Di Atas Ranjang Om Rudy

Di Atas Ranjang Om Rudy
Rahasia, untold story


__ADS_3

Sejenak Satria memandangi wajah Liany yang memucat, “Iya, benar, Tante Katrin-mu itu adalah ibu kandungku. Aku anak dari pernikahan pertamanya yang gagal, perempuan yang telah meninggalkanku dengan trauma dan luka hati yang dalam.”


Liany tak berkata-kata lagi, dia menyongsong Satria dan memeluknya erat. Sungguh tak diduganya jika cerita kelam masa kecil Satria karena Tante Katrin.


“Mengapa Myla sampai tidak tahu kalau kamu abangnya?” tanya Liany setelah melepaskan pelukannya, rasa penasaran dan simpati berbaur jadi satu.


“Dia merahasiakan semua masa lalunya termasuk aku, beberapa kali aku menantangnya untuk mengungkap siapa diriku sebenarnya tetapi dia tidak mau. Sampai detik ini aku masih membencinya, Liany.” Ekspresi Satria lebih cenderung terlihat sedih dibandingkan marah atau dendam seperti yang kata benci yang diucapkannya.


“Tante Katrin pasti punya alasan tersendiri, cobalah untuk memahaminya,”


“Tidak, Lia, kau tidak tahu apa-apa tentang dia, mungkin dia memang kerabat ibumu tetapi banyak hal dan rahasia yang disembunyikannya.” Satria menghembuskan napasnya berat. Liany mengusap bahu Satria berulang kali dengan lembut. Dia ingin menenangkan hati Satria. Laki-laki itu mengambil tangan Liany lalu mengecup ujung jemarinya.


“Selama ini aku tidak ingin terikat dengan suatu hubungan yang serius, aku lebih memilih one night stand ketimbang harus bersama seseorang dengan status terikat. Bukan aku pengikut gaya hidup bebas, aku hanya takut Lia, aku takut terikat kemudian ditinggalkan begitu saja. Namun, ketika melihatmu dan Rangga timbul keyakinanku jika kau berbeda dari para perempuan yang pernah mengisi malam-malam kesepianku.” Satria mengangkat dagu Liany dengan jemarinya. Tatapannya sendu penuh harap pada perempuan di depannya itu.


“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, bagaimanapun masa lalumu, dirimu yang sekarang dan masa depan yang belum kita ketahui. Aku akan selalu ada untukmu, Satria,” ujar Liany. Satria menarik Liany ke dalam pelukannya, dia merasa betapa beruntungnya hidupnya kini karena kehadiran Liany dan putranya.


Om Rudy mengetuk perlahan kamar perawatan putrinya, pelan-pelan dia masuk dan melihat Myla tengah tertidur. Katrin baru saja pulang dan mereka bergantian lagi menjaga Myla. Dirinya pun sudah bersiap jika Myla bertanya tentang Liany tetapi dia masih mempertimbangkan untuk berpisah dengan Tante Katrin.


Myla membuka matanya, pandangannya bertemu dengan Om Rudy yang menunggu di sisi tempat tidurnya.


“Apa kamu sudah baikan, Nak?” tanya Om Rudy lembut tetapi Myla memalingkan wajah dan menggigit bibirnya. Dia masih enggan untuk bertemu dengan papanya.


“Papa tahu Papa salah dan Papa minta maaf, Myla.” Om Rudy sedang berusaha membujuk putrinya.

__ADS_1


“Papa salah karena sudah menduakan mamamu tetapi coba sedikit mengerti, mamamu sudah lama mengabaikan Papa, kebutuhan Papa lainnya, mamamu terlalu sibuk sehingga melupakan kewajibannya dan—“


“Dan Liany yang memenuhi kebutuhan Papa di atas ranjang Papa?!” tuduh Myla sengit.


“Liany tidak seperti yang kamu pikirkan, dia menolak Papa dan memilih pergi dari rumah ini.”


“Tetapi Papa masih mengejar dia bukan?!” Myla kini berbalik dan menatap Om Rudy dengan penuh kemarahan.


“Papa minta maaf, Sayang, Papa khilaf.” Hanya itu yang sanggup dikatakan oleh Om Rudy kepada Myla, untuk membuat sosok Liany pergi dari hatinya tak semudah itu juga.


“Papa akan pergi sementara hingga situasi lebih tenang. Mamamu sudah setuju kalau Papa sementara menginap di apartemen. Mama dan Papa butuh ruang dan waktu untuk menjernihkan masalah ini.”


“Papa mau tinggalkan keluarga ini?!” sentak Myla terkejut.


