Dia Ibuku

Dia Ibuku
Dia Bukan Sainganmu!


__ADS_3

"Arum ikut papa ya?".


Bocah cantik itu mengangguk ketika Zain yang baru datang langsung mengajaknya ke kafenya.


"Nanti ngerepoti mas!".cegah Sukma.


"Bisanya anak ngerepoti papanya, tentu tidak ya sayang.Nanti bantu papa buat kue ya?".


"Iya mau, mama Arum ikut papa buat kue ya?"


Sukma menggelengkan kepalanya seraya menatap Zain.Lelaki itu hanya tersenyum seraya menggedong tubuh putrinya.


"Pamit dulu sama mama!"titah Zain pada Arum.


"Mama Arum ikut papa!".Sukma mengecup pipi Arum yang berada digendongan Zain.Wanita itu mematung ketika bibir Zain secepat kilat mendarat di keningnya.


"Mas kerja dulu ya sayang, jangan khawatirkan putri kita, ia aman dengan papanya".Senyum Zain merekah dan lelaki itu bergerak keluar rumah.Sukma terpaku menatap kepergian mobil Zain.


"Ya Tuhan bantu aku!"lirih Sukma seraya mengelus keningnya, ia masih merasakan hangat kecupan Zain di keningnya.Namun entah tak ada debar hangat di hatinya.


Zain dan Sukma telah membangun hubungan baru dengan sebutan persahabatan.Tapi bagi gadis sekecil Arum ia hanya tahu Zain adalah papanya.Gadis kecil itu tak pernah tahu pernikahan orangtuanya telah berakhir.Yang ia tahu Zain selalu ada untuknya dan sangat menyayanginya. Baginya Zain adalah papa.Sosok penganti Afit yang bahkan tak ia kenal akrab seperti Zain.


"Aku takut kedekatan mereka membuat Arum terluka, gadis kecilku semakin cerdas saja.Ia bahkan semalam membuatku bingung karna pertanyaannya.


#Flashback Pecakapan Arum dan Sukma#


Malam itu Sukma mendekap putrinya di ranjang sebelum mereka tidur.Arum yang sudah bersekolah TK sudah pandai diajak ngobrol.


"Sayang siapa yang antar Arum jika sekolah?".suara Sukma terdengar lembut pada putrinya.


"Uthi sama sopil".ucap gadis kecil itu menjawab tanya ibunya.


"Tapi bu, Alum suka kalau diantar papa, teman-teman Alum suka diantar papanya".Mata Arum berbinar menceritakan tentang Zain.Lelaki itu memang beberapa hari ke rumah nenek Arum, dan tentu saja gadis kecil itu senang atas kedatangan lelaki yang ia pikir masih papanya.


Sukma tersenyum miris melihat kebahagia putrinya.Andai ia masih bersama Zain apakah hubungan mereka akan sebaik sekarang atau malah sebaliknya.Saling menyakiti dengan menuruti kata hati masing-masing.


"Ibu! Alum mau tinggal disini sama ibu dan papa ya".


Sukma mengangguk perlahan, hatinya mendadak takut jika ia tak bisa menuruti keinginan putrinya.Gadis kecilnya yang sangat disayangi emaknya dan juga mantan suami sirihny.

__ADS_1


Untuk menghadirkan Zain sebagai sosok ayah itu mudah, lelaki itu tanpa diminta akan sukarela datang untuk Arum.Tapi jika Arum meminta ia dan Zain dalam satu ikatan sakral, Ia tak tahu apakah ia bisa.Ia bukan trauma atas sikap Zain, karena ia pun punya andil atas perubahan sikap lelaki itu.Yang ia takutkan apakah emaknya menerima lelaki itu kembali sebagai papa Arum?.


Sukma tersentak dari lamunannya ketika suara melengking Gayatri membuat telinganya berdengung.


"Mbak pagi-pagi melamun, entar kesambet jin ganteng baru nyahok!" kekehan Gayatri justru membuat Sukma tersedak salivanya.Wanita itu langsung teringat suami gaibnya.Sudah cukup lama Barca tak mengunjunginya.


"Apa ia sangat sibuk, hingga tak bisa menyempatkan diri untuk datang".batin Sukma pilu.


Biar bagaimanapun Barca adalah suaminya, ayah dari putra kembarnya. Sukma tak bisa menepis kenyataan itu yang mungkin bagi orang lain dirinya sedang berhalu.


"Ayo berangkat!".Sukma berjalan keluar pintu setelah meraih tas kerjanya dia atas meja.Tapi wanita cantik itu menghentukan langkahnya karrna merasa Gayatri tak membersamainya.


"Saya belum sarapan mbak".Sukma menggelengkan kepala , wajahnya terlihat kesal.


"Siapa suruh tidak sarapan, ini sudah siang saya ada meeting pagi ini dengan klien, kamu sarapan saja di kantin".


