
Bintang manggut-manggut mengiyakan, ia pun tahu sorot mata temannya itu sangat menakutkan.
"Jika suatu hari bapaknya datang menurunkan ilmunya pada Awan, aku yakin teman kita itu akan jauh berbeda.Dan maaf kau bisa menjadi tumbal untuknya!"
"Dimakan?"
Doan mengangguk samar, ia tahu Bintang ketakutan, tapi ia perlu menyampaikan ini agar Bintang bisa waspada.
"Apakah aku bisa menghindar?"Doan mengangguk lemah, ia merasa berat mengatakan cara yang sulit dilalui Bintang.
"Menurut kakek penghuni rumah ini, jiwamu yang bersih akan abadi suatu saat nanti asal kau tidak dihancurkan oleh iblis, sebenarnya kita tidak dapat berteman karena bisa merugikan dirimu!"
Bintang menggeleng tak percaya atas ucapan Doan.
"Tapi aku berjanji akan menjagamu dengan caraku kau tahu kakek di rumah ini jiwanya sama denganmu, tapi kami dapat berteman karena ia lebih sakti dariku!"
"Benarkah?bisakan aku bertemu kakek itu?"
"Tentu bisa tapi tidak sekarang, kakek itu saat ini sedang berkunjung ke tempat lain"
Percakapan mereka terus berlanjut hingga subuh menjelang sampai mereka berdua terlelap bersama.
*****
Di tempat berbeda Sukma sudah berada di kampungnya kembali, selesai urusan di perusahaan cabang selatan, mereka langsung bertolak keesokan harinya menuju kampung halaman.
"Apa ini pak?"
Sukma menatap amplop coklat yang terlihat mengembung di hadapannya.
"Ini bonus yang aku katakan, jika masalah di perusahaan cabang selatan clear"
David menatap intens wajah cantik yang mulai menganggu pikirannya beberapa malam ini.
Setelah kepulangan dari tugas di cabang selatan, lelaki berusia 42 tahun itu gamang.Ucapan Sukma mengganggu pikirannya.Sebenarnya ia begitu menyukai Sukma, namun permintaan wanita cantik itu...?.
"Ah biar ia melupakan sejenak pikirannya yang membuat pening".batinnya
"Terimalah! dan untuk suamimu apa yang kau ingin aku lakukan padanya"
Sukma menatap lelaki 42 tahun yang terlihat masih sangat gagah dan tampan itu.
"Aku ingin mengurus perceraian dengannya, dan buat ia keluar dari perusahaan kalau perlu tak bisa lagi bekerja di perusahaan manapun!"
David mengangguk, ia menatap wajah cantik dihadapan itu dengan senyum yang membuat cekung dalam dikedua pipinya.
"Itu mudah, lalu setelahnya apakah aku bisa mendapat hidangan utama!"
__ADS_1
Sukma tersipu, pipinya merona mendengar ucapan absurd bosnya, lelaki tampan itu menjadi gemas melihat wanita yang makin terlihat cantik dan mengemaskan di hadapannya.
David berdiri dan bergerak menuju pintu, ia mengunci pintu dan segera membawa Sukma ke dalam kamar istirahatnya yang ada di ruang kerjanya.
"Kau gila mas, bagaimana jika ada yang tahu?"bisik Sukma lirih namun David menulikan telinganya.Tangan lelaki itu sudah bergerak liar membuka hem Sukma dan membuangnya ke lantai.
Kesukaan yang sudah mencandui lelaki 42 tahun itu, dua bukit indah dan kenyal yang mulus tanpa celah, siap ia hisap dengan bruntal dan penuh rasa.
Sukma menikmati permainan yang disodorkan David dan mereka berusaha saling memberi hidangan pembuka yang mengenyangkan tanpa harus ke hidangan utama.
Hari menjelang sore ketika mata cantik itu mengerjap, ia menatap wajah tampan lelaki yang memeluk tubuh hangatnya.
"Mas bangun"Sukma mencium lembut pipi dan bibir David.Lelaki tampan itu mengerjap dan setelahnya tersenyum lebar, ditariknya tubuh Sukma lebih erat ke dalam pelukannya.
"Aku sangat menyayangimu"Sukma hanya tersenyum mendengar ucapan bosnya.
"Bangun yuk, kita harus segera pulang sebentar lagi magrib"
David menduselkan wajahnya keceruk leher Sukma, rasanya enggan mengakhiri permainan ini, jika boleh ia malah ingin melakukan hal lebih, tapi ia menghargai wanitanya.David ingin melakukan penyatuan jika Sukma menginginkannya.
Sukma telah sampai di rumah, ia terkejut melihat kehadiran seseorang yang ngobrol begitu akrab dengan emaknya.Ada rasa takut jika orang ini mengetahui dirinya diantar oleh sang bos.tapi sepertinya Zain tak melihat David yang mengantarnya di ujung jalan menuju rumahnya.
