Dia Ibuku

Dia Ibuku
Namaku Bintang


__ADS_3

Suara rintihan wanita membuat bulu kuduk meremang, apalagi ini masih pukul 3 malam.Tak lama terdengar isakan yang menyayat hati.


Kamar berukuran 3×3 meter terbuat dari dinding kayu yang tak rapat satu dengan yang lain pemasangannya.Banyak cela dibeberapa bagian, apalagi bagian atas yang tak bertutup plafon membuat suara terdengar ke rumah terdekat, ditambah waktu malam yang memang sunyi.Klop jika suara itu cukup membuat orang yang mendengar pasang telinga.


"Siapa bu"terdengar suara yang sayup memecah sunyi, wanita yang ditanya malah terlihat takut.


"Seperti suara perempuan pak, bukan medi kan pak?"


"Pikiranmu medi wae bu, jelas itu suara manusia!"kesal si lelaki.


"Lah gimana pak ini loh malam, suara siapa coba ?"


Lelaki paru baya itu beranjak dari pembaringan menuju arah luar pintu, sang istri mengekori setiap langkah suaminya.


"Bapak mau kemana, aku ikut"wanita dengan rambut digelung itu menempeli punggung suaminya.


"Kita cari suara itu, kasihan jika itu manusia yang butuh pertolongan"


Dengan membawa senter lelaki itu keluar rumah bersama istrinya, mereka terdiam sejenak di depan teras.Suara rintihan itu kembali terdengar samar-samar.Dengan berpandangan mata mereka mengangguk seperti kode arah mana yang akan mereka ambil.


Ditempat berbeda seorang wanita cantik yang masih sangat muda, berbaring dengan tangan yang erat menekan perutnya, keringat sebiji jagung berhambur di wajah cantiknya, rasa sakit yang tak terkira membuatnya tanpa sadar merintih.


"Kamu ini kenapa sebenarnya, makan apa sampai sakit perut?"


Suara wanita paruh baya yang sepertinya ibu dari wanita cantik itu.Wanita yang wajahnya terlihat panik namun hanya bisa duduk disamping anaknya.Ia sudah membaluri perut dan kaki putrinya dengan minyak kayu putih.


"Mak Nah..mak Nah..maaak!"suara yang cukup nyaring itu membuat wanita paruh baya itu tersentak, ia menatap wajah putrinya.


"Ada orang, mak keluar buka pintu dulu ya!"Wanita cantik itu hanya mengangguk pasrah dengan terus menahan sensasi sakit diperutnya.


"Mak suara siapa yang merintih?"cerca wanita paruh baya yang mengekori suaminya, namun sekarang posisinya malah sudah di depan sang suami.


"Mak Wiji dan Pak Gandi, itu suara Sukma!"


Mereka bertiga gegas menuju kamar Sukma wanita cantik yang mengundang para tetangga karena suara rintihannya.


Dan belum sempat mereka masuk kamar suara panggilan dari balik pintu masuk terdengar kembali.


"Tolong Pak sampean saja yang buka pintu nggih!"


Pak Gandi mengiyakan dan kembali menuju ke arah pintu masuk, sedang kedua wanita paru baya itu masuk ke kamar Sukma.


"Ya Tuhan nduk sakit apa kamu!"mak Wiji mengelus kening Sukma yang basah oleh keringat.

__ADS_1


"Dia kesakitan di perutnya mak entah salah makan apa"jelas mak Nah yang kembali terlihat panik.


Mak Wiji mengamati keadaan Sukma, dan tak lama ia tersentak melihat noda merah dibalik bokong Sukma.


"Ya Tuhan ..mak Nah anakmu ini keguguran"pekik mak Wiji yang membuat mereka berdua kembali panik.


*****


Sudah dua hari Sukma hanya diam di rumah, ditemani anak semata wayangnya yang nyaris mendapat seorang adik, namun rezeki belum kembali menghampiri Sukma hingga ia harus kehilangan jabang bayi dalam rahim yang bahkan tidak ia ketahui.


Ya wanita muda yang baru berusia 23 tahun itu tak menyadari kehamilan keduanya yang sudah memasuki bulan ke dua.


Rasa sakit mengingat jabang bayinya yang baru pergi 2 hari lalu hanya ia yang rasakan.Suaminya yang bekerja jauh dari dari tempat tinggal hanya bisa pulang 2-3 hari setiap bulannya.


Sukma menatap wajah putrinya yang asik bermain di atas ranjang dengan boneka - boneka yang dibawakan suaminya beberapa tahun lalu.