Sukma gegas menuju mobilnya, seorang sopir sudah siap mengantarnya ke kantor.


Di tempat berbeda sosok gagah yang memimpin pertemuan di aula yang sangat luas itu terlihat letih, beberapa bulan ini ia begitu sibuk dengan acara kerajaan yang sudah merupakan ketentuan dari penguasa agung.


Barca sosok yang mengenakan mahkota kebesaran raja itu, sangat merindukan cintanya.Ia pun merasa bersalah karena tak mampu memenuhi panggilan batin istri manusianya.


Tapi semenjak Malini hamil, ratunya itu tak mau ditinggal sejenak pun, dengan alasan bayinya, yang membuat Barca tak berkutik.Karena sejak awal ia tahu kondisi kandungan ratunya.Bahkan penguasa agung sudah mewanti-wantinya untuk menjaga keturunannya hingga waktu kelahiran nanti dengan selamat.


Barca gegas meninggalkan acara setelah palu kebesaran diketuk, tanda pertemuan berakhir.Sosok itu melangkah cepat menuju kamar kebesarannya.


Barca mengeluh begitu melihat sosok ratunya di dalam kamarnya, kamar kebesaran adalah kamar khusus raja.Sedang kamar utama adalah kamar untuk peraduan raja dan ratu.


"Kalian keluarlah!"titah Barca pada para abdi yang menemani Malini.


"Baik tuanku, permisi!".


Barca mengangguk dan pintu ditutup dari luar oleh abdi yang terakhir keluar.


"Aku ingin istirahat, bisakah malam ini kau membebaskanku!".pinta Barca yang membuat Malini tersentak.


Malini tahu apa yang akan dilakukan rajanya, sungguh ia tak rela.Padahal dari awal ia tak merasa jika Sukma adalah saingannya.Namun semenjak hamil rasa cemburunya makin menjadi.


"Pahami diriku, aku punya tanggung jawab padanya.Jika kau selalu bersikap begini padanya mungkin aku akan memikirkan saran penguasa agung untuk mencari selir!".

__ADS_1


"DEG!!!".


Malini menggeleng ia tak mau jika hal itu terjadi, akan lebih menyita waktu untuknya, jika raja memiliki selir di istana ini.


"Baiklah aku akan kembali ke kamarku".


Barca tersenyum di dekatinya tubuh ratunya sebelum keluar dari kamar. Dipeluknya tubuh hangat Malini, sebuah kecupan di kening cukup lama untuk menentramkan sosok wanita yang sedang mengandung keturunannya.Tangan besar Barca mengelus perut membusung ratunya.


"Dia bukan sainganmu! jadi jangan berpikir yang menyakiti dirimu. pikirkan kau ratuku dan aku selalu bertanggung jawab padamu lahir dan batin!".bisik Narca lembut.Malini mengangguk patuh dan setelahnya ia keluar kamar dituntun oleh Barca sampai di pintu.


Barca membersihkan dirinya, setelahnya ia melakukan ritual untuk memgunjungi istri manusianya yang sudah lama tak ia datangi.Lelaki itu duduk bersila sembari terpejam.


Barca menatap wajah cantik yang sangat ia rindukan, tergores keletihan disana.


Barca mendekat dan naik ke ranjang istri cantiknya.Mata Sukma megerjap ketika merasakan pelukan hangat dengan aroma yang sangat ia rindukan.


"Mas kau datang".lirih Sukma seperti mengumam.


"Iya sayang, maafkan mas yang baru bisa datang".


"Aku mengerti".lirih Sukma seraya masuk ke dalam pelukan sosok Barca.


"Apakah ia melarangmu?".


Barca menggeleng, dikecupnya lembut bibir istrinya.


"Banyak tugas di kerajaan yang harus aku lakukan, dan semua itu dipantau oleh penguasa agung".


Sukma mengangguk pelan, tangannya mengelus rahang berbulu suami gaibnya.Sudah lama ia tak bermanja dengan sosok suaminya.Sukma mendekat ke wajah Barca dan memberi kecupan lembut.


Barca menahan ciuman itu, hingga Sukma ikut hanyut atas perbuatan suaminya. Rasa yang ia rindukan dari suami gaibnya.


Malam itu Barca menuntaskan semua kerinduan istrinya selama beberapa bulan tak ia kunjungi.Ada rasa sedih mengingat ia tak bisa bersikap adil pada istrinya.


Setelah beberapa jam suasana kamar itu kembali sunyi, Barca sudah melelapkan Sukma dengan cintanya.Wajah wanita itu terlihat bahagia, mungkin ia sedang bermimpi bersama dirinya.


"Aku mencintaimu sayang, tapi aku tak boleh egois.Aku bebaskan kau mencarikan pasangan demi kebahagiaanmu.Harus lelaki yang tulus menyayangimu!".bisik Barca lembut di telinga istrinya.


BERSAMBUNG😊

__ADS_1


__ADS_2