
Liany tersentak kaget sehingga tidak dapat berpikir sejenak, air dingin dan es batu yang mengenai wajahnya membuatnya tersedak dan terbatuk. Satria melindunginya dari seorang perempuan yang cantik dengan pakaian yang kekurangan bahan. Wajah Satria memerah menahan amarah sampai tangannya terkepal gemetar.
“Jangan gila kamu, Isabel! Kita tidak punya hubungan apapun, kau sudah mendapatkan apa yang kamu mau, jangan buat aku melaporkan ke polisi karena perbuatan tidak menyenangkan kepada calon istriku!” bentak Satria.
“Aku gak terima kau pergi gitu aja, Sat, menghilang tiba-tiba, aku udah bilang kalau aku bersedia melakukan apa saja untuk tetap bersama kamu, Sat!” Perempuan muda bernama Isabel itu, mendekati Satria. Liany yang menjadi pusat perhatian orang berdiri dari tempat duduknya, mengambil tasnya dan segera pergi. Satria yang melihat itu segera mengejar Liany.
“Lia, tunggu!” Satria ingin mengejar Liany tetapi Isabel menahan tangan Satria dengan kuat.
“Aku belum selesai, Satria!” tukas Isabel cepat.
“Kita sudah selesai ketika saya bayar kamu sesuai dengan harga yang kamu sebut!” hardik Satria sambil mengibaskan tangan Isabel.
Liany menuju jalan raya dan berusaha menyetop angkot atau taksi yang lewat. Matanya perih menahan air matanya yang hendak tumpah, bajunya basah dan lengket. Tangannya terjulur hendak menghentikan ojek tetapi Satria menarik lengan Liany dan memaksanya untuk berjalan ke parkiran.
“Kamu harus dengarkan penjelasanku!” ujar Satria dengan penekanan.
“Lagi pula aku gak akan biarkan kamu pulang dengan baju yang transparan seperti itu.” Satria membuka pintu mobil untuk Liany dan membuat perempuan itu tidak punya pilihan lain untuk naik di mobil Satria.
Liany menunduk dan melihat bajunya yang basah sehingga ********** terlihat, wajahnya bersemu merah tak pernah dia semalu ini dalam hidupnya. Satria mengambil jas-nya yang digantung di mobil dan menutupi bagian depan Liany yang menerawang.
“Aku akan menceritakan bagian hidupku yang lain kepadamu, aku harap kau tidak mengubah pikiranmu tentang rencana pernikahan kita. Tadi pagi aku mengatakan kepadamu jika kau dan Rangga adalah penyelamat hidupku.” Satria memacu mobilnya untuk kembali ke rumah Liany.
Perempuan di samping Satria itu hanya mendesah pelan, dia sangat terkejut dengan perempuan bar-bar itu yang datang tiba-tiba membuat keributan.
“Aku juga masih punya rahasia yang ingin kubagi denganmu jika waktunya sudah tiba,” ujarnya lagi dengan serius. Liany hanya terdiam saja, berbagai pertanyaan memenuhi kepalanya. Tentang Isabel dan rahasia yang dikatakan Satria kepadanya.
Satria memarkir mobil di depan rumah Liany. Bergegas Satria turun dan membukakan pintu mobil untuknya.
“Tak perlu repot, aku bisa sendiri,” ujar Liany pelan. Mereka berdua masuk ke dalam rumah. Satria menunggunya di ruang tamu yang tanpa kursi atau sofa. Terdengar gemercik air dari kamar mandi Liany yang terletak dalam kamar tidurnya. Tak lama Liany pun keluar dari kamar dengan penampilannya yang baru . kesederhanaan Liany memang menjadi daya tarik tersendiri bagi perempuan itu yang membuat Satria terpikat pada Liany.
__ADS_1
“Kita gak usah kembali ke kantor, kita akan jemput Rangga. Banyak hal yang harus kita bicarakan.”
“Tetapi kamu ada janji temu dengan klien hari ini,” ujar Liany.
“Aku sudah meminta Chico dan Dora untuk mewakiliku, ada yang lebih penting selain itu. Rencana pernikahan kita.” Satria membukakan pintu mobil untuk Liany.
