
Liany memandang keduanya, semakin terasa jika suaminya itu mengenali perempuan yang baru saja terbangun itu.
“Aku kira kau sudah lupa padaku, Kak,” ujar perempuan itu dengan sedikit senyum di bibirnya.
“Aku memang nyaris tidak bisa mengenalimu, karena penampilanmu yang sekarang, jauh dari yang kuingat terakhir kalinya. Kenalkan, ini Liany, istriku yang telah menyelamatkan nyawamu. Dia memutuskan untuk menolongmu meskipun kami tidak mengenalimu tadi malam. Liany, ini Yelena, adikku yang kuceritakan tempo hari.” Satria memperkenalkan kedua sosok perempuan itu. Liany terperangah karena tidak mengira jika Yelena yang diceritakan suaminya tiba-tiba saja hadir di kehidupan mereka dengan cara seperti ini.
“Ouh … kau sudah menikah rupanya, Kak. Selamat yaa…” binar mata perempuan bernama Yelena itu terlihat gembira menatap Satria dan Liany bergantian.
“Hai Liany, aku Yelena, senang berjumpa denganmu,” ucap Yelena sambil mengedipkan mata kepada Liany.
“Andai kita dapat berjumpa di situasi yang lebih baik, Yelena,” ujar Liany sambil mendekati Yelena dan memberinya kecupan di dahi adik angkat suaminya itu.
“Ada apa dengan London? Mengapa kamu meninggalkan Papa, Yelena?” cecar Satria kemudian. Perempuan muda itu hanya memejamkan mata, rasanya dia sudah kehabisan tenaga di sesi “perkenalan” dengan Satria dan Liany sesaat setelah dia sadar.
“Sat, jangan sekarang, Yelena masih lemah, lebih baik panggil dokter dan periksa keadaan Yelena lagi.”
Satria membenarkan istrinya, bahkan ventilator oksigen Yelena pun masih terpasang sehingga dia memutuskan untuk mencari dokter yang merawat Yelena.
“Jaga Yelena dulu, aku akan cari dokter, tidak lama.” Satria meninggalkan ruangan kamar perawatan itu dan menuju tempat suster jaga.
Liany masih duduk dekat Yelena, tentu saja kepalanya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan tentang Yelena. Namun, dia paham jika saat ini yang terpenting adalah mengembalikan kondisi Yelena lebih baik agar perempuan itu bisa lebih kuat dan sehat untuk menjalani kehamilannya.
“Kau sudah lama menikah dengannya?” tanya Yelena dengan pelan, matanya kembali beradu dengan tatapan Liany yang lembut.
“Baru saja, baru beberapa bulan ini. Tidak mudah bagiku yang janda satu anak untuk menerima Satria yang begitu mempesona dan idaman semua wanita,” jawab Liany jujur apa adanya.
“Hhmmm … dia itu es batu di luarnya tetapi hatinya hangat,” ujar Yelena yang sekilas mengenang sosok anak angkat ayahnya itu, Tuan Clark.
__ADS_1
“Yang memukulimu itu … dia…?” Liany bertanya tanpa menyelesaikan pertanyaannya itu, dia penasaran tetapi tak tega juga untuk melanjutkan lebih jauh.
“Dia Mike, setengah London setengah Bali dan setengah gila, pacarku.” Yelena memejamkan lagi matanya, mengingat Mike dan kelakuannya sungguh membuat dia ingin mati saja. Liany tak bertanya lagi, dia menaikkan selimut Yelena dan membiarkannya istirahat. Liany hanya berharap Yelena masih ingin berbagi cerita dengannya saat sembuh nanti.
Pintu pun terbuka, Satria datang bersama seorang dokter dan seorang perawat. Dokter itu memeriksa keadaan Yelena dengan seksama dan memerintahkan perawat untuk melepas ventilator oksigennya. Kini hanya selang infus saja yang masih menempel pada Yelena. Berbagai pertanyaan yang diajukan dokter dijawab Yelena dengan baik. Tak lama seorang pria dengan postur tubuh yang tegap dan tinggi mengetuk pintu. Satria dan Liany memalingkan pandangan mereka ke arah sumber suara.
“Ooh … Pak Arjuna, silakan masuk, kami sudah menunggu Anda!” sambut Satria dengan lega. Liany pun terlihat demikian karena Aruna adalah seorang polisi yang membuat mereka akan merasa aman dari gangguan Mike, kekasih Yelena.
“Maaf tadi terjebak macet,” ujar Arjuna sambil menyalami Satria dan Liany. Dokter dan perawat yang menangani Yelena pun pamit dan meninggalkan mereka. Arjuna melihat sekilas pada Yelena, rahang Arjuna mengeras, dia terkejut melihat Yelena yang babak belur seperti maling yang habis dikeroyok massa.
“Syukurlah Nona ini masih bertahan,” desis Arjuna lirih. Lelaki itu sangat tersiksa jika melihat korban kekerasan perempuan dan anak-anak, laki-laki yang memukuli perempuan adalah laki-laki pengecut dan pecundang.
“Aku akan melaporkan laki-laki itu ke polisi karena telah menyerang dan nyaris membunuh adikku, Yelena.” Satria memandangi Yelena yang hanya terdiam memandang ke arah lain.
“Baik, kita akan proses sesuai prosedur dan soal pengamanan itu Anda tenang saja Pak Satria, saya akan meminta beberapa anak buah saya untuk berjaga di sini.”
Satria berbincang sebentar dengan Arjuna sambil menjauh dari tempat tidur Yelena sementara Liany masih setia duduk di samping Yelena. Air mata Yelena meleleh pelan, melihat hal itu Liany mengambil tisu dan mengelap air mata Yelena dengan lembut.
