Dia Ibuku

Dia Ibuku
Pertemuan Dengan Mantan Mertua.


__ADS_3

Zain melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata, wajah lelaki itu masih terlihat panik.tulisan di secarik kertas itu terus membayang di pikirannya.


"Aku tak mau kehilanganmu lagi May, kau harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi padaku, aku bahkan sudah menghancurkan rumah tanggaku sendiri!" keluh Zain dibarengi titik airmata di sudut matanya.


"Maafkan aku mak, jangan kau hukum aku seperti ini mak!"guman Zain lirih.


Beberapa puluh menit kemudian mobil Zain memasuki area bandara.Ia melajukan mobilnya ke terminal penerbangan internasional, karena ia yakin Maysa melakukan penerbangan hari ini.


Zain menelisik setiap wanita yang mirip Maysa, setelah ia memasuki area keberangkatan penumpang penerbangan internasional.Hatinya semakin cemas jikalau tak bisa bertemu Maysa, andai itu terjadi ia akan nekat menyusul Maysa ke sydney saat ini juga.


Perpisahan beberapa tahun lalu cukup membuatnya menyesal, harusnya itu tak terjadi.Tapi ia bisa apa selain berkorban untuk wanita tercinta.Dan saat ini Maysa datang menemuinya dengan berkedok kerjasama, Ia yakin Maysanya selalu merindukan dirinya, sama seperti apa yang ia rasakan.


"Kamu di mana?"Zain mulai putus asa, lelaki tampan itu terlihat payah.Baju kemejanya terlihat dipenuhi keringat, dua kancing di atasnya sudah terbuka serta lengan yang digulung asal.


Zain memukul kesal kepalanya, otaknya seperti buntu karena panik, ia seharusnya datang pada petugas boarding pass. Dengan langkah lebar ia mendatangi petugas dan menanyakan perihal keberangkatan ke sydney.


Beberapa saat kemudian, Zain menatap nanar wanita yang terlihat asik tertawa bersama asistennya, langkah lelaki itu mendekat ke arah wanita yang ia cari seperti orang gila, setelah ia diperbolehkan masuk oleh petugas ke ruang tunggu pemberangkatan.


"Zai kau disini, maaf aku tak membangunkanmu"senyum mengembang di bibir tipis Maysa.


"Ikutlah bersamaku May!"lirih Zain yang masih bisa didengar oleh Maysa dan sang asisten.


Maysa bersitatap dengan Leni sang asisten, seakan bertanya."Benarkan apa yang ia dengar?.Leni mengangguk seakan tahu maksud bosnya.


Maysa tertawa menatap Zain."Urusan kesepakatan bisnis kita sudah selesai, tinggal menjalankan kerjasamanya saja, apa ada yang harus aku selesaikan lagi?"Maysa menatap Zain dengan bingung.


"Bagaimana denganku?"Maysa tertawa remeh mendengar pertanyaan Zain.


"Apa maksudmu Zai, urusan kesepakatan bisnis kita sudah selesai, aku tak bisa meninggalkan keluargaku terlalu lama!"


"Mama dan papa, urusanku..aku akan meminta izin mereka agar kau bisa lebih lama disini, sampai kita menikah"tungkas Zain segera.


Wajah Maysa dan Leni terlihat bingung.


Apa yang dipikirkan lelaki mantan suaminya ini, jangan bilang jika ia baper karena beberapa minggu ini mereka tinggal serumah layaknya suami istri.


"NO..itu hanya sekedar selingan saja, karena ia dan Zain pernah punya hubungan, andai Zain tak di kota ini mungkin ia akan melakukan dengan lelaki lain..bahkan jika perlu ia akan membayar untuk pelayanan itu"Maysa tertawa kecil.

__ADS_1


"Maaf Zai..aku sudah menikah,bahkan kami memiliki seorang putri yang belum genap setahun!"


"DUUUUAAARRŔRRR!!!"


Tubuh Zain bagai tak bertulang mendengar ucapan Maysa, lelaki itu terduduk di kursi tunggu, setelah Leni membantunya, hatinya hancur berkeping-keping saat ini, ia hanya selingan bagi Maysa dan parahnya ia membawa Maysa ke rumah yang sudah ia tawarkan pada istrinya.


"Ya Tuhan!!!"lirih Zain dalam hati.


"Maaf jika kau baper atas sikapku Zain, aku tak tahu jika kau pakai perasaan saat denganku!"cibir Maysa seraya menatap Leni yang tersenyum samar padanya.


"Di negara tempat aku tinggal itu hal wajar, kuharap kau bisa berpikir dewasa!"


Zain tak membalas ungkapan Maysa, hatinya sungguh sakit.Jatuh dalam lubang yang sama, bahkan kali ini lebih dalam.Maysa sudah menikah dan punya anak.Ia hanya budak naf su bagi wanita itu.


Zain masih terduduk di ruang tunggu pemberangkatan penumpang internasional.Sepertinya lelaki itu masih mengumpulkan tenaga untuk tegar atas kenyataan yang ada, atau untuk sadar jika balasan dari perbuatannya pada sang istri nyata terjadi.


