Di Atas Ranjang Om Rudy

Di Atas Ranjang Om Rudy
Cemburu buta


__ADS_3

Myla sudah beraktifitas seperti biasa, tanpa sepengetahuannya Tante Katrin membawa Om Rudy ke psikiater tempat belasan tahun yang lalu Om Rudy menerima perawatan. Tante Katrin memutuskan untuk menutupi kejadian itu dari putrinya. Dia tidak mau putranya merasa semakin buruk dengan apa yang telah dilakukan papanya pada Liany.


Ponsel gadis itu mengeluarkan bunyi denting, sebuah pesan ajakan makan siang bersama Demian baru saja diterimanya. Paling tidak dengan adanya Demian kawan seru Myla bertambah lagi. Demian yang sering memberinya lelucon receh tetapi mampu membuatnya tertawa riang. Sosok yang membuatnya sejenak lupa pada cinta pertamanya, Satria Abimana.


[Aku sudah di lobby, aku jemput ke atas ya?] Demian mengirimkan pesan untuk Myla. Gadis itu berpikir sejenak, lalu meminta Demian untuk menunggu di bawah saja. Myla berdalih agar Demian tidak perlu repot-repot naik ke kantornya, dia hanya tetap menjaga jarak. Hatinya masih terpaut pada Satria meskipun pria itu sudah dengan tegas menolaknya.


“Kita akan makan di mana?” tanya Myla ketika Demian menghampirinya setelah gadis itu keluar dari lift.


“Dekat kantor aku ada restoran baru, cobain yuuk,” aja Demian dengan senyum khasnya.


“Baiklah, nanti kalau kamu gak coba bakal jadi cobaan tuh,” kelakar Myla yang disambut derai tawa Demian.


“Kamu sudah ketularan aku,” ujar Demian sambil mempersilakan Myla naik ke motornya tak lupa dia menyodorkan helm untuk Myla.


“Kita naik ini?” tunjuk Myla ragu. Demian tersenyum lagi, dia lupa jika Myla adalah putri dari pengusaha besar dan golongan dari kelas atas.


“Kamu gak biasa naik motor ya?”


“Engh … iya sih, tapi gak apa-apa, aku bakal naik motor kali ini, sepertinya seru,” tukas Myla cepat, Demian pun membantu Myla memasangkan helmnya.


“Kamu duduk yang nyaman yaa, pegangan yang kuat, gak apa kok kalo kamu memeluk pinggang aku,” canda Demian.


“Huuu… modus banget kamu!” seru Myla di antara deru suara mesin motor Demian.


“Lia, gimana kalau kita cari babysitter aja yaa buat Rangga? Kasihan Rangga tiap hari harus bolak-balik daycare,” usul Satria saat makan siang bersama Liany. Perempuan itu menimbang sesaat perkataan Satria, di sela-sela suapan makanannya.


“Aku akan pertimbangkan, gak mudah mencari babysitter yang bisa dipercaya, jadi nanti saja ya?”


“Hu umh, baiklah, eh … gimana makanan di sini kamu suka?” tanya Satria setelah menghabiskan porsi makanannya.


“Iya, enak porsinya pas harganya juga tidak terlalu mahal,” jawab Liany yang baru saja menyelesaikan makanannya.


“Tanggal pernikahan kita tinggal menunggu hari. Nanti kalau sudah menikah, kamu mau bulan madu di mana?” Satria mengambil tangan Liany dan meremas-remasnya pelan.


“Aku belum kepikiran, aku cuma mau menziarahi makam ibuku dan berkunjung ke rumahku yang dulu.”


“Oooh, baiklah, aku akan mengantarmu kemana saja yang kau mau,” ujar Satria sambil mengelus pipi Liany dengan punggung jemarinya.

__ADS_1


Di sudut restoran Myla melihat hal itu dengan jelas, hatinya remuk redam melihat adegan mesra Satria dan Liany. Mendadak gadis itu kehilangan selera makannya dan meletakkan sendok dan garpunya begitu saja. Demian melihat hal itu dan menanyakan kepada Myla apa yang mengganggu selera makannya.


“Makanannya gak enak ya?” tanya Demian dengan perasaan bersalah.


“Makanannya enak kok, tetapi mendadak perutku sakit, kita kembali ke kantorku ya?” pinta Myla. Dari kejauhan dia melihat Satria dan Liany sedang tertawa bahagia. Keduanya pun beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari restoran.


Myla yang tak tahan lagi dengan perasaannya bergegas meninggalkan tempat duduknya dan mengejar keduanya hingga ke parkiran. Demian terkejut dan buru-buru mengejar Myla yang bahkan meninggalkan tas tangannya. Demian hanya memberi kode kepada pelayan dan meninggalkan beberapa lembar uang di atas meja.