“Aku tak mau melaporkan Mike ke polisi, dia gila, dia akan membunuhku jika aku membuatnya di penjara. Lagi pula aku tengah mengandung anaknya, aku … aku…” Yelena berusaha keras agar tangisnya tidak pecah. Wajahnya masih terasa nyeri juga sekujur tubuhnya dan hatinya yang entah yang keberapa kalinya remuk redam karena perbuatan Mike.
“Jika kau sayang pada janin yang tengah kau kandung, biarkan Mike sementara waktu merenungi perbuatannya di dalam penjara sana. kau tidak aman jika membiarkan Mike begitu saja, tindakannya brutal, Yelena, kau dan bayimu bisa kehilangan nyawa.” Liany mencoba meluruskan pemikiran Yelena, laki-laki buas seperti itu tidak akan berhenti begitu saja dan Liany percaya hanya hukuman yang bisa menghentikan perbuatan Mike.
“Kita akan bahas ini lagi dengan Satria, aku rasa kau perlu mendengarkan apa katanya setelah bertemu dengan Pak Arjun, dia seorang polisi.” Usapan lembut berkali-kali mendarat di bahu Yelena, perempuan itu pun terdiam dan memilih untuk tidur. Pertemuannya dengan Satria setelah lima tahun berlalu masih menyisakan kejutan bagi Yelena.
Obrolan Satria dengan Arjuna telah selesai, polisi yang masih terbilang muda itu pun pamit. Satria duduk di sofa sambil menghela napas panjang. Mungkin sudah menjadi pertanda ketika dia bercerita tentang Yelena pada Liany dan perempuan itu muncul seketika beberapa waktu setelahnya.
“Sat, Yelena tidak mau melaporkan lelaki itu ke polisi,” bisik Liany pada suaminya. Satria terperanjat kaget mendengarnya.
__ADS_1
“Gilaaa! Apa Yelena tidak sadar dengan apa yang sudah dilakukan bajingan itu?!” sergah Satria, Liany segera menempelkan telunjuknya di depan bibirnya agar Satria memelankan suaranya. Yelena masih butuh banyak istirahat. Satria menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Apa kau sudah tanya siapa laki-laki yang memukulinya itu?” tanya Satria kini dengan suara yang lebih pelan.
“Iya, Yelena hanya menyebut namanya Mike, kekasih Yelena.”
“Apa?! Kekasih Yelena dan saat ini Yelena tengah hamil?!”
Liany hanya mengangguk pelan, Satria lupa jika lelaki itu tadi menyebut Yelena sebagai tunangannya bukan suaminya. Seliar-liarnya dulu petualangan cinta semalam Satria dia tidak pernah berniat menabur benih pada perempuan-perempuan di luar sana. Dia tak menginginkan seorang anak yang dibuahi dari hasil hubungan yang tidak sah. Satria melakukannya semata karena nafsu dendamnya saja.
“Yelenaaa… apa yang sudah kau lakukan pada hidupmu?” Satria memegang pelipisnya, sungguh dia menyayangi perempuan itu sama seperti dia menyayangi Myla meskipun tak ada pertalian darah dengan Yelena.
“Anak buah Arjuna akan datang menjaga kamar Yelena, tidak akan ada yang sembarang keluar masuk ke kamar ini nantinya. Mike pasti tidak akan berhenti mengejar Yelena,” ujar Satria dengan gusar.
Satria berdiri dan duduk di kursi tempat Liany tadi duduk. Yelena berbaring menyamping dengan mata yang terpejam, tetapi dia sebenarnya tidak tidur. Dia tidak bisa tidur dengan rasa sakit yang menderanya juga kekhawatirannya kepada banyak hal.
“Apa yang harus kukatakan kepada Papa Clark, Yelena?” Satria mengambil tangan Yelena dan menggenggamnya lembut. Gadis pembangkang dan pemberontak ini benar-benar memilih jalan kebebasan untuk hidupnya entahlah apa ini hasil dari keputusannya sehingga menemukan pria yang salah untuk dicintainya.
“Kalau begitu jangan katakan apa-apa, Papa sudah lama membuangku,Kak,” jawab Yelena pelan yang membuat Satria mengangkat wajahnya.
“Kau tidak tidur rupanya, bisa kita bicara sekarang dengan apa yang semua terjadi? Bagaimana kau sampai ke negara ini lagi tanpa memberitahuku?” tanya Satria lembut.
Yelena kini benar-benar tak dapat menahan tangisnya, digenggamnya jemari Satria dengan kuat sembari terisak.
“Sini, kemarilah,” Satria membantu Yelena untuk duduk. Dipeluknya perempuan itu dengan penuh kasih sayang, ditenangkannya dengan lembut seperti dia sedang membujuk Rangga yang tengah menangis.
“Aku pasti sudah mati sekarang bersama janinku jika kalian tidak menolongku malam itu,” ucap Yelena ditengah isak tangisnya.
__ADS_1
“Jangan tinggalkan aku, Kak…” pinta Yelena dengan pilu.
“Tidak … tidak … aku tidak akan kemana-mana kau akan tetap bersama kami, jangan takut, kami aka nada untukmu Yelena,” hibur Satria. Mata Satria memandang Liany tak berkedip saat dia memeluk Yelena, Liany hanya tersenyum simpul dan mengangguk samar. Dia tahu jika Satria tengah memeluk Yelena sebagai adiknya, Liany percaya hati Satria tulus sebagai kakak laki-laki Yelena yang akan melindungi perempuan itu sekuat tenaganya.