Rudy kembali kalimat Satria terulang di telinganya.

__ADS_1


‘Jadi kau diusir oleh keluarga mendiang suamimu, lalu dipelihara oleh om-om yang sedang berbelanja denganmu?’


‘Lalu siapa om-om yang bersamamu itu jika bukan sumber uangmu?’


Liany menghela napasnya panjang, dikepalnya tangannya yang telah digunakan menampar Satria. Sedikit sesal dirasakannya karena telah berlaku kasar pada laki-laki itu yang memang lidahnya tajam melukai hatinya. Batin Lia berkecamuk, ada rasa khawatir dan cemas di dalam dadanya. Lia merasa berdebar jika dekat dengan om Rudy dan itu adalah debaran yang terlarang untuknya.


‘Aku harus keluar dari rumah ini secepatnya, paling tidak saat bayiku lahir nanti. Aku tidak boleh berlama-lama di sini meskipun aku tidak punya niat untuk mendekati om Rudy tetapi … oohh tidaaak…’ keluh Liany dalam hatinya. Liany hanya memiliki ijazah D3 sekretaris dan pengalaman kerja yang tak banyak, itu pun hanya di perusahaan kecil saja. Kemampuan lainnya hanya mengolah makanan, memasak makanan dan kue-kue yang lezat. Liany mulai berpikir apa yang harus dilakukannya ke depan, dia tidak ingin bergantung kepada keluarga tante Katrin.


Liany pun membuka tas pakaiannya, diambilnya dompet tua dan lusuh miliknya. Perasaan haru membanjiri dadanya ketika melihat harta terakhir yang dimilikinya, seuntai kalung emas peninggalan ibunya dan sebentuk cincin yang merupakan mahar pernikahannya dengan mendiang Adam dulu.


“Sepertinya ini cukup untuk biaya bersalin dan sewa kamar yang kecil di kontrakan, aku harus cari pekerjaan atau mungkin berdagang makanan.”


Liany mengelus perutnya, dia bimbang tetapi dirinya harus tetap yakin dan berpikir positif semua akan ada jalannya.


Sehari semalam di rumah sakit membuat Satria sudah jauh lebih baik dan di sore harinya dia sudah diperbolehkan pulang dengan berbekal obat-obatan. Satria harus rutin meminum obat-obatannya selama tiga hari ke depan. Laki-laki itu dijemput Chiko sementara Dora dan Demian menunggu di rumah sewa yang sekaligus menjadi kantor mini mereka. Bimo yang mendengar Satri masuk rumah sakit menyempatkan diri mengunjungi partnernya itu.


Satria yang memilih baring di sofa tidak menjawab, dia memainkan botol obat yang ada dalam genggaman tangannya. Dia tidak akan mau menjawab karena saat itu dia memang sedang memperhatikan Liany. Jika dirinya diberi kesempatan untuk bertemu dengan Liany lagi maka dia akan meminta maaf dengan tulus kepada perempuan itu.


Satria memang khilaf, dendam lamanya pada seorang perempuan benar-benar membuatnya kadang kehilangan kontrol. Selama ini dia menganggap semua perempuan itu sama, tidak setia, mata duitan dan sanggup berbuat apa saja untuk hidup enak. Sosok wanita itu kembali hadir, seperti memutar film lama yang sudah usang.


“Mama jangan pergi … jangan tinggalkan Satria, Maaa…!” Satria kecil menangis memohon di kaki wanita yang dipanggilnya mama. Namun, perempuan itu seperti tidak mendengar permohonannya, seakan semua kasih sayang yang didapat dari perempuan itu sudah habis tak tersisa lagi untuknya. Perempuan itu mengemasi barangnya dan menangis dalam diam.


“Jangan halangi Mamamu, di kepalanya hanya ada uang, uang dan uang saja!” bentak laki-laki yang disebutnya papa itu dengan kasar.


“Aku tidak akan pergi kalau kamu mau cari kerja, Mas! Kerjaanmu hanya mabuk dan judi! Satria, dengar Mama, tunggu Mama sebentar lagi, kalau Mama sudah punya uang Mama akan kembali menjemputmu.”


“Pergi kau sana! kau kuceraikan, kau bukan istriku lagi dan jangan harap kau bisa mengambil putraku!” Suara papa Satria terdengar menggelar.

__ADS_1


“Satria ikut Maaa…!” teriakan Satria kecil tak mengubah keputusan mamanya. Satria menunggu dan menunggu hingga suatu hari wanita itu kembali muncul. Satria ingin diambilnya tetapi papanya tidak mau memberikannya, mereka bertengkar hebat dan memukuli mamanya. Wanita itu pergi lagi dan mengancam akan melaporkannya ke polisi.