Gadis kecil yang wajahnya mirip sang ayah itu terlihat begitu serius, membuat Sukma tersenyum tipis.


"Ma..itu ada teman kerjamu menjenguk, mak suruh masuk kesini atau kamu temui diruang tamu"mak Nah tiba-tiba masuk ke kamar.


"Biar saya temui mak"


Sukma beranjak turun perlahan dari ranjang besi peninggalan nenek buyutnya, langkahnya pelan menuju ruang tamu dimana para temannya menunggu.


Tak lama Sukma sudah bergabung dengan para teman kerjanya, cerita seputar keguguran itu kembali diulas.


"Ayo disantap sembari ngobrol, mak tinggal ke belakang ya...cah ayu ikut mbah sini!"


Bocah kecil berusia 3 tahun itu menurut saja digendong mak Nah menuju ruang belakang.


Pembicaraan kembali tersambung dan semakin terlihat ramai dengan candaan yang seakan segaja digulir untuk menghibur Sukma.


"Jadi kamu nggak menghubungi suamimu Ma?"Wanita cantik itu menggeleng.


"Ya nanti saja kalau datang ya Ma baru cerita, eman biaya wartelnya"celutuk teman Sukma yang bertubuh gemuk.


Sudah lebih satu jam mereka ngobrol sampai akhirnya mereka berpamitan, Sukma meraih ceret yang telah ringan karena isinya sudah habis, dan juga nampan berisi gelas dan piring tempat pisang goreng yang juga telah tandas.


Perlahan wanita itu menuju dapur yang terlihat sunyi, langkahnya pelan menuju bagian depan ketika semua alat dapur sudah ia letakkan dipencucian, tiba-tiba terdengar suara memanggil.


"Buuu..!"


Sukma menoleh ke belakang, tak ada siapapun, wanita cantik itu menuju arah kamar belakang dimana sang mamak biasa tidur.

__ADS_1


Wajah lelah mak Nah membuat pilu hati Sukma, wanita paru baya itu mendekap tubuh kecil cucunya.Sukma mengeryit ketika terdengar kembali suara panggilan.


"Buuu!"


Wanita cantik itu melihat kearah putrinya yang nyata terlelap dipelukan mak Nah. Rasanya ia tak berhalusinasi dengan suara yang baginya nyata memanggilnya.


Sukma beranjak ke kamarnya, berusaha tak mengindahkan suara yang terdengar seperti suara bocah kecil.


Wanita cantik itu sudah berada di atas ranjangnya mencoba untuk memejamkan mata, dalam pikirannya ia harus segera sehat agar bisa beraktivitas kembali.


Sukma tersentak menatap bocah tampan dihadapannya, pipi bulatnya membuat gemas, raut wajah kecil itu seperti tak asing dimatanya.Bocah tampan itu mengulurkan tangan kearahnya.


Sukma menjerit ketika tubuh kecil itu tiba-tiba melayang dipangkuannya.dan menatapnya sayu.


"Siapa namaku buuu?"


"Hhhhhhhh...."


Wanita cantik itu terduduk dari pembaringannya, matanya mengawasi kearah sekitar, tubuhnya masih terlihat gemetar dengan nafas tersengal.


"Apa tadi?"


"Ya Tuhan siapa bocah kecil itu?, kenapa dia memanggilku ibu"


Pikiran Sukma mencoba menalar, dan tiba-tiba ia tersentak, tetes airmata tak mampu ia bendung.


"Apakah kau putraku nak?"suara bergetar itu dibalas anggukan tak kasat mata.


"Kau minta nama pada ibu sayang?"


Kembali mata bening itu mengerjap dengan senyum imutnya.


Sukma menghela nafas yang membuat sesak di dadanya melega, pikirnya seperti mencari sesuatu tak sadar bibirnya merapal.


"Namamu BINTANG sayang"


"Namaku BINTANG"senyum manis itu mengembang dibibir tipis dan merah dari bocah yang terlihat seperti berusia 4 tahunan itu.


BERSAMBUNG


Jumpa kembali dengan emak nih 😊


Cerita ini settingannya tahun 90an ya..masih belum ada hape kalau di desa-desa, kecuali kota besar dan orang khaya.Di desa hanya mengenal wartel dengan biaya yang lumayan mahal untuk saat itu.

__ADS_1


Emak kembali minta dukungannya ya, untuk semangat menyelesaikan cerita..


Selamat membaca semoga kalian suka ceritanya✌😘


__ADS_2