“Tapi kenapa Papa harus menginap di apartemen segala?” tanya Myla dengan mata yang berkaca-kaca.


“Karena kami memang butuh ruang, Sayang, ada hal yang dirahasiakan mamaku dan dia memilih untuk tetap bungkam. Paling tidak Papa mengaku bersalah atas kesalahan Papa ini tetapi mama kamu tidak, dia memilih diam meski Papa sudah punya buktinya.”


“Bukti apa, Pa?” Entah ini waktu yang tepat atau bukan yang jelasnya mereka tidak menunggu dirinya pulih terlebih dulu agar membuka rahasia masing-masing yang membuat Myla sadar dunia dewasa itu kejam.


“Papa sudah mengikuti jejak mamamu selama tiga tahun terakhir ini, dia beberapa kali menemui seorang pemuda yang sama. Namun, Papa tidak pernah menanyakannya, Papa menunggu Mamamu untuk bercerita karena tidak ada yang berubah dari mamamu kecuali kesibukannya bekerja. Papa mencoba berpikir positif tetapi akhirnya Papa lelah dan memilih untuk tetap diam saja. Myla, beri kami waktu untuk memperbaiki semua ini,” terang Om Rudy sambil mengambil tangan Myla dan mengelusnya penuh kasih sayang.


“Kalian sudah mengecewakan Myla, Myla cape, Myla mau istirahat.” Myla menarik tangannya dan berbalik memunggungi Om Rudy. Air matanya mengalir deras tetapi Myla menangis dalam diam, tanpa suara, tanpa isakan. Hatinya benar-benar terluka, papa dan mamanya seperti dua orang asing yang tak dikenalinya dan menyimpan rahasia besar. Myla sangat kecewa dengan kenyataan ini.

__ADS_1


[Aku ingin bertemu, ada hal penting yang ingin kubicarakan. Di restoran tempat biasa di meja yang sama, siang ini.] Satria mengirimkan pesan itu kepada Tante Katrin. Dia ingin membicarakan pernikahannya dengan Liany kepada ibunya.


[Baik, aku tunggu di sana siang nanti.] balas Tante Katrin segera, baru kali ini Satria meminta bertemu pasti ada hal yang memang sangat penting.


Tante Katrin memandangi layar ponselnya, ingatannya kembali pada pertengkarannya dengan Om Rudy hari itu. Suaminya ternyata tahu jika selama beberapa waktu ini dia secara diam-diam menemui Satria. Jadi tanpa merasa bersalah Om Rudy membalasnya dengan menyukai perempuan lain dan ingin menikahinya. Perempuan itu mendesah berat, ketidak jujurannya mengenai masa lalunya kini membuat imbas yang buruk bagi dirinya sendiri. Kepalanya berdenyut memikirkan semua ini, mungkin memang sudah saatnya dia harus mengungkap rahasia tentang pernikahan pertamanya dan Satria Abimana.


“Maafkan Mama … Satria, Myla…” gumam Tante Katrin dengan lirih. Saat ini bahunya terasa berat, hatinya kosong ketika suaminya mengutarakan niat untuk pisah ranjang sementara. Om Rudy memilih tinggal di apartemennya sementara.


Satria tiba lebih awal di restoran itu dan menunggu kedatangan Tante Katrin. Berkali-kali diliriknya jam tangan di mana waktu terasa melambat baginya. Setelah hampir setengah jam menunggu perempuan itu akhirnya muncul juga, terlihat ekspresi heran karena dia biasanya menunggu tetapi Satria kini lebih dulu datang dan menunggu.


“Kamu sudah lama? Tadi aku terjebak macet ada pengalihan jalan di bundaran sana.” Tante Katrin duduk dan melepas kacamatanya. Seorang pelayan datang untuk menanyakan pesanan, Tante Katrin hanya meminta minuman dingin yang pas di cuaca yang panas.


“Ada hal penting apa yang ingin kau sampaikan?” tanya Tante Katrin, seperti biasa matanya selalu berbinar jika dia berbicara dengan putranya.


“Aku akan menikah dalam waktu dekat, aku pikir perlu untuk memberitahukan hal ini karena calon istriku yang meminta karena dia bilang keluargaku berhak tahu.”


Tante Katrin terkejut, matanya membulat dan berita ini membuatnya sangat bahagia.


“Siapa calon istri kamu?” tanya Tante Katrin dengan antusias.


“Liany, keponakanmu itu.”


Seakan ada hantaman yang mengenai ulu hatinya kejutan kedua ini membuatnya sesaat berhenti bernapas.

__ADS_1


__ADS_2