Mereka masih terdiam selama perjalanan menuju tempat penitipan anak, Satria merasa gelisah karena melihat Liany yang terdiam. Dia menjadi serba salah dengan sikap tenang Liany, diamnya justru membuat Satria bingung harus bersikap bagaimana.
Tak butuh waktu lama, mereka tiba di tempat penitipan anak dan menjemput Rangga. Liany menciumi pipi Rangga seperti lama terpisah dengan anak itu. Dengan segala perasaan dipeluk dan diciuminya kembali bayi itu dengan mata yang basah. Satria melihat itu dan tahu jika selama di sampingnya Liany menahan perasaannya sekuat tenaga.
“Namanya Isabel, dia bukan kekasihku ataupun mantan kekasihku, dia seorang model dan kami hanya berkencan semalam,” terang Satria di sudut café tempat mereka memulai pembicaraan serius. Satria memilih café yang nyaman dan tidak terlalu ramai untuk pertimbangan Rangga. Bahkan sekarang Satria mulai meninggalkan kebiasaannya merokok karena syarat dari Liany untuk dekat dengan Rangga tidak boleh ada rokok.
Liany menunduk mendengarkan kalimat Satria, di sampingnya Rangga tertidur dalam carrier bayinya.
“Sebelum aku bertemu kamu, aku menjalani kehidupan yang bebas, aku kencan dengan perempuan-perempuan yang bersedia memberikan tubuhnya padaku tanpa ada ikatan apapun atau tak lebih dari sekedar imbalan uang.” Satria meminum kopinya sejenak sambil memperhatikan raut wajah Liany.
“Salah satunya adalah Isabel, awalnya kencan bersamanya terasa menyenangkan, tetapi aku merasa dia menjadi posesif, sebenarnya sudah hampir setahun kami tidak bertemu, tepatnya aku memblok semua kontak dia. Dia sudah setuju menjauhiku setelah aku memberi dia imbalan uang, tetapi ternyata tak semudah itu untuk mau melepaskanku. Aku tahu, terkadang aku mengecewakan beberapa perempuan karena aku menolak untuk berhubungan serius, bagiku mereka hanya kesenangan sesaat saja di ranjang, tidak lebih.” Mata satria nanar menatap ke arah langit-langit café.
Satria menghela napas panjang, luka di batinnya terbuka lagi mengenang sosok yang membuatnya patah hati hingga memilih melampiaskannya pada perempuan yang dekat dengannya karena uang dan ketampanannya.
“Namun, setelah ketemu kamu, aku udah gak tertarik lagi untuk menghabiskan waktu one night stand dengan para perempuan itu. Aku ingin menjalani kehidupanku lebih baik lagi denganmu dan Rangga. Kumohon tetaplah bersamaku, Liany.” Satria meraih jemari Liany dan menggenggamnya penuh harap.
Sesaat Liany menimbang-nimbang cerita Satria dengan masa lalunya itu. Masih banyak hal yang ternyata dia belum tahu tentang calon suaminya itu.
“Siapa wanita yang meninggalkanmu itu?” tanya Liany hati-hati.
“Ibuku, dia ibuku, perempuan yang paling kubenci selama bertahun-tahun ini, meninggalkanku dan ayahku tanpa rasa bersalah. Memilih menikah dengan orang kaya dan membuangku begitu saja. Aku masih ingat saat ayahku sedang sakit, aku kesana kemari mencarinya, saat itu aku berumur sembilan atau sepuluh tahun. Aku berhasil menemuinya tetapi dia menolakku, malah dia mengatakan jika dia sama sekali tidak mengenalku. Aku akhirnya percaya akan kata-kata ayahku jika benar ibuku sudah membuang dan melupakan kami begitu saja.” Air mata menitik saling bersusulan, lalu dihapusnya segera jejak tangis pedihnya itu dengan punggung tangannya.
Liany pun meraih kedua tangan Satria dan balas menggenggamnya dengan erat. Selama mengenal Satria baru kali ini dia melihat Satria benar-benar terluka hingga menangis seperti itu.