“Jadi gak kamu ambil jasa penjahit yang direkomendasikan Dora kemarin?” Satria menggandeng tangan Liany berjalan santai menuju mobilnya.


“Iya, aku sudah ukur bajunya juga dengan Rangga, malah prosesnya sudah hampir setengahnya. Sebelum menjelang hari pernikahan kita pasti baju itu sudah selesai.” Liany tersenyum lebar, jantungnya berdebar jika mengingat hari itu yang semakin dekat.


“Apa? Kalian akan menikah?!” sergah Myla sambil menarik lengan Liany dengan keras hingga berbalik kepadanya. Liany dan Satria terkejut dengan sentakan Myla yang tiba-tiba itu. Dari kejauhan Demian berjalan cepat mendekati mereka.


“My-Myla? Hey … apa kabar kamu? Kamu sudah sembuh?” Liany mencoba memeluk sepupunya itu tetapi Myla mendorongnya dengan kasar hingga punggungnya menabrak Satria yang ada di belakangnya.


“Tidak usah sok baik dan sok perhatian kamu!” bentak Myla dengan penuh kemarahan.


“Jaga kelakuan kamu, Myla!” Satria memperingatkan gadis itu dengan nada tinggi, Liany segera memberi kode agar Satria tidak balas memarahi Myla.


“Ciiih … gak sudi aku dianggap saudara oleh perempuan yang tidak tahu diri. Setelah kamu merusak rumah tangga orang tuaku kamu mengambil laki-laki yang aku suka juga, kalau tidak tahu diri apa namanya, hah?!” Myla meradang amarah dan cemburu bersatu menjadi emosi yang kuat untuk dilemparkannya kepada Liany.


“Mas Satria gak tahu yaa kalau perempuan yang Mas akan nikahi ini suka menggoda suami orang? Gak tanggung-tanggung laki-laki yang digodanya seharusnya lebih pantas jadi ayahnya, perempuan murahan!”


Satria maju dan melindungi Liany di balik punggungnya, wajahnya mengeras dan terlihat menakutkan.


“Justru kamu yang tidak tahu apa-apa, kamu hanya anak kecil manja yang merasa dunia ini sempurna dan hanya milikmu saja! Kamu tidak boleh bersikap tidak pantas seperti ini dengan calon istriku!”


“Kenapa harus Liany? Kenapa harus dengan perempuan penggoda itu, Mas? Aku tidak akan terlalu sakit hati dengan penolakanmu andai kau tidak memilih perempuan yang telah menghancurkan rumah tangga orang tuaku!” Wajah Myla memerah, Satria begitu membela Liany dan mengatakan jika dirinya anak kecil yang manja.


“Diam! Sekali lagi kau mengatakan Liany perempuan penggoda aku akan—“


“Akan apa? Mas mau berbuat apa?!” tantang Myla yang semakin emosi.


“Satria, sudah … sudah ayo kita pergi saja, suatu hari dia akan mengerti,” Liany mencoba menarik lengan Satria untuk menjauh dari gadis itu. Sementara Demian tertegun melihat pertengkaran ketiganya.


“Kamu mau pergi? Kamu mau lari dari aku, hah? Kamu malu kalau orang-orang tahu kalau kamu pelakor dan sekarang merebut laki-laki yang aku cintai, iya ‘kan?!” hardik Myla lagi.

__ADS_1


“Myla, sikap kamu sangat kekanak-kanakan! Benar-benar tidak tahu apa-apa dan buta, sekarang kamu temui Katrin dan minta dia untuk jujur dengan masa lalunya. Tanyakan siapa aku sebenarnya dan mengapa sampai Rudy Hermawan, papamu itu mengejar Liany!” timpal Satria, pandangannya beralih kepada Demian.


“Demian, apa Myla tadi bersama kamu datang ke sini?” tukas Satria.


“I-iya, tadi aku mengajak dia makan siang di sini,” jawab Demian terbata.


“Bawa dia pulang sekarang! Aku tidak mau ada keributan lagi!” sergah Satria. Dia pun menggandeng tangan Liany dan membukakan pintu mobil untuk perempuan itu kemudian berjalan berputar untuk ke tempatnya tanpa mempedulikan Myla.


Air mata Myla berjatuhan, tangannya terkepal dan tubuhnya gemetar menahan semua emosi yang ada di dalam hatinya. Bahkan ketika mobil Satria menghilang di kejauhan Myla masih mematung di tempatnya.


