
Myla menatap ke arah jendela pesawat yang membawanya dari negeri paman Sam menuju ibukota negaranya. Di sampingnya Om Rudy masih tertidur dengan pulas. Sudah saatnya mereka kembali pada dunia nyata yang sejenak mereka ingin lupakan. Kertas yang tak ingin dibukanya saat beberapa bulan lalu akhirnya dibuka juga.
Surat terakhir dari mendiang Tante Katrin saat meninggal dunia. Myla memandangi kertas itu yang dibacanya kala pesawat tengah mengudara beberapa jam. Ucapan perpisahan dan harapan-harapan mendiang mamanya ada di dalam sana.
Mendiang Tante Katrin menginginkan dia dan papanya melanjutkan hidup dengan bahagia, menemukan cinta yang baru dan memulai hidup baru yang bahagia. Di tanah airnya sana, CEO baru perusahaan mamanya Demian, tengah menunggunya. Berkali-kali Demian menyatakan perasaannya dan memintanya untuk menikah tetapi Myla belum siap melepas masa lajangnya, dia merasa jika papanya masih berduka tak siap akan kehilangan putri satu-satunya.
“Kamu memikirkan apa, Sayang?” suara Om Rudy membuyarkan lamunan Myla tentang lamaran Demian.
“Papa sudah bangun? Sejam lagi kita akan mendarat di tanah air, Myla tidak sabar lagi ingin makan berbagai makanan khas negara kita. Keju sudah membuatku berjerawat,” kelakar Myla dengan senyum lebarnya. Om Rudy hanya tersenyum, senyum khas dari kedua lesung pipinya. Bahkan jika dilihat sekilas Om Rudy akan dikira sebagai abang tertua Myla karena kedekatan dan kekompakan mereka.
“Apa Demian akan menjemput kita?” tanya papanya lagi, tatapannya jauh keluar jendela di mana ufuk timur menyemburatkan warna keemasan.
“Hmmm … katanya siih iya, dia bakal jemput kita di bandara nanti. Demian mau ngobrol sama Papa katanya juga … nanti kalau jetlag Papa udah hilang.” Myla menyimpan kertas yang dipegangnya tadi di saku blazernya. Setibanya nanti dia ingin rasanya langsung bertemu dengan Satria dan Liany, postingan foto-foto keluarga kecil mereka di Instagram Satria membuatnya selalu merindu.
Dua bulan awal mereka di USA, Myla segera melanjutkan pengobatan papanya ditambah kematian Tante Katrin, Om Rudy sempat drop. Namun, Myla berusaha keras agar Om Rudy tidak tumbang lagi, seperti keinginan mamanya di dalam surat itu.
“Demian mau melamar kamu ya?” tembak Om Rudy tepat seperti yang ada di kepala Myla. Gadis itu terlihat gugup dan merasa tidak enak.
“Engh … Myla gak mau buru-buru, Pa. Myla tidak mau Papa merasa sendiri dan kesepian lagi. Myla—“
“Myla, Sayang, jika memang sudah tiba jodohmu yang terbaik jangan lari, Nak. Papa tidak keberatan jika kau menikah dengan Demian. Anak itu baik dan sepertinya orang kepercayaan kakakmu, Satria. Pastinya Satria juga tahu mana yang terbaik untuk adik perempuannya.”
Mata Myla basah, dia memang akhirnya jatuh cinta pada Demian, kegigihannya dalam merebut hatinya memang layak untuk dipertimbangkan sebagai calon suami.
“Myla gak mau tinggalin Papa,” Mya memalingkan wajahnya, menatap lurus ke depan dengan mata yang siap menumpahkan air mata.
“Kamu gak akan meninggalkan Papa, Myla. Kamu gak akan kemana-mana, jika Demian setuju kalian tetaplah tinggal bersama Papa, toh rumah itu memang akan jadi milik kamu kalau Papa nyusul mendiang mamamu nanti.”
“Papa ngomong apa siih?” sanggah Myla lekas, diambilnya tisu dari tasnya dan mengelap air matanya.
“Ide bagus, Myla akan jadikan syarat buat Demian, jika Demian mau menikahi Myla maka dia harus tinggal bersama kita. Myla akan merawat Papa sampai tua dan Papa akan melihat cucu-cucu Papa di rumah itu.”
Om Rudy meraih bahu Myla dan mengecup kepala putrinya dengan penuh kasih sayang, matanya pun ikut berembun. Dia tidak sabar lagi untuk bertemu dengan Demian dan mendengar langsung lamaran untuk putrinya dari lelaki muda itu.
Satria menatap layar komputernya yang sedang tersambung panggilan video dengan seorang laki-laki paruh bayar di seberang benua sana. Sebelum berangkat kerja dan mampir di rumah sakit dia harus berbicara dengan seseorang.
__ADS_1
“Selamat malam, Papa. Maaf mengganggu waktu Papa malam-malam begini,” Satria terlihat sangat serius di depan layar komputernya.
“Ouh Satria my Son, tidak … tidak kau tidak mengganggu sama sekali. Apa ada hal yang sangat penting? Biasanya kau hanya mengirim email kepadaku, Nak.” Bahasa Indonesia lelaki berambut coklat itu masih saja terdengar fasih meskipun sudah lama lelaki itu tak kembali lagi ke Indonesia.
“Bagaimana kabar Yelena, Pa?” Satria langsung pada topik pembicaraannya, dia selama ini diberitahu jika gadis itu baik-baik saja, tengah berkuliah dan bekerja di tempat yang bagus.
“Yelena … adikmu … dia baik, dia baik-baik saja, adikmu tengah menikmati waktunya sebagai pekerja. Mengapa kau tiba-tiba menanyakan gadis itu?” tanya Tuan Clark yang mengenakan piyama tidurnya. Dia menerima panggilan video dari Satria di ruang kerjanya.
“Yelena tidak baik-baik saja, Pa. Aku menemukannya di jalanan hampir tewas dipukuli kekasihnya dan… entah ini kabar baik atau kabar buruk lainnya, Yelena dalam keadaan tengah mengandung tiga bulan.” Satria terlihat geram, dia ingin tahu apa yang tengah terjadi sehingga adik angkatnya itu sangat jauh tersesat dari rumahnya.
“Oohhh … Tuhan… anak itu…” Tuan Clark menunduk sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, rambutnya terlihat mulai menipis dan tangan yang memegangi pelipisnya itu mulai berkerut.
“Beberapa tahun yang lalu kami bertengkar hebat, dia tidak mau melanjutkan kuliahnya yang tinggal sedikit lagi. Dia ingin berkeliling dunia dengan beberapa orang temannya, kau tahu bagaimana dia kan? Otak gadis itu hanya dipenuhi dengan ide gila dan konyol. Aku mengusirnya keluar dari rumah. Aku sengaja tidak memberitahukanmu karena, kecerobohan gadis itu tidak boleh menyeret waktumu. Kehidupanmu di sana sudah baik, apalagi sekarang kau sudah menikah.”
“Pa, kalian adalah keluargaku, Yelena itu adikku, bagaimana mungkin aku akan membiarkannya dalam masalah, paling tidak Yelena akan mendengarkanku, Pa.” Satria terperangah mendengar jawaban dari ayah angkatnya itu.
“Biarkan pengalaman yang mengajarkannya, dia sudah dewasa dan tahu sebab akibat dari perbuatannya. Jangan sampai dia menyusahkanmu lagi, Nak. Biarkan saja dia memilih jalannya.”
“Tidak, Pa. Aku tidak akan membiarkan Yelena terbenam di lumpur sana dan babak belur di tangan seorang pecundang seperti Mike, dia adikku. Aku akan mengusahakan yang terbaik untuknya, Papa dan Yelena sudah menjadikan hidupku sebaik ini, aku tidak akan lupa itu.”
“Tidak, Pa, aku tahu Papa tidak pernah berhitung denganku, tetapi aku adalah anak laki-laki tertuamu, bukan? Aku adalah kakak laki-lakinya Yelena, jadi Yelena akan menjadi tanggung jawabku, Pa.”
Tuan Clark hanya terdiam di depan layar komputernya, rasa haru luar biasa membanjiri dadanya. Ayah angkat Satria itu benar-benar membuktikan intuisinya tentang Satria, jika anak angkatnya itu akan menjadi lelaki yang luar biasa.
“Pa, sudah waktunya aku ke kantor. Kita akan kabari Papa lagi perkembangan tentang Yelena nanti. Aku pergi dulu, Pa. Jaga kesehatan Papa, aku sayang Papa.” Satria mengembangkan senyum terbaiknya yang dibalas dengan senyum tuan Clark yang ditariknya begitu saja.
Satria menghela napas, dia belum tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, yang jelasnya dia hanya ingin Yelena tidak lagi terjangkau oleh Mike.
“Sayang, Mamanya Rangga, aku sudah mau berangkat ke kantor!” seru Satria yang sudah menenteng tas kerjanya. Liany muncul dari kamar Rangga dengan Lilis yang mengekorinya sambil menggendong Rangga.
“Hey … tunggu sebentar Pak CEO, sini dulu,” ujar Liany sambil memutar bahu suaminya tepat menghadap ke arahnya. Dengan cekatan jemari Liany memperbaiki simpul dasi suaminya dan merapatkan ke kaki kerah kemeja Satria.
“Oke, sudah rapi. Aku akan ke rumah sakit menemani Yelena di sana, mungkin besok atau lusa dia sudah bisa pulang. Oh ya, jangan lupa Myla juga tiba hari ini, katanya Demian yang akan menjemputnya.” Liany menatap suaminya dengan senyum manis.
“Ouh … aku lupa itu, nanti aku akan telpon Myla dan Demian. Terima kasih yaa kamu, mau menemani Yelena di sana,” ujar Satria lalu mendaratkan kecupan mesranya di dahi Liany.
__ADS_1
“Eeehhheeemm… ehhhheeeemmm… di sini ada jomblo … di sini ada jomblo,” ucap Lilis menirukan suara burung beo bersuara ketika Satria hendak mendaratkan bibirnya di bibir Liany.
Satria menghela napas lalu menepuk dahinya, Liany tertawa kecil melihat ekspresi Satria yang selalu frustasi menghadapi pola tingkah unik baby sitter putranya.
“Papa jalan dulu yaa Rangga, Lis, jaga Rangga baik-baik yaa,” ujar Satria sambil mengusap-usap kepala anaknya.
“Ooh pasti Tuan, meskipun belum ada yang menjaga hati Lilis, Lilis akan tetap menjalankan tugas menjaga Den Rangga,” canda Lilis dengan wajah dibuatnya serius. Satria hanya memelototi gadis itu yang membuat Liany tak hentinya tertawa. Mereka pun mengantar Satria hingga ke teras rumah dan melambaikan tangan.
Pukul sepuluh pagi Liany sudah sampai di rumah sakit, dirinya masih was-was jika dia diikuti oleh Mike atau anak buahnya. Namun, suaminya meyakinkan jika dia akan aman dan tidak akan diganggu oleh tunangan Yelena itu. Keyakinan Liany bertambah ketika melihat dua orang polisi masih berjaga di depan kamar Yelena. Untung Liany membawa bekal yang banyak sehingga dia bisa membagi beberapa potong roti bakar dan roti lapis kepada kedua polisi itu.
Perlahan Liany membuka kamar Yelena dan menutupnya juga dengan pelan-pelan. Liany kaget karena tidak menemukan Yelena di tempat tidurnya, segera dia mencari gadis itu di dalam kamar mandi.
“Astagaaaa Yelenaaa! Apa yang sedang kau lakukan?!” seru Liany terlihat panik.
“Aku hanya ingin buang air kecil, Kak. Aku tidak mungkin harus mengompol di ranjang, ‘kan?” jawab Yelena yang terlihat sedang duduk di kloset.
“Aku tidak keberatan kau buang air kecil, tapi benda yang di jarimu itu Yelena, ingat kau sedang hamil!” Liany menunjuk benda yang dijepit jemari Yelena.
“Di mana kau mendapatkannya?” Liany menarik paksa benda itu dan menatap Yelena dengan heran. Gadis itu tersenyum menyeringai, “Aku mencopetnya dari petugas yang berjaga di luar kamarku saat mereka lengah. Apa wanita hamil tidak boleh merokok? Aku kira itu hanya mitos.”
Liany mendelik dan segera membuang puntung rokok itu ke dalam tempat sampah setelah padam karena diguyur air, juga sebungkus rokok lainnya yang di simpan Yelena di dekat wastafel kamar mandi.
“Apa kau benar-benar tidak tahu jika rokok bisa membahayakan janinmu?!” sergah Liany lagi, dia membantu Yelena berjalan untuk kembali ke tempat tidurnya.
“Baiklah … baiklah … aku tidak akan merokok lagi, aku juga sudah berhenti minum miras ketika aku tahu aku hamil. Oh yaa, kakakku mana?” tanya Yelena yang mencari sosok Satria, dia baru sadar jika Liany hanya seorang diri.
“Dia ada rapat penting hari ini dan adiknya juga baru kembali dari LA, mungkin dia akan pergi menemuinya dulu.” Liany mengganjal punggung Yelena dengan bantal agar gadis itu bisa duduk dengan baik.
“Tunggu … adik? Satria punya adik? Aku tidak tahu hal itu, apa adik angkat juga?” cecar Yelena penasaran.
“Ouh bukan, dia adik perempuan Satria yang satu ibu beda ayah, Satria juga baru tahu beberapa tahun belakangan ini setelah dia bertemu dengan ibu kandungnya,” terang Liany.
“Adiknya perempuan?” tanya Yelena lagi untuk menegaskan.
“Iya, nama Carmyla Hermawan. Aku membawakanmu sarapan dari rumah, kamu makan dulu ya?” Liany berbalik untuk menyiapkan sarapan Yelena. Gadis itu menatap kosong ke arah jendela dan berulang kali menyebut nama Myla. Ada rasa sedih di dalam hatinya juga iri karena ternyata dirinya bukan adik perempuan satu-satunya Satria Abimana.
__ADS_1