Setelah kepergian mamanya laki-laki itu mengatakan jika mamanya bukan orang baik, perempuan itu hanya akan mementingkan dirinya sendiri. Dia akan melupakan Satria dan tidak akan pernah merasa memiliki putra bernama Satria Abimana. Satria kecil menolak mempercayainya tetapi waktu membuktikan jika perempuan itu memang tidak pernah datang lagi untuk menjemputnya dan benar-benar melupakan Satria. Hingga papanya meninggal dan Satria hidup sendiri wanita bernama Katrin Dewinta itu tidak pernah kembali dan meninggalkan kebencian serta dendam yang dalam bagi Satria.


“Woooy, Sat! Diajak ngomong malah bengong aja, sekarang sikon kamu gimana? Udah bisa kerja besok?” tanya Bimo yang memutus lamunan Satria.


“Iya, aku udah siap kerja lagi. Ngomong-ngomong, soal rencana kita membuka cabang Sparkling aku setuju. Kita pernah sepakat akan membuka cabang di kota ini kan? Aku akan memulai lagi Sparkling dari sini.”


Kalimat itu sukses membuat Bimo melongo, sebagai owner Sparkling tentunya Satria berhak memutuskan tetapi Bimo tak menyangka jika Satria akan melakukan hal itu yang mereka rencanakan tahun depan.


“Aku akan membuat Sparkling menjadi gebrakan baru di kota ini dan menunjukkan aku tidak sia-sia kembali ke kota ini,” gumam Satria dengan senyum sinis.


Bulan baru, kelahiran bayi Liany sudah menunggu hari. Namun hari ini om Rudy, tante Katrin dan Myla harus berangkat keluar kota untuk menghadiri pernikahan kerabat om Rudy. Ketiganya harus hadir di acara itu. Liany berkali-kali meyakinkan jika dirinya tidak mengapa ditinggal oleh mereka. Kejadian tak terduga pun membuat bi Inah juga harus meninggalkannya sementara di rumah besar itu.


“Maaf Non Lia, Bibi akan pergi sebentar saja, Bibi khawatir dengan kecelakaan yang menimpa anak Bibi,” Bi Inah hampir menangis karena tak tega memilih salah satu darinya. Liany telah menunggu hari dan bi Inah diminta untuk menjaganya.


“Gak apa, Bi, lihat aja dulu anaknya, nanti kalau kenapa-kenapa saya telpon Bibi yaa,” ujar Lia tanpa rasa berat sedikitpun. Sore harinya akhirnya Bi Inah jadi berangkat ke kampung untuk melihat anaknya. Langit sore begitu gelap tanda hujan akan turun, Liany mengantarkannya sampai di depan pintu dan perempuan paruh baya itu dijemput oleh mobil travel.


Menjelang makan malam perut Liany merasa mulas. Dia menunggu dan berhitung apakah ini kontraksi palsu atau benar-benar kontraksi asli. Semakin larut perutnya semakin sakit sehingga dahinya berpeluh, perlahan dia mengambil tas perlengkapannya untuk melahirkanya yang jauh hari sudah disiapkannya. Sebelum pergi om Rudy memberinya kartu kredit yang dapat digunakannya untuk apa saja dan sejumlah uang tunai. Liany menelpon taksi online untuk menjemputnya menuju rumah sakit terdekat. Perutnya semakin sakit hingga ke pinggangnya.


“Pak, ada apa? Kenapa mobilnya berhenti? Saya harus ke rumah sakit untuk melahirkan,” ucap Liany dengan cemas.


“Maaf, Bu ini mesinnya tiba-tiba mati, saya lihat dulu yaa,” bergegas sopir itu turun dan memeriksa. Seketika itu juga hujan turun dengan derasnya. Liany ketakutan, dia khawatir tak dapat tiba di rumah sakit tepat waktu. Kecemasannya semakin menjadi ketika dilihat isi tasnya ternyata ponselnya tertinggal di atas meja teras. Liany berusaha menahan sakit dan mengatur napas seperti yang dipelajarinya di youtube, dia keluar untuk melihat keadaan dan berpindah taksi saja.


Hujan seketika membasahi tubuh Liany, sementara jalanan sangat sepi, tiba-tiba paha dan betisnya merasakan ada air yang hangat menjalar. Kontraksi pun bertambah hebat sehingga Liany terduduk di jalan raya dengan keadaan basah kuyup. Air ketubannya sudah pecah.


“Pak Sopir tolong … tolong cari bantuan, air ketuban saya sudah pecah, Pak!” seru Liany dengan sisa-sisa tenaganya. Sopir itu terkejut luar biasa dan panik mencari bantuan. Tak lama sebuah lampu mobil menyorot ke arah mereka, pak sopir melambaikan tangan agar mobil berhenti. Sesosok pria bergegas turun, pandangannya mengarah pada Liany yang sudah tak berdaya. Diraihnya tubuh Liany yang lemah dan basah kuyup.

__ADS_1


“Tenanglah, kau akan tiba di rumah sakit tepat waktu, kau dan bayimu akan baik-baik saja, aku janji,” ujar suara yang samar didengar Liany. Dia hanya mengangguk dan mengalungkan lengannya di leher pria yang membopongnya ke mobil.


__ADS_2