Dia Ibuku

Dia Ibuku
Renata


__ADS_3

"Ada apa?"David mengangkat panggilan masuk yang menyentak lamunannya.


"Maaf bos saya dapat info bu Sukma masih menangani produk yang akan digulirkan bulan ini"suara Emil bergetar mendengar suara bosnya yang ketus ketika mengangkat panggilan darinya.


"Ya sudah biarkan saja"


"Baik bos"Emil cepat menutup teleponnya.lelaki yang masih melajang itu mengelus dadanya.


"Untung aman..jantungku sehat selalu di dalam sana!"gumannya lirih.


Waktu menunjukan pukul 4 sore, Zain sudah menunggu sang istri di depan ruangan tempat ia presentasi produk.


Suara mengema dari dalam ruangan itu cukup jelas ia dengar, senyum samar dari lelaki tampan itu cukup menyita para wanita yang lewat di hadapannya.


"Ternyata kau memang bisa diandalkan dek"guman Zain lirih.


Setengah jam kemudian terlihat Sukma keluar dari ruangan itu, istrinya nampak berbicara dengan seseorang dan terlihat serius.


"Pak Zain apa kabar"Zain tersenyum atas sapaan lelaki itu.


"Baik pak"lelaki itu menggulurkan tangan untuk berjabatan dengan Zain.


"Saya tadi sempat dengar presentasinya, boleh juga tuh"


"Itu kehebatan bu Sukma pak"lelaki itu melirik Sukma sembari tersenyum ramah.


"Ah biasa saja pak"Sukma menatap suaminya dengan wajah kesal. Bisa-bisanya Zain menunggu di depan ruangan ia melakukan presentasi dan malah beramah tamah dengan rekan kerjanya.


"Maaf pak saya ada perlu dengan bu Sukma"


"Oh silahkan pak, maaf saya permisi!"


"Baik pak silahkan!"jawab Sukma dan Zain bersamaan.


"Mas koq jemputnya disini sih"wajah Sukma terlihat cemberut.


"Ya pengen denger saja istri aku presentasi..dan ternyata boleh juga"goda Zain tak menghirau raut kesal sang istri.


Sukma lebih dulu masuk ke dalam mobil suaminya, ketika di parkiran sudah sepi.


"Masih marah?"Zain mencolek pinggang istrinya ketika mobil mereka sudah memasuki jalan raya.


"Nggak..capek saja" elak Sukma tanpa menoleh pada sang suami.


"Kayak kesel nih"


"Enggak.."Zain terkekeh mendengar jawaban istrinya yang tak sinkron dengan sikap dan raut wajah wanita cantik itu.

__ADS_1


"Koq ke sini"


"Pengen makan sepiring berdua sama istri aku"Zain mengedipkan matanya dengan jari telunjuk yang sudah menoel hidung mancung sang istri.


"Ayo turun"Zain lebih dulu turun dan menuju gerobak tahu tek yang sudah membuatnya ketagihan.


"Mang satu porsi lomboknya 2 saja"Zain duduk di kursi kayu yang biasa diduduki pembeli.Lelaki itu menatap sang istri yang belum keluar dari mobil.


"Ayo turun!"ajak Zain yang sudah menjulang dihadapan sang istri.


"Mas kita makan disini saja"Zain mengulum senyumnya dan gegas mengambil kursi plastik yang ada di dekat gerobak tahu tek.


"Mang saya pinjam kursinya!"


"Iya pak pakai saja!"


Beberapa menit kemudian Zain sudah menyantap tahu tek sembari menyuapi sang istri.


"Kenapa nggak ambil dua sendok sih mas"


"Lebih romantis begini sayangku"Sukma mengerucutkan bibirnya, dan dengan sigap Zain langsung melahapnya.


"Mas dilihat orang"malu tahu"Sukma menepuk pundak suaminya pelan.


Zain tersenyum menatap sang istri, Dan Sukma tersipu ketika matanya bersirobok dengan mata kelam sang suami.


"Mas..."


"Lagi ya?..mas masih lapar"


Sukma mengangguk dan seperti biasa, 2 porsi dalam satu piring untuk berdua, di tambahan ke dua ganti Sukma yang menyuapi suaminya.


"Biar mas antar piringnya sekalian ambil pesanan yang dibungkus untuk emak"Sukma mengangguk pelan.Matanya wanita cantik itu mengikuti gerak sang suami.