“Myla, ayo kita pulang, aku akan mengantarmu,” ajak Demian dengan lembut. Myla menurut, rasanya dia tidak punya kekuatan lagi untuk membantah. Gadis itu kemudian menunduk dan melihat pada ujung sepatunya. Betapa emosinya tak bisa dikendalikannya sehingga dia melihat Satria benar-benar melindungi Liany. Demian kembali memasangkan helm di kepala Myla dan membawa gadis itu pergi.


“Jangan kembali ke kantorku, aku ingin tempat lain, aku ingin menenangkan diri dulu,” pinta Myla. Demian hanya mengangguk dan memenuhi permintaan Myla. Motornya berbelok agak ke pinggiran kota. Tak lama mereka tiba di sebuah tempat wisata, pantai laut lepas yang tidak sedang banyak pengunjung.


“Ayo, aku tahu tempat yang bagus,” Demian mengulurkan tangannya dan disambut oleh Myla setelah pemuda itu menyimpan helm yang mereka pakai. Demian menggandeng tangan Myla menuju sebuah gazebo yang letaknya agak jauh dari pusat keramaian.


Mereka berdua duduk melihat deburan ombak di pantai, keduanya terdiam, tepatnya Demian menunggu Myla untuk mulai berbicara.


“Aku mencintainya, dia cinta pertamaku, aku tak tahu jika perempuan yang ditunggunya itu adalah Liany, sepupuku.” Akhirnya Myla mulai bersuara. Demian hanya meliriknya sekilas dan masih menunggu apa lagi yang akan dikatakan gadis itu. Namun, yang terdengar berikutnya adalah isak tangis Myla. Demian menarik napasnya dalam-dalam dan merengkuh bahu Myla lalu mengusap-usapnya dengan lembut.


“Menangislah kalau itu bisa membuatmu lega,” Demian merogoh saku celananya dan mengeluarkan sapu tangannya dan diberikan kepada Myla. Tangis gadis keras sehingga Demian harus berusaha menenangkannya.


“Sshhh … sshhhh… tenanglah, tenang, kau akan baik-baik saja setelah ini, katakan saja pada temanmu ini apa yang harus kulakukan untuk buatmu tersenyum lagi,” ujar Demian lembut. Dia membiarkan kepala Myla bersandar pada bahunya dan merasakan titik-titik air mata Myla jatuh membasahi bajunya.


“Kau akan baik-baik saja, biarkan waktu yang menyembuhkanmu, aku akan selalu ada buatmu, Myla. Kita teman, bukan? Kau bisa mengandalkanku,” bujuk Demian lagi. Dia tahu persis bagaimana perasaan Myla, dulu dia pernah mengalami hal yang sama. Namun, Demian memilih meninggalkan semuanya untuk menyembuhkan luka hatinya. Dia pindah ke kota lain dan bertemu dengan Chico juga Satria.


Sudah hampir dua minggu Om Rudy menjalani kembali perawatannya di psikiater, kini dia sudah mulai membaik. Dirinya harus meminum rutin obat-obatan dan dia juga memutuskan untuk tidak jadi pindah ke apartemen. Dia masih menetap di rumah dan tinggal bersama Tante Katrin. Segala urusan kantornya diamanahkan kepada asisten pribadi dan sekretarisnya. Perlahan obsesinya pada Liany sudah mulai berkurang. Tante Katrin memberikan perhatian penuh kepada suaminya bahkan sampai melepas beberapa proyeknya agar bisa fokus merawat Om Rudy.


Siang ini mereka akan kembali konsul atas perkembangan Om Rudy dan laki-laki itu sedang mencari dimana istrinya berada.


“Kat… Katrin? Kamu di mana? Kita harus berangkat sekarang, Kat!” seru Om Rudy yang mencari-cari Tante Katrin. Air terdengar mengalir dari kamar mandi dan Tante Katrin belum keluar juga.


“Katrin? Ayolah kita hampir terlambat, Kat?” Om Rudy mengetuk pintu kamar mandi berulang kali. Perasaan Om Rudy pun tidak enak, dia menggedor pintu kamar mandi dengan keras tapi tidak ada sahutan.


“Katrin, apa kau baik-baik saja?!” teriak Om Rudy dari luar. Namun, tidak ada sahutan sama sekali. Om Rudy pun berusaha membuka pintu kamar mandi. Dia mengambil obeng dan mencoba mencungkil pintu hingga akhirnya dia mendobraknya dengan keras.


“Astaga, Katrin!!” seru Om Rudy yang bergegas meraih tubuh Tante Katrin yang tergeletak tak sadarkan diri di lantai.

__ADS_1


__ADS_2