
Reno masuk menemui Satria di kamarnya, dia heran Rieke cepat sekali meninggalkan pesta. Tidak biasanya Satria melepas para perempuan penghibur itu dengan waktu singkat karena Satria akan bermain sepuas hati bahkan sering membuat perempuan-perempuan itu kapok melayani Satria yang dingin dan tak berperasaan.
“Tumben kupu-kupu pulang cepat?” Reno menyodorkan sekaleng minuman kepada Satria.
“Apa dia bukan tipe kamu?” tanya lelaki itu lagi setelah Satria menyambut minuman itu dan menyesapnya. Satria hanya berdecak pelan dan menyunggingkan senyumnya yang miring.
“Tiba-tiba saja aku gak selera dengan dia,” jawab Satria lalu menyulut sebatang rokok. Dirinya mulai jenuh dengan petualangan cinta semalam ini.
“Gak biasanya kamu begini, bahkan terkadang kamu malah mengencani tiga perempuan dalam semalam.” Reno mengamati Satria yang tampak sama sekali tidak bergairah, dia sama sekali tidak terpengaruh dengan suara hingar bingar musik di ruang depan.
“Kamu lagi ada masalah?” selidik Reno pada teman yang sudah dikenalnya lima tahun belakangan ini.
Satria menghembuskan asap rokoknya kuat-kuat, seakan dia ingin menghapus jejak wajah Liany yang membayang di benaknya.
“Gak ada, aku cuma sedang memikirkan pembukaan cabang di kota ini, prosesnya sudah lima puluh persen.”
Reno duduk di sofa tak jauh dari jendela apartemen tempat satria berdiri. Insting Reno mengatakan jika ini tidak hanya sekedar pekerjaan saja, ada sesuatu yang sangat mengganggu kawannya itu yang membuatnya meninggalkan mangsanya di tempat tidur begitu saja.
“Yakin ini hanya tentang cabang Sparkling? Aku kenal kamu sebagai pengusaha tangguh, sesulit apapun itu kamu tidak akan sampai melepas kupu-kupu yang sudah tergolek di tempat tidurmu.”
Satria tertawa kecil, dia mengakui jika Reno sudah mengenalnya dengan baik. Tak ada yang tak dapat diendus Reno darinya.
“Sepertinya aku tertarik dengan seorang wanita, Ren,” ungkap Satria jujur.
“Waaah … waaah … akhirnya seorang Satria Abimana bisa juga jatuh cinta, aku jadi penasaran perempuan mana yang sanggup membobol hatimu itu!” seru Reno dengan riang. Dia menaikkan kaleng minumannya ke udara mengajak Satria bersulang. Namun, Satria bergeming, dia tidak memperdulikan perkataan Reno.
“Dia seorang janda yang ditinggal mati suaminya, aku menemani dia melahirkan bayinya di rumah sakit karena pihak rumah sakit menyangka aku adalah suaminya. Aku tidak membantah dan menikmati sandiwara itu.”
__ADS_1
“What?! Baru melahirkan bayi? Beneran kamu suka dengan perempuan yang sudah punya anak?” Reno nyaris tak percaya dengan wanita pilihan hati temannya itu.
Satria kembali menyesap minumannya tanpa menjawab pertanyaan Reno dan diamnya satria dianggap Reno pembenaran Satria.
“Apa perempuan itu tahu dengan gaya hidupmu yang sekarang?” Reno kembali mengulik perihal Liany. Satria menggeleng, entah bagaimana dia harus jujur pada perempuan itu tetapi yang terpenting Satria benar-benar ingin berhenti berpetualang di atas ranjang dan klub-klub malam.
Reno berdiri dan menepuk bahu Satria, setiap perihal pasti memang akan ada masanya, semua akan berhenti pada waktunya. Mungkin sekarang giliran Satria karena telah menemukan wanita idamannya sedangkan dirinya masih akan terus menjelajah hingga menemukan belahan jiwanya.
“Congratulation, meskipun kau belum ke jenjang pernikahan aku tetap memberi ucapan selamat kepadamu, tak lama lagi kau akan menjalani kehidupan layaknya seorang pria. Menemukan perempuan yang tepat, berumah tangga, memiliki anak dan menikmati hidup yang sesungguhnya.” Reno terdengar bijak untuk saat ini, entah apa karena otaknya sedang benar-benar berada di tempatnya atau dia sedang melantur efek dari minumannya.
Satria hanya tersenyum, baru kali ini dia merasa tercerahkan oleh kata-kata Reno. Dia baru saja hendak membalas ucapan Reno tiba-tiba pintu dibuka dan seorang wanita yang hanya mengenakan lingerie transparan muncul dari balik pintu.
“Sayaaaang … kok aku ditinggal sih?! Aku udah nungguin kamu gak balik ke kamar!” seru perempuan muda cantik bernama Milena, kekasih Reno.
“Iyaaa Sayang ini juga baru mau balik, ‘adek’ Satria bermasalah sampai Rieke cuma dinas lima menit doang!” kelakar Reno sambil tertawa terbahak. Satria mengambil kotak rokoknya dan menimpuk kepala Reno hingga membuat Reno semakin tertawa.