__ADS_1
“Aku gak akan pernah meninggalkan kamu, Sat. Kuterima semua apa yang ada di dirimu, semua masa lalumu dan luka hatimu itu. Kau bersamaku sekarang, kita akan bersama-sama menyembuhkan lukamu itu.” Liany menatap dalam ke wajah Satria. Laki-laki di depannya itu menorehkan seulas senyum, dilepaskannya genggaman tangan Liany dan ditempelkannya pada pipi perempuan itu.
“Terima kasih, Liany, terima kasih untuk tidak memutuskan pergi dariku,” ujar Satria dengan perasaan lega.
“Ayo kita cari cincin untuk kamu, sekaligus mahar apa yang kamu inginkan? Aku ingin kita menikah secepatnya agar aku gak bolak-balik ke rumah kamu untuk main dengan Rangga.” Satria memperlebar senyumnya. Hatinya lega karena Liany mau menerima penjelasannya.
“Terserah dari kamu saja, aku gak mau memberatkan. Tetapi aku tidak punya siapa-siapa lagi selain Myla dan keluarganya.” Liany terlihat bingung, dia tidak tahu harus mengabari siapa lagi.
“Tak apa, yang penting pernikahan kita bisa sah di mata agama dan hukum negara. Ayo kita pergi sekarang,” ajak Satria dan mengangkat carrier Rangga dengan hati-hati agar bayi itu tidak terbangun. Keduanya menuju toko perhiasan yang mewah di kota itu dan saling mencari informasi di kantor KUA mana mereka bisa melangsungkan akad nikah.
Tante Katrin baru saja tiba di kantor suaminya, orang-orang yang berpapasan dengannya memberi salam dengan hormat. Perempuan yang selalu tampak anggun dan elegan itu membalasnya dengan senyum dan anggukan yang ramah. Denting lift terdengar dan Tante Katrin masuk ke dalamnya sambil menenangkan perasaannya menuju ruangan Om Rudy.
“Papa?” Tante Katrin membuka pintu setelah mengetuknya tetapi tak ada sahutan. Lelaki yang dicarinya itu ternyata sedang tidak berada dalam ruangannya sehingga Tante Katrin memutuskan untuk menunggunya di sofa tamu. Terdengar langkah ketukan sepatu yang berat mendekat seiring terbukanya pintu ruangan itu.
“Mama di sini? Sudah lama?” Om Rudy masuk sambil membawa beberapa lembar kertas di tangannya. Sekilas nampak penampilan Om Rudy yang tidak mengenakan jas-nya dan menggulung lengan kemejanya.
“Baru aja. Mama mau bicara sama Papa sebentar.” Tante Katrin tidak ingin membuang waktu lagi untuk masalah ini, bahkan dia tidak peduli jika mereka membahas masalah pribadi mereka di kantor.
“Tentang apa? Apa proyek Mama ada masalah?” tanya Om Rudy yang ikut duduk di sofa.
“Tentang Liany, Mama baru saja bertemu dengan Liany,” jawab Tante Katrin dengan tenang. Om Rudy tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
“Ini kantor, Ma. Tidak etis jika kita membicarakan masalah ini di sini,” elak Om Rudy. Dia mengubah caranya duduk agar bisa lebih santai.
“Mama tidak ingin membuang waktu lagi, masalah ini harus selesai. Mama tidak mau Papa berlarut-larut dengan perasaan absurd Papa itu ke Liany.” Tante Katrin mulai melakukan penekanan di kalimatnya.
“Kat, apa yang kau katakan pada Liany?” akhirnya Om Rudy terpancing dengan pembicaraan ini.
“Aku meminta dia menjauh darimu, karena memang sebenarnya dia juga tidak menyukaimu seperti kamu menyukainya. Demi Tuhan, Rudy, apa kesalahan aku sama kamu sampai kamu berpaling dari aku?” tanya Tante Katrin dengan helaan napas yang panjang.
__ADS_1
“Katrin, apa aku harus menanyakan juga kepadamu siapa laki-laki muda yang selalu kau temui diam-diam itu?” tunjuk Om Rudy dengan gerakan dagunya. Pertanyaan pamungkas yang membuat Tante Katrin seperti tersambar petir.