Zain mengucak rambutnya kasar, isak tangis mulai terdengar.Bukan karena Maysa yang menjatuhkan harga dirinya.Tapi tangisnya yang terisak itu merupakan penyesalan atas kebodohan yang ia lakukan pada orang-orang yang tulus menyayanginya.


Pagi ini Sukma dan putrinya bersama mantan adik iparnya melakukan perjalanan ke luar daerah.Mereka akan ke rumah orangtua Afit setelah beberapa hari pengajuan cutinya di setujui pihak kantor.


Nampak seorang lelaki berpakaian serba hitam mengangkat tas itu masuk dalam bagasi, sampai akhirnya mereka duduk di kursi tengah bertiga.


Sukma nampak bingung dengan mobil travel yang dipesan mantan adik iparnya, yang terlihat begitu mewah.Ia hendak bertanya perihal biaya carter mobil, tapi melihat Wati yang bersandar lelah di sampingnya, wanita cantik itu mengurungkan niatnya.


Perjalanan telah melewati waktu beberapa jam, Sukma merasakan perutnya mulai lapar, ia menatap Wati yang memeluk Arum, keduanya terdengar mendengkur halus.Ia tak tega membangunkan mereka.


"Pak kita singgah di rumah makan nggeh, cari rumah makan yang searah saja pak!"


Tak ada sahutan, yang ada hanya anggukan kepala sebagai jawaban dari permintaan Sukma.


Beberapa menit kemudian mobil menepi di halaman sebuah rumah makan.Sukma terpaksa membangunkan Wati dan Arum. Dengan mengendong Arum, Sukma dan Wati berjalan menuju rumah makan.


Beberapa menit berlalu, di rumah makan lesehan itu, Wati dan Sukma mulai menikmati makanannya.Sesekali mereka bergantian menyuapi Arum.Bocah cantik itu sudah mulai dekat dengan sang bibi yang terlihat tulus padanya.


"Dek..mbak bayar dulu sekalian ambil pesanan buat sopir!"Wati mengangguk sembari mengendong Arum.


Perjalanan lanjut kembali setelah sebelumnya Sukma menyerahkan makanan yang ia bungkus pada sang sopir, lelaki tak banyak suara itu sedang menyandarkan kepala dan menyilangkan tangan menutup wajahnya yang sudah ditutupi topi.

__ADS_1


"Berapa jam lagi dek?"Sukma terlihat mulai lelah dan mengantuk, ia ingin memastikan waktu tempuh yang masih tersisa.


"Dua jam-an mbak"


"Aku mau tidur dulu dek, ngantuk sekali"


Wati hanya mengangguk, ia pun lelah dan akhirnya ikut tertidur kembali.


Hari terlihat gelap ketika mata Sukma mengerjap, wanita cantik itu gegas merapikan dirinya.Ia ikut turun dengan adik iparnya, setelah menyelesaikan pembayaran.


Di depan Sukma nampak rumah besar yang terlihat semakin megah, jika diamati ada beberapa renovasi dari beberapa tahun lalu, saat pertama kali ia dibawa sang suami untuk menemui mertuanya saat itu.


"Ayo kak!"Wati mengendong Arum yang masih tertidur dan Sukma menarik koper dan meneteng tas.


"Ma..pa..aku datang!"suara nyaring Wati membuat Arum terjaga, bocah cantik itu terlihat bingung dan tak lama ia menangis.


"Ya Tuhan..maafkan tante sayang, tante lupa kau tertidur cantik!"wajah Wati terlihat menyesal.


"Kau ini terlalu sekali pada cucuku!"suara bariton itu terdengar kesal.


Lelaki pemilik suara itu adalah mantan ayah mertua Sukma.Lelaki paruh baya yang tersenyum sumringah, Arman mantan mertua Sukma itu langsung mengambil Arum yang menangis digendongan Wati.Dan ajaib bocah cantik itu langsung berhenti menangis dan malah menyandarkan kepalanya di bahu sang kakek.


Sukma dan Wati yang menyaksikan hal itu berpelukan sembari terisak.Mereka terharu atau berpikir sama jika Arum merindukan sosok ayah.


"Kalian tak ingin membagi pelukan itu dengan ibu nak"suara lembut wanita paruh baya yang tiba-tiba berada diantara mereka mengejutkan Sukma.


"Ibu.."Sukma mengulurkan tangan, tetapi Lena sang mantan mertua menarik tubuh wanita cantik itu dalam pelukannya.


"Maafkan ibu dan ayah ya nak, maafkan kami"terdengar isak tangis Lena, wanita paruh baya itu terlihat begitu menyesali sikapnya selama ini pada anak dan mantunya.


"Kalian tak mau berbagi pelukan dengan ayah"Sukma terkekeh mendengar ucapan Arman.Mereka berpelukan bersama dengan Arum yang masih digendongan sang kakek.


Tak terasa waktu berlalu, sudah dua hari Sukma berada di rumah mantan mertuanya.Sikap penyayang kedua mantan mertuanya sangat menenangkan Sukma.Wati benar jika kedua orangtuanya begitu mengharapkan ia dan Arum dekat dengan mereka.


Tapi Sukma tak bisa sepenuhnya memenuhi keinginan mereka, karena bagaimanapun ia hanya mantan mantu, ia tak bisa mengandalkan ayah Arman dan ibu Lena.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2