Dia Ibuku

Dia Ibuku
Zain


__ADS_3

Sukma merubah posisi duduknya menghadap David, wanita cantik itu menatap intens lelaki di sampingnya.


"Kau ingin mengenalkan aku pada istrimu?"


"Deeeg"


Wajah David terlihat berubah tegang, hingga tanpa sadar, kakinya menginjak rem.


"Cciiiiiiiitttt!!!!"


David yang menyadari kesalahannya reflek menahan kepala Sukma agar tak terhantuk, walau sabuk pengaman rasanya cukup menahan tubuh wanita cantik itu.Seketika wajah cantik itu berubah memucat, matanya menatap David kesal.


"Jika mau uji nyali jangan denganku, lakukan sendiri!"wajah cantik itu terlihat jutek.


David yang semula merasa takut karena bersalah, mengulum senyum mendengar ucapan Sukma.Tangannya secara sadar mengacak gemas rambut bagian depan Sukma.Sukma menepis pelan tangan lelaki di sampingnya.


"Aku mau pulang, aku lelah!"


David akhirnya menuruti keinginan Sukma, wanita cantik itu tak lagi membuka suara, ia benar-benar terlelap hingga David membangunkannya.


"Yang sudah sampai!"


Mata indah itu menatap keluar jendela, ia sudah berada di ujung jalan masuk ke kampungnya, Sukma menatap penuh tanya.


"Kenapa dia tak mengantar sampai depan rumah, atau setidaknya depan jalan di dekat rumah?selalu ia menurunkan disini, ada apa?"batin Sukma penuh tanya.


"Ok terimakasih banyak mas, maaf aku izin nggak ngantor hari ini"


David mengangguk pelan, dan setelah Sukma turun dan menjauh dari mobil, lelaki 42 tahun itu, menghela nafasnya kasar.


Sukma berjalan cepat menuju rumahnya, yang jaraknya tak sampai 1 km.Wanita itu terkejut ketika sebuah mobil menghadang jalannya.


Sukma mendekat ketika kaca mobil itu terbuka, dia melihat lelaki yang selalu membuatnya kesal.


"Masuklah, sekalian aku hendak ke rumah!"


Sukma yang sebenarnya ingin menolak merasa tak enak, karena beberapa tetangga mulai menyapanya dan menanyakan perihal lelaki di dalam mobil.


"Teman kerja mak, ia hendak ke rumah"


"Oh??ya sekalian saja nak ikut naik mobilnya!"


"Iya mak, permisi!"


"Iya cak ayu"Sukma tersenyum ramah dan segera naik ke mobil yang mana Zain sudah membuka pintunya dari dalam.


"Mau apa ke rumah?"


"Jenguk Arum dan emak"


"Alasan!"ketus Sukma yang membuat Zain tersenyum smirk.


"Memang kamu pikir ada alasan lain?"


"Modus!"

__ADS_1


Zain terkekeh melihat sikap Sukma yang ketus namun membuatnya gemas, tak lama mobil memasuki halaman jalan masuk rumah Sukma.


"Kenapa tadi nggak sekalian minta antar sampai depan rumah, nanggung sekali ngantarnya"sindir mengena.


Sukma menatap Zain, ia ingin menjawab namun suara klason mobil Zain membuatnya terkejut, Lelaki itu sudah turun terlebih dahulu begitu melihat Arum sudah berlari tak sabar dari teras rumah menuju mobilnya.


"Anak cantik kangen ya?"Arum mengangguk senang dan langsung menyandarkan kepalanya di bahu Zain, begitu lelaki tampan itu mengendongnya.


Sukma yang melihat hal itu betul-betul dibuat terpana, bagaimana tidak mereka sudah seperti bapak dan anak saja.


Namun mak Nah lebih terkejut melihat Sukma yang turun dari mobil Zain, tapi setelahnya wanita tua itu mengulum senyum.


"Ayo masuk nak, mak sudah masak makanan kesukaanmu!"


"Masakan kesukaanku mak?"Sukma tersenyum senang.


"Kesukaan nak Zai lah!"Sukma menatap emaknya tak percaya, Zain hanya tersenyum usil melihat raut wajah Sukma yang lucu karena kesal perhatian emak dan anaknya tercurah padanya.


Sukma makan dengan perasaan dongkol, bagaimana tidak.Mak Nah tak henti menyendokan lauk ikan bumbu rujak kesukaan Zain, dan menyuruh lelaki itu makan banyak biar sehat.lah dia siapanya emak?.


Sukma melihat senyum bahagia di wajah emaknya, hal itu tak pernah Sukma lihat ketika emaknya berinteraksi dengan Afit.Aneh memang orangtuanya tak pernah akur memang dengan Afit.


