
"Saya mau keluar rumah, kamu urusin tuanmu!"titah Renata suatu hari pada artnya.
Dengan rasa takut art itu hanya menganggukan kepala.Renata melenggang meninggalkan rumah suaminya, dengan mengendarai salah satu mobil koleksi David.
"Kemana ibu?"
"Saya tidak tahu kemana perginya tuan, ibu bilang mau keluar rumah"
"Apa dia tak ingat perutnya yang semakin membuncit, aku tak mau terjadi sesuatu pada anakku"keluh David mengkhawatitkan anaknya.
David yang saat ini terlihat lebih kurus, dengan wajah pucat karena sudah sebulan ini ia sakit, menghela nafasnya panjang.Sudah tiga bulan semenjak kepergian Sukma, hidupnya jadi tak teratur pun perusahaannya, yang saat ini diurus oleh asistennya.Emil.
David sering lupa makan karena mencari wanita pujaannya.Tapi jejak Sukma tak pernah ia temukan.Wanitanya benar-benar menghilang bagai ditelan bumi.Jika bukan karena anak di dalam kandungan istrinya, mungkin ia memilih mengakhiri hidupnya.
Di tempat lain, Renata berkumpul dengan beberapa teman-temannya, kegiatan rutin yang tak bisa ia tinggalkan.Mereka hanya hidup untuk senang-senang dan menghamburkan duit.
"Bagaimana hubunganmu dengan dia, Re"Sandra yang merupakan sahabat paling dekat dengan Renata, berbisik sembari mengerlingkan mata.
Renata tersenyum smirk, matanya kembali mengerling memberi balasan atas pertanyaan Sandra.
"Aman jaya rahasia, yang penting lu bahagia"
"Aku sebenarnya nggak mau melakukan hal ini, tapi kak David sudah 3 bulan lebih tak memenuhi kebutuhan batinku, aku juga butuh kasih sayang dan perhatian, bukan dia saja kan?"
"Gue paham Re, aku pun jika tak puas di rumah ya cari di luar rumah"Sandra tertawa renyah.
"Kamu mah...hobi San, dari dulu juga aku sudah tahu sepak terjangmu"kekeh Renata.Sandra hanya tersenyum manis mendengar ucapan sahabatnya itu.
"Kita lanjut ke klub, Dewi mau rayakan ultanya di sana, nggak masalahkan bumil?"
__ADS_1
"Nggak..aman, nih anak pinter banget. Jangankan dugem, diajak main stik bliyar saja nggak masalah"
"Hahhaa..dasar lu, untung dari awal sudah jelas bapaknya, jadi nggak masalah kenalan ama stik yang berbeda"tawa Sandra pecah mendengar ucapan Renata.
"Ayo siap-siap, ngerumpiin apa lu pada! cekikikan nggak Jelas!"ajak Dewi pada dua rekannya Renata dan Sandra.Sedang Mita rekannya yang selalu bersama Dewi hanya tersenyum.
Mereka berempat akhirnya meninggalkan kafe tempat biasa mereka kumpul, malam ini mereka akan melanjutkan pesta di klub malam, yang sudah diboxing sebelumnya oleh Dewi.
Malam kian larut, hingar bingar musik yang memekakkan telinga membuat ruangan itu menjadi gaduh.Namun tak ada dari mereka yang merasa terganggu, mereka mulai terlihat sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Di sebuah kamar di klub malam itu, Renata sedang dirayu lelaki yang ingin sekali bermain dengannya, karena terobsesi dengan wanita hamil itu.
"Aku dengar permainan wanita hamil sangat ganas, aku ingin mencobanya, sayang Istri yang kunikahi 10 tahun lalu, tak kunjung hamil karena sibuk dengan kariernya!"aku lelaki berbadan tinggi dan gempal dengan banyak bulu dibagian tertentu dari tubuhnya.Malam itu Renata terlihat makin cantik dan sexy dengan perut buncitnya.
