Dia Ibuku

Dia Ibuku
SELISIH


__ADS_3

Renata tak menyahuti tanya sang suami, yang sibuk membenahi barang-barang mendiang istri tercintanya, dibantu oleh salah satu Art.


"Taak..taaaak!"David dan Art sama melongo melihat pil-pil yang berhambur dari botol yang terjatuh dari tangan David.


"Obat apa ini bik, sepertinya bukan obat dari dokter buat istriku?"guman David mengamati pil-pil berwarna putih.


"Maaf tuan, ini pil penunda kehamilan" ucap bibik masih mengamati botol pil tersebut di tangannya.


"DUUUUUAAARRR!!!"


"Pil penunda kehamilan?"tangan David mengambil alih botol dari tangan Art nya, dengan dada berdetak kencang.


"Sepertinya ini sudah lama dikonsumsi tuan, isi nya sisa segitu dari jumlah yang tertera di botolnya".


Wajah David terlihat pias, berbeda dengan Renata yang terlihat menyunggingkan seringai di sudut bibirnya.


David gegas menuju lemari milik mendiang istrinya, ia mengobrak-abrik isinya, dan matanya terpejam melihat tas yang selalu didekap istrinya semasa hidup, ada di sudut lemari bagian bawah.


David berharap, semoga tak ada yang ia cari di dalam tas itu, tapi hati lelaki itu mendadak teriris sakit, melihat di dalam tas itu banyak botol yang sama, yang beberapa sudah tak berisi.


"Kenapa sayang, apa yang salah denganku!"suara tinggi David membuat Renata mendekat ke arah sang suami.


"Ada apa?, apa ini?"Renata menelisik salah satu botol yang ia ambil dari dalam tas yang berada di hadapan sang suami.


"Ini milik kak Danis, ia pernah berkata padaku tak ingin hamil karena akan merusak bentuk tubuhnya.."


David mengalihkan tatapannya pada Renata, istri sirihnya itu mengangguk yakin.Membuat hati David seperti diremas.


"Dulu ketika kak Danis baru menikah, ia pernah mengatakan hal itu padaku dan mamaku, kalau kakak tak percaya padaku tak apa, kakak bisa bertanya pada mama aku"tantang Renata dengan senyum smirk.


"Terlalu banyak yang mengagumi tubuh sexy nya, hingga ia tak sudi mengandung anak suaminya"


"Kau..!!"

__ADS_1


"Kenapa?kakak mau memukulku? karna wanita yang kakak cintai itu, lebih menyukai tubuh sexy-nya menjadi konsumsi mata lelaki genit!tak sudi mengandung anak suaminya, dengan cara diam-diam ia meminum obat penunda kehamilan, bukankah sama saja ia MENGHIANATI kakak!"ketus Renata seraya menjauhi David.


"Aku pun bisa melakukan hal seperti itu kan, terlebih suamiku tak mencintaiku, apa artinya hidupku yang hanya dianggap tempat produksi semata!"


"Apa maksudmu Re?"suara David terdengar kembali meninggi.


"Aku boleh mengugurkan bayi ini kan, agar aku bisa secepatnya meninggalkan suami yang tak pernah mencintaiku!"


David tercekat mendengar ucapan Renata, ia tersadar akan sikapnya yang keras pada wanita yang sedang mengandung anak yang sangat ia harapkan.


David gegas berdiri dan mengejar Renata yang masuk ke dalam kamarnya.


"Jangan pernah katakan hal itu lagi Re!"


"Kenapa?bukankan kau tak membutuhkan diriku, bukankan aku kau anggap penyebab kematian kak Danis, yang sudah divonis dokter kanker stadium empat!"


David tercengah melihat Renata yang menangis histris, apa yang dikatakan Renata tak salah, Danis divonis dokter menderita kanker stadium empat, dan tinggal menunggu waktu.Jadi kalau Danis meninggal siapa yang salah?


David bergerak maju mendekati Renata yang menangis tergugu, didekapnya tubuh berisi Renata, ucapan maaf terlontar dari bibir lelaki gagah itu.Namun Renata mencoba jual mahal, ia tetap bersikeras untuk berpisah dan mengugurkan bayinya.