"Kau baru pulang nak, ini atasanmu bahkan sudah ada disini sedari tadi"gerutu mak Nah pada putrinya.
"Maaf"Sukma menundukan kepalanya dan segera mendekat di samping emaknya.
"Yuk makan nak, seadanya ya"mak Nah mempersilahkan duduk, Arum yang tadi digendongannya sudah beralih tangan dalam gendongan Zain.
Mereka makan sembari ngobrol, tapi obrolan lebih didominasi oleh mak Nah dan Zain, Sukma hanya sesekali nimbrung .
"Aneh...sebenarnya ia datang untuk apa!"batin Sukma kesal.
"Seringlah main kesini nak, Arum sepertinya suka padamu!"mak Nah dan Zain terkekeh bersama.
Zain makan sembari menyuapi Arum gadis kecil itu bahkan menolak uluran tangan ibunya yang hendak mengendongnya.
"Luar biasa lelaki ini, ia sudah bisa mengalihkan dunia emak dan putriku"batinnya kesal.
Beberapa jam kemudian setelah makan, Zain pamit pada emak Nah, dan menciumi pipi Arum dengan gemas, yang membuat gadis kecil itu tertawa senang.Zain berlalu tanpa berpamitan pada Sukma.Membuat wanita cantik itu menjadi meradang wajahnya terlihat kesal yang membuat mak Nah mengulum senyum sendiri.
"Ada apa dengan lelaki itu, biasanya selalu menempeliku"geramnya dalam hati.
"Kau dari mana saja?, aneh saja jika kau pulang lebih lambat dari atasanmu!"sindir mak Nah setelah Zain pergi.Sukma tersentak mendengar perkataan emaknya.
"Mak ada yang aku ingin bicarakan"Sukma menarik pelan lengan mak Nah menuju kamar emaknya.Mak Nah terkejut ketika tiba-tiba putrinya memeluknya erat sembari terisak.
"Kak Afit memiliki istri di tempat kerjanya mak"
__ADS_1
Mak Nah menarik nafasnya kasar, ia sudah menduga sebelumnya.Lelaki yang tidak ia sukai dari awal itu memang bajingan.
"Apa yang akan kau lakukan?"mak Nah mengelus rambut putrinya yang panjang.
"Aku ingin bercerai darinya dan temanku akan membantunya!"
"Baguslah..tak usah kau menangisi lelaki semacam itu, masih banyak lelaki baik yang menyukaimu!"
Sukma mengangguk pelan, masih dengan kepala yang tergolek di paha emaknya.
"Ini mak aku dapat sebagai bonus karena bisa menyelesaikan masalah di perusahaan cabang selatan."Sukma menyodorkan amplop coklat yang ia dapat dari David.
""Apa ini nak?"
"Ya Tuhan, uang sebanyak ini"mak Nah menatap tak percaya uang yang ia keluarkan dari amplop.
"Baik betul bosmu nak"mak Nah menatap intens putrinya.Sukma merasa tersindir atas ucapan mak Nah.Walau mungkin mak Nah tak bermaksud begitu.
"Mak kerugian di perusahaan cabang selatan bisa mencapai milyaran jika dibanding uang segini hanya debunya saja"Mak Nah mengelus tangan putrinya.
"Emak nggak nyangka kau bisa membantu urusan besar di kantormu itu"
"Aku juga nggak nyangka mak, dan disanalah ayah Arum bekerja dan berumahtangga dengan wanita lain"
"Tak usah kau ingat lelaki bajingan itu, selesaikan secepatnya perceraianmu! lalu menikahlah dengan lelaki baik"guman mak Nah dengan senyum samar.
"Belum juga bercerai mak sudah menyuruh menikah saja"keluh Sukma yang dibalas senyuman oleh mak Nah.
"Diaminkan saja, mak ingin melihatmu menikah dengan lelaki yang tulus mencintaimu, bukan hanya menyukai kecantikanmu.Karna jika perasaannya tidak tulus jadinya seperti bajingan itu, ada kekurangan sedikit dalam dirimu akan jadi alasan baginya untuk selingkuh!" ucapan mak Nah menohok perasaan Sukma, karena benar seperti itu yang terjadi pada dirinya dan sang suami.
"Mengerikan sekali pemikiranmu kak, aku akan membuatmu menyesali pilihanmu itu!"geram Sukma dalam hati.
"Mak simpan saja uang itu, gunakan jika mak memerlukannya"
"Untuk apa nak, bagi mak sudah makan saja cukup, tabunglah di bank biar lebih aman"
Sukma mengangguk dan malam itu ia tidur di kamar emaknya bertiga dengan sang putri.
Seminggu kemudian Afit bingung ketika pulang kerja Neti memberi sebuah surat padanya, amplop putih bercap Pengadilan Agama.
"Pengadilan Agama?"guman Afit lirih.
"Apa maksudnya kak?"
Afit menggeleng bingung, ia pun tak paham, dengan perlahan ia membuka amplop tersebut.
"Deg"
__ADS_1
BERSAMBUNG