“Lena, aku pulang yaa, ini party terakhir aku, makasih atas undangannya.” Satria berjalan meraih celana panjangnya dan baju kaosnya, dia baru ingat jika kemeja yang dipakainya terbawa ke rumah Myla.
“Iya aku mau nikah, bentar lagi.”
“Yaaah … anggota klub kita berkurang satu dong, Yang? Betewe kamu gak mau nikahin aku gitu?” tanya Melina kepada Reno yang memeluk erat pinggangnya.
“Mau doong Sayang, nanti yaa kalau proyek-proyekku tahun ini selesai aku bakal lamar kamu. Tapi kita kawin dulu ya malam ini, Sayang,” ujar Reno sambil menyasar ciuman ke leher Milena yang putih mulus. Mereka pun berbalas ciuman di depan Satria lalu melangkah bersamaan ke tempat tidur yang tadinya akan dipakai oleh pemuda itu.
“Wooy … aku pulang ya!” seru Satria yang tak dihiraukan pasangan yang tengah dimabuk gelora hasrat. Satria keluar lalu menutup pintu, sampai di ruang tengah dia mencari kunci mobilnya yang diletakkan di meja, tak jauh darinya beberapa pasang laki-laki dan perempuan sedang bermesraan dan ada nyaris bercinta di sofa. Satria menghela napas panjang, sudah saatnya dia meninggalkan dunia hura-hura seperti ini. Segera dia berlalu meninggalkan kamar apartemen Reno yang luas dan mewah itu menuju lift.
Di lantai berikutnya seorang ibu muda meminta agar pintu lift ditahan, tampak seorang bayi tengah berada dalam gendongannya dan tas perlengkapan bayi di tangan satunya lagi. Wajahnya terlihat khawatir.
__ADS_1
“Mari saya bantu bawakan tasnya, Bu,” tawar Satria dengan sopan.
“Ouh, gak apa, Mas, saya bisa kok,” jawab ibu muda itu menolak dengan halus. Namun, di detik berikutnya saat lift sudah bergerak terdengar tangis lirih sang bayi. Ibu muda itu mencoba mengganti tangannya untuk menggendong dan terlihat semakin kerepotan.
“Biar saya bawakan ya, Bu, kasihan anaknya menangis,” Satria mengambil tas di tangan ibu itu.
“Terima kasih, Mas. Bayi saya sedang sakit, saya mau ke klinik sekarang,” terang ibu muda sambil menimang-nimang bayinya.
“Saya bisa mengantar Ibu ke klinik,” tawar Satria lagi dengan nada prihatin.
“Makasih banyak, Mas, tadi saya sudah pesan taksi online kok, taksinya sedang menunggu di bawah.”
“Maaf, suami ibu tidak ikut mengantar?” tanpa sadar Satria menjadi kepo.
“Suami saya sedang tugas di luar kota, tempatnya terpencil, resiko LDR-an yaa begini,” sang ibu muda hanya bsia tersenyum kecut. Denting lift berbunyi dan mereka sudah sampai di lantai dasar. Satria tetap membawakan tas bayi itu hingga ke tempat taksi onlinenya menunggu.
“Terima kasih banyak ya, Mas.” Ibu muda itu tersenyum ketika Satria memberikan tasnya.
“Sama-sama, semoga bayi Ibu lekas sembuh,” ujar Satria lagi. Mobil yang membawa ibu dan bayinya itu telah berlalu, Satria melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul dua malam. Pertemuannya dengan ibu muda tadi semakin membuatnya mengingat Liany dan Rangga. Bibirnya melengkungkan senyum, tak sabar lagi rasanya dia ingin kembali berjumpa dengan bayi Rangga, juga ibunya.
Sebulan setelah kelahiran Rangga, Liany semakin terbiasa dengan aktivitas merawat bayi dan mencari-cari peluang kira-kira dia bisa melakukan pekerjaan apa agar bisa menghasilkan uang sendiri. Kini tiba waktunya untuk Rangga mendapatkan imunisasi dan Satria sudah berjanji untuk menjemputnya dan membawanya ke klinik anak. Selama sebulan ini Satria semakin gencar menaruh perhatian pada Rangga dan ibunya. Dia berharap akan ada kesempatan lebih lagi agar bisa lebih dekat dengan Liany.
“Pak Bos, kita nanti ada meeting dengan Bu Daisy dari Dunant, dan… eh Pak Bos mau kemana?” Dora menatap Satria tak berkedip saat laki-laki itu tengah berkemas untuk meninggalkan kantornya.
“Minta Demian untuk menggantikan aku hari ini ya, aku ada pertemuan penting!” seru Satria dengan tergesa-gesa keluar ruangan.
“Iya tapi Pak Bos mau kemana?!” Dora setengah berteriak karena tak puas dengan jawaban Satria.
__ADS_1
“Imunisasi!” jawab Satria dari kejauhan yang sukses membuat Dora mengernyit dahi karena heran.
“Tuuh kaaan … Pak Bos kayaknya udah nikah diam-diam deeh….” gumam Dora sambil memeluk berkas-berkas hasil desainnya.