Hari terus beranjak siang, di dalam ruang kerjanya Sukma tanpa gelisah.Sang bos yang tadi pagi mengatakan ada pertemuan penting di kantor, nyatanya tak menampakkan batang hidungnya.Bahkan menurut Emil sang bos masih di rumah.


"Siapa yang ia temui di rumahnya, hingga pertemuan yang katanya penting dari pada diriku itu bisa ia tinggalkan?"


"Apakah aku harus mencari tahu?tapi mas David belum mengikatku dalam hubungan yang pasti, apa yang ia pikirkan nanti jika aku kepo pada kehidupannya?"


Batin Sukma berkecamuk, wanita cantik itu akhirnya memilih pulang karena pekerjaan sudah selesai, lagian waktu pulang tinggal satu jam lagi.


Di dalam kamar yang mewah, nampak sepasang manusia beda jenis saling berpelukan mesra dengan tubuh yang sama polos.Sebagian tubuh bawah mereka diselimuti kain lembut berbulu.


David mengelus punggung sang istri dengan lembut, dan sesekali mengecup singkat bibir ranum Renata.


"Berjanjilah sayang, jangan pernah ucapkan kata itu lagi!"titah David lembut.

__ADS_1


"Tapi kakak janji jangan menyakiti kami lagi!"tegas Renata.


"Iya sayang, maafkan maaf aku!"kecupan singkat di kening seperti simbol maaf yang David haturkan pada sang istri.


"Maafkan papa ya nak, papa sangat menyayangimu"guman David lirih seraya menciumi perut mulus Renata.


"Papa harus janji menyayangi kita ya dek, jika papa ingkar...KITA akan tinggalkan papa sendiri!"ancam Renata dengan suara manja.


David menggeleng pelan, ia tak mau hal itu terjadi.Diciuminya perut Renata dengan gemas, membuat gerakan Renata yang tak beraturan, hingga kaki Renata menyentuh tongak kehidupan milik David, hingga lelaki itu kembali bergairah karena Renata gegas memanjakan milik sang suami.Tetapi...


"Kak kenapa di bagian ini terlihat memar sekali, dan terlihat lebar?"


"Entahlah sayang, mungkin terlalu lelah mendaki bersamamu"kekeh David tak perduli akan memar di bagian yang mendekati intinya.Karena memang tak terasa saat ia mengauli istrinya.


Hari berganti hari, hingga tak terasa bulan terus berganti, Saat ini kehamilan Renata sudah memasuki bulan ke empat, perut wanita itu sudah terlihat besar.David semakin sulit untuk memenuhi janjinya pada Sukma, karena tak mau Renata tahu.Hingga mereka lebih sering melepas rindu di kamar kerja David.


Dan sore itu, setelah para karyawan pulang kerja, David dan Sukma kembali merajut asa.


"Mas apakah kau tak ingin menikah?"


David menatap Sukma dengan wajah bingung, ia bukan tak mau menikahi Sukma, tapi ia takut jika Renata tahu. Ia hafal sikap Renata jika marah, pasti wanita itu akan melukai anaknya.Ada niat ia akan menikahi Sukma setelah anaknya lahir.


"Lupakan pertanyaanku tadi mas"lirih Sukma seraya mengenakan pakaiannya.Ia tahu David tak pernah meanggap serius hubungan mereka.Ia saja yang terlalu berharap.


"Aku pulang duluan ya mas, permisi" Sukma gegas keluar dari kamar, hatinya terlanjur sakit dengan sikap David.


"Apa lagi yang ia pikirkan, bukankah istrinya sudah tiada, apa ia hanya ingin bersenang -senang saja denganku?"


Sukma berharap David mengejarnya, namun sampai ia mendapatkan ojek lelaki itu tak juga mengejarnya.


David tersentak dari lamunannya, Ia gegas mengenakan pakaiannya, dan bermaksud mengejar Sukma, namun wanita cantik itu sudah menghilang bagai angin.


Setelah hari itu Sukma mengajukan cuti, dan pergi menengok sang putri.

__ADS_1


BERSAMBUNG😊


__ADS_2