Beberapa jam kemudian, Lelaki yang sangat puas dengan pelayanan Renata itu, keluar kamar dengan seringai di sudut bibirnya.Menit berikutnya Renata berteriak histeris karena merasakan perutnya berputar kesakitan, darah segar keluar dari mesV-nya, tubuh Renata yang bergetar hebat dengan keringat yang membasahi sekujur tubuhnya.
Di rumah mewahnya David akhirnya mengalah untuk menghabiskan makanan yang dihidangkan artnya, karena perutnya terasa sangat sakit, keringat dingin yang tiba-tiba membuat tubuhnya basah.
"Ada apa..kenapa perasaanku tidak enak?"guman David lirih, namun suara itu masih bisa didengar oleh artnya.
"Maaf tuan, perasaan itu bisa jadi karena penyakit tuan makin parah, saya mohon tuan bersedia untuk makan, agar segera sehat"art itu berucap dengan wajah tertunduk.
David menghela nafas, mungkin benar perutnya sakit karna ia tak makan. Akhirnya David menghabiskan makanan yang disuguhkan artnya, ia bahkan menolak uluran tangan dari art yang ingin menyuapinya.
Setelah makanan itu habis, menit berikut art itu menyodorkan 1 keping tablet dan segelas air putih pada David.
"Minum obatnya tuan"tanpa membantah lelaki itu melakukan apa yang diminta art-nya.David melirik artnya, wanita itu mengangguk, mengerti maksud tuannya. Art yang usianya tak jauh dari Renata itu, beranjak ke arah nakas dan meraih ponsel sang majikan yang terus berdering.
"Ini tuan"
__ADS_1
"Terima kasih, tolong Sus kamu bereskan ini ya"
"Tentu tuan"senyum mengembang di bibir Susi, art yang sudah sebulan ini selalu berada di dekat David, karena memiliki tugas mengurus lelaki itu.
Susi senang karena respon David mulai baik, lelaki itu sudah mau makan sendiri bahkan sampai habis.Sebelumnya ia lah yang harus telaten menyuapi lelaki itu, kadang penolakan David membuatnya sakit hati.Tapi itu semua sudah jadi tugasnya, dan ia harus iklas.
Seiring waktu Susi mulai menyukai pekerjaan itu, kedekatan dengan sang majikan membuat sisi lain dari dirinya terusik rasa yang selalu membuatnya hatinya menghangat.Tapi ia harus kembali berpijak di bumi, tidak boleh berhayal jauh karena ada suami dan anak di desa, yang menanti dirinya.
"Bbaa baaik sa saya segera ke sana!" suara David terdengar bergetar saat berbicara dengan orang yang menghubunginya, Susi yang masih berada di kamar itu menengok ke arah majikannya.
"Ada apa tuan?"
"Aku harus ke klub, menjemput Renata!"
"Kenapa tidak minta sopir saja yang menjemput, tuan sedang sakit"suara Susi dibuat sedemikian lembut.
"Temani saya ya, saya tak tahu kenapa pihak klub meminta saya datang"Susi tersenyum manis, wanita yang terlihat polos dengan sikapnya itu merasa sangat bahagia.Karena sikap David semakin menunjukan perubahan, tidak kasar seperti awal ia ditugaskan mengurus lelaki itu.
Beberapa menit berlalu, Di dalam mobil sudah ada sopir dan Susi yang menemani David, Susi duduk sendiri di kursi belakang, karena David duduk di depan samping sopir.
Mobil melaju membelah malam, karena ini memang sudah sangat larut, nyaris dini hari.David menghela nafasnya kasar. Semenjak dirinya sakit Renata bukan mengurusi dirinya tapi justru sibuk mencari kesenangan di luar rumah.
"Aku akan menceraikannya setelah anakku lahir"batin David kesal.
"Andai aku tak perduli padanya saat itu, dan memilih mengejar Sukmaku, pasti wanitaku itu masih dalam pelukanku, dimana kau sayang,aku sangat rindu"batin David pilu.
"Tuan inikah klubnya?"
BERSAMBUNG😊
__ADS_1