Mungkin dikarenakan dari awal orangtuanya sudah tak menyukai sikap Afit, yang terkesan sombong dan tak banyak bicara pada kedua mertuanya, bahkan ketika mertua lelakinya meninggal, Afit tak bisa datang dengan alasan tak mendapat izin karena kabar yang ia dapat mendadak.(Lucu saja Afit, namanya meninggal ya tak direncanakan, pasti kabarnya dadakan..kkwwwkkww)


Sukma membawa peralatan bekas makan ke pencucian, wanita cantik itu lantas masuk ke kamarnya begitu selesai merapikan dapur.


"Jangan putus asa ya nak, sikapnya disebabkan suaminya yang tak tahu diri itu!"wajah mak Nah terlihat kesal.


Zain mengangguk sembari tersenyum.


"Kamu percayakan sama mak, yang penting kamu berjanji membuat anak dan cucu mak bahagia!"


"Tentu mak, saya janji untuk itu!"


Selepas isya Zain pamit pak mak Nah, setelah gadis kecilnya terlelap tidur dipelukannya.


Zain menghela nafasnya lega, semoga keinginannya mendapat restu sang pengcipta, karena ia sudah mengantongi restu dari mak Nah.


"Semoga hubungan mereka tidak semakin jauh"gumannya lirih.


*****


Sukma tersentak ketika tangannya ditarik masuk ke dalam ruang kecil yang biasa dipakai untuk menyimpan arsip lawas.


"Apaan sih pak!"ketus suara Sukma tak membuat sang lelaki menyurutkan nyalinya.


"Diamlah sebentar, dengarkan apa yang ingin kukatakan!"


Sukma menatap kesal lelaki di hadapannya.yang ditatap pura-pura cuek.


"Lima menit!"


"Mana bisa dek lima menit, ini penting!"


"Dek..dek memang aku adikmu"omel Sukma lirih namun masih terdengar oleh Zain.

__ADS_1


"Cepat katakan, bos sudah menungguku!"suara wanita cantik itu terdengar ketus.


Zain menghela nafas kasar, hatinya mendadak nyeri mendengar alasan wanita yang dipujanya, walau sebenarnya ia tahu itu dan ia lakukan ini untuk menahan agar Sukma tak bertemu David.tapi apakah ia bisa?


"Maaf, jangan salah langkah dek, kasihan emak dan Arum"lirih Zain nyaris tak terdengar.


"Deeeg"


Sukma tersentak mendengar permohonan Zain, lelaki itu menunduk setelah mengatakan sesuatu yang menyentil pikiran dan hati Sukma.


"Bapak pikir aku ngapai?, koq bisa bilang begitu!"Sukma menatap Zain lesal.


"Hanya Tuhan dan kamu yang tahu apa yang kamu lakukan dengannya dek" Zain menatap sendu wajah cantik yang kerap menemani harinya.


Dada Sukma bergemuruh, wajah wanita cantik itu pun memerah, ia seakan ditelanjangi oleh lelaki di depannya namun dengan cara yang halus.


"Apa bapak disuruh emak mematai-matai aku?"


"Dek andai aku harus memilih berdusta untuk melihat wajah bahagia emak, aku iklas melakukannya, aku tak mau emak mengetahui apapun yang tak harus ia dengar tentangmu !"


Jantung Sukma berdebar makin kencang, lututnya tiba-tiba melemah.


"Sebegitu peduli dan sayangkah lelaki ini pada emaknya?"


"Kamu nggak apa kan dek?"


Zain menahan tubuh Sukma agar tak terjatuh, lelaki itu merengkuh wanita yang dipujanya dengan jantung bertalu dan tubuh bergetar.


"Aku nggak apa pak, terimakasih sudah peduli dengan emak"


"Bukan hanya dengan emak.."


"Eh ya juga dengan Arum"Sukma tersenyum mengingat kedekatan Zain dan putrinya.


"Juga denganmu dek!"lirih Zain dengan suara berat dan terdengar berbisik, membuat tubuh Sukma meremang.


"Aku mau keluar pak"


"Nanti dulu sayang"


Hening..., Sukma dan Zain terkekeh menyadari ucapan mereka yang ambigu.


Tanpa sadar Zain memulai mendekatkan wajahnya lebih dekat pada wajah cantik yang kerap membuatnya bermimpi indah.


Sukma menahan tubuhnya agar tak luruh, ketika merasakan kelembutan indra pengecap Zain, entah kemana sikap arogannya yang biasa ia suguhkan pada lelaki dihadapannya.


Sukma mengambil nafas sebanyak-banyaknya setelah Zain melepaskan tautannya.Dengan berani Zain menarik pinggang ramping wanita di hadapannya, satu tangannya perlahan membelai wajah cantik yang selama ini hanya bisa ia dekati ketika bermimpi.


Sukma menangkap tangan Zain sangat cepat, dan tangan satunya berusaha melepaskan tangan Zain yang merengkuh pinggangnya.


"Pak ini sudah malam, kita bisa terkurung disini jika tak segera keluar!"


Tangan Sukma meraih handle pintu, perlahan ia melihat situasi diluar yang mulai sepi, ketika tubuhnya berbalik keningnya ketempelan bibir Zain.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2