"Aku belum bisa mengartikan perasaanku mas, tapi jujur aku merasa nyaman denganmu, aku suka pernyataan cintamu ,kau lelaki baik mas"batin Sukma.


Mobil yang dikendarai David masuk ke dalam garasi, lelaki itu menatap penuh tanya atas mobil putih yang ada di dalam garasinya.


"Ada tamu, kelihatan keluarga Denis..karena mobilnya langsung masuk garasi"batin David.


David menuju ke kamar istrinya, ia terdiam di ambang pintu melihat seorang wanita yang memijat lembut kaki istrinya. Terdengar obrolan yang akrab diantara keduanya.


"Sore sayangku"sapaan David membuat dua wanita itu menoleh.


"Mas kau sudah datang"


Renata berdiri dari duduknya, memberi ruang untuk David mendekat pada sang istri.

__ADS_1


"Ternyata kau Re..apa kabar?"David mengulurkan tangan menjabat tangan halus Renata.Wanita cantik itu menarik lembut pinggang David dan melakukan sun di kedua pipi David.


David merasa kikuk atas perlakuan Renata dihadapan sang istri.


"Sayang Renata akan tinggal di rumah kita terkait urusannya"


"Iya sayang, ini rumahmu kau bisa mengizinkan siapa pun yang kau inginkan datang kemarin tanpa harus bicara padaku sayang"David mencium kening istrinya.


"Tapi kau suamiku mas?"


"Karna aku suamimu, aku memberi hak penuh atas rumah ini pada istriku"David menoel hidung Denis gemas.


"Aku mandi dulu ya yang"David segera menuju kamar mandi di kamar itu.


Beberapa jam setelah makan malam, David dan Denis bersandar di kepala ranjang king size mereka.


"Mas aku ingin meminta sesuatu padamu?"


"Apa itu sayangku?"


"Apakah mas mau berkorban untukku, apakah mas mau membuatku bahagia?"


"Sayangku..tentu saja aku mau berkorban untukmu, apalagi menyangkut kebahagiaanmu..aku akan kabulkan permintaanmu!"


"Sungguh ...mas bersedia?"David mengangguk mantap.dan Denis langsung masuk kepelukan suaminya.


"Terimakasih mas aku bahagia kau bersedia mengabulkan permintaanku, untuk menikahi Renata"


"Deeeg!!!"


"Dek ap mak.."


"Aku mengambil Renata sebagai maduku mas, aku ingin ada wanita BAIK-BAIK yang bisa merawatmu kelak"Denis menekan kata baik-baik itu untuk menyadarkan suaminya.sengaja ia memutus perkataan sang suami agar David tak bisa berkutik.


"Aku mengenal adik sepupuku itu dengan baik mas, ia pantas menjadi pendampingmu!"David hanya diam ia tak tahu bagaimana menolak ucapan istrinya yang tersirat sudah ia sanggupi.


"Aku harus bicara dengan Re, semoga ia mau bekerjasama denganku"batin David.


David meneguk salivanya kasar, penampilan Renata malam ini membuat kepalanya pening.Sebenarnya wanita cantik itu hanya memakai gaun tidur berbahan satin lembut yang membentuk tubuh moleknya.Tapi berhubung modelnya tanpa lengan dan hanya setali dengan bagian depan yang longgar serta sangat pendek, membuat pa ha mulus Renata dan dua bukit menatang itu terlihat tanpa cela.


"Kakak mau bicara apa?"Renata tersenyum dalam hati.Ia senang David mengetuk pintu kamarnya di malam yang sudah larut ini.pikir Renata melanglang buana melihat tampilan David dengan piyama satin lengan pendek, bagian tonjolan itu terus membuatnya bergetar.


"Ehh..maaf membangunkan tidurmu Re" Renata tersenyum manis dan menggeleng.Wajah wanita cantik itu merona mendapat tatapan lelaki dihadapannya.


David bergerak perlahan masuk ke kamar yang saat ini ditempati Renata,sungguh jantung lelaki itu berdebar kencang.Ia lelaki normal yang haus belaian.Melihat tampilan mengoda dari seorang wanita cantik membuatnya panas dingin.


"Kak....!"sentuhan di tubuh liat nan gagah itu membuat pikir Renata